RSS

Ayo Selamatkan PALESTINA!!!!

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Penjajah paling kejam abad modern ini Zionis Israel kembali melakukan aksi brutal terhadap kaum muslimin Palestina. Bertepatan dengan tahun baru Hijriyah 1430 mereka memborbardir kawasan Gaza dengan beragam senjata canggih dan modern. Ratusan warga Palestina menjadi syuhada, tak terhitung sudah bangunan dan fasilitas yang hancur. Hanya satu kata yang pantas untuk dikatakan kepada mereka: B I A D A B!!!

Puluhan tahun mereka menguasai dengan paksa tanah wakaf Palestina. Sudah tidak bisa digambarkan lagi kekejaman mereka kepada saudara-saudara kita di sana. Perampokan, penjarahan, pembunuhan, pemerkosaan dan kebejatan-kebejatan moral lainnya mereka lakukan setiap saat. Susah membedakan perbuatan mereka itu sebagai manusia atau turunan bangsa kera yang telah dikutuk Allah swt berabad-abad lampau.


ya..... amirulmu'minin Umar bin Khatab....
aina sholahuddin......
ya mu'tashim....

begitu barangkali diantara jeritan ibu-ibu Palestina sejak tahun 1940-an sampai detik ini. Mereka merindukan para pemimpin Islam untuk datang membebaskan mereka. Dimana mereka semua saat ini...

Para pemimpin yang tidak berjabat tangan sambil tertawa dengan orang-orang kafir pada saat rakyat Gaza kelaparan, terisolasi dan terbunuh perlahan-lahan. Bukan pula pemimpin yang rela melarang mengalirnya bantuan dari dunia Islam melalui negaranya karena takut dengan bossnya yang jelas-jelas Dajjal modern.

Mereka lupa bahwa Rasulullah saw bersabda barangsiapa tidak perduli dengan urusan kaum muslimin maka bukan golongan beliau. Mereka lupa bahwa muslim itu ibarat satu tubuh, ketika yang satu bagian terluka lainnya juga merasakannya. Mereka bahkan lupa bahwa persaudaraan dalam Islam itu karena ikatan aqidah, bukan kebangsaan atau bahkan kepentinan dunia semata.

Ya.... Allah Yang Maha Perkasa dan Kuasa
Berilah Kekuatan Saudara-saudara kami
Tambahkanlah Kekuatan dan Kesabaran Mereka
Teguhkanlah tapak-tapak kaki mereka
Tolonglah mereka dengan seluruh makhluqMu
Engkaulah Pemilik Segala Kekuatan

Ya.... Malik Ya Jabbar..
Hancurkanlah orang-orang kafir itu
Hancurkanlah pula sekutu-sekutu mereka
Binasakanlah mereka seperti nenek moyangnya
Jangan sisakan mereka di atas bumiMu

Ya.... Rahman Ya... Rahim
Bukakanlah kesadaran para pemimpin Islam
Sadarkan mereka tentang tanggung jawab mereka
Hilangkan egoisme yang kuat menancap di hati-hati mereka
Hilangkan ketakutan-ketakutan mereka terhadap Dajjal Amerika
Engkaulah Yang Maha Segalanya

Ayo Selamatkan Palestina. Berbuat dengan apa yang kita bisa. Suarakan perjuangan, sumbangkan dana, boikot produk Yahudi, turun ke jalan ataupun mengangkat tangan berdoa kepada Allah swt. Ya... Allah jangan jadikan diri kami orang-orang yang berpangku tangan melihat saudara-saudara kami dianiaya, dibantai dan coba untuk dimusnahkan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Pertolongan. Amiiiin.

| edit post

Because Dakwah, Not For Money

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim


“Di Inggris banyak orang yang bisa pergi keliling dunia meskipun tidak punya uang banyak. Mereka keliling dunia untuk berdakwah, bukan untuk uang. Maka pertama kali harus punya niat dan berdoa kepada Allah swt"


Sholat Jum’at kali ini cukup istimewa di masjid Baiturrahmah dengan kehadiran dua ikhwan Tablig dari Inggris yang sedang bersilaturahim ke Indonesia dan berkesempatan mampir ke ma’had. Usai sholat Jum’at salah seorang dari kemudian diminta memberikan tausyiah dan berbagi pengalaman.

Berbeda dengan bulan kemarin ketika seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh kuliah S3 di Jerman didaulat berbagi penglaman, maka ceritanya lebih banyak pada proses perjalanan studinya. Karena ikhwan kita kali ini adalah aktifis dakwah, maka beliaupun banyak menceritakan aktifitasnya dalam mendakwahkan Islam di Inggris khususnya dan di tempat-tempat lain yang beliau telah kunjungi.

Sebagaimana kita ketahui ikhwan Tablig terkenal sebagai pada penyeru Islam dengan jangkauan wilayah sangat luas. Mereka terbiasa meninggalkan rumah dan keluarga untuk berdakwah di satu daerah dengan jangka waktu mulai dari tiga hari sampai enam bulan. Selama itu mereka tidak sungkan-sungkan door to door mendatangi pintu rumah kaum muslimin untuk mengajak melaksanakan sholat berjama'ah atau mengikuti pengajian-pengajian yang mereka adakan.

Tidak jarang pula mereka mengajak dengan santun orang-orang yang masih duduk-duduk di warung atau pinggir jalan meskipun adzan sholat sudah dikumandangkan. Sebuah aktifitas dakwah yang membutuhkan kesabaran, keberaniaan dan kepercayaan diri yang tinggi. Bagi mereka diacuhkan, ditolak, dimusuhi dan diusir merupakan kekuatan yang membuat lebih dekat dengan Allah swt dan lebih ikhlash dalam beramal.

Usai salam dan menyampaikan pujian kepada Allah swt serta shalawat kepada Rasulullah saw, dai yang lahir di Negeria dan besar di Inggris ini mengajarkan tentang tauhid kepada para jama’ah. Dengan didampingi seorang penterjemah, beliau membuat beberapa tamsil tentang pentingnya memanfaatkan fisik dan hidup kita untuk beribadah kepada Allah swt.

Satu diantara perumpamaan beliau adalah meminta para jama’ah untuk membandingkan penggunaan kaki kita. Apa bedanya kaki yang dipakai seseorang bermain sepak bola dengan kaki yang dipakai untuk melangkah ke masjid? Menurut beliau kaki seorang pemain bola profesional paling hanya menghasilkan uang saja, tapi kaki seorang muslim yang diayunkan menuju masjid untuk beribadah kepada Allah swt niscaya akan memperoleh dua kebaikan tidak hanya di dunia tapi juga akhirat.

Ikhwan Tabligh ini juga menceritakan tentang keberadaan sekolah muslim yang mirip dengan sekolah boarding di Indonesia. Di sana para lulusannya hanya mempunyai satu dari dua kecakapan; alim agama atau hafal Qur’an. Bahkan tidak sedikit yang mampu memperoleh dua-duanya alim dalam agama sekaligus penghafal al-Qur’an.

Beliau juga memotivasi para siswa untuk tidak hanya menguasai ilmu fisika, matematika dan sejenisnya tetapi juga ilmu-ilmu agama. Beliau mengharapkan lulus dari ma’had para siswa menjadi aktifis dakwah dan menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Banyak orang di Inggris sana, menurut beliau, biasa berkeliling dunia untuk menyebarkan dakwah Islam padahal mereka bukan orang-orang yang banyak uangnya.

Satu hal yang membuat mereka bisa mendapatkan itu adalah niatnya mengunjungi banyak negara adalah untuk mendakwahkan Islam. Dalam bahasa beliau, mereka keliling dunia untuk menyebarkan Islam bukan mencari uang. Maka pertama kali harus punya niat dan selanjutnya berdoa kepada Allah swt. Beliau kemudian mengajak seluruh hadirin untuk berdoa’ agar harapan dan cita-cita mulia ini bisa tercapai. Amin Yaa… Mujibu Sailin.

| edit post

Umar bin Khatab memang a great man

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pengantar
Banyak buku, makalah maupun tulisan yang mengupas salah seorang sahabat terbesar Rasulullah saw ini, Umar bin Khatab al-Faruq. Tidak berlebihan kalau kemudian banyak kaum muslimin mengagumi dan mengidolakan beliau. Bahkan Michael H Hart penulis buku seratus tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah dengan jujur memasukkan orang besar ini dalam daftarnya.

Tapi apa sesungguhnya kesan terdalam kaum muslimin sendiri terhadap beliau? Secara umum pasti kesannya tidak jauh dari kalimat hebat, pemberani, adil dan ungkapan yang setara. Tapi secara spesifik apa kesannya? Untuk mengetahui hal itu maka perlu dilakukan sebuah penelitian.

Sebagaimana biasa sebagai syarat untuk mengikuti ulangan harian sejarah Islam di SMA Ar-Rohmah, para siswa mendapat tugas khusus terkait dengan bab atau tema yang sedang menjadi pokok bahasan. Maka sebagai syarat mengikuti ulangan sejarah Islam tentang pemerintahan Islam masa khalifah Umar bin Khatab, beberapa kelompok siswa di beri tugas melakukan penelitian tentang khalifah kedua Islam ini. Sebagai obyek penelitian adalah para siswa dan guru SMP-SMA di lembaga pendidikan Islam Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang.

Dalam penelitian ini metodologi yang dipakai adalah observasi langsung melalui wawancara dengan obyek. Responden diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang mengarahkan peneliti bisa mengambil kesimpulan dari persepsi seseorang tentang sosok Umar bin Khatab al-Faruq. Para peneliti amatir ini mendapat waktu dua minggu untuk melakukan risetnya. Inilah, hasil penelitian mereka.

Pendapat Siswa
Di kalangan siswa SMP-SMA Ar-rohmah Hidayatullah Malang ketika disodorkan beberapa pertanyaan terkait Umar bin Khatab ada dua karakter yang tersimpulkan dari peibadi orang besar ini yaitu tegas dan berani (65%). Ungkapan berikutnya yang banyak muncul dari jawaban para siswa adalah adil (60%).

Kesan itu wajar muncul dari para siswa karena sejarah kekhalifahan beliau memang syarat dengan cerita tentang ketegasan dalam bertindak dan keadilan dalam hukum. Barangkali beliau merupakan satu dari sedikit pemimpin sebuah imperium besar (kalau dikonversi wilayah negara Islam pada masa beliau menjadi 18 negara modern sekarang) yang mempunyai integritas moral dan akhlaq tinggi. Tidak ada pembedaan warga negara di depan hukum, semua sama.

Diantara contoh keadilan beliau adalah hukuman cambuk yang dijatuhkan kepada anak beliau sendiri karena minum khamr atau minuman keras. Ketika gubernur Mesir waktu itu Amr bin Ash menghukum anak khalifah dengan tidak semestinya, beliau menegurnya. Beliau kemudian memanggil puteranya ke ibukota Madinah dan menghukum kembali puteranya dengan tangannya sendiri.

Kisah yang tidak kalah terkenalnya tentang keadilan kepemimpinan beliau adalah hukuman qishah kepada seorang pejabat Yaman, Jalbabah. Dikisahkan ketika ia sedang thawaf tanpa sengaja jubahnya yang mewah terinjak seorang pemuda biasa. Tanpa ampun langsung saja ia melayangkan tinjunya kepada pemuda itu.

Tidak terima atas tindakan penguasa Yaman tersebut, pemuda itu melaporkannya kepada khalifah. Sudah bisa ditebak hukuman yang beliau jatuhkan adalah pemuda yang terkena pukulan itu berhak membalasanya. Betapa terkejutnya Jalbabah atas keputusan khalifah, iapun menolaknya karena merasa seorang pejabat. Khalifah Umar menjawab bahwa dalam hukum semua warga negara adalah sama.

Pendapat Guru
Bagaimana kesan para guru di LPI Ar-Rohmah Hidayatullah Malang tentang orang yang oleh Rasulullah saw disebut memiliki firasat khusus ini?

Di samping tegas, berani dan adil (65%), karakter lain yang melekat dalam ingatan mereka tentang sosok Amirul Mu’minin Umar al-Faruq adalah kesederhanaannya (60%). Ketika digali lebih dalam dengan pertanyaan berikutnya yakni kesederhanaan ketika memerintah meskipun waktu itu negara Islam sedang kaya dan jaya.

Masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar al-Faruq memang diwarnai kegemilangan. Selama kurang lebih sepuluh tahun beliau memimpin, perluasan wilayah Islam mencapai jutaan mil.

Pasukan Islam itu pelan namun pasti merayapi satu persatu wilayah kekaisaran Persia dan Rowami, dua negara adidaya saat itu. Kemenangan demi kemenangan mereka raih. Setelah Syam, Palestina, Mesir mereka rebut dari tangan pasukan Romawi, pasukan Persiapun mereka hancurkan dalam perang Qadisiyah dan Nahawand. Istana Putih Maharaja Persiapun menjadi tempat sholat panglima Sa’ad bin Abi Waqash. Terbuktilah sabda Rasulullah saw ketika menggali parit dalam perang ahzab bahwa Persia dan Romawi akan ditaklukkan kaum muslimin.

Di tengah ghanimah dan fa’i yang mengalir deras ke Baitul Maal di ibu kota negara Madinah, justru pola hidup khalifah bertolak belakang. Seorang kepala negara yang identik dengan istana megah, pakaian mewah dan pengawalan pasukan yang berbaris rapi di belakangnya tidak terlihat pada diri beliau.

Tidak jarang para pembesar negara lain yang ingin menemui beliau harus mencarinya di bawah pohon kurma di tengah kota Madinah. Beliau memang terkenal suka merebahkan dirinya dii bawah pohon kurma ketika siang sedang terik.

Keluarganya pun hidup sangat biasa, bahkan terlalu biasa. Apa yang beliau pilih sebagai makanan sehari-hari keluarganya adalah makanan yang menjadi konsumsi kebanyakan warga negara Islam. Pernah beliau menyuruh utusan dari Azerbaijan untuk membawa pulang makanan hadiah mereka kepada khalifah setelah beliau tahu makanan itu bukan makanan rakyat biasa tetapi khusus orang-orang kaya dan pembesar.

Suatu ketika para sahabat utama seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf dan beberapa orang lainnya membahas masalah perekonomian beliau. Mereka berpendapat khalifah harus meningkatkan kualitas konsumsinya supaya fisiknya terjaga karena masalah negara semakin hari semakin kompleks dan berat. Maka Baitul Maal yang bertanggung jawab akan tugas itu.

Usulan itu kemudian di sampaikan kepada puteri beliau, Ummul Mu’minin Hafsah binti Umar. Mereka segan langsung menyampaikan usulan tersebut, di samping khawatir akan kena marah beliau.

Mendengar apa yang disampaikan puterinya, mata khalifah mendelik. Beliau tahu itu pasti bukan kemauan puterinya sendiri. Ummul Mu’minin Hafsah mengaku bahwa itu adalah usulan dari para sahabat yang mengkhawatirkan kesehatan khalifah.

Khalifah Umar kemudian bertanya kepada puterinya apa yang suaminya Rasulullah saw makan sehari-hari dan tempat tidur apa yang beliau pakai. Ummul Mu’minin Hafsah menjelaskan bahwa makanan Rasulullah saw sangatlah sederhana, bahkan sering berpuasa. Tempat tidur Rasulullah saw hanya terbuat dari pelepah kurma sehingga ketika bangun tidur bekas kayu kurma itu terlihat di bagian tubuh beliau.

Khalifah lalu menjelaskan kepada puterinya bahwa figur itulah yang ia panut dan ikuti. Beliau kemudian memanggil sahabat-sahabat besar dan menyampaikan permasalahan tersebut.

Apakah mengidolakan beliau sebagai seorang pemimpin?
Di tengah krisis kepemimpinan yang menjangkiti umat dan bangsa ini, figur pemimpin seperti Amirul Mu’minin Umar bin Khatab sangatlah di rindukan. Seorang pemimpin yang begitu peduli terhadap rakyatnya. Hampir setiap malam beliau ronda untuk memonitor kondisi dan keadaan rakyatnya.

Seorang pemimpin yang sangat takut dengan pertanyaan Allah swt di akhirat. “Apa jawabanku nanti kalau Allah swt bertanya tentang seekor keledai yang terperosok di sungai Tigris?” begitulah prinsip beliau, tidak hanya manusia hewanpun menjadi perhatian beliau.

Para responden di Ar-Rohmah baik siswa maupun guru semuanya mengharapkan lahirnya pemimpin seperti beliau di tengah umat dan bangsa ini. Mereka yakin sosok seperti beliau akan mampu mengangkat derajat umat menjadi terhormat dan mengeluarkan bangsa ini dari krisis multidimensi yang nampak seperti lorong gelap tak berujung.

Penutup
Sahabat Umar bin Khatab merupakan murid langsung guru terhebat, Rasulullah saw. Sebagai salah satu murid terbaik tentu saja banyak keistimewaan yang beliau miliki. Penelitian di atas hanya sedikit ungkapan kelompok kecil kaum muslimin yang mengagumi beliau. Hasil penelitiannya tentu saja sangat subyektif, karenanya kritik dan koreksi tentu saja menjadi bahan perbaikan dan penyempurnaan.

Terbuka lebar bagi siapa saja untuk menggali lebih dalam tentang manusia langka ini untuk disajikan kepada khalayak luas. Harapannya tentu saja tidak sekedar megetahui ataupun mengagumi beliau, lebih jauh dari itu tentu saja usaha maksimal dari orang-orang yang mengaku muslim untuk meneladani jejak langkah beliau dalam memperjuangkan dan menegakkan dienul Islam. Allahu ‘alam.

| edit post

Bukan Sekedar Ucapan, Lebih Dari Itu

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Rasanya tidak lengkap bagi seorang muslim setiap menjelang akhir Desember kalau tidak membicarakan tentang natal. Banyak sekolah, kampus, jama’ah pengajian dan lembaga-lembaga dakwah mengadakan kajian seputar masalah itu. Tentu saja dengan tema dan titik tekan berbeda.

Saya sendiri sebenarnya kurang berminat membicarakan hal tersebut karena fatwa para ulama dan MUI tahun 1981 sudah lebih jelas untuk menyikapi tanggal merah tersebut. Kalaupun mempunyai interest tentu saja keingginan menyebarkan apa yang sudah kita ketahui kepada saudara-saudara kita yang belum tahu tentang hal itu.

Ada dua hal menurut saya mengapa kita sebagai seorang muslim merasa tertarik untuk ikut membicarakan tentang natal. Alasan pertama adalah kedekatan teologis antara Islam dan Nasrani. Meskipun konsepsi mereka sudah sangat menyimpang dari ajaran Tauhid, namun label ahlul kitab memang menjadi milik mereka.

Maka wajar kalau kemudian kita untuk membicarakannya. Tentu saja dengan motivasi berbeda yakni memberi tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah dan menyimpang. Dan kemudian mengajak mereka untuk kembali kepada kalimat yang sama yakni mentauhidkan Allah swt (Ali Imron ayat 64). Tapi untuk berbuat seperti itu tentunya butuh keberanian yang ekstra dan tentu saja kemampuan yang lebih pemahaman Islam dan pengetahuan kristologinya.

Faktor kedua adalah kekuatan geopolitik dunia saat ini berada di tangan peradaban barat yang notabene Nasrani. Meskipun sesungguhnya Barat itu lebih identik dengan kebudayaan Yunani dan Romawi sendiri yang pagan.

Para missionaris yang memang didoktrin untuk menyelamatkan gembala-gembala yang sesat itu kemudian memanfaatkan tangan-tangan para penguasa untuk menyebarkan misi zending mereka. Kekuatan media massa pun mereka kerahkan untuk mengalang opini.

Maka kita saksikan seluruh dunia dari ujung Afrika sampai Merauke pasti semarak dengan kegiatan-kegiatan Natal. Dari mulai para pemimpin negara hingga rakyat jelata digembor-gemborkan saling mengucapkan selamat.

Itu semua diantara tujuannya adalah untuk mempengaruhi otak-otak kaum muslimin agar mau mengadaikan agamanya. Kalaupun kemudian tidak pindah agama, kaum muslimin mau menerima konsepsi mereka tentang penyaliban Yesus. Karena tanpa dogma itu tidak ada kristen.

Dengan dalih toleransi tentu saja mereka akan mengharapkan ucapan selamat natal karena itu bukti pengakuan kaum muslimin atas ketuhanan Yesus. Mereka tidak sungkan-sungkan mengawali lebih dahulu dengan mengucapkan selamat hari raya idul fitri maupun hari raya Islam lainnya dengan ucapan langsung maupun spanduk/banner di depan gereja-gereja mereka.

Tapi itu sesungguhnya tidak gratis (no free lunch). Mereka berharap kaum muslimin akan sungkan kalau tidak berbuat sama yakni memberikan ucapan kepada mereka dengan lisan maupun tulisan. Termasuk mengundang tokoh-tokoh kaum muslimin untuk menghadiri perayaan bersama.

Dari segi hukum sendiri sebenarnya sudah sangat jelas bagaimana kita sebagai kaum muslimin menyikapinya. Para ulama dan MUI sendiri sudah memfatwakan HARAM bagi kaum muslimin untuk mengucapkan selamat natal termasuk menghadiri perayaannya.

Kita tidak toleran...? Toh kita tidak pernah mengundang mereka untuk menghadiri hari raya kita. Ini masalah aqidah, bukan muamalah. Bukankah hidup seorang muslim itu untuk aqidah dan memperjuangkannya? (innal hayata aqidatun wa jihadun).

Saya teringat perkataan amirul mu’minin Umar bin Khatab yang menyuruh kaum muslimin tidak memasuki rumah-rumah ibadah orang kafir ketika sedang ada perayaan-perayaan hari besar mereka. Kata beliau ketika laknat dan azab Allah swt sedang menaungi mereka.

Maka adalah kesalahan besar kalau kemudian para aktifis liberal menuduh pola pikir kita terlalu dipengaruhi keyakinan akan adanya rekayasa global orang-orang kafir terhadap kaum muslimin. Mungkin mereka lupa bahwa sudah sunnatullah kalau pertarungan ideologi dan peradaban hadir di sepanjang waktu dan tempat; siapa menjual dan siapa membeli. Allahu ‘alam

| edit post

Mother, how are you today...?

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masing terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas….
Ibu……..
Ibu……..
………….

Lirik potongan lagu Iwan Fals di atas cukup terkenal di era 80’an ketika saya masih belajar di sekolah menengah. Sekilas menyimak syair-syairnya bayangan kita akan menampilkan beratnya perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Gambaran seorang perempuan kampung yang punggungnya memanggul sesuatu entah kayu bakar, padi hasil panen atau barang sejenisnya. Kakinya pun tanpa alas sehingga berdarah-darah karena harus menyusuri hutan, sawah ataupun ladang.

Fungsi seorang ibu memang terkesan lekat dengan penderitaan. Coba kita hitung beban derita secara fisik dan psikologis seorang ibu yang mengandung dan melahirkan. Selama hampir sepuluh bulan ia harus “mengantongi” anaknya yang semakin hari semakin besar dan berat. Hari-hari menjelang melahirkan merupakan hari-hari yang sangat melelahkan. Makan tidak nyaman, tidurpun tidak nyenyak karena sebentar-sebentar terbangun di tengah malam

Proses melahirkan juga merupakan perjuangan antara hidup dan mati. Usai melahirkan, ia harus merasakan letihnya menyusui dan mengeloni bayinya sepanjang malam. Lalu ketika si bayi mulai beranjak menjadi anak-anak, si ibu harus pontang-panting menjaganya dari banyak mara bahaya di sekitarnya.

Masuk remaja si anak mulai merasa mandiri untuk kemudian tidak selalu taat kepada orang tuanya. Apalagi kalau diingatkan untuk hati-hati terhadap hal-hal yang bisa menganggu keberhasilannya di masa depan seperti pergaulan dan permainan. Kemudian si anakpun kuliah, bekerja dan menikah. Apakah derita si ibu sudah selesai? Belum sama sekali. Ketika anaknya yang sudah berkeluarga mempunyai masalah dan persoalan, ibupun masih harus berfikir tentang keharmonisan keluarga anaknya.

Belum lagi kalau anaknya mempunyai anak. Cucunya adalah permata hati berikutnya. Ia ikut panik ketika cucunya sakit bahkan lebih panik dari orang tua si anak sendiri. Begitulah derita ibu seakan tidak pernah berakhir.

Barangkali itu diantara faktor yang membuat para feminis ogah menjadi seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan itu mereka anggap akan menjadi belenggu yang membatasi gerak hidup karena hanya berkutat di dalam rumah.

Maka muncul anggapan di masyarakat untuk menjadi seorang ibu rumah tangga tidak perlu pendidikan dan ketrampilan khusus. Toh pekerjaannya hanya memasak, mengurus anak dan rumah. Ia cukup memiliki bekal ketrampilan bersih-bersih, bisa memasak dan merawat anak. Apakah memang demikian?

Karier sebagai ibu rumah tangga menuntut pendiidkan yang sama atau malah lebih dibanding karir apapun di luar rumah. Karir mulia ini berkaitan dengan tugas merawat manusia, tua, muda, dan anak. Ini adalah pekerjaan paling sulit di dunia. Demikan pendapat Al-Faruqi.

Rumah merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya dan ibu merupakan guru utamanya. Meskipun bukan jaminan, namun jika anak mendapatkan cukup perhatian, kasih sayang dan sentuhan tangan-tangan lembut ibunya di rumah, peluangnya untuk memiliki kepribadian yang baik sangat besar.

Karena itulah Islam sangat menganjurkan seorang ibu untuk menyusui anaknya selama dua tahun. Secara psikologi masa awal-awal kehidupan seorang anak adalah saat-saat pembentukan sel-sel otaknya. Dan ASI memiliki peran penting untuk itu.

Pemimpin kita Rasulullah saw ketika di tanya salah seorang sahabat tentang orang yang harus dihormati pertama kali beliau menjawab ibu. Jawaban itu beliau ulangi tiga kali, baru kemudian bapak. Tentu saja pernyataan itu menunjukkan betapa istimewanya fungsi dan kedudukan seorang ibu dalam konsepsi Islam.

Demikianlah Islam mengangkat derajat wanita sangat tinggi. Tidak ada peradaban sebelumnya yang lebih menghargai wanita lebih dari Islam. Peradaban Yunani dan Romawi yang digembar-gemborkan sebagai soko guru peradaban modern sangatlah memandang rendah wanita. Termasuk filsuf-filsuf mereka Plato dan Aristoteles yang menganggap wanita bukan manusia yang sempurna, bahkan lebih hina dari laki-laki.

Begitu pula ketika masa Jahiliyyah. Derajat kaum wanita tak ubahnya benda mati yang bisa diperlakukan apa saja. Tidak ada kehormatan, penghargaan ataupun persamaan hak bagi mereka.

Kemudian Islam datang meletakkan wanita setara dengan pria sebagai ciptaan Allah swt. Mereka mempunyai hak waris, jual beli, mahar, hak meminta cerai dan hak-hak istimewa lainnya yang pada masa-masa sebelumnya mustahil ada.

Sayangnya kekalahan peradaban Islam dari barat dewasa ini membuat rasa percaya diri kaum muslimah untuk menjadi sosok ibu menurun. Banyak dari muslimah ikut-ikutan gandrung dengan perjuangan persamaan gender, emansipasi wanita, dan tema-tema semacamnya. Maka berbondong-bondonglah para wanita keluar rumah meninggalkan buah hatinya mengejar sesuatu yang nyaris seperti fatamorgana; karir. Kewajibannya sebagai ratu di istananya ia tinggalkan.

Islam tidak melarang para wanita mempunyai peran dan kesempatan mengaktualisasikan dirinya karena memiliki potensi serta kelebihan. Bukankah sejak zaman Rasulullah saw dan para sahabat para sahabat wanita atau sohabiyyah juga punya andil dalam mendirikan dan menjaga keberlangsungan peradaban Islam di Madinah?

Namun itu bukan kewajiban utama. Fungsi paling penting bagi seorang wanita adalah menjadi isteri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Ada tugas mulia menunggu di rumah; menyiapkan generasi-generasi pelanjut risalah tegaknya kalimatullah di muka bumi.

Keberhasilan generasi-generasi Islam tak lepas dari kehebatan ibu-ibu mereka. Kita tentu tidak lupa dengan al-khansa yang bangga kehilangan empat orang puteranya menjadi syuhada dalam perang Qadisiyah. Atau juga kehebatan Asma binti Abu Bakar meneguhkan jiwa puteranya Abdullah bin Zubari menghadapi al-Hajjaj.

Maka sesungguhnya menjadi seorang ibu adalah menjadi matahari bagi dunia. Merekalah insinyur-insinyur penentu tinggi rendahnya kualitas manusia. Karenanya ditanganyalah maju mundurnya peradaban satu kaum dipertaruhkan. happy mom's day. Allahu ‘alam

| edit post

Majelis Iman

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

"Mari kita duduk sejenak mengingat Allah swt"
Abdullah bin Mas'ud ra


Ikhwanifillah, perjalanan hidup kita setiap hari yang penuh dengan aktifitas kadang melenakan sehingga jarang melihat ke dalam diri kita sendiri. Tuntutan hidup, keluarga dan pekerjaan telah banyak menyita waktu. Berat rasanya meluangkan waktu untuk sejenak merenungi perjalanan kita sampai dengan saat ini. Sudah sampai di mana kita?

Perenungan akan perjalanan hidup sangat penting untuk dilakukan sebagai sarana mengaca diri. Apakah bertambahnya jumlah usia yang dimiliki dan berkurangnya jatah hidup sejalan dengan peningkatan kualitas taqwa yang bersemayam di dalam hati kita?

Adalah sebuah kerugian kalau kemudian manakala usia semakin tua sedangkan keimanan dan ketaqwaan yang dimiliki tidak bertambah kualitasnya, bahkan menurun. Itulah sesungguhnya kerugian yang harus di ratapi dan ditangisi.

Maka perenungan yang kita lakukan diantara tujuannya adalah untuk menjaga diri tidak jatuh terjerembab ke dalam fenomena tersebut. Melihat ke dalam adalah melihat prestasi amal dan tumpukan kesalahan yang telah diperbuat. Manakah yang lebih banyak?

Ketika kemudian prestasi kebaikan yang nampak lebih menonjol maka segera saja kita mengucapkan syukur kehadirat Allah swt. Sikap itu merupakan wujud pengakuan bahwa semua perbuatan kita tidak lepas dari pertolongan Allah swt. Sekaligus juga menjaga tumbuh suburnya perasaan riya' ataupun sombong yang biasanya gampang masuk ke dalam hati-hati yang terlalu bergembira.

Demikian pula sebaliknya. Apabila hasil penghitungan prestasi amal jauh dari harapan karena telah banyak bermaksiat kepada Allah swt, maka lisan segera mengucapkan istighfar sembari hati memohon ampun kepadaNya atas segala kesalahan selama ini.

Pengucapan taubat lewat lisan dan hati itu kemudian kita lanjutkan dengan memperbaiki amalan lewat aksi nyata. Praktiknya adalah peningkatan ibadah ritual kita untuk memperbaiki hubungan dengan Allah swt (hablum minallah) dan juga memperbaiki pola interaksi dengan makhluq Allah swt yaitu manusia dan ciptaan lainnya.

Dengan demikian perenungan yang kita lakukan tidak kosong. Lamunan kita tidak menyesatkan karena imajinasi yang liar.

Fungsi perenungan lainnya adalah untuk mengisi ulang baterai keimanan yang kita miliki. Sadar atau tidak perjalanan hidup kita sehari-hari kadang membuat kebeningan iman kita berkurang. Debu-debu kesalahan mungkin mulai menutupi kebebingan hati kita.

Hati yang kusam, kata imam Ghazali, akan susah menerima cahaya Allah swt, sang Maha Cahaya. Kalau dibiarkan dengan sendirinya akan mengerogoti kadar keimanan yang kita miliki.

Itulah rahasia Rasulullah saw mengajak umatnya minimal sepuluh hari dalam setahun ketika akhir Ramadhan untuk beri'tikaf memperbanyak ibadah kepada Allah swt. Allah swt sendiri mentarbiyah Muhammad sebelum menerima wahyu untuk menyukai kesendirian di gua Hira selama kurang lebih tiga tahun.

Terlebih ketika kita hidup pada potongan zaman yang tidak stabil sekarang ini. Perubahan bisa terjadi dalam hitungan hari, jam bahkan detik. Kestabilan iman merupakan sarana paling efektif untuk menjaga diri kita tidak larut dalam putaran arus yang tidak selamanya menjaga manusia tetap dalam jalan Allah swt.

Alasan lainnya yang tidak kalah pentingnya perenungan bagi diri kita adalah sebuah kesadaran bahwa hidup kita merupakan seleksi dari Allah swt. "Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian siapa yang paling baik amalnya" (Al-Mulk ayat 2).

Inilah ujian sesungguhnya. Ujian yang tidak menunggu tiga bulan, enam bulan, satu tahun atau bahkan tiga tahun. Ujian dari Allah swt berlangsung setiap saat, sepanjang waktu dan di setiap tempat.

Tidak ada detik tanpa pantauanNya, tidak ada saat tanpa tatapanNya, dan tidak ada jengkal tanah tanpa pengawasanNya. "Bahkan selembar daun kering yang jatuh dari pohonpun Allah swt mengetahuinya".

Maka wajar kalau Ali bin Abi Thalib kemudian mengatakan para sahabat Rasulullah saw itu kalau bicara mereka berdzikir, sedangkan jika diam mereka merenung. Orang-orang yang Allah swt bukakan dunia di hadapannya tapi mereka memegang di dalam tangannya, tidak menyimpan di dalam hatinya. Merekalah sebaik-baik panutan dan teladan.

Mari berhenti sejenak di majelis iman untuk menginggat Allah swt.

| edit post

Enam Yang paling.....

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Beliau kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka.

pertama, "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"

Murid-muridnya menjawab "orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya".

Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "MATI". Sebab itu memangnya janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185).

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"

Murid-muridnya menjawab "negara Cina, bulan, matahari dan bintang-bintang" .

Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan itu adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU". Walau dengan apa cara sekalipun kita tidak dapat kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?"

Murid-muridnya menjawah "gunung, bumi dan matahari".

Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU" (Al A'Raf 179). Maka kita harus berhati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?"

Ada yang menjawab "besi dan gajah".

Semua jawaban adalah benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "MEMEGANG AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".

Ada yang menjawab "kapas, angin, debu dan daun-daunan" .

Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita meninggalkan shalat, gara-gara aktivitas kita meninggalkan shalat.

Dan pertanyaan keenam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?".

Murid-muridnya menjawab dengan serentak, "pedang".

Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA". Karena melalui lidah, Manusia selalunya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri

| edit post

identifikasi diri

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Benarkah kita seorang muslim yang memiliki keperbihakan kepada Islam dengan baik?

Mari cek diri kita masing-masing. Tiga identifikasi sederhana berikut bisa dijadikan parameter untuk mengukur seberapa tinggi keberpihakan kita terhadap dienullah ini, Islam.

Pertama, kepercayaan untuk mengaku secara lisan bahwa kita seorang muslim. fashaduu bianna muslimun. "Saksikan bahwa saya seorang muslim".

Kedua, seberapa tinggi kita percaya diri untuk berpenampilan dan berperilaku sebagai seorang muslim.

Ketiga, keaktifan mengajak orang lain kepada Islam.


| edit post

Benturan Peradaban (5)

abinehanafi Filed Under: Label:
oleh : Suharsono

Islam Dewasa Ini
Benturan peradaban akan terjadi, jika dua peradaban yang dimaksud tersebut memiliki kesetaraan sumberdaya, kekuatan dan juga keberanian. Tetapi jika satu peradaban lebih superior dibandingkan yang lain, yang terjadi bukanlah benturan tetapi imitasi (peniruan).

Peradaban yang inferior menyerap dan meniru berbagai aspek dan nilai-nilai kehidupan yang berasal dari peradaban yang dipandang superior. Jika imitasi dan penyerapan itu berlangsung terus, maka tentunya terjadi infiltrasi dan penetrasi, yang sengaja atau tidak, dilakukan peradaban yang superior tersebut terhadap peradaban yang inferior, dan pada gilirannya peradaban yang inferior itu kehilangan seluruh energinya dan mati, kecuali yang tersisa hanyalah sebuah nama atau label.

Realitas umat Islam yang ada dewasa ini adalah akibat dari suatu inferioritas peradaban ketika berinteraksi dengan Barat materialisme yang superior. Pandangan umat Islam secara relatif dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah buah dari sekulerisasi, yang merupakan derivat langsung dari materialisme. Oleh karena itu maka untuk memodernisasi haruslah dengan jalan sekulerisasi dan menjadi sekuler.

Asumsi yang keliru ini, sudah barang tentu membawa sikap keterlanjuran untuk “menganggap” akan sebabnya (sekulerisme) daripada melihat fenomena modernisasi itu sendiri. Kesalahan medotologis ini berlanjut dengan upaya-upaya pemusatan perhatian terhadap idealitas-idealitas dan norma sekuler, sementara itu modernisasi menjadi dinomorduakan. Oleh sebab itu hasil ini hasil akhir dari langkah-langkah demikian bagi umat Islam, adalah “sekulerisasi” dan bukannya “modernisasi.”

Mesir adalah korban pertama dari sekulerasi. Negara yang bentuk awalnya terdiri atas umat Islam tradisionis dengan menempatkan ulama dalam posisi sentral kehidupan masyarakat, dan untuk penjaga gawang kelestarian etika dan norma-norma agama, untuk pertama kalinya diguncang oleh Muhammad Ali Pasha (1805-1849), yang keranjingan dengan upaya sekulerismenya. Tindakan ini dijalankan oleh Muhammad Ali dan putranya, Ibrahim Pasha, dengan cara pembrangusan institusi tradisional dan cara-cara teroris lainnya, sebagai salah satu upaya pemaksaan inovasi-inovasi sekuler, yang sesungguhnya memang tak akan pernah dapat diterima oleh ulama tradisionis.

Tindakan-tindakan pembrangusan yang dilakukan oleh Muhammad Ali, dalam term, Machiavelli sesungguhnya merupakan kenyataan yang mudah dipahami; karena peranan sentral ulama tradisionis bagi masyarakat tetap akan menjadi kendala bagi pembaharuan-pembaharuan sekuler. Karena itu, untuk membungkam ulama, Muhammad Ali mengambil tindakan-tindakan taktis dengan jalan mendatangkan ahli-ahli dari Perancis untuk berperan serta dalam pemerintahannya, di samping yang tak kalah efektifnya adalah pengiriman-pengiriman pemuda dan pelajar Mesir ke Perancis, yang sudah barang tentu akan mudah difungsikan sebagai propagandis-propagandsi baru dalam rangka mendukung sekulerisme di Mesir.

Di tangan Khediv Ismail (1863-1879) sekulerisasi di Mesir mencapai puncak keberhasilannya. Jika pada masa Muhammad Ali sekulerisasi lebih banyak ditandai dengan nafas-nfas modernisme yang mengambil bentuknya berupa pembaharuan-pembaharuan teknologi militer dan industri, maka pada pemerintahan Khediv Ismail sekulerisme diinjeksikan ke dalam “adab-budaya” Mesir. Pada masa ini, terjadi perombakan besar-besaran yang meliputi konsepsi-konsepsi, pranata-pranata dan sistem dalam berbagai bidang dan yang terpokok adalah sosio-ekonomi serta pemerintahan. Dengan demikian terjadi pergeseran-pegeseran dan merubah keseimbangan masyarakat Masir; elite-elite sosial baru mulai bermunculan yang disiapkan rezim Khediv Ismail sebagai penyangga, menuju ke sebuah negara Mesir modern.

Impian Khediv Ismail untuk menjadikan Mesir sebagai “bagian dari Eropa,” dicoba melalui aktivitas-aktivitas antara lain, membuka komunitas-komunitas luar negeri, mendirikan sekolah-sekolah sekuler, mengintroduksi kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai dan etika Barat terhadap masyarakat. Dalam pengembangan yang relatif singkat, pranata-pranata sekuler ini, mampu mengembangkan sayapnya menyeruak ke dalam detail-detail kehidupan masyarakat, yang pada gilirannya menggeser norma-norma agama; sehingga melorot tajam menjadi standard sekunder dalam tata hidup sosial di Mesir.

Apa yang terjadi di Mesir dalam skala yang lebih revolusioner terjadi di Turki. Fenomena awal sekulerisasi di Turki ditandai oleh provokasi-provokasi moderat yang dilancarkan oleh Nemik Kemal bersama Ali Su’awi Efendi melalui artikel-artikel di Tasfiri Efkar dan ceramah Ramadhan. Tetapi karena kuatnya posisi di kalangan tradisionis, menjadikan upaya-upaya mereka tidak efektif. Barulah ketika lahir angkatan muda Turki sekitar tahun 1871-1872, Namik Kemal berhasil membakar semangat nasionalisme angkatan muda, yang pada intinya merupakan ‘jiplakan’ tema-tema revolusi Perancis tahun 1865, yang menyenandungkan nation d’etre. Ide-ide sekuler mula-mula memperoleh lahan di kalangan intelektual (westernized), kemudian berkembang luas menembus inti kekuasaan yang paling dalam, yang pada akhirnya mencapai puncak kemenangan, di mana Turki untuk pertama kalinya dipakai sebutan dari negara dan rakyat Ottoman ini.

Perkembangan sentimen ke-Turki-an semakin dikaitkan dengan gerakan-gerakan yang utuh dan terencana, semakin menjauhi praktek-praktek Islami, dan semakin dekat dengan Barat. Kenyataan demikian ditandai dengan pembaharuan-pembaharuan jangka pendek, yang dimaksudkan untuk menyebrangkan bangsa ini dari peradaban Islam ke peradaban Barat.

Tetapi sebuah kekuatan pemerintahan sekuleris muncul yang secara capat menggoyahkan sendi-sendi pemerintahan Islam baru menampakkan garangnya, ketika Mustafa Kemal Pasha dengan Angkatan Muda Turki, berhasil menggulingkan dinasti Ottoman. Tahun 1923 konstitusi Turki, di bawah Attaturk menghapuskan Islam sebagai ajaran agama negara. Agama dijadikan sebagai urusan pribadi-pribadi dan sama sekali lepas dari urusan-urusan soisal. Selanjutnya sebagai konsekuensi logis, kaena agama tidak lagi menjadi urusan negara, maka Khilafah dihapuskan, kantor komisariat syari’ah ditutup dan digantikan dengan kode Swiss.

Di dunia Islam sesungguhnya ada sejenis nasionalisme yang memang merupakan fenomena umum, karena latar belakang etnis dan geografis, tetapi bukanlah berarti kondisi demikian kemudian dapat dipakai sebagai dasar pijakan (raison d’etre) lahirnya nasionalisme yang menuntut loyalitas tertinggi masyarakat.18 Tetapi kenyataan yang terjadi di Turki, telah berubah menjadi sedemikian akutnya. Kerena nasionalisme berpadu dengan ruh sekulerisme, dan setelah melalui ketegangan-ketegangan yang memuncak, antara kalangan tradisionis dengan westernized, akhirnya Islam sebagai ajaran yang mendarah daging dalam masyarakat terdepak ke luar.

Begitu juga yang terjadi di belahan-belahan lain dunia Islam, roda sekulerisme terus menggelinding merobohkan mata rantai kehidupan soisal yang telah mapan. Meskipun hembusannya tidak sekencang di Turki, paket sekulerisme dalam gayanya yang sama juga melanda Iran terutama sekali pada awal abad 20-an. Setelah revolusi Konstituante tahun 1905-1911, Iran sekali lagi terperosok ke dalam tata kehidupan diktatorian.

Situasi Iran di bawah dinasti Pahlevi yang demikian sekuler ini, pada awalnya didahului persaingan-persaingan dan ketegangan antara beberapa kubu ulama yang masing-masing pihak mencoba mempertahankan mahzabnya dengan berusaha mnerontokkan mahzab lain. Oleh sebab itu lahirnya negara sekuler di Iran, bukan saja sebagai situasi yang ditolelir, tetapi dimaafkan. Alasan ulama-ulama yang bertengkar ini, antara lain terlihat dari pandangannya, yang menempatkan negara (sekuler) sebagai pembentuk suatu bagiaan integral kekuatan Islam, dan bukannya suatu keuatan jahat yang terpisah.

Pelucutan peran dan fungsi ulama tradisionis dilakukan secara bertahap, sebagai upaya pembatasan otorisasi fuqhaha dalam proses kehidupan sosiokultural. Hal ini selain dudukung oleh mujtahid yang lekat dalam gaya hidup sekulerisme seperti Talibzada, Malkhom Khan, Mirza Aga Khan Kirmani, juga disebabkan oleh kalangan konstitusionalis yang gagal membuktikan diri sebagai pemerintahan yang mampu membuat pranata-pranata pembangunan masyarakat dengan etik Barat modern. Oleh sebab itu, ketika dinasti baru sejak memupuk kekuasaan tahun 1920-an dengan implementasinya kebijaksanaan-kebijaksanaan sosiokultural sekuler, fuqhaha telah banyak terdesak mundur, sehingga kegiatannya hanya terbatas pada masjid-masjid dan madrasah-madrasah, yang telah “diciutkan fungsinya” oleh rezim sekuler.

Penanaman ide-ide sekuler, setelah menancapkan akar-akarnya di semua sektor pemerintahan, segera melebar ke distrik-distrik pendidikan di hampir semua tingkat. Pendidikan sekuler wajib dilaksakan disekolah-sekolah milik negara, sementara itu penerapan hukum dan sistem peradilan, langsung di bawah menteri kehakiman yang dibantu oleh hakim-hakim dari yang berpendidikan sekuler.

Modernisasi sistem-sistem pendidikan dengan menggunakan model Barat sekuler, merupakan senjata paling efektif yang digunakan rezim Pahlevi untuk mermehkan pengaruh “perjuangan” tokoh-tokoh Islam. Untuk lebih menjatuhkan dan lebih mengucilkan kalangan ulama, rezim Pahlevi sengaja menginjeksi ke dalam kesadaran masyarakat suatu prototype budaya yang diambil dari sejarah Iran pra Islam, khususnya budaya Arya.

Berbagai wajah sekulerisme yang mulai muncul pada abad XIX sampai pertengahan abad XX, sesungguhnya tidak hanya berkembang di Mesir, Turki maupun Iran tetapi dalam bentuknya yang lebih pragmatis dan terkemudian, juga terjadi di Tunisia, Nigeria, Sinegal dan berbagai wilayah lainnya, termasuk Indonesia yang secara intensif di mulai dari era Soekarno.

Dalam masalah keyakinan, sebatas menyakini tentang adanya Allah, sesungguhnya tidak ada perbedaan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir (sekuler). Hal ini misalnya ditunjukan oleh Al-Qur’an;
"Dan sesungguhnya jika kamu menanyakn kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “ Allah.” Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Q.S. 31: 25)

Akan tetapi bagi orang-orang kafir, keyakinan tentang adannya Allah, tidak dikembangkan sebagai keyakinan hidup yang sekaligus merupakan standard norma tingkah lakunya. Bahkan istilah kafir yang dikenakan untuk mereka itu adalah wujud penolakan sacara definitif terhadap keharusan taat kepada Allah. Sebagaiman yang diklaim Al-Qur’an sendiri:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunksn Allah.” Mereka menjawab: “(tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapat dari bapak-bapak kam mengerjakannya.” Dan apakah (mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)?” (Q.S. 31: 21)

Kondisi orang kafir yang demikian, tak jauh berbeda dengan sikap iblis untuk sujud (hormat) kepada Adam (Q.S. 2: 30-39). Keduanya memilih konfrontasi dengan menanggung segala resikonya, ketimbang harus tunduk kepada perintah-perintah Tuhan. Begitu juga dengan sikapnya terhadap orang-orang Mukmin. Tidak seorang kafir pun membiarkan orang Mukmin memperoleh kebahagiaan dan kemenangan, kecuali mereka terus menerus menggangunya, dan bila mungkin menariknya ke dalam golongannya (Q.S. 2:120).

Kenyataan sikap yang demikian ini, dalam kapasitas makronya, berarti upaya pendominasian pranata-pranata soisal yang secara teologis dimaksudkan mendepak pranata-pranata Tuhan (sunnatuddin) untuk diganti dengan norma-norma relatif hasil terkaan dan prasangka, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah (Q.S. 6:136-139). Tak syak lagi, meskipun tidak sama persis antara orang-orang kafir dengan kondisi oranmg-orang sekuler dalam abad XIX dan XX ini, namun dapat ditarik kesimpulan bahwa keduanya mempunyai kencenderungan sikap serta pemikiran yang sama.

Oleh sebab itu bagaimanakah nasib umat Islam di bawah pemerintahan sekuler? Kencangnya arus sekulerisasi yang melanda dunia Islam, pada akhirnya menciptakan berbagai ketergantungan baru, umat Islam kepada materialisme Barat, yang semakin lama terlihat adanya bahaya yang semakin fatal. Berbagai bentuk ketergantungan itu antara lain terletak pada konsepsi pemikiran dan intelektual, sosio-pemerintahan, ekonomi dan militer. Dalam lapangan intelektual misalnya, terlihat betapa dominasi ilmu pengetahuan oleh Barat terahadap umat Islam, baik dari segi materi keilmuan maupun tuntutan metodologis.

Kenyataan demikian, apabila terus-menerus menjadi tempat ketergantungan ilmuwan-ilmuwan Muslim, sudah barang tentu mereka akan gagal memberikan interpretasi yang representaif terhadap ajaran agamanya sendiri. Seperti kita saksikan sekarang ini, di mana para ilmuwan Muslim papan atas dengan tegas mengatakan bahwa konsepsi kenegaraan, ekonomi, sosial dan lain-lain tidak ada dalam Al-Qur’an. Lalu bagaimana dengan kondisi umat Islam di bawah pemerintahan yang sekuler dan dengan kondisi para ilmuwan Muslim yang tidak berdaya dalam merumuskan konsepsi kehidupan dari ajaran Islam sendiri? Realitas umat Islam yang demikian dapat diibaratkan seperti anak yatim piyatu yang tanpa perlindungan, dan dengan demikian mudah menjadi ‘santapan srigala.’ Kita saksikan sekarang ini, bahwa tema-tema pemikiran, gaya hidup dan prilaku umat Islam adalah fungsi dari materialisme. Hal itu terjadi tidak saja di kalangan elite tetapi juga sudah merata sampai ke akar rumput. Kita hidup dalam suatu zaman, sebagaimana diisyaratkan Rasulullah saw, penuh dengan dan diselimuti debu kejahiliyahan dan dosa, yakni materialisme. Kita mungkin tidak menyukainya tetapi tak dapat menghindarinya.

Membangun Peradaban Islam: Mungkinkah?
Pertanyaan besar ini kita ajukan, karena situasi yang melingkupi dunia Islam adalah sedemikian rupa, sehingga setiap niat baik, apalagi cita-cita besar untuk mewujudkan peradaban Islam di masa depan. Dengan pertanyaan itu setidaknya kita akan berpikir dan menganalisis seberapa besar tantangan yang kita hadapi, potensi yang kita miliki didasarkan atas asumsi-asumsi dan keyakinan-keyakinan yang kita miliki. Kemampuan kita dalam memberikan analisa inilah yang secara relatif memberikan “rasa” optimis atau pesimis, meskipun secara doktrinatif tentu kita juga harus memiliki perasaan optimis.

Sebagaimana diuraikan di depan bahwa semua aspek kehidupan umat Islam secara riil telah dideterminasi oleh nilai-nilai peradaban materialisme. Bagaimanakah ekonomi, politik, hukum, hankam, seni dan entertainment kita, pada kenyataannya adalah hasil imitasi konsep dan peniruan dari Barat. Artinya, tak ada satu aspek realitas keumatan pun yang siap untuk berbenturan dengan realitas kehidupan yang ada dalam peradaban materialisme Barat. Tetapi jika kita bertanya pada diri sendiri dan mengukur keyakinan kita; sebenarnya mana yang lebih kredible antara ajaran Islam, Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw., dibandingkan dengan ajaran hidup yang dimiliki peradaban Barat. Kita akan mendapatkan jawaban yang sangat optimis; ajaran Islamlah yang lebih unggul dan kredible.

Ada perasaan superior di hati kita dan tentu umat Islam umumnya, berkenaan dengan keunggulan ajaran yang dimilikinya, bila dibandingkan dengan ajaran lain, baik berupa kitab suci agama lain maupun falsafah hidup buatan manusia lainnya. Titik awal dalam membangun peradaban Islam yang kita cita-citakan haruslah berawal dari domain, di mana kita sendiri memiliki perasaan superior itu sendiri. Karena rasa superior itulah yang akan mendorong kita untuk bersifat ekspansif dalam membangun peradaban.

Pada satu sisi dapat dikatakan bahwa superioritas dan atau inferioritas suatu peradaban itu sepenuhnya tergantung pada dua hal. Pertama, ajaran-ajaran atau nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam peradaban yang bersangkutan. Misalnya, seberapa sahihkan pandangan yang berasal dari ajaran peradaban tersebut memberikan pernyataan tentang sesuatu, termasuk pandangan tentang masa depan umat manusia.

Bagaimana ajaran itu merespons pikiran-pikiran manusia, dari persoalan sehari-hari sampai dengan hal-hal yang bersifat substantive dan transendensi. Apakah pernyataan-pernyataan dari ajaran itu bisa dibuktikan dalam kehidupan. Artinya, apakah jika seseorang mengikuti secara penuh ajaran yang diyakininya akan memperoleh kesuksesan hidup dan sebagainya.

Kedua, terletak pada kemampuan interpretasi sumberdaya insani yang terdapat dan menjadi pendukung dalam peradaban tersebut, sehingga ajaran-ajarannya memiliki kontekstualisasi dengan problem-problem kemanusiaan pada masanya, dan tentunya dengan konsistensi logis yang memadai. Artinya, apakah sumberdaya insani yang menjadi penyangga peradaban tersebut itu terdiri atas manusia-manusia yang cerdas, tercerahkan dan mampu membangun konsep tentang berbagai aspek kehidupan yang diturunkan dari ajaran tersebut atau tidak.

Jika suatu peradaban tidak memiliki ajaran yang kredible atau handal dalam melayani tantangan intelektual dan tidak mampu memberikan jawaban yang futuristik, apalagi jika mengalami inkonsistensi ketika dipraktekkan, maka cepat atau lambat peradaban tersebut pasti akan mati dan tak akan sanggup hidup lagi. Contoh tentang peradaban ini adalah peradaban manusia klasik, seperti Sumeria, Mesir, Romawi dan yang kontemporer, adalah Komunisme. Peradaban-peradaban itu bertahan hidup karena dikawal oleh kekuasaan yang tiranik dan diktator. Tetapi secara intrinsik (dari dalam sendiri) akan mengalami kehancuran, karena ajarannya memang inkonsisten.

Sebaliknya juga, meskipun suatu peradaban memiliki ajaran yang kredible, tetapi jika sumberdaya insani yang dimilikinya tidak mampu menginterpretasikan ajaran tersebut pada konteks kehidupan yang tengah berlangsung, maka peradaban yang bersumber dari ajaran yang kredible tersebut tetap tidak mampu berkembang. Contoh tepat tentang peradaban yang dimaksudkan ini adalah Islam. Ajaran Islam, karena dipresentasikan oleh orang-orang yang inferior, menyebabkan, seolah-olah tidak lagi memadai untuk menjawab problema manusia. Meskipun demikian, jika pada suatu masa tertentu peradaban yang memiliki ajaran yang kredible itu memiliki sumberdaya insani yang unggul, maka sudah semestinya akan menjadi peradaban yang superior. Peradaban yang superior adalah peradaban yang seluruh ajarannya kredible dan memiliki sumberdaya insani yang handal, mampu memberikan pandangan-pandangan dan interpretasinya tentang kehidupan ini maupun mendatang secara memadai berdasarkan ajaran peradaban yang dimilikinya dan wajar menjadi “kiblat” peradaban manusia.

Realitas peradaban Islam sekarang ini berada dalam posisi superior, jika ditinjau dari perspektif ajaran. Sebaliknya Islam adalah peradaban yang inferiror, jika ditinjau dari sumber daya insani. Islam, seperti dinyatakan dalam kata-kata bijak adalah ajaran yang tertinggi dan tidak ada yang menyamainya (al-islaamu ya’luu wa laa yu’laa ‘alayhi). Tetapi sebaliknya juga Islam tertutupi [pancaran dan superioritasnya] oleh kebodohan umat Islam sendiri.

Peradaban yang merasa superior, secara fenomenal, akan mengemukakan pandangan-pandangan dan interpretasinya untuk menjawab persoalan-persoalan kehidupan dan kemanusiaan. Lebih dari itu, mereka akan mengajak pihak lain bahkan memaksanya untuk mengikuti apa yang dianggapnya baik tersebut, dan biasanya tanpa memberikan empaty untuk melihat ajaran peradaban yang menjadi pilihan pihak lain. Peradaban Barat, yang diklaim oleh sejumlah opini dominan sebagai peradaban yang ‘paling maju’ dan akan membawa umat manusia pada kemajuan dan kemakmuran (materi), kini merasa mendapatkan saingan baru setelah musuh bebuyutannya (Komunisme) tumbang. Dan, saingan baru itu, yang tidak hanya merupakan rival tetapi berpotensi menghasilkan benturan peradaban yang amat dahsyat, adalah Islam. Karena ajaran Islam, siapapun mengetahui, adalah yang paling kredible dan handal untuk menyelamatkan manusia, di dunia ini dan akherat kelak. Itulah mengapa, peradaban Barat yang direpresentasikan oleh Amerika, Inggris, Perancis dan sejumlah negara Eropa lain, lebih suka menjadikan orang-orang Muslim sebagai sasaran tembak ketimbang terhadap ajaran Islam. Karena sumberdaya insani Islam (Muslim), saat ini adalah titik lemah kebangkitan peradaban Islam. Masalahnya, menjadi berbeda, jika Barat berani membidik ajaran Islam itu sendiri untuk dibenturkan dengan ajaran sekuler. Karena bila ajaran Islam diangkat ke permukaan, menjadi wacana global, dengan sendirinya akan memberikan penetrasi dan menginfiltrasi setiap manusia, tak peduli dari manapun latar belakang peradabannya, selama memiliki integritas intelektual.
Dengan demikian, kunci utama membangun peradaban Islam pada masa kita sekarang ini adalah dengan mengembangkan superioritas, terutama bagi mereka yang merasa “terpanggil” untuk urusan besar ini. Hal ini sangat penting, agar kesempurnaan ajaran Islam, dalam semua aspek kehidupan manusia, mendapatkan orang-orang terpilih dan sekaligus representatif untuk mempresentasikannya di hadapan seluruh umat manusia. Bila tidak demikian, maka kebesaran ajaran Islam diselubungi oleh kebodohan kaum Muslim, yang pada gilirannya komunitas yang berasal dari peradaban lain, karena interaksinya dengan orang-orang Muslim yang seperti itu, akan meremehkan ajaran Islam itu sendiri, tanpa mengkajinya secara obyektif.
Superioritas itu, seperti tercermin dalam ajaran Al-Qur’an, terletak pada kesempurnaan spirirtual dan intelektual seseorang, yang tentunya akan memanifestasikan pada akhlaq dan prilaku, serta sikap hidup yang Islami. Dalam hal ini kita yang hidup di Hidayatullah telah memulai dengan langkah yang benar, yakni dengan memperbanyak ibadah, termasuk menegakkan shalat lail secara kontinyu. Intensitas spiritual, di samping memanifestasikan prilaku individual yang Islami, juga tercermin dalam perspektifnya pada aspek-aspek sosial yang penting, seperti kekuasaan, materi dan hal ikhwal duniawi lainnya. Seseorang yang memiliki spiritualitas memadai akan tetap superior dan determinan bila berinteraksi dengan para penguasa, begitu juga ketika berinteraksi dengan orang-orang kaya. Tetapi superioritas spiritual, yang hanya didukung oleh ritualisme tidaklah cukup. Perlu ada intelektualisasi yang memadai dan itu berarti mengharuskan kita untuk berani berbenturan dengan berbagai wacana dan pemikiran yang berkembang. Dalam kebijakan taktis dan strategisnya kita perlu membangun basis kaderisasi yang handal, sehingga mampu menjadi juru bicara yang kompeten tentang peradaban Islam yang kita harapkan.

Membangun superioritas intelektual adalah dengan mempertajam dan memperkaya intelektualitas. Dalam konteks ini, kita yang hidup di Hidayatullah, sebenarnya adalah orang-orang yang cukup banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Hanya saja perlu diketengahkan di sini, bahwa pola interaksi kita dengan Al-Qur’an sangat terbatas (membaca dalam pengertian yang sempit). Kita belum sampai pada pola pembacaan yang bersifat eksploratif dan mengetengahkan Al-Qur’an itu dalam “bahasa konsep,” yang dapat dipahami oleh orang-orang yang sekadar mengandalkan common sense. Pembacaan yang bersifat eksploratif, memungkinkan kita untuk mengenal tentang bagaimana Al-Qur’an memberikan pandangannya atas sesuatu hal juga pola logika yang kaya dan determinatif. Begitu juga dengan pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengacu pada know how dan know why, memungkinkan kita memperoleh sistem penjelas yang inspiratif dan genuine. Hal yang sama juga dapat diterapkan dalam berinteraksi dengan sirah nabawiyah. Keduanya, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, akan menghasilkana sistem penjelas yang luas dan otoritatif mengatasi episteme dan argumentasi yang dikembangkan oleh sains dan disiplin modern.

Membangun peradaban Islam, berarti mengislamkan seluruh dunia ini, dalam setiap aspek dan tingkatnya. Misi-misi Islam harus dijelaskan dengan pola logika dan kerangka berfikir yang Islami pula. Tentu saja ini suatu pekerjaan besar, yang membutuhkan kesabaran seorang ideolog, untuk mewujudkannya. []

| edit post