<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292</id><updated>2012-01-05T18:27:17.164+07:00</updated><category term='kajian'/><category term='motivasi'/><category term='kisah'/><category term='renungan'/><category term='pendek'/><category term='pendidikan'/><category term='kesehatan'/><category term='selingan'/><category term='peradaban'/><category term='umat'/><category term='realitas'/><category term='hikmah'/><title type='text'>A moeslem's life</title><subtitle type='html'>our time is a charity dedicated to Allah swt</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>109</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-4411092020184730150</id><published>2011-10-19T11:37:00.003+07:00</published><updated>2011-10-23T05:11:33.662+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendek'/><title type='text'>mengapa anak merokok?</title><content type='html'>&lt;i&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertanyaan itu mungkin aneh untuk saat ini. Fenomena anak merokok adalah hal yang lumrah terlihat di sekeliling kita. Tidak hanya tingkat anak "tanggung" yaitu seusia pelajar sekolah menengah, tapi juga sudah merambah ke anak-anak sekolah tingkat dasar. Semoga saja tidak merembet ke anak-anak usia pra sekolah, musibah besar!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Namun tetap saja membuat hati tidak nyaman melihat dan menyaksikan tangan-tangan yang masih kelihatan belum kokoh tersebut sudah terselip sebatang rokok di sela-sela jarinya. Nggak tega rasanya. tidak jarang terbersit pikiran "apa sih enaknya merokok?", "sudah tidak enak, merusak lagi!". Begitu barangkali lintasan-lintasan ungkapan muncul secara spontan dalam pikiran melihat fenomena banyaknya generasi masa depan umat terperangkap dalam gaya hidup yang keliru. Bahkan fatwa haram dari MUI pun tidak mampu mengerem hasrat mereka mengkonsumsi barang &lt;/span&gt;terlarang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Banyak alasan seseorang atau seorang anak menjadi perokok. Namanya juga alasan bisa beneran atau juga sekedar kambing hitam karena sudah terlanjur kecanduan "Tuhan 9 centi" tersebut. Tuhan 9 centi merupakan ungkapan Taufik Ismail dalam puisinya untuk menyindir tentang ketaatan para perokok terhadap "berhalanya" tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Lalu kenapa seorang anak jadi perokok?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Paling tidak ada tiga alasan yang bisa disebutkan disini, tentu saja alasan-alasan berikut ini bisa ditambahi sendiri. Penyebab pertama seorang anak merokok karena &lt;i&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;orang tuanya adalah perokok&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;.  &lt;/span&gt;Betapa tidak akan tergoda untuk mencoba jika setiap hari seorang anak menyaksikan orang tuanya asyik melahap rokok di depan matanya. Nampaknya lezat, begitu barangkali awalnya dalam pikiran si anak melihat gumpalan-gumpalan asap keluar dari mulut bapaknya. Akhirnya bisa ditebak, lambat laun sang anak menapaki jejak yang sama dengan bapaknya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"ahli hisab"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping orang tua, teman dan lingkungan pergaulan bisa juga mempengaruhi seseorang menjadi perokok. &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Berteman dengan perokok&lt;/span&gt; merupakan faktor kedua yang mungkin bisa menyebabkan seorang anak merokok. Meski tidak ada anggota keluarganya yang merokok, namun karena setiap hari berkumpul dengan anak-anak yang sebaya bisa menyebabkan seseorang menjadi perokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat teman-temannya nampak macho ketika merokok plus puluhan kali rayuan untuk mencoba satu atau dua hisapan biasanya cukup ampuh meruntuhkan daya tahan seorang anak yang sebelumnya tidak merokok. Awalnya mungkin sekedar iseng mencoba, sungkan menolak ajakan atau menghormati teman. Namun karena setiap hari begitu tidak butuh waktu lama untuk membuatnyapun menjadi pecandu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Penyebab yang ketiga mengapa anak merokok adalah salah mempersepsikan rokok. Bagi anak-anak yang merokok tidak jarang merasa dengan merokok dirinya sudah dewasa. Dengan kata lain &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;merokok merupakan simbok kedewasaan&lt;/span&gt; bagi seseorang, khususnya anak laki-laki. Persepsi yang ngawur tersebut dianut sebagian anak-anak dan remaja yang menjadikan rokok sebagai bagian dari gaya hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak penyebab yang mungkin dijadikan alasan seorang anak sehingga ia merokok. Bisa jadi karena tidak memiliki prestasi yang layak dibanggakan dalam lingkup sekolahnya baik akademik maupun non akademik sehingga merokok supaya bisa sedikit bangga di depan teman-temannya. Bisa pula beralasan sering stress karena masalah ini dan itu sehingga perlu merokok beberapa batang sebagai sarana refreshing sesaat. Dan bla... bla.... bla.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, berhenti sajalah yang sudah menjadi barisan perokok berapapun usianya, apapun profesinya dan dimanapun berada. Jangan kembali menjadi orang yang buta huruf sehingga peringatan dari pemerintah di setiap bungkus rokok tidak terbaca. Masak  memiliki pikiran kalau badanya terbuat dari besi sehingga tidak akan keropos terkena racun dari setiap asap yang dihisap dari batang rokok? Itu sih kelewatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-4411092020184730150?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/4411092020184730150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/10/mengapa-anak-merokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4411092020184730150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4411092020184730150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/10/mengapa-anak-merokok.html' title='mengapa anak merokok?'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-6910123846728279302</id><published>2011-08-25T10:02:00.005+07:00</published><updated>2011-10-20T22:28:35.444+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>karena cinta</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br&gt;&lt;br&gt;&amp;quot;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kapan mudik&lt;/span&gt;?&amp;quot; &amp;quot;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tanggal berapa mudik&lt;/span&gt;?&amp;quot; &amp;quot;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mudik pake apa&lt;/span&gt;?&amp;quot;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagi orang perantauan seperti saya dan setipe, pertanyaan diatas sudah banyak dilontarkan teman sejak ramadhan masuk angka dua puluhan. Tentu saja tidak boleh bosan menjawabnya, walaupun yang bertanya sampai puluhan orang secara bergantian. Belum lagi keluarga di kampuang yang juga pingin tahu kapan mudiknya. Pastilah lebih banyak mengulang jawaban yang sama.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sulit membayangkan lebaran di Indonesia tanpa istilah mudik. Pastilah tidak seru alias hampar. Hanya libur dua hari pas tanggal merahnya. Tidak ada keramaian dan keriuhan seperti ketika mudik menjadi fenomena massal di negeri ini. Pusat perbelanjaan tradisional dan modern penuh sesak. Agen kendaraan umum panen keuntungan. Terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan penuh sesak dengan manusia. Belum lagi kesemerawutan jalan raya di hampir seluruh jalan yang menghubungkan kota-kota besar menuju kota-kota kecil maupun daerah pinggiran.&lt;br&gt;&lt;a href="http://abinehanafi.blogspot.com/2011/08/karena-cinta.html#more"&gt;Baca selengkapnya »&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-6910123846728279302?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/6910123846728279302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/08/karena-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6910123846728279302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6910123846728279302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/08/karena-cinta.html' title='karena cinta'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-8903880130799111644</id><published>2011-03-16T17:36:00.001+07:00</published><updated>2011-10-12T03:23:18.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Generasi sakit yang dilupakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kalimat diatas terbaca dari tulisan kaos bagian belakang salah seorang remaja tanggung yang melewati  saya.  Dengan &lt;i&gt;pede&lt;/i&gt; nya mereka berjalan menyeruak di tengah keramaian sambil tertawa dan bernyanyi kecil bersama. Mereka berombongan sekitar lima orang dengan penampilan khas anak-anak “punk”.  Mungkin kalimat tersebut mewakili pikiran dan nasib mereka sendiri; generasi sakit yang dilupakan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Muncul dari kompleksitas peradaban manusia dengan segala perniknya. Aliran punk kemudian membuat sub system sendiri di tengah pergaulan masyarakat. Dengan segala atribut khasnya yang menurut sebagian besar masyarakat aneh membuat mereka nampak berbeda. Justru itu yang – mungkin -  mereka banggakan sebagai kelebihan.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Perasaan aneh itulah yang kayaknya membuat orang umumnya menganggap kurang baik pada mereka. Urakan, tidak terdidik, jarang mandi dan berbagai atribut negatif terlanjur dilabelkan masyarakat kepada mereka. Akibatnya kelompok mereka jarang mendapat pembinaan dan sentuhan perhatian dari system masyarakat sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/generasi-sakit-yang-dilupakan.html#more"&gt;Baca selengkapnya »&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-8903880130799111644?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/8903880130799111644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/generasi-sakit-yang-dilupakan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8903880130799111644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8903880130799111644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/generasi-sakit-yang-dilupakan.html' title='Generasi sakit yang dilupakan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1553535530585204291</id><published>2011-03-13T20:34:00.001+07:00</published><updated>2011-03-13T20:37:29.565+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Menolak hujan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hujan adalah rahmat. Itu pasti. Namun &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;pada saat tertentu tidak semua orang berharap hujan turun. Tentunya bukan karena menolak rahmat, ada rahmat lainnya yang lebih besar ingin diraih. Satu tujuan beda jalan. Mungkin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Saya tidak tahu persis benar tidaknya, namun hal tersebut sudah mafhum di masyarakat luas. Konon ada orang-orang tertentu yang bisa menolak hujan. Ada yang mengatakan menunda hujan, tidak sedikit pula yang bilang mereka memindahkan tempat turunnya hujan. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wallahu ‘alam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Biasanya mereka diundang oleh orang-orang yang sedang mengadakan hajatan; resepsi pernikahan, khitanan, upacara selamatan&lt;/span&gt;, pertandingan-pertandingan olah raga&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt; maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan pengerahan manusia dalam jumlah banyak. Dan mereka mendapatkan upah untuk jasanya tersebut. Besarnya upah tidak ada tarif resmi tapi sudah tahu sama tahu.&lt;/span&gt; Kita sering menyebutnya pawang hujan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka akan sibuk sekali melayani permintaan ketika bulan-bulan masehi mendekati akhir tahun dan awal tahun. Mungkin juga pada saat musim sedang tidak menentu seperti ini. Job mereka padat dan tidak jarang pengguna jasa mereka harus inden jauh-jauh sebelumnya. Terlebih jika sang pawang cukup terkenal karena keampuhannya. Bisa satu dua bulan sebelum hari H harus sudah booking duluan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bagaimana mereka bisa melakukan hal tersebut? Pawang hujan bukanlah ahli meteorology dan geofisika. Pasti bukan. Mereka bukan pula para fisikawan atau ilmuwan alam lainnya. Apakah mereka punya mesin untuk mengendalikan tempat turunnya hujan? Tentu tidak.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Lalu bagaimana mereka melakukannya?&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Wallahu ‘alam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Masyarakat umum mengatakan pawang hujan memiliki ilmu kesaktian untuk menolak hujan. Ada yang mengatakan mereka memiliki ritual-ritual khusus sebelum dan setelah beraksi. Tidak sedikit pula yang menuduh mereka berkawan ria dengan para makhluq halus. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Wallahu ‘alam.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Satu yang pasti apapun yang terjadi di muka bumi ini tidak lepas dari kehendak Allah swt. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah swt mengatur seluruh alam raya dengan kehendakNya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak dan ijin Allah swt.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seminggu terakhir saya termasuk orang yang berharap hujan tidak turun hari ini. Kami mempunyai agenda penting untuk menyambut tamu ratusan orang yang bersilaturahim. Kasihan rasanya melihat ratusan orang harus berlari-lari menghindari hujan atau basah pakainnya terkena cipratan air dari jalan yang tegenang. Kami khawatir tidak bisa memuliakan tamu sebagaimana perintah Rasulullah saw. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Barang siapa beriman kepada Allah swt dan hari akhir maka muliakanlah tamunya”&lt;/span&gt; (al-Hadist).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Alhamdulillah. Allah swt berkenan mengabulkan doa kami. Meski sepanjang hari harus dag dig dug karena setiap melihat ke langit nampak awan putih bercampur dengan awan hitam. Belum lagi angin sepoi sepoi dingin membuat setiap menit penuh dengan suasana khawatir kalau-kalau tumpah juga akhirnya air dari langit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tidak ada pawang hujan yang terlibat disini. Hanya doa orang-orang setiap sholat lima waktu dan ibadah sunnah lainnya selama satu minggu penuh. Terima kasih ya Allah, Engkau kabulkan permohonan kami. Amiiinnn.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1553535530585204291?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1553535530585204291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/menolak-hujan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1553535530585204291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1553535530585204291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/menolak-hujan.html' title='Menolak hujan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-4669017612141579578</id><published>2011-03-06T20:38:00.003+07:00</published><updated>2011-03-06T20:50:13.308+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Sejenak mengingat kesalahan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span style="font-size:14.0pt;mso-bidi- mso-ansi-language:INfont-size:12.0pt;" lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Pernahkan kita mengkalkulasi secara cermat dan jujur dosa-dosa kita sejak baligh sampai hari ini? Mungkin ada diantara kita yang melakukannya&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt; meski jumlahnya tidak banyak. Betapa melimpahnya kesalahan-kesalahan kita kepada Allah swt mulai dari skala yang kecil sampai besar. Bahkan ada juga sebagian yang kita lupa atau sengaja kita lupakan. Mungkin kita berfikir; ah..... itu kan dosa kecil saja paling-paling juga Allah swt memaafkannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Atau juga sudah terlanjur salah cara berfikir kita. Kita sejak kecil sudah diajari bahwa setiap muslim yang sudah bersyahadat pasti masuk surga. Kuncinya adalah syahadat. K&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;yakinan itu menjadi bagian alam bawah sadar kita sehingga sebagian saudara kita mempunyai motto “yang penting syahadat, sholat tidak wajib apalagi puasa. Maksiat selama tidak syirik langsung tidak masalah karena pasti dimaafkan”.&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Memang benar Allah swt menjamin hamba&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Nya yang bersyahadat akan masuk surga. Tetapi bukan sekedar syahadat lisan saja. Syahadat yang dijamin Allah swt dengan surga adalah syahadat yang diwujudkan dengan amal perbuatan sehari-hari. Amal perbuatan yang tentu saja sesuai dengan perintah Allah swt serta tidak sedikitpun melanggar laranganNya.&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=" Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;Teringat saya dengan salah seorang sahabat besar Rasulullah saw, Umar ibnul Khatab. Dalam kisah hidunya kita menyimak satu episode tentang ketakutan beliau akan kesalahannya pada masa lalu. Beliau s&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;etiap sholat sewaktu melakukan salam dengan memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan tidak jarang menangis. Bahkan sampai sesunggukan sambil berlinang air mata. Para sahabat heran dengan sikap Umar bin Khatab&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Salah seorang mereka &lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;kemudian &lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;bertanya kepada Umar bin Khatab &lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;tentang kebiasaan tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;. Di sela-sela tangisnya Umar bin Khatab menjawab bahwa ia teringat akan putrinya. Umar menjelaskan bahwa dulu di masa jahilyyah ia pernah &lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;membunuh salah seorang&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt; putrinya yang masih kecil. Ia melakukan perbuatan tersebut karena malu mempunyai anak perempuan. Tradisi jahiliyyah memang memandang rendah derajat perempuan. Kelahirannya merupakan aib, keberadaanya dianggap menyusahkan kabilahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Umar merasa bersalah kepada putrinya dan berdosa besar kepada Allah swt atas perbuatannya &lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language: INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;. Ia sadar betul balasan Allah swt bagi orang yang menghilangkan nyawa orang lain tanpa hak adalah neraka. Ia merasa bayangan putrinya selalu hadir di pelupuk mata. Perasaan tersebut masih saja seperti itu meskipun Rasulullah saw telah mengabarinya menjadi salah satu dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;al-‘asyarah mubasyarah&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Umar bin Khatab adalah salah seorang sahabat besar Rasulullah saw. Allah swt menurunkan beberapa ayat al-Qur’an untuk membenarkan pendapatnya atau juga menjawab pertanyaannya. Usai perang Badr Rasulullah saw memutuskan para tawanan perang musyrikin Makkah untuk membayar tebusan untuk kebebasannya. Itu saran Abu Bakar dan Rasulullah saw menyetujuinya. Umar bin Khatab tidak sependapat. Adalah lebih baik kalau kemudian para tawanan itu dibunuh untuk memberi pelajaran kepada mereka atas penentangannya kepada syariat Allah swt dan Rasulullah saw. Allah swt membenarkan pendapat Umar bin Khatab dan menegur Rasulullah saw atas keputusannya. Tidak layak bagi seorang nabi untuk meminta tebusan sementara masih banyak orang kafir berkeliaran di muka bumi.&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;mso-ansi-language:INfont-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt;Kualitas Umar bin Khatab yang seperti itu tetap saja membuatnya risau atas dosa-dosanya yang telah lalu. Bahkan meski ia tahu Rasulullah saw telah menjaminnya masuk surga, ia tetap saja gundah. Khawatir Allah swt murka atas perbuatannya dulu dan mengazabnya dengan siksaan yang tidak mungkin dapat ia tanggung. Kekhawatiran itu terus membayanginya sampai akhir kehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;font-size:11.0pt;"  &gt;Bagaimana dengan kita?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-4669017612141579578?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/4669017612141579578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/sejenak-mengingat-kesalahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4669017612141579578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4669017612141579578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/sejenak-mengingat-kesalahan.html' title='Sejenak mengingat kesalahan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-721684100710820334</id><published>2011-03-03T17:02:00.003+07:00</published><updated>2011-03-03T17:14:12.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendek'/><title type='text'>Memadukan kepentingan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Desain awal musyawarah adalah untuk menyelesaian permasalahan, mensikronkan semua hal yang belum nyambung dan memberikan keputusan final terhadap hal-hal yang masih mengambang. Maka semua argumentasi, dalil, alasan dan sebab akibat akan dikeluarkan sehingga menemukan solusi atau jalan keluar dari permasalahan. Tentu saja akan menimbulkan diskusi menarik apabila semua peserta berfikir keras memeras otak dan menggali penggalaman pribadi ataupun orang lain sebagai acuan peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Repotnya memang terkadang dan tidak jarang diskusi berkembang menjadi debat panas penuh nuansa persaingan &lt;/span&gt;kepentingan &lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;dengan ide serta argumentasi masing-masing. Kualitas pemimpin forum mutlak menentukan lancar tidaknya alur diskusi, atau bahkan tidak lebih dari debat kusir tanpa arah dan keputusan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Biasanya forum musyawarah akan menjadi hangat apabila masing-masing pihak memegang erat prinsipnya tanpa mau berkompromi dengan pihak lain. Disitulah masalahnya. Padahal musyawarah dibuat untuk memadukan semua kepentingan pribadi atau kelompok menjadi kepentingan bersama. Memangkas semua ambisi setiap kelompok menjadi ambisi bersama seluruh peserta musyawarah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Tidak masalah kalau memang harus terjadi debat panas dengan suara yang cukup keras, mata melotot atau bahkan sambil berdiri untuk memberikan penekanan pada argumentasinya. Asalkan kepala dan hati tetap dingin, dan senyum masih terkembang lebar di bibir masing-masing. Karena lebih baik semua &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;uneg-uneg&lt;/i&gt; terlontar di forum resmi daripada &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;gerundel&lt;/i&gt; dibelakang. Hal itu merupakan kebiasaan yang &lt;/span&gt;kurang&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt; baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Kuncinya pada pengendalian emosi dan kepentingan masing-masing. Jika tidak mampu mengerem itu semua akibatnya bisa fatal. Kita tidak sedikit kali mendengar rapat nasional sebuah organisasi baik pemuda maupun orang dewasa terjadi adu jotos, lempar-lemparan kursi, &lt;/span&gt;jual beli &lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;kata-kata kasar &lt;/span&gt;atau umpatan &lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;dan sebagian memili&lt;/span&gt;h&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt; aksi walk out keluar sidang. Langkah selanjutnya biasanya muncul kepengurusan tandingan dari organisasi tersebut. Rasanya tidak sekali dua kali kita mendengar dan melihat fenomena seperti itu di masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Bahkan seorang teman pernah bercerita tentang serunya suasana rapat yang ia ikuti dari sebuah lembaga mahasiswa Islam beberapa tahun silam. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Acara rapat yang dibarengi dengan angkat dan banting kursi, kata-kata kurang baik hampir menjadi pemandangan wajib. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;What a shame!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Lebih ironis lagi jika salah seorang peserta rapat yang memang orang cukup baik dan memiliki pemahanam Islam cukup baik pula mencoba untuk berdalil dengan ayat-ayat al-Qur’an atau menenangkan peserta rapat supaya suasana lebih kondusif, tidak jarang akan diejek peser&lt;/span&gt;t&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;a rapat lainnya. Misalnya beberapa dari mereka akan berkata “kalau ceramah di masjid saja mas”, atau bahkan akan berteriak-teriak seperti orang kesurupan “panas, panas. kita kan jin dengar ayat Qur’an pasti kepanasan” sambil melompat-lompat di tempatnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nau’dzubillah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika sudah seperti itu musyawarah bukan sesuatu yang menarik dan produktif lagi. Kalau tujuan awalnya adalah untuk mencari solusi, hasilnya justru menimbulkan masalah-masalah baru. Perang batin, perang perasaan, perang dingin antar pihak-pihak tertentu dan perang-perang lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sehingga idealnya setiap kita harus siap lebih dahulu untuk berbagi kepentingan dengan orang lain sebelum menghadiri atau masuk ke sebuah ruangan untuk bermusyawarah. Siap untuk memberi dan menerima. Memberikan usul dan solusi serta menerima keputusan terbaik yang disepakati bersama pula.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penyiapan diri tentu lebih baik sehingga timbul perasaan tidak selalu merasa benar ide dan pikirannya, tidak mesti menang kemauannya dan motivasi untuk selalu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Padahal itu yang paling penting namun tidak jarang malah terkubur oleh ego dan ambisi sebagian peserta musyawarah.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-721684100710820334?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/721684100710820334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/memadukan-kepentingan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/721684100710820334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/721684100710820334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/memadukan-kepentingan.html' title='Memadukan kepentingan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3489484608739357231</id><published>2011-03-02T17:35:00.003+07:00</published><updated>2011-03-03T17:14:33.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendek'/><title type='text'>Selalu berbaik sangka</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak enak rasanya dibohongi seseorang.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Apapun alasannya, pasti menyakitkan. Rasa sakit itu butuh waktu untuk sembuh. Tapi itu fitrah manusia dan demikianlah adanya, kecuali bagi manusia-manusia khusus seperti Rasulullah saw dan peneladan sifat-sifat beliau. Namun untuk menjadi seperti itu memang berat dan tidak banyak orang bisa melakukannya.  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ternyata ada cara untuk lebih mempercepat proses keseimbangan jiwa dan rasa setelah dibohongi orang. Cara itu adalah membiasakan diri berbaik sangka, kepada siapapun dan kapanpun. Selalu menyiapkan alasan untuk membetulkan sikap orang lain terhadap dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau selama ini umumnya orang selalu mencari kambing hitam dari si pelaku atau sang pembohong, cara ini sebaliknya. Ia selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakan seseorang sehingga berbohong kepada dirinya. Se&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;imposible&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; apapun alasannya akan selalu di cari dan dibenarkan sendiri. Betapa susahnya…!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maka kalimat pemakluman selalu terlontar dari lisannya setiap kali orang meminta maaf atas perbuatannya yang tidak pas atau tidak tepat. Misalkan tidak datang ketika janjian bertemu, ia akan menerima jika si penjanji itu beralasan tidak datang karena pekerjaan, cuaca, kendaraan, keluarga maupun kesehatan. &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Everything is ok!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bahkan ketika orang yang berjanji itupun tidak datang dan tidak memberikan alas an, iapun masih mencari alasan untuk membenarkan ketidak datangan orang tersebut. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Subhanallah&lt;/i&gt;. Bisakah kita senantiasa seperti itu?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Begitupun ketika ia membeli barang namun tidak sama dengan promosinya. Ini contoh lainnya. Tidak serta merta ia mengecam dan menghujat si penjual, sebaliknya ia lebih dulu introspeksi dengan dirinya. Kenapa ia ceroboh, kenapa kurang teliti dan kalimat-kalimat sejenis untuk menunjukkan bahwa sebenarnya dirinyalah yang lebih bersalah dibanding si penjual barang yang berbohong tersebut. Luar biasa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Konon prinsip ini mampu membuat seseorang selalu bersikap positif kepada orang lain; khususnya orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Dengan pikiran positif tersebut maka semangat hidupnya terjaga bahkan meningkat. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Endingnya tentu saja prestasi hidupnya senantiasa meningkat setiap waktu. Jikapun tidak meningkat akan tetap stabil tidak turun ataupun menemui kegagalan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sayangnya saya belum bisa berfikir dan bertindak seperti itu. Berat sekali ketika mencobanya. Semoga anda bisa melakukannya dengan lebih baik. Amiiin.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3489484608739357231?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3489484608739357231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/selalu-berbaik-sangka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3489484608739357231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3489484608739357231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/03/selalu-berbaik-sangka.html' title='Selalu berbaik sangka'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2308417866626892969</id><published>2011-02-25T20:51:00.002+07:00</published><updated>2011-02-25T21:01:12.729+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Hati-hati, jauhi mereka bertiga</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:enableopentypekerning/&gt;    &lt;w:dontflipmirrorindents/&gt;    &lt;w:overridetablestylehps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Ketika kondisi cuaca sudah pada situasi tidak pasti dan tidak tentu seperti sekarang ini, kita selalu diingatkan untuk menjaga kesehatan. Tubuh manusia memang tidak selamanya fit atau siap menerima serangan berbagai macam virus yang bergentayangan di sekitar kita untuk masuk merasuk ke dalam tubuh setiap kita. Tentu saja lebih efektif untuk mencegah daripada mengobati, sedia payung sebelum hujan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Beragam cara dilakukan orang-orang berduit demi menjaga tubuh mereka senantiasa sehat seperti mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi mencukupi, istirahat teratur, olahraga teratur, dan rekreasi teratur. Belum lagi mengangarkan anggaran rutin untuk sebulan sekali mengunjungi dokter untuk cek up ataupun sekedar konsultasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Namun saat ini saya tidak terpikir &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;akan hal itu karena pada umumnya penyakit-penyakit seperti itu lebih jelas cara mengobatinya selama obat tersedia dan uang di kantong cukup untuk membayar dokter ataupun rumah sakit. Memang akan sangat menderita jika sedang sakit dan tidak punya uang. Langsung kita teringat pesan sebagian orang yang kemudian diwujudkan dalam sebuah buku berjudul &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“orang miskin dilarang sakit”&lt;/span&gt;.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Semoga kita semua tidak seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Disamping senantiasa waspada menjaga fisik dari penyakit-penyakit jasmani, orang juga harus selalu waspada dengan penyakit-penyakit hati. Saya ambil tiga penyakit yang sangat berbahaya bagi manusia. Penyakit itu adalah sombong, rakus, dan iri hati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Sombong atau kata padanannya takabur merupakan sifat seseorang yang disebabkan perasaan lebih baik dari orang lain. Perasaan lebih baik itu bisa karena kualitas intelektual, jumlah harta kekayaannya, jabatan atau kekuasaan maupun tampang muka dan jaringan relasi sosial. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Kalau penyakit itu sudah akut bawaan orang tersebut pasti selalu meremehkan dan mengkerdilkan orang lain dimana saja serta kapan saja. Bahkan kalau sudah kronis stadium dua belas mungkin dia akan super narsis; tidak ada orang yang sebaik dirinya, apalagi lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“Ketahuilahsesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup”&lt;/span&gt;. (Al-Alaq:6-7).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Kita harus hati-hati dengan sifat ini jangan sampai membiarkannya tidur nyeyak di dalam tingkah laku dan pikiran kita. Akhir dari orang dengan kepribadiaan seperti ini pasti jelek. Pasti jelek. Fira’un, Namrudz, Qorun maupun manusia-manusia lain yang meng copy paste karakter mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Jangan lupa juga bahwa gelar &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;“terkutuk atau terlaknat”&lt;/span&gt; yang diperoleh iblis dari Allah swt dan semua orang beriman adalah karena sifat ini; sombong dan takabur.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Perasaan Iblis yang merasa lebih mulia dari Adam karena ia diciptakan Allah swt dari api sementara Adam dari tanah mengantarkannya pada posisi enggan dan menyombongkan diri (aba wastakbar).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Saking sombongnya ia berani menolak perintah Allah swt untuk bersujud kepada Adam. Suatu perintah yang dipatuhi oleh seluruh malaikat di langit. Ia bersikeras bahwa ia lebih baik dan lebih mulia sehingga tidak pada tempatnya harus bersujud kepada Adam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Akibat pembangkangannya tersebut Iblis di laknat Allah swt sampai akhir zaman. Garansinya sudah jelas neraka jahanam di dalamnya selamanya. Apakah kita masih berminat memelihara sifat jelek itu?&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;A’udzubillah min dzalik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penyakit kedua yang harus dipastikan jauh dari kita adalah rakus alias tamak. Gambaran ideal untuk personifikasi sifat itu mungkin ada pada monyet. Seekor monyet akan berusaha memenuhi kedua tangan dan kakinya dengan pisang, itupun dalam kondisi mulutnya penuh sedang mengunyah pisang. Satu belum habis sudah menyiapkan empat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam kisah terusirnya bapak moyang kita nabi Adam as sifat ini menjadi aktornya. Adam dan Hawa awalnya adalah penduduk surga. Berbagai fasilitas dan kenikmatan surga berhak mereka nikmati sepuasnya. Sebuah karunia yang sangat luar biasa tingginya dari Allah swt Maha Rahman dan Rahim.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Beliau berdua hanya mendapat satu pesan khusus; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"jangan mendekati pohon ini (apalagi memakannya). (Maka jika kalian lakukan) kalian termasuk orang-orang aniaya".&lt;/span&gt; (QS. 2:35). Perintahnya begitu singkat dan sangat jelas. Sayangnya perintah Allah swt itu tidak berhasil dilaksanakan dengan baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Iblis yang sudah mendeclare dirinya sebagai musuh manusia sampai akhir masa berhasil mengoda sepasang manusia bertama tersebut,- Adam dan Hawa -&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;terus menerus dan tidak putus asa. Ia menggelitik-gelitik nafsu beliau berdua sehingga akhirnya tergoda jeratan Iblis dan melanggar perintah Allah swt. Beliau berdua tidak hanya mendekati pohon itu, tapi juga memakannya. Inilah pelanggaran pertama manusia terhadap perintah Allah swt. Dan sebagai hukumannya Allah swt menurunkan beliau berdua ke bumi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada masa sekarang ketamakan manusia sudah melewati batas kewajaran. Misalnya saja seseorang yang mempunyai uang banyak pingin memiliki semua benda berharga di muka bumi ini, tidak sekedar property benda mati tapi juga manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Monopoli dalam bidang ekonomi seperti perdagangan dan penguasaan kekayaan alam contoh lain dari kerakusan manusia. Indonesia yang sedemikian luasnya hanya dimiliki tidak lebih dari 10% total penduduknya. Tanah, air dan udara bahkan sudah dikapling-kapling orang-orang kaya sebagai propertinya. Maka kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan sebagaian umat manusia di dunia ini diantaranya disebabkan rakusnya sebagian manusian yang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kurangnya rasa syukur kepada Allah swt merupakan efek berikutnya dari ketamakan. Perasaan selalu kurang-kurang terus dipeliharan dan disuburkan di dalam hatinya. Punya satu pingin dua, punya dua pingin tiga dan seterusnya. Jika tidak hati-hati bisa terperosok lebih dalam kepada kufur nikmat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Astaghfirrullahala’dzim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Iri atau hasad merupakan penyakit jiwa ketiga yang harus tidak ada dalam diri kita. Penyakit ini membuat pola interaksi seseorang dengan orang lain tidak nyaman sama sekali. Ia tidak sedang melihat orang lain mendapatkan kebaikan, kelebihan, prestasi maupun penghargaan yang lebih daripada dirinya. Hatinya ngenes jika melihat orang lain lebih daripada dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dulu saya pernah mendengar ceramah seorang dai terkenal pada masanya sehingga mendapat julukan da’I sejuta umat mencontohkan akibat sifat iri dalam diri seseorang dengan ilustrasi seperti ini; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;melihat tetangganya beli televisi baru ia meriang, mendengar tetangganya beli kulkas baru sakitnya lebih parah, mendengar tetangganya beli mobil baru ia opname, akhirnya mendengar tetangganya beli rumah baru ia meninggal dunia"&lt;/span&gt;. Mungkin gambaran tersebut berlebihan, namun suasana kejiwaan yang digambarkan mungkin mendekati realitas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sejarah pembunuhan pertama di muka bumi juga dilatar belakangi perasaan iri atau hasad ini. Gejolak kejiwaan karena perasaan iri itulah yang mendorong anak nabi Adam membunuh saudara kandungnya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berawal dari ketentuan Allah swt untuk memutuskan tentang siapa menikah dengan siapa diantara dua pasang anak kembar nabi Adam as. Ketentuannya adalah siapa yang kurbannya diterima Allah swt maka akan mendapatkan pasangan hidup terbaik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Namun disitulah pangkal masalahnya. Justu karena tersebut , Qobil membunuh Habil. Ia iri kurban yang ia persembahkan kepada Allah swt tidak diterima sedangkan kurban saudaranya diterima. Sebenarnya wajar saja kalau kurban yang dipersembahkan Qobil tidak diterima Allah swt karena ia memberikan tanaman maupun hewan sisa-sisa dan kurus-kurus. Ia lebih memilih hewan atau tanaman yang baik-baik untuk dirinya, sementara hewan dan tanaman yang tidak ia pergunakan dipersembahkan kepada Allah swt. Jelas saja kurbannya tertolak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berbeda dengan Habil. Ketaatannya kepada Allah swt membuatnya rela mengikhlashkan hasil ternak dan panennya untuk kurban. Ia menyadari kalau kurba terbaiklah yang akan diterima oleh Allah swt. Dan pilihannya terbukti benar, kurbannya diterima sebaliknya saudaranya tidak. Tabiat seperti itu kemudian terwariskan kepada anak cucu Habil sampai dengan masa kita sekarang ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Menginggat besarnya dampak negative yang timbul, perlu upaya preventif kita supaya tidak terjangkiti virus-virus &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;ketiga penyakit diatas. Usaha tersebut harus dilakukan dengan penuh kesadaran, sepenuh kemauan dan keberlangsungannya yang terus menerus atau istiqomah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jangan hanya mengurusi kesiapan fisik atau jasmani kita belaka tetapi benteng pertahanan harus sudah terbangun di hati dan pikiran sehingga aman dari rongrongan para penyakit tersebut. Dan jika sudah nampak infeksi masuk ke sebagian hati serta pikiran kita segeralah diobati dengan obat paling mujarab di dunia yakni menginggat kebesaran dan ke Maha Kuasa an Allah swt.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2308417866626892969?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2308417866626892969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/hati-hati-jauhi-mereka-bertiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2308417866626892969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2308417866626892969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/hati-hati-jauhi-mereka-bertiga.html' title='Hati-hati, jauhi mereka bertiga'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3688279344118141846</id><published>2011-02-18T17:23:00.000+07:00</published><updated>2011-02-18T17:40:32.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Tujuan utama pendidikan Islam</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Apa sesungguhnya tujuan pendidikan dalam Islam? Terdapat tiga tujuan utama seorang anak murid &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;dididik dalam sebuah lembaga pendidikan berkarakter Islam. Pertama adalah mengenal Rabbnya, kedua adalah mengenal nabinya, dan terakhir adalah mengenal agamanya. Inilah esensi utama pendidikan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Mengenal Allah swt sebagai Rabb merupakan point paling penting dalam pendidikan Islam. Hal itu merupakan entry point bagi pondasi keimanan seorang manusia kepada keesaan dan kemaha kuasaan Allah swt. Selanjutnya melahirkan ketundukan dan ketaatan kepada seluruh syariat Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Mengenal Allah swt dalam segala asma’ dan sifatnya, juga nama-namaNya yang baik (asmaul husna). &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Kesuksesan dalam fase ini akan menjadi landasan kokoh bagi penanaman benih-benih aqidah seseorang. Inilah hikmah Allah swt menurunkan surat al-Alaq 1-5 sebagai wahyu pertama kepada Rasulullah Muhammad saw untuk memberikan cakrawala pemahaman kepada beliau tentang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;keberadaan Rabb bagi manusia serta posisi masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Surat al-Alaq memberikan pelajaran sangat berharga bagi seorang manusia untuk memahami konsep-konsep penting dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;dien&lt;/i&gt; ini. Tentu saja supaya tidak salah memilih jalan dan pegangan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;“Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan nama Rabbmu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan qolam. Dia mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: IN" lang="IN"&gt;.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;(Al-Alaq 1-5).&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Membaca ayat tersebut paling tidak membuat kita memahami beberapa konsep dasar dalam Islam. Konsep-konsep itu meliputi; konsep &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Rabb/ketuhanan, penciptaan, hakekat manusia, filsafat Ilmu, alam, lahirnya kesaksian (syahadat) dan loyalitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Dengan ma’rifatullah tentunya diharapkan melahirkan pengabdian yang tulus dan murni hanya kepada Allah swt dalam segala aktifitas kehidupannya. Tidak berhenti sekedar mengerti wacana dan konsep teoritis tapi aplikasi amaliyyah. Ia mengerti fungsi dan tugasnya hidup di dunia dan siap untuk melaksanakan itu semua dalam rangka mencari keridhoan Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Tujuan pendidikan Islam yang kedua adalah mengenalkan anak untuk mengenal para rasul utusan Allah swt, khususnya Rasulullah saw. Seorang anak murid diharapkan mengetahui keberadaan para utusan Allah swt beserta segala fungsi dan tugasnya sebagai penterjemah kehendak Allah swt kepada manusia, makhluk ciptaanNya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Tujuan akhirnya adalah memberikan spirit kepada setiap anak murid untuk meneladani jejak hidup, perjuangan dan pengorbanan mereka dalam menegakkan dienul Islam. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Lebih khusus tentu saja pola hidup Rasulullah saw sebagai uswah hasanah setiap pribadi muslim. Anak didik diharapkan memiliki kebanggaan dengan menjadikan Rasulullah saw sebagai sosok manusia agung yang wajib menjadikan perjalanan hidup beliau sebagai teladan dalam kehidupan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Dengan demikian pribadinya tidak mengalami kebingungan dan perpecahan (spilt personality). Seorang muslim yang masih mengalami split personality biasanya terjadi pada orang-orang yang mengaku Islam dan umat Rasulullah Muhammad saw namun pola hidup dan perilakunya berbeda jauh dengan beilau, bahkan tidak jarang bertolak belakang. Penyebabnya diantaranya adanya kesalahan mengambil satu sosok figur sebagai panutan. Mereka lebih senang mengambil sosok itu tanpa melihat latar belakang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;agama dan perilakunya. Mungkin orang itu menonjol dalam bidang ilmu atau prestasi lainnya, namun secara akhlaq dan kepribadian ia rusak ataupun tercela.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tujuan ketiga dalam pendidikan Islam adalah proses untuk mengenalkan anak murid kepada Islam. Pendidik harus mampu memberikan gambaran yang lengkap serta sempurna tentang dien ini. Para murid diharapkan memiliki pengetahuan cukup tentang jati diri dan karakter Islam sebagai satu-satunya agama yang mendapat ridho Allah swt.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mereka mengetahui keunggulan dan keagungan Islam &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;(ya’lu wala yu’la a’laihi)&lt;/i&gt;. Bangga dengan jati dirinya sebagai seorang muslim. Kebanggaan itu mereka nampakan dalam pemikiran, penampilan, perbuatan, sikap dan tingkah laku setiap hari yang dapat dilihat manusia. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3688279344118141846?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3688279344118141846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/tujuan-utama-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3688279344118141846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3688279344118141846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/tujuan-utama-pendidikan-islam.html' title='Tujuan utama pendidikan Islam'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-8367509905734455614</id><published>2011-02-16T21:12:00.000+07:00</published><updated>2011-02-16T21:15:31.828+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Orang baik yang sukses</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:enableopentypekerning/&gt;    &lt;w:dontflipmirrorindents/&gt;    &lt;w:overridetablestylehps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin-top:0in;  mso-para-margin-right:0in;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Kita semua, saya dan anda pastilah menginginkan sukses dalam hidupnya. Menjadi orang sukses tentulah idaman setiap orang. Jika tidak pastilah ia orang aneh. Dalam kehidupan kita sekarang ini sukses identik dengan keberhasilan yang sifatnya material. Mengapa demikian? Karena kita sedang hidup dalam masyarakat yang kental dengan budaya dan nilai materialistic.&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Wajar kalau mayoritas orang tua yang memiliki anak senantiasa mendoktrin buah hatinya dengan serangkaian nasehat serta petuah sebagai bekal meraih kesuksesan. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;“belajar rajin biar besok bisa kerja yang enak”&lt;/i&gt;,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“bekerja serius&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;supaya dipercaya atasan dan gajinya cepat naik”&lt;/i&gt; dan beragam pesan-pesan lainnya yang senada ungkapan dan maknanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Dengan kerangka berfikir seperti itu pula proses mencari pasangan hidup bagi seorang gadis tidak boleh melewatkan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini dari orang tuanya; &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;“calonmu itu bisa menghidupimu dengan layak tidak?”&lt;/i&gt;,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;“rencananya nanti setelah menikah kalian mau tinggal dimana?”&lt;/i&gt;, dan sederet pertanyaannya untuk memastikan anak gadisnya dapat hidup dengan layak usai menikah kelak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Apakah salah ketika kita berfikir seperti di atas; mengukur kesuksesan dengan ukuran-ukuran material? Jawaban ya dan tidak bisa masuk kedua-duanya. Tergantung perspektif kita sebagai penjawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Jika materi menjadi fokus dari keberlangsungan hidup seseorang maka pilihannya tersebut kurang tepat. Keinginan manusia terhadap materi senantiasa berkembang dan bertambah. Tidak ada kata berhenti atau puas terhadap kepemilikan terhadap materi. Nafsu manusia akan selalu menginginkan tambah dan tambah lagi. Selalu begitu. Dan ambisi itu akan berhenti setelah ia meninggal dunia, atau dalam bahasa Rasulullah saw “setelah mulutnya dipenuhi dengan tanah”. (al-hadist).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Kecintaan berlebihan terhadap materi juga bisa menjadikan seseorang gelap mata. Kalau ia berupa harta maka asal usul dan cara tidak terlalu diperhatikan. Ada idiom yang sungguh tidak baik sudah sering kita dengar dari sebagian orang dewasa &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;ini “mencari yang haram saja susah, apalagi mikirin yang halal”&lt;/i&gt;. Kalimat salah keluar dari orang tidak berpengetahuan baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Termasuk juga jika kita berbicara jabatan. Pokoknya posisi itu diperoleh, terkait dengan sikut kanan sikut kiri, black campaign terhadap competitor, juga deal dengan bandar judi dan mafia bukan masalah. Tentu saja itu semua tidak gratis. Barter kebijakan mesti terjadi ketika nanti menjabat sebagai imbalan pasokan dana sewaktu kampanye sebelumnya. Sebuah harga mahal untuk satu konsep bernama demokrasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Sayangnya pola pikir materialisme justru yang sekarang ini digemari dan digandrungi oleh sebagian besar masyarakat manusia di dunia, termasuk sebagian umat Islam. Barat sebagai penguasa peradaban modern sekarang ini gencar sekali mengekspor ideologinya tersebut ke seluruh pelosok penjuru dunia. Dengan kekuatan media; cetak elektronik dan komunikasi hampir tidak ada jengkal tanah yang tidak terkena kampanye mereka. Mungkin hanya orang gua yang tidak pernah keluar dari tempatnya sejak lahir sampai meninggal selamat dari jebakan tipu daya mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Idealnya kita sebagai seorang makhluk yang tujuan keberadaannya untuk berbakti kepada Allah swt memiliki prinsip kehidupan berbeda dengan mereka. Dengan memahami esensi fungsi dan tugas dirinya manusia memiliki &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;worldview&lt;/i&gt; yang lengkap mencakup seluruh aspek kehidupannya, termasuk tanggung jawab sosial untuk memastikan dunia beserta seluruh isinya berjalan dalam rel syariat yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Belum lagi jika memikirkan pertanggung jawaban akhir kelak di hari pembalasan. Itulah salah satu pilar pembeda kita sebagai muslim dengan orang-orang yang tidak meyakini adanya hari kiamat. Keyakinan itu sekaligus menjadi rem kita sehingga semua langkah dan tindakan keseharian sebagai seorang manusia terjaga dalam koridor kebaikan, kebenaran dan ketaatan kepada Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;Berbeda halnya apabila seseorang tidak meyakini adanya saat pembalasan nantinya. Ketidak punyaannya terhadap perspektif jauh ke depan tentang pertanggung jawaban kepada Pemberi Kehidupan membuat mereka seolah-olah hanya menghabiskan seluruh upaya, kerja dan kesenangan di dunia semata. Mereka tidak memiliki kekhawatiran terhadap buah dari seluruh perbuatannya di dunia. Kalaupun takut berbuat salah tidak lebih karena khawatir sanksi dan hukuman dari aturan manusia sehingga manakala ia berkuasa dan mempunyai uang untuk mengatur seperangkat penegak h&lt;/span&gt;u&lt;span style="mso-ansi-language:IN" lang="IN"&gt;kum, ketakutan itu hilang dengan sendirinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Maka kerangka berfikir tentang indikator-indikator sukses itu yang harus dirubah. Dalam Islam sukses itu berdimensi dekat dan jauh; dekat berkorelasi dengan dunia, sementara jauh berarti akhirat. Maka doa setiap muslim adalah “Ya Allah berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka”. (QS. al-baqarah).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Doa di atas melambangkan perspektif seorang muslim yang sempurna dan jauh ke depan. Ia tidak hanya meminta sesuatu di depan mata yang pragmatis, tetapi juga mempersiapkan kondisi masa depan dirinya setelah meninggal nanti. Rasulullah saw menyebut orang-orang seperti itu sebagai orang cerdas. “Orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan untuk akhiratnya”. (al-Hadist).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dengan demikian apabila seseorang ingin masuk ke dalam kategori sukses menurut indikasi-indikasi yang ditunjukkan Rasulullah saw haruslah menjadi orang baik. Mengapa harus baik? Karena tanpa menjadi orang baik mustahil orang itu mau melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi semua larangan Allah swt dalam kondisi apapun dan tempat manapun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tentu saja baik di sini rujukannya adalah &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Allah swt dan Rasulullah saw seperti tercantum dalam panduan hidup muslim yakni al-Qura’nul karim serta al-Hadist asy-syarif. Patokannya jelas dan tetap, bukan baik dalam pandangan manusia yang sifatnya bisa berubah-ubah menurut pikiran &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;latar belakang dan kepentingan subyektif para pembuatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika ia orang baik kesuksesan duniawi dan materi pastilah diperoleh dengan cara benar serta dipergunakan pada jalan benar pula. Tidak ada pula bentuk arogansi kepada orang lain karena memiliki kelebihan harta maupun jabatan tinggi yang sedang ia sandang. Tanggung jawab sosial juga akan tinggi terhadap lingkungan sekitara maupun umat secara keseluruhan. Itu semua bermuara kepada satu tujuan hakiki hidupnya yakni mencari keridhoan Allah swt.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-8367509905734455614?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/8367509905734455614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/orang-baik-yang-sukses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8367509905734455614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8367509905734455614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/orang-baik-yang-sukses.html' title='Orang baik yang sukses'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-5583161647175304549</id><published>2011-02-11T07:41:00.003+07:00</published><updated>2011-02-11T07:51:43.053+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peradaban'/><title type='text'>Pemuda Pejuang Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Para Pemuda memang hebat. Jarang atau mungkin bisa dikatakan tidak ada perubahan pada sebuah masyarakat, bangsa atau peradaban tangan ada campur tangan para pemuda di dalamnya. Setiap kisah tentang bangkitnya spirit perubahan di sebuah wilayah pasti menceritakan tentang sepak terjang keresahan anak-anak muda dalam menyikapi kondisi zamannya. Keresahan yang lahir dari rasa tanggung jawab untuk memenuhi tuntutan rakyat banyak baik terucap lewat lisan orang awam ataupun jeritan kehidupan keseharian karena penzaliman satu atau beberapa pihak sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat anak muda adalah semangat kemajuan. Obsesi tinggi tentang kehidupan ideal di mana mereka tinggal dan menetap merupakan spirit ampuh untuk menggerakkan sebuah perubahan menuju tata hidup, nilai maupun social yang lebih baik dari sebelumnya. Orisinalitas pikiran mereka yang jauh dari interest-interest pragmatis membuat gerakan mereka senantiasa meresahkan bagi para pelaku maupun pendukung status quo. Sebaliknya masyarakat banyak berharap aspirasi mereka berhasil digolkan dan perubahan sosialpun terjadi, meski harus lewat sebuah revolusi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada banyak kondisi mentalitas pemuda merupakan cermin sebuah sistem masyarakat.  Sakitnya pemuda merupakan sakitnya masyarakat, dan jeleknya pemuda juga rusaknya masyarakat. Begitu pula ketika profil pemudanya baik maka peradaban masyarakat itu memiliki prospek cerah di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya pemuda memiliki dua sisi yang sama-sama penting dan menentukan. Pada satu sisi mereka merupakan  cerminan kualitas pewaris peradaban masyarakatanya pada masa mendatang. Apabila ingin mengetahui seperti apa wajah peradaban sebuah bangsa dua puluh tahun yang akan datang, silahkan melihat prototipe anak-anak muda mereka hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lainnya generasi muda adalah katalisator perbaikan peradaban mereka sendiri jika mulai aus arah dan geraknya karena beban berat akibat kesalahan-kesalahan masyarakat tuanya. Jika usia peradaban semakin tua atau masih muda tapi terjerat dalam kekuasaan yang tidak pernah berubah biasanya mengalami stagnisasi perkembangan, mandeg total bahkan mengalami kemunduran.  Apabila pemudanya tidak mampu membalik kondisi menjadi lebih baik, peradaban itu sesungguhnya telah berada di bibir jurang sejarah. Hilang ditelan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kesatuan peradaban, perjalanan umat Islam telah melewati 15 abad. Berawal ketika Rasulullah saw menerima wahyu pertama di gua Hira yakni surat al-Alaq 1 – 5. Ketika beliau saw mulai berdakwahpun para pendukung pertama dan utama beliau adalah anak-anak muda semisal Ali bin Abi Thalib, Musha’b bin Umair, Zaid bin Haritsah, Sa’ad bin Abi Waqash dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya penentang beliau mayoritas berasal dari golongan tua seperti Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah. Berkat dukungan dari para pemuda tersebut Rasulullah saw berhasil membagun basis dakwah di Madinah dan selanjutnya perlahan-lahan membawa jazirah Arab tersinari dengan cahaya Islam secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal kemandengan dan mundurnya umat Islam juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi riil generasi mudanya. Masa itu peradaban Islam sudah sedemikian berkembang dalam segala aspek kehidupan dan hamper di setiap pelosok dunia. Godaan untuk hidup enak dan nikmat merasuki sebagaian umat ini, khususnya para pewaris peradaban. Mereka terjerat kehidupan penuh kesenangan duniawi. Semua ada dan bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun estafeta kepemimpinan umat mengalami kemunduran sedikit demi sedikit. Musuh semakin pintar untuk menggerogoti kekuatan umat dengan cara merusak para pewaris peradaban Islam. Dalam kondisi kebobrokan akhlaq dan moral secara internal umat, gelombang pasukan musuh menyerang secara serentak dan reduplah keagungan umat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu demi waktu berlalu para penjajah masih mencengkeram bumi-bumi umat Islam. Kembali para pemuda tampil menggerakan roda perlawanan di setiap wilayah dimana umat Islam teraniaya. Tidak sedikit wilayah Islam berhasil dibebaskan dengan pengorbanan ribuan bahkan jutaan nyawa kaum muslimin termasuk remaja dan para pemuda Islam.&lt;br /&gt;Ketika zionisme mengambil peran sebagai musuh Islam dan pemeluknya, generasi muda Islam kembali menjadi sasaran tembaknya. Beragam cara dan upaya mereka kerahkan untuk menghancurkan seluruh aspek kekuatan kader-kader terbaik umat. Mulai dari pemikiran, pendidikan, kebiasaan  hingga gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya jelas umat terperosok dalam lubang lebih dalam. Belum sempat bangkit secara sepenuhnya tiang-tiang penyangga kembali mendapat hantaman bertubi-tubi. Kebangkitan Islam yang diharapkan menemukan momentumnya belum menemukan sinarnya. Gerhana masih saja menutupi cahaya Islam. Hingga detik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemuda Islam dewasa ini lebih asyik mengekor kebudayaan barat yang penuh dengan eksploitasi hawa nafsu manusia. Syahwat begitu diagungkan dalam setiap aspek kehidupan. Materialisme menenggelamkan spiritual dan menjadikannya sesuatu yang tidak menarik. Ibadah tak lebih dari ritual harian tanpa makna sehingga tidak memberikan dampak signifikan dalam kehidupan. Padahal hidup itu sendiri adalah ibadah kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung tidak semua generasi muda Islam terjerat dalam tipuan dan jebakan syetan seperti itu. Tetap saja ada sekelompok pemuda yang memegang erat komitmen keIslamannya. Mereka kemudian menyebarkan bara api Islam itu ke seluruh pelosok dunia sehingga orang-orang yang masih memiliki kesadaran terpantik semanggatnya untuk tetap menjadikan Islam sebagai keyakinan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan usaha itu tetap berlansung sampai hari ini. Proyek kebangkitan umat adalah proyek menyelamatkan generasi muda Islam dari dekapan nilai-nilai jahiliyah modern. Proyek ini membutuhkan kerja sangat keras dari semua unsur umat ini. Jika ingin lebih cepat merebut kembali kejayaan peradaban di muka bumi ini langkah strategisnya tentu saja membangkitkan kesadaran kepada para pemuda Islam akan eksistensi dan tanggung jawabnya. Mereka adalah pewaris peradaban sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menempa generasi muda Islam dengan memantapkan keyakinan mereka akan kebenaran ajaran ini. Mendorong mereka mempelajari dien ini dengan penuh kesungguhan dan mengamalkannya dalam tingkah laku hidup sehari-hari. Jika mayoritas mereka sudah bangga dengan keIslamannya dan  menunjukkan di mana saja berada maka mengajaknya untuk memperjuangkan Islam menjadi langkah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemuda pejuang Islam itulah gelar yang layak diberikan kepada mereka ketika itu. Sosok-sosok pemuda yang mencintai Islam dengan sepenuh jiwa raganya dan rela berkorban untuk keagungannya.  Ditangan merekalah kebangkitan dan kejayaan umat ini akan dipertaruhkan pada saatnya. Semoga waktunya tidak lama lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-5583161647175304549?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/5583161647175304549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/pemuda-pejuang-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5583161647175304549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5583161647175304549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2011/02/pemuda-pejuang-islam.html' title='Pemuda Pejuang Islam'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2065974703096690520</id><published>2010-12-27T18:14:00.002+07:00</published><updated>2010-12-27T18:17:11.605+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peradaban'/><title type='text'>Rentang Waktu Peradaban Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban adalah wujud konkret realitas iman seseorang dalam setiap sisi kehidupan. Setiap sisi kehidupan tentu saja mewakili seluruh aspek gerak seseorang; ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan hal-hal lainnya. Dengan kata lain manifestasi seseorang dalam setiap langkah kehidupan itulah peradaban. Dan tentu saja peradaban Islam adalah peradaban Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Islam bermula sejak Rasulullah saw menerima wahyu dari Allah swt yakni surat al-Alaq ayat 1-5 di gua Hira’. Itulah awal blue print peradaban Islam dicetak dan siap untuk diwujudkan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Proses pembentukan peradaban Islam secara sosial memang sangat berat ketika dakwah Islam masih selingkup kota Makkah. Tantangan dan permusuhan orang-orang kafir, terutama para pembesarnya, membuat aktualisasi peradaban Islam ketika itu tidak bisa leluasa. Tidak sedikit pemeluk Islam generasi awal harus menyembunyikan identitas muslimnya demi menjaga nyawa tidak meregang dari badan. Allah swt memahami kondisi tersebut dan memperbolehkan sikap itu dipilih selama situasinya darurat betul dan bara iman tetap tersimpan kuat di dalam dada(QS. An-Nahl ayat 85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi besar memujudkan tegaknya peradaban Islam yang kaffah menemukan momentumnya ketika Rasulullah saw melaksanakan hijrah ke Madinah. Lahan dakwah yang sudah disemai oleh Mushab bin Umair mendapatkan sentuhan pengokohan. Tunas-tunas Islam telah menancap kuat di dada para penolong (Anshar), terlebih bagi para pendatang (Muhajirin) yang telah mengalami masa-masa tidak menyenangkan selama menjaga keberadaan iman selama 13 tahun di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panduan wahyu Allah swt terhadap gabungan energi besar Anshar dan Muhajirin menjadikan Madinah sebagai wujud nyata idealitas peradaban Islam. Tatanan sosial, relasi sosial, struktur ekonomi dan kesanggupan berkorban apapun demi agama tergambar jelas. Masa yang penuh keindahan, kecemerlangan dan naungan ridho Allah swt tersebut menjadi mimpi serta harapan setiap muslim pada generasi-generasi berikutnya hingga akhir zaman nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw wafat meninggalkan ratusan ribu anak panah yang siap melanjutkan estafeta keberlangsungan peradaban Islam. Maka tidak hanya Madinah, Makkah dan jazirah Arab yang merasakan kenikmatan hidup dalam sentuhan nubuwwah, gema suara adzanpun terdengar di benua hitam Afrika, benua biru Eropa dan tentu saja Asia tempat kita tinggal dan menetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tetap saja tidak ada yang abadi dalam kefanaan dunia, apapun itu. Kecemerlangan sentuhan nubuwwah penuh berkah mulai mengalami penurunan nilai pasca wafatnya empat khalifah yang lurus (khalifah rasyidah) Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Thalib radhiyallahu’anhum ajma’in.  Pertanda akhir sebuah era dan permulaan era yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan ketaatan manusia terhadap patokan wahyu menyusut. Iman sebagai panduan hidup mulai berbenturan dengan sentuhan syahwat materi dan godaan hati untuk mencintai sebagian yang subhat. Awalnya adalah sedikit, ibarat minum air laut haus ternyata tidak hilang dengan sekali teguk tapi justru akan semakin haus ketika semakin minum. Benarlah sabda Rasulullah saw bahwa mulut manusia itu baru akan merasa puas jika diisi dengan tanah alias masuk ke liang kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat hadir beberapa pemimpin harapan untuk menjaga bangunan umat supaya tidak roboh. Umar bin Abdul Aziz, sang khulafaurrasyidin ke 5, berusaha mengembalikan era nubuwwah di tengah keluarga Umawi yang sebagian sudah terjerat cinta dunia berlebihan. Sang khalifah berhasil mewujudkan kesehateraan misal selama dua setengah tahun masa pemerintahannya sampai-sampai para amil zakat bingung hendak kemana membagi harta zakat. Sayang konspirasi jahat para penggila harta dan kuasa berhasil mengantar beliau lebih cepat menemui Rabbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadir pula dalam pentas sejarah  sosok Sultan Sholahuddin al-Ayubi, sang pembebas al-Quds. Asa kaum muslimin selama 90 tahun untuk melepaskan tanah suci ketiga tersebut dari tangan para penyembah kayu salib terwujudkan. Beliau berhasil membangkitkan kembali bara jihad yang sekian lama sebelumnya terpuruk di hati para lelaki muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama salafus sholeh juga berjasa besar memihara keberlangsungan cahaya Allah swt tetap bersinar terang di permukaan bumi. Kehadiran para imam-imam fiqih dan hadist menjadi obor penerang umat ditengah kejayaan materi umat yang kian melimpah ruah. Tanpa mereka jelas umat akan semakin lepas kendali dan lebih cepat keterpurukan melanda umat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah invasi biadab bangsa barbar Tartar, kedatangan bangsa barat seakan menjadi titik besar kemunduran umat Islam dalam percaturan peradaban manusia. Imperialisme dan kolonialisme menjadi gong permulaan dominasi peradaban materialisme barat yang menindas dan memporak-porandakan semua sendi penopang bangunan peradaban Islam. Yahudi dengan zionismenya berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang dan tangan lainnya mengenggam bola dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat terlucuti keagungannya. Tak tampak lagi rona kebanggaan sebagai para pewaris kebenaran para nabi dan rasul. Risalah langit termarjinalkan di sudut-sudut kehidupan. Cengkeraman itu terasa sangat dalam karena berulang kali para pahlawan Islam yang muncul belum sanggup mencabutnya dari tubuh umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad telah berlalu sementara kemenangan kembali umat ini belum terlaksana. Bukankah sudah banyak darah syuhada tertumpah untuk menegakkan kembali keagungan agama ini? Bukankah sudah ribuan bahkan jutaan para pembela Islam bangkit berusaha membebaskan umat ini dari ketidak berdayaan di hadapan orang-orang kafir penentang Allah swt?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan demikianlah kami pergilirkan hari-hari itu (kemenangan) diantara manusia”.  “Dan tidaklah kamu akan mendapati bahwa sunnah-sunnah Allah swt akan berubah”.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit itu harus terus terjaga dalam setiap hati dan doa orang-orang beriman. Waktu bukan masalah, siapa pendobrak dan pengusung bendera kemenangan bukan persoalan. Keagungan risalah dan umat ini harus direbut kembali berapapun ongkos yang harus dikeluarkan. Tidak peduli ber&lt;span style="font-style:italic;"&gt;apa nyawa harus dikorbankan. Dan tak perlu bertanya berapa waktu yang diperlukan. “Sesungguhnya Allah swt tidak akan menyalahi janji-Nya”&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2065974703096690520?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2065974703096690520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/rentang-waktu-peradaban-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2065974703096690520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2065974703096690520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/rentang-waktu-peradaban-islam.html' title='Rentang Waktu Peradaban Islam'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1632984470684255870</id><published>2010-12-25T17:05:00.000+07:00</published><updated>2010-12-25T17:11:26.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>melihat orang (sedang) jatuh cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu episode paling menarik dalam perjalanan seorang manusia; menyukai lawan jenis. Rasa suka itu bisa muncul pada siapa saja tanpa terkecuali. Tentu saja ada perbedaan kualitas dan cara menyikapinya. Biasanya semakin baik kualitas keimanan dan kedewasaan karakter seseorang penyikapannya akan semakin lebih baik. Meski tidak juga selalu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini masalah perasaan maka lebih sering penguasanya adalah emosi, bukan pikiran. Orang sepintar apapun bisa takluk dengan perasaannya. Kepandaian otaknya tidak mampu menolong mengendalikan dorongan hatinya untuk mengekspresikan rasa suka itu dalam berbagai bentuk dan cara. Bahkan kadang-kadang bisa mengubah perilaku seseorang secara luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki yang semula (maaf) kurang rapi bisa menjadi pribadi rapi seketika. Ia yang semula sangat cuek dengan penampilannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Mulai ujung rambutnya disisir, pakaiannya disetrika, hingga tubuhnya senantiasa berbau harum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari-jari tangannya juga tidak pernah bergeser dari tombol-tombol HP. Entah apa yang diketiknya kok tidak pernah selesai. Belum lagi hobinya yang suka pojok-pojok untuk nelpon sambil senyum-senyum sendiri. Bisa berjam-jam ia nelpon; berdiri, duduk, sampai berbaring. Mungkin tema diskusinya menyangkut nasib jutaan orang sehingga sulit untuk diputus walaupun satu detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kebiasaan barunya; duduk-duduk di pinggir jalan, tenggok kiri-kanan. Ternyata ia menunggu teman atau tetanggayang lewat jalan itu dengan naik motor dan sendirian. Untuk apa? Tentu saja ia ingin nebeng mengunjungi si dia yang setia menanti di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau perempuan yang sedang ia incar adalah si penjaga counter pulsa, ia akan sering mengisi pulsa di tempat itu. Bahkan tanpa disuruh pun ia akan mempromosikan tempat tersebut sebagai rujukan beli pulsa buat teman-temannya. Harapannya adalah teman itu akan minta ia untuk mengantarnya, berarti kesempatannya bertemu dengan pujaan hati tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula kalau yang ia taksir adalah anaknya ibu penjual gorengan. Setiap hari ia akan mengunjungi penjual tersebut untuk membeli gorengan plus. Plusnya tentu saja bertemu dengan si anak yang saban hari membantu ibunya berjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil di atas para pelakunya tentu remaja atau pemuda kalangan bawah; rakyat kecil. Cirinya adalah fasilitas minim, finansial sedikit, juga kesempatan tidak banyak.  Janjian mereka dengan pujaan hati dilakukan di sela-sela waktu mereka bekerja mencari nafkah hidup sehari-hari. Awalnya mungkin tidak sengaja, terprovokasi ataupun coba-coba. Namun nafsu kadang susah dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika rasa kangen tidak tertahan, sebagian mereka rela ijin kepada atasannya untuk suatu keperluan yang tidak mau disebutkan; pokoknya rahasia. Jika ada tambahan waktu bekerjapun ditolaknya dengan halus meski kompensasinya lebih tinggi dari biasanya. Nampaknya mereka tidak mau kalah dengan remaja-remaja kota kaya yang disaksikannya melalui sinetron-sinetron layar kaca. Imitasi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak zaman memang susah untuk berperilaku beda dengan zamannya. Tekanan sosial lingkungan dan dorongan psikologis komunal membuat berat untuk tampil lain dari umumnya orang. Orang lebih nyaman menjadi orang biasa daripada orang luar biasa. Memilih untuk sama tentu saja lebih aman dan nyaman daripada berbeda tapi tidak nyaman; dianggap nyeleneh, aneh dan tidak up to date. Nggak gaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, perilaku mayoritas tidak selalu baik dan benar. Mungkin demokrasi ada baiknya, namun tidak semuanya baik. Tergantung kualitas subyek-subyek pelakunya. Jika kualitas pelakunya orang-orang yang baik dan suka kebenaran, demokrasi disitu tentu akan baik. Namun jika pelakunya adalah para bandit, maling, pecinta kejahatan dan kemaksiatan, pastilah namanya demokrasi penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya standard nilainya harus pasti dan tidak berubah. Patokannya adalah kebenaran yang pasti dan hakiki, tidak relatif serta temporer. Standar yang tidak berubah oleh zaman, tempat dan kecenderungan nafsu manusia. Tentu saja ia bukan buatan manusia supaya bisa obyektif, juga menembus batas waktu serta ruang. Itulah wahyu Allah swt. Kebenaran mutlak dari langit. Tidak ada keraguan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalaupun berbeda, maka berbedalah karena kebenaran. Mengusung misi lain dari orang kebanyakan karena dorongan kebenaran tentulah istimewa. Bisa jadi dianggap tidak umum, tidak waras alias abnormal. Termasuk dalam urusan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyukai lawan jenis adalah kepastian, dan itu normal. Namun jika kemudian diteruskan dengan tindakan-tindakan progresif karena dorongan nafsu, rasa suka itu akan menjadi salah. Jika belum waktunya jangan bermain-main dengan perasaan, begitulah pesan orang bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanggihan tehnologi khususnya alat komunikasi membuat batas wilayah semakin hilang. Orang yang nun jauh disana seberang lautan bahkan samudra luas tanpa batas, nampak jelas di pelupuk mata. Riil dan hidup. Itu juga godaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi bisa dipikir dan datang belakangan. Ketika hati dan rasa suka sudah muncul, alasan untuk legalitas bisa diketemukan. Memotivasi belajar, meningkatkan gairah bekerja, atau apapun alibi yang dikemukakan sebenarnya hanyalah pembelaan diri (self defense). Mungkin saja bisa, namun caranya tidak benar maka hasilnya pasti tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak layak seorang muslim meng copy paste semua kemajuan  ala umat lain. Batas pergaulan , kebebasan berpakaian, kebebasan mengekspresikan rasa suka tidak termasuk yang harus ditiru mutlak. Toh kita sudah punya batas nilai sendiri. Kita menyebutkan adab pergaulan terhadap lawan jenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada tiga hal yang harus kita jaga ketika berhubungan dengan lawan jenis, tentu saja mereka yang bukan keluarga kita (mahram). Prinsip pertama adalah membentengi diri dari melihat yang tidak boleh. Islam mengatakan perbuatan tersebut sebagai ghodul bashor (menundukkan pandangan). Karena mata adalah pintu pertama, kita harus menjaganya dengan baik. Tidak jelalatan, atau malah mencari-cari untuk dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal kedua yang harus kita hindari adalah berduaan dengan lawan jenis, secara fisik riil maupun non riil. Dengan komunikasi berduaan bisa berarti dengan HP, internet maupun fasilitas yang sejenis. Kita menyebutnya khalwat (berduaan). Awas, ketika dua orang lawan jenis berduaan ada pihak ketiga yang menemani yaitu syetan. Tentu saja memprovokasi mereka untuk berbuat lebih tidak baik lagi dari sekedar berduaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan ketiga yang perlu kita jaga adalah menyentuh lawan jenis. Tidak perlu menyentuhnya kalau ia bukan orang-orang yang dihalalkan oleh agama untuk kita sentuh; orang tua, saudara kandung, atau karena hubungan pernikahan sehingga boleh bagi kita. Inilah prinsip yang susah untuk istiqomah dikerjakan ketika acara walimah, kenduri, atau menghadiri acara-acara seremonial lainnya. Sesuatu yang sering kita harus hadiri sebagai ciri makhluk sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang kita menemukan sebuah situasi massa yang tidak terjadi ikhtilat (percampuran laki dan perempuan). Pendidikan, rumah sakit, apalagi pasar merupakan tempat yang hampir mustahil tidak terjadi percampuran laki-perempuan. Khusus pendidikan sebenarnya bisa untuk diskenariokan untuk tidak bercampur, terutama lembaga berbasis Islam. Tinggal motivasi dan kebijakan untuk menerapkan aturan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari semua aturan tersebut adalah kemauan untuk tunduk kepada aturan Allah swt. Itu prinsip dan pembuka tindakan. Selama tidak ada keingginan melaksanakan tuntunan Allah swt dan rasul-Nya, semua aturan bisa dicari celahnya untuk dimanfaatkan demi menuruti dorongan nafsunya. Hanya keyakinan akan tanggung jawab terhadap hari akhir yang mampu membimbing seseorang senantiasa meniti jalan-jalan kebenaran meskipun itu sulit,  berat dan tidak semua manusia mau melewatinya. Semoga kita termasuk golongan itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1632984470684255870?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1632984470684255870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/melihat-orang-sedang-jatuh-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1632984470684255870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1632984470684255870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/melihat-orang-sedang-jatuh-cinta.html' title='melihat orang (sedang) jatuh cinta'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3108587515141968229</id><published>2010-12-12T22:32:00.004+07:00</published><updated>2010-12-12T22:41:20.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Sepak bola dan pengemarnya</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kualitas tertentu, saya juga pengemar sepak bola. Meski belum pernah datang ke stadion menyaksikan sebuah pertandingan, saya cukup puas menyaksikan tayangan langsung live di sebuah stasiun televisi swasta. Olah raga ini juga yang rutin saya mainkan satu kali seminggu di lingkungan saya tinggal. Sekedar untuk menjaga kesehatan dan bercengkerama bersama teman-teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar juga kalau kemudian saya sedikit banyak mengetahui riuhnya berita tentang sepak bola yang sedang menjadi head line di media massa negeri ini, cetak dan elektronik hari-hari ini. Mulai “kehebatan” tim nasional Indonesia di kompetisi AFF yang diikutinya, juga munculnya seorang hero baru bernama Irfan Bachdim.  Hingga keyakinan sebagian penggemar bola di Indonesia bahwa sekaranglah saatnya merebut juara Asia Tenggara setelah selama ini paling banter tiga kali menjadi finalis. Semoga saja.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bola memang bundar. Beragam peristiwa terangkum di dalamnya. Olah raga yang diklaim memiliki penggemar paling banyak didunia. Olahraga rakyat, begitu sebagain orang menyebutknya. Mungkin dulu iya, entah kalau sekarang. Menyusutnya jumlah lapangan bola membuat banyak orang kehilangan kesempatan menyalurkan hobinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a02.yimg.com/nimage/cb1b6f3329021f9e"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 171px; height: 147px;" src="http://thm-a02.yimg.com/nimage/cb1b6f3329021f9e" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Juara dunia sepak bola prestisenya juga mengalahkan seluruh olahraga lainnya. Negara yang sedang konflikpun menikmati berkahnya karena masyarakat rehat sebentar menyaksikan tayangan pertandingan antar kesebelasan yang bertanding. Bahkan ada juga pemimpin negara terntentu mempergunakannya untuk mengalihkan masyarakatnya dari perhatian terhadap kemerosotan ekonomi dan maraknya korupsi yang sedang melilit negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit yang heran dengan kegilaan sebagian orang yang rela mengorbankan segala miliknya termasuk nyawanya untuk mengejar, menendang dan merasakan sensasi dalam sebuah parade kemenangan. Namun justru yang lebih edan lagi adalah orang-orang yang menempatkanya lebih dari sekedar hiburan, permainan dan juga olahraga. Sepak bola adalah agama, lebih ekstrim lagi sepak bola di atas segalanya termasuk hidup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor ekonomi memang mempengaruhi hegemoni sepak bola didunia kita. Trilyunan uang yang berputar di sekelilingnya membuat orang-orang berlomba menjadi ahlinya dalam segala sisi; pemain, pelatih, manajer, pelatih dan juga sponsor. Jangan lupakan pula komentator bola, orang berjas dan berdasi di atas kursi yang seakan-akan sangat jago bola melebihi manajer paling top di dunia sekalipun. Maka bukan hal yang aneh sekarang ini jika para pemain dan pelatih bola lebih dikenal warga sebuah negara dibanding para pemimpin negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda mungkin bagi anak-anak di lingkungan rumah saya. Bermain bola merupakan sarana melampiaskan kepenatan dan rasa jenuh setelah enam hari berkutat dengan kesibukan mencari ilmu. Selama dua hari nafsu menendang bola dikeluarkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski harus bergantian tidak masalah, justru lebih menantang. Beberapa anak membentuk satu tim tergantung kesepakatan mereka sendiri. Tim yang bermain dan kemasukan bola alias kena gol otomatis akan diganti tim lainnya. Sementara bagi yang menang mempunyai hak untuk meneruskan permainan sampai ia kemasukan bola dan diganti oleh tim berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah mengolok temannya karena tidak menyukai sepak bola sehingga tidak pernah mau bermain bola setiap diajak. Sambil guyonan ia mengatakan normalnya seorang laki-laki itu menyukai sepak bola, kalau seorang laki-laki tidak menyukai bola maka diragukan kelaki-lakiannya. Namun sayang provokasi itu tidak berhasil memanasi temannya untuk tertarik bersikap seperti dirinya “gibol alias gila bola”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu saktikah sepak bola? Bagi yang menyukai mungkin iya, bagi yang tidak menyukainya ia ibarat pertunjukkan bodoh duapuluh dua orang memperebutkan bola untuk dimasukkan ke dalam gawang. Tidak jarang orang yang tidak menyukai bola guyon dengan menawarkan kepada teman-temannya untuk membelikan bola 22 biji untuk dibagi kepada setiap pemain bola. Daripada rebutan, begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada orang yang mengatakan kalau sepak bola bisa mengajarkan kepada orang prinsip kerja sama dan fair atau kejujuran. Kerja sama dalam mencapai tujuan dan fair untuk menerima kekalahan dengan lapang dada serta tidak sombong ketika memperoleh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nampaknya tidak banyak orang yang benar-benar berfikir begitu. Kebanyakan orang hanya menikmati permainan dan merayakan kemenangan kesebelasan yang mereka dukung. Karena ketika sebuah tim tertentu kalah, ternyata tidak semua pendukung dan penggemarnya rela menerimanya. Mereka meneror tim lawan, aparat pertandingan dan termasuk pendukung tim lawan. Banyak sudah contoh yang bisa kita ingat dari amuk supporter bola di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang tidak terlibat langsung dalam pekerjaan terkait sepak bola, menyukai sepak bola boleh-boleh saja asalkan dalam posisi sewajarnya. Letakkan ia sebagai sebuah permainan dan olah raga, tidak lebih. Tidak patut kalau kemudian ia bisa menyedot seluruh perhatian dan konsentrasi pikiran kita. Tidak pantas pula kalau kita rela mengorbankan hal-hal yang lebih penting untuk bela-belain menonton, menyaksikan ataupun membicarakannya sepanjang waktu. Masih banyak hal lebih penting untuk kita pikirkan, rencanakan, diskusikan dan kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3108587515141968229?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3108587515141968229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/sepak-bola-dan-pengemarnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3108587515141968229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3108587515141968229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/sepak-bola-dan-pengemarnya.html' title='Sepak bola dan pengemarnya'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2774234286011366160</id><published>2010-12-11T20:59:00.008+07:00</published><updated>2010-12-11T21:52:39.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>menikmati hujan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan selalu memiliki banyak makna. Bagi seorang petani yang sekian lama menantikan turunnya hujan untuk mengawali musim tanam, tentu saja itu sebuah rahmat. Ia merasa permohonan doanya selama ini terkabulkan. Ia berjanji esok pagi akan segera turun ke sawah menyiapkan tanahnya supaya segera siap ditanami padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya bagi petani yang menunggu beberapa hari lagi musim panen tiba, hujan adalah keprihatinan. Wajahnya mulai muram penuh keresahan. Ia khawatir air hujan akan mengenangi tanaman padinya sehingga busuk dan tidak bisa dipanen. Bayangkan kegagalan panen telah muncul dalam pikirannya. Terbayang pula kerugian sekian ratus ribu atau sekian juta akibat kegagalan panen tersebut. Musnahlah harapan untuk membeli ini dan itu hasil penjualan panennya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang penjaja pinjaman payung di areal perkantoran, terminal maupun pertokoan hujan merupakan saat memperoleh banyak riski. Lembar demi lembar ia terima dari sewa payung orang-orang. Saat panen, begitu pikir mereka. Dengan cara berbeda mungkin mereka tetap bersyukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a03.yimg.com/nimage/3118b7766fd50a9c"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 167px;" src="http://thm-a03.yimg.com/nimage/3118b7766fd50a9c" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun tidak bagi mereka-mereka yang pulang kerja, usai belanja maupun menunggu angkutan umum di pinggir jalan, hujan berarti desahan nafas dalam-dalam penuh arti. Ungkapan perasanan hati mereka yang kesel, jengkel ataupun kecewa. Jarang yang tersenyum, gembira apalagi tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percikan air dari jalan raya karena terinjak ban motor atau mobil menambah kejengkelan dalam hati mereka. Belum lagi kalau hujan berlangsung lama tidak segera berhenti, gerutuan segera muncul dari sebagian mereka. Mungkin karena lapar, ada janjian dengan teman maupun ditunggu keluarga di rumah. Hujan datang bukan pada waktu yang tepat begitu barangkali pikiran mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi bagi anak-anak di lokasi tempat saya tinggal. Hujan justru menambah asyiknya mereka bermain bola. Lapangan licin yang bisa membuat beberapa dari mereka terpeleset menambah meriahnya suasana. Gelak tawa dan ungkapan-ungkapan spontan mengiringi senyuman ataupun rasa sakit bagi anak yang kebagian rejeki jatuh terpeleset di tengah lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan gelelegar petir yang berdentuman bak meriam tidak mampu menghentikan semangat mereka mengejar bola. Hanya teriakan “orang tua-orang tua” mereka yang mampu membuat lapangan bola dan sekitarnya mendadak sepi karena para pemainnya berjalan menuju ke “rumahnya” masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun hujan adalah karunia Allah swt kepada manusia sebagai wujud kasih sayangNya. Dengan hujan tanah menjadi subur, sumber air terjaga persediannya dan juga kegembiraan bagi anak-anak yang masih boleh main hujan-hujanan oleh orang tuannya. Ia adalah rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa hujan bisa dibayangkan keringnya bumi ini. Sebanyak apapun air yang berada di sungai, danau ataupun laut akhirnya akan habis jika tidak ada tambahan dari hujan. Habis karena digunakan ataupun terserap oleh sinar matahari setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika air habis, tidak hanya manusia yang menderita, hewan-hewan akan lebih tersiksa karena tidak bisa minum. Setahan apapun onta mampu berhari-hari tidak minum,pada akhirnya iapun butuh minum. Ketika air itu tidak ada apa dayanya? Waktunya detik demi detik mungkin tinggal menunggu kedatangan sang maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetumbuhanpun tidak mungkin mampu hidup tanpa mengkonsumsi air. Proses daya hidup dan perkembang biakan mereka membutuhkan air. Itulah gunanya akar pohon menerobos tanah bergerak ke segala arah mencari air untuk dibawa ke bagian tanaman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun ia rahmat tapi ketika polah tingkah manusia serakah telah mengunduli hutan sebagai penahan air, maka terkumpulnya air itu bisa berarti bencana. Hujan yang turun terus menerus bisa membuat tanggul air jebol, sungai meluap, dan bendungan roboh. Ketika air bukan lagi teman, tapi sudah dianggap musuh oleh sebagian manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir tidak mengenal status sosial. Ia bisa menyerang pemukiman kumuh di pinggir kali, perumahan warga biasa maupun perkampungan elit di tengah kota. Semua bisa terkena dampaknya; minimal rumahnya kotor karena sampah yang dibawa banjir. Tidak menutup kemungkinan juga ia kehilangan harta bendanya, bahkan sanak familinya yang hanyut terseret pusaran air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banjir yang mengenangi perumahan, juga lewatnya air bah sepanjang pemukiman merupakan tragedi dan tangisan manusia-manusia lemah yang sebagian diantaranya justru tidak ikut serta menikmati mengunduli hutan. Mereka hanya menikmati akibat buruknya, sementara cukong-cukong pelaku illegal logging tetap aman di lantai 10 atau 20 hotelnya atau malahan sudah lari ke luar negeri begitu mendengar ramalan cuaca bahwa hujan akan turun di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a01.yimg.com/nimage/ca49ccd7ba033e82"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 218px; height: 196px;" src="http://thm-a01.yimg.com/nimage/ca49ccd7ba033e82" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Begitulah manusia. Nafsunya tidak pernah terpuaskan akan dunia. Dengan berbagai alasan dusta pohon-pohon ditebangi tanpa menggantinya dengan penanaman kembali. Bekerja sama dengan para aparat hukum yang mata duitan segala aturan bisa direkayasa dan dilanggar. Kepentingan orang banyak dikalahkan sodoran tumpukan uang atau cek milyaran rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun tertangkap oleh aparat yang lain, tuduhanpun dibuat seringan mungkin. Tidak butuh lama berdiam di dalam sel, asalkan uang lancar segala urusan cepat selesai. Akibatnya negeri ini menempati rangking pertama didunia sebagai perusak hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerakusan dan ketamakan manusia merupakan sumber bencana di dunia ini. Saling berebut isi dunia tidak memperdulikan cara yang dipergunakan asalkan memperoleh kekayaan yang banyak. Tidak ada halal ataupun haram, semua adalah halal dan boleh. Maka Rasulullah saw dulu sudah mensifati manusia dengan ketamakan terhadap harta. Menurut beliau kepuasan mereka akan berhenti ketika mulut itu sudah terpenuhi dengan tanah alias masuk liang kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit masih terus menumpahkan air hujan. Semoga air yang turun adalah rahmat bagi manusia yang senantiasa berusaha patuh kepada perintah-Nya. Bagi orang yang sedang khilaf dengan mengamati titik-titik air yang turun berurutan ke bumi mudah-mudahan tersadarkan untuk segera kembali ke jalan lurus. Bagaimana bagi orang yang banyak maksiat, apakah hujan termasuk rahmat bagi mereka ataukah musibah? Allah swt paling tahu apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2774234286011366160?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2774234286011366160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/menikmati-hujan-yang-turun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2774234286011366160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2774234286011366160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/menikmati-hujan-yang-turun.html' title='menikmati hujan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-6634845862975777672</id><published>2010-12-10T05:01:00.002+07:00</published><updated>2010-12-10T05:04:40.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Semangat dari tanah suci</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji merupakan ibadah tinggi dalam Islam karena masuk rukun Islam. Sebuah kewajiban yang menjadi idaman setiap muslim dimanapun ia berada, apapun status sosialnya dan berapapun harta benda miliknya. Allah Maha Bijaksana hanya memberikan beban ini kepada muslim yang mampu; ilmu, fisik dan biaya. Sayangnya kemampuan sekarang identik dengan biaya sehingga ada orang yang berkali-kali naik haji karena memang biayanya ada. Sementara sebagian lainnya baru bisa bermimpi, berdoa dan menabung yang mungkin sampai meninggalpun tidak cukup untuk membiayai perjalanannya ke tanah suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang naik haji merupakan kebanggaan. Bagi sebagian masyarakat kita setiap orang yang mau berangkat haji perlu mengadakan tasyakuran pelepasan. Mereka mengundang tetangga kiri-kanan, handai taulan dan juga kenalan untuk sama-sama mendengarkan tausyiah dari seorang ustadz yang sengaja diundang. Tema pengajianpun tentu berkisar masalah perjalanan haji, khususnya jika sang ustadz sudah menunaikannya. Acara pastilah diakhiri dengan makan-makan sebagai wujud keramahan tuan rumah atas tamu-tamunya, sekaligus tanda bersyukur karena bisa menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nuansa emosional sangat mewarnai acara keberangkatan dari rumah, tempat berkumpul, asrama haji hingga bandara tempat pesawat lepas landas membawa mereka ke tanah suci. Tidak jarang mereka membuat surat wasiat dan pesan-pesan khusus seperti orang yang mau meninggal dunia. Mungkin jauhnya tempat dan lamanya waktu pelaksanaan haji membuat sebagian mereka khawatir tidak bisa kembali ke tanah air. Paling tidak, pikir mereka, hutang dan dosa kepada manusia tinggal sedikit seandainyapun harus menghadap Allah swt disana tidak kembali ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ketika para haji kembali ke tanah air setelah kurang lebih 30-40 hari berada di tanah haram. Prosesi penyambutan tidak jauh berbeda dengan pelepasan, bahkan mungkin lebih heboh. Nuansa kegembiraan tersebar di wajah-wajah para haji, anggota keluarganya dan setiap orang yang menjemput serta berkumpul di sekitar kediamannya. Senang atas kembalinya orang yang mereka khawatirkan selama satu bulan lebih keadaan dan kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi masalah oleh-oleh. Nampaknya sudah menjadi trend bagi jama’ah haji dari Indonesia untuk membawa oleh-oleh sebanyak-banyaknya dari tanah Arab, khususnya air zam-zam. Tidak jarang ada jamaa’ah yang sudah sibuk mengurusi barang bawaannya sementara rentetan ritual haji belum terselesaikan. Itulah latar belakang yang membuat maskapi penerbangan dan pemerintah membatasi barang bawaan setiap haji dengan ukuran tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah beragama sebagian kita berisi hal-hal yang tidak urgent tapi malah menjadi prioritas dalam mengerjakan sebuah amalan. Sementara sesuatu yang seharusnya menjadi ukuran ketuntasan amal seringkali terpinggirkan. Pelaksanaan haji sebagian saudara kita mewakili realitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan haji sesungguhnya merupakan miniatur rapat raksasa kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia dalam ikatan aqidah dan iman yang satu. Kebersamaan dalam keberagaman dalam pelaksanaan ritual haji seakan menggambarkan kokohnya persatuan umat meski memiliki latar belakang asal, bangsa, warna kulit, dialek bahasa dan cirri-ciri yang mewakili identitas asal seseorang. Semuanya menyatu dalam sebuah harmoni “ketaatan kepada perintah Allah swt dan Rasulullah saw”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama para jama’ah haji menapaktilasi perjalanan nabiyullah Ibrahim as dan keluarganya dalam melaksanakan serangkaian ketaatan kepada Allah swt. Setiap ritual memberikan pendidikan spiritual dan ruhiyyah bagi para jamaah haji. Bayangan perjuangan nabiyullah Ibrahim dan keluarganya yang demikian berat rasanya jauh untuk diikuti dan ditiru. Namun paling tidak ada semangat dan upaya meneladani beliau dalam semangat untuk berbakti kepada Allah swt semaksimal yang kita bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya tentu saja usai seluruh rangkaian kegiatan manasik haji mereka menjadi pribadi-pribadi yang muttaqin. Cermin lama hati masing-masing berusaha diganti dengan cermin yang baru. Bukankah Allah Rasulullah saw telah mengabarkan jaminan surga bagi orang-orang yang berhasil mencapai tingkatan haji mambrur? Indikasinya diantaranya pada signifikasi peningkatan ketaatan mereka kepada aturan Allah swt dalam kehidupan sehari-hari dalam setiap aspek; ibadah, akhlaq dan juga muamalah kepada orang lain. Itulah ukuran paling bisa dilihat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan saudara-saudara muslim dari seluruh penjuru dunia seharusnya juga memberikan wawasan global tentang kondisi umat secara umum. Sharing informasi tentunya melahirkan pemahaman akan situasi umat yang secara umum masih dalam kolonialisasi dan imperaliasi bangsa barat yang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya cerita-cerita tentang penderitaan akibat penindasan, penzaliman terhadap orang-orang kafir dan munafik saudara-saudara kita di Irak, Afghanistan, Thailand, Filipina dan bekas negara-negara uni soviet yang selama ini hanya didapat dari media massa bisa di akses langsung.  Beda rasanya jika mendengar dari para pelaku atau korban langsung yang mengalami peristiwa penindasan tersebut. Peningkatan ghirroh solidaritas keIslaman pasti akan muncul setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah pula barangkali pengamatan langsung betapa cengkeraman orang-orang Yahudi telah demikian dalam masuk ke negara-negara Arab, bahkan dua tanah suci kita juga tak luput dari penguasaan mereka. Penguasaan secara wilayah mungkin tidak, tapi penguasaan dalam bentuk yang lain yakni konsep dan gaya hidup masyarakat arab sebagian sudah sama dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas-realitas itulah yang sesungguhnya menjadi tantangan bagi para haji usai menunaikan ibadah haji. Peningkatan iman mereka setelah berhaji sudah mendapatkan ruang untuk beraktualisasi dalam pertarungan kehidupan. Iman yang lebih kuat harus mulai dibenturkan dengan kenyataan-kenyataan hidup yang masih jauh dari syariah Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat keislaman lebih kuat dari orang-orang yang pulang dari haji itulah yang kita butuhkan untuk memperbaiki keadaan umat kita sekarang ini. Bayangkan apabila jutaan orang setiap tahunnya mengunjungi tanah suci untuk berhaji dan kemudian kembali ke negaranya masing-masing membawa semangat memperbaiki kondisi umat Islam, maka tidak perlu butuh waktu lama untuk mengembalikan kejayaan Islam kembali seperti dahulu kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal bagaimana kemudian memberikan pamahaman tersebut kepada mereka; orang-orang yang akan dan telah menunaikan ibadah haji. Membuat mereka mengerti akan tanggung jawab pribadi terhadap kebangkitan umat. Allah swt telah memilih mereka untuk memenuhi panggilan nabi Ibrahim berhaji sebagai sarana mengambil spirit perjuangan Nabi Ibrahim dan keluarganya dalam menegakkan bangunan peradaban Islam pada masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kesadaran seperti itu tidak menutup kemungkinan berangkat haji hanya menjadi ajang untuk meraih kebanggaan dunia. Senang rasanya jika dipanggil “pak atau bu haji”, plus embel-embel huruf “H” di awal namanya. Orang seperti itu mungkin belum mendapatkan spirit haji dan bisa jadi juga Allah swt belum menganugerahkan kepadanya haji mabrur. Sayang sekali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-6634845862975777672?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/6634845862975777672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/semangat-dari-tanah-suci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6634845862975777672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6634845862975777672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/semangat-dari-tanah-suci.html' title='Semangat dari tanah suci'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-7493026524414489223</id><published>2010-12-07T21:58:00.004+07:00</published><updated>2010-12-07T23:02:56.592+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kajian'/><title type='text'>Tahun baru hijriyah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak perlu merayakannya karena tidak ada sunnah dari Rasulullah saw, juga para sahabat dan salafush sholeh.”  Begitu dulu ucapan seorang ustand yang pernah saya dengar dalam sebuah pengajian dan masih tergiang-ngiang sampai hari ini. Dan pesan beliau terlintas kembali ketika pergantian tahun hijriyah datang kembali hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang mungkin tidak bisa kita hindari sebagai makhluk sosial yang mempunyai kenalan ataupun teman adalah ucapan selamat untuk beragam kepentingan, termasuk tahun baru. Bagaimana kita menyikapi jika kita mendapat ucapan “Selamat tahun baru hijriyah ya…. Moga tambah sukses di tahun ini?"  Mendapat pertanyaan seperti itu beliau menjawab; berikan doa kepadanya, misalkan “Semoga Allah swt memberikan kebaikan kepada anda dan menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan barakah.” Tapi jangan menjadi orang yang pertama mengucapkan.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sebagian umat Islam juga melarang tindakan saling mengucapkan selamat tahun baru hijriyah tersebut. Sekalipun dengan pesan singkat (SMS). Alasannya tentu saja perbuatan yang tidak perlu karena mirip mengucapkan selamat tahun baru masehi sebagaimana umum dikerjakan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bahwa hanya ada dua hari raya dalam Islam; Idul Fitri dan Idul Adha. Dua hari raya itulah yang Rasulullah saw rayakan ketika beliau masih hidup. Tentunya sebagai orang yang mengaku sebagai pengikut beliau tidak pantas kalau tidak melaksanakan dan meniru beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak layak juga kita ikut merayakan hari-hari besar umat lain yang sering diblow up besar-besaran lewat media cetak dan elektronik. Valentine, misalnya. Atau hallowen, termasuk juga ulang tahun seseorang. Kita patut khawatir jika menginggat hadist Rasulullah saw “barang siapa meniru suatu kaum maka ia bagian dari kaum tersebut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya kita mampu mengambil spirit hijrah Rasulullah saw dalam diri pribadi, bangsa dan umat kita untuk kehidupan lebih baik. Hijrah merupakan awal perubahan ke arah lebih baik, apapun itu. Begitulah dahulu semangat Rasulullah saw dan para sahabat ketika memutuskan berangkat ke Madinah. Kondisi lebih baik untuk mereka dalam mengamalkan dan menegakkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatutnya itu pula yang menggugah diri kita setiap pergantian hijriyah. Bertambah semangat untuk bekerja lebih keras menuju Kebangkitan Islam. Hingga saatnya tiba sebagaimana Rasulullah saw sabdakan. Dan sesungguhnya Allah swt dan Rasul-Nya tidak pernah menyalahi janji.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-7493026524414489223?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/7493026524414489223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/tahun-baru-hijriyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7493026524414489223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7493026524414489223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/tahun-baru-hijriyah.html' title='Tahun baru hijriyah'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-6207650781818614441</id><published>2010-12-06T19:01:00.002+07:00</published><updated>2010-12-06T19:23:43.080+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Ketika pingin punya uang banyak</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa persisnya kapan pingin punya uang banyak terakhir kalinya. Namun tiba-tiba hari saja hari ini saya sangat kepingin sekali punya uang banyak. Saking inginnya langsung berdoa kepada Allah swt supaya harapan itu bisa terkabul seketika. Tentu saja kecil kemungkinan tersebut, karena toh saya menyadari kualitas iman saya belum cukup untuk membuat Allah swt mengijabahi permohonan itu secara kontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pertemuan dengan tiga orang teman dalam satu hari yang jarak antar satu dengan lainnya tidak lama membuat keinginan punya uang banyak itu muncul dan sangat kuat. Ketiga-tiganya sedang diuji oleh Allah swt dengan jenis yang berbeda, sementara solusi terdekat dan tercepat memberi mereka bantuan berupa uang karena itu yang dibutuhkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman pertama butuh uang untuk mengobati orang tua laki-lakinya. Belum lama ini bapaknya divonis gagal ginjal. Satu-satunya terapi yang mungkin adalah melakukan cuci darah satu minggu sekali. Berita itu tentu saja membuat keluarga tersebut menarik nafas cukup dalam membayangkan biaya untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat kondisi ekonomi keluarga teman ini, memang biaya cuci darah yang sekian ratus ribu sekali jalan cukup berat. Saya yang pernah nyambangi rumahnya dan sedikit tahu aktifitas keluarga itu tentu menyadari beban tersebut. Informasi dari teman itu kemarin kakak tertuanya sedang mengurus jamkesda (jaminan kesehatan daerah) sebagai biaya utama pengobatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin saya bersama beberapa orang teman besuk ke rumah sakit. Dalam perjalanan pulang dari ruang inap pasien sampai tempat parkir kendaraan muncul perasaan bersalah karena tidak bisa membantu apa-apa. Ketika itulah perasaan pingin punya uang banyak mulai muncul. Bukan untuk yang lain, tentu ingin membantu keluarga itu terbebas dari beban biaya pengobatan kepala keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya mendapat informasi kalau bapaknya belum boleh pulang karena kondisinya belum memungkinkan. Dokter masih menunggu perkembangannya setelah menjalani cuci darah yang kedua lusa nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman kedua yang hari ini butuh uang lain lagi masalahnya. Ia baru saja mewakili orang tuanya memenuhi panggilan sekolah tempat sang adik belajar. Ternyata ada beberapa tagihan yang harus segera si adik bayar karena minggu depan akan diadakan ujian semester (UAS). Besaran tunggakan itu mungkin bagi sebagian orang tidak banyak, namun bagi ia dan keluarganya sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka teman tadi berusaha menemui orang-orang yang ia anggap bisa membantunya meminjami uang.  Saya termasuk yang ia anggap bisa membantu untuk mencarikan solusi dari masalahnya. Tentu saja saya berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan meskipun belum mampu menyelesaikan seluruh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang ketiga sedikit lebih kompleks masalahnya. Ia bercerita tentang kondisi keuangannya yang tiga bulan ini selalu dalam kondisi minus. Awalnya hanya puluhan ribu, sekarang angka minusnya sudah sampai ratusan ribu setiap bulannya. Tentu saja bagi orang-orang kecil kondisi tersebut membuat bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya secara kasat mata ia sudah bekerja sangat keras. Dalam satu hari ia bekerja pada dua tempat yang berbeda; pagi sampai siang sebagai pedagang dan siang sampai malam sebagai pegawai pada sebuah lembaga di dekat tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;Menurutnya ada dua penyebab, paling tidak, penyebab defisit keuangan keluarganya. Alasan pertama yakni kebutuhan susu bayinya. Karena ibunya tidak bisa menghasilkan ASI terpaksa kebutuhan makanan si bayi berasal dari susu bubuk. Akibatnya semakin besar sang bayi, semakin banyak pula kebutuhan susu bubuknya. Dan itu harus ia beli seminggu satu sampai dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab lain dalam pikirannya adalah kebutuhan sekolah adiknya. Meski bukananak tertua dan orang berkecukupan ia mengangkat beban menanggung biaya sekolah adiknya paling kecil. Itu ia lakukan karena kasihan dengan adik dan ibunya. Ia ambil adiknya dari desa asalnya dan ia sekolahkan di dekat rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kebutuhan anak sekolah zaman sekarang di luar hitungannya. Selain uang saku masih banyak yang ia harus penuhi dari kebutuhan sekolah adiknya. Meski ia tahu sendiri sang adik sudah sedemikian ngirit untuk meringankan beban kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berfikir keras mencari cara untuk membantu mereka, sekilas terlintas wajah Gayus dan teman-teman seprofesinya yakni para koruptor besar negeri ini. Andaikan mereka tidak mengemplang uang rakyat tentu pemerintah bisa mensejahterakan rakyatnya, tentu saja termasuk tiga orang teman saya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menyalahkan mereka saja nampaknya masih kurang karena setiap harinya sudah kerja ekstra banting tulang bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Jangan lupakan tanggung jawab pemerintah untuk menjamin kecukupan rakyatnya dalam aspek-aspek mendasar kebutuhan manusia; pangan, papan, sandang, perumahan dan pendidikan. Itulah kebutuhan asasi setiap warga negara yang harus dicukupi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataan di negeri ini masih jauh dari harapan. Betapa kekuasaan ekonomi di negeri ini hanya berputar pada segelintir orang di negeri ini. Data menunjukkan bahwa tanah produktif di Indonesia hanya dimiliki 0.2% manusia dari sekian ratus juta jumlah penduduknya. Wajar kalau kemudian orang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin tambah sengsara dalam kemiskinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat saya akan kehidupan umat Islam pada masa khalifah Umar bin Khatab. Beliau mempunyai kebijakan ekonomi dengan istilah santunan warga negara. Program ini menjamin tidak ada orang yang kekurangan karena negara mengalokasikan dana sangat besar untuk kesejahteraan warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Masa dimana tidak ada orang yang mau menerima zakat dari amil dan negara karena semua mampu mengeluarkan zakat. Para pembagi zakat harus membawa kembali zakat yang hendak mereka bagi ke baitul maal. Itu semua tentu saja karena negara berhasil membuat seluruh warganya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan mempunyai kelebihan sehingg bisa mengeluarkan zakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muara dari kondisi tersebut ada pada pemimpin yang adil. Seorang pemimpin yang menyadari ia adalah pelayan rakyatnya. Sebagai pelayan maka ia tentu akan giat melayani majikannya, memeriksa apa yang kurang dari servisnya dan memastikan tidak ada keluhan dari tuannya terkait pelayanannya. Maka ia menjadi orang terakhir yang merasakan enak ketika makan, nyeyak ketika tidur dan berbahagia ketika sedang santai-santai karena semua majikan telah terlayani dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya diri kita belum memiliki kesempatan untuk hidup dalam masa seperti itu. Para pemimpin kita layaknya bos kita. Mereka minta dilayani segala keinginannya dan didahulukan segala keperluannya. Prinsipnya bukan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat saya tapi apa yang rakyat saya bisa dipersembahkan kepada saya. Semua yang ada dinegeri ini adalah milik saya; tanah, laut, udara dan juga manusianya. Tipologi pemimpin khas monarkhi zaman purba dulu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-6207650781818614441?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/6207650781818614441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/ketika-pingin-punya-uang-banyak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6207650781818614441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6207650781818614441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/ketika-pingin-punya-uang-banyak.html' title='Ketika pingin punya uang banyak'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3716767121934291919</id><published>2010-12-04T08:26:00.001+07:00</published><updated>2010-12-04T08:30:11.748+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Menjaga Motivasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik manusia memang pekerjaan super. Inilah warisan para nabi dan rasul utusan Allah swt untuk memberi tahu, menunjukkan jalan dan membimbing manusia supaya senantiasa dalam koridor kebenaran dan kebaikan. Karena ia merupakan perkerjaan super tentu saja membutuhkan energi besar untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang tertarik dengan pekerjaan ini. Namun tidak selamanya orang kemudian tahan untuk tetap bertahan dalam idealisme awal menjaga spirit pendidikan. Transfer ilmu, transfer nilai dan transfer iman haruslah dilakukan dengan sepenuh hati. Jika visi besar itu hilang, musnah sudah pahala dari Allah swt yang bisa dinikmati sampai di alam kubur bagi orang-orang berilmu dan bisa mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang teman main yang tidak pernah  kelihatan loyo karena kurang gairah dalam seluruh aktifitas hariannya, termasuk mengajar sebagai pekerjaan pokoknya. Bertahun-tahun performance itu bisa ia rawat dan konsisten dikerjakan. Kondisi apapun yang menerpa dirinya nyala api tetap kelihatan dalam dirinya. Tidak peduli seperti apapun kualitas kemampuan dan karakter anak didiknya, ia tetap berperilaku seperti ini; semangat, santun dan istiqomah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa rahasianya? Ia hanya tersenyum jika orang mengomentari kondisinya tersebut. Ia bilang kuncinya ada pada duit. Mendengar kata duit  otomatis pikiran orang yang ia aja bicara mengarah kepada uang alias fulus. Konklusinya jelas; ooooo…….. ternyata rahasianya tetap enerjik  adalah uang. Semangat mencari duit memang bisa membuat orang tidak kenal lelah. Siang dan malam tidak ada bedanya sepanjang uang terus mengalir ke dalam kantongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi penjelasan dia berikutnya menghilangkan prasangka itu. Duit dalam spiritnya bukan uang atau fulus. Duit ditulis dengan memisah satu persatu hurufnya D - U - I - T. Itu adalah singkatan dari empat huruf tersebut; D berarti doa, U maksudnya usaha, I artinya ikhlash dan T ternyata tawakal. Iapun menjelaskan satu persatu maksud dari singkatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf pertama adalah D yang artinya doa. Sudahkah kita mendoakan anak didik kita ketika kita berdoa setiap selesai sholat? Sudahkah memintakan ampun kepada Allah swt atas kesalahan mereka dan memohonkan petunjuk untuk kebaikan masa depannya dunia dan akhirat? Begitu pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa memang kekuatan seorang muslim. “Doa adalah senjata orang-orang beriman”. Apalagi doa itu dilantukan dan dihaturkan oleh guru sebagai orang tua kedua setelah kedua orang tua biologis. Jika doa permohonan itu dirutinkan selama beberapa waktu, insya Allah ada bagian-bagian doa yang Allah swt kabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf kedua adalah U yakni usaha. Ia meyakini semua pengajar sudah berusaha maksimal memberikan yang terbaik bagi anak ajarnya. Pertanyaannya maksimal itu ukuran siapa?, apakah ukuran setiap pengajar sendiri, ukuran aturan baku yang dibuat, ataukan ukuran hati setiap guru yang memiliki visi serta idealisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang, imbuhnya, maksimal yang dipakai adalah standard masing-masing person pendidik. Maka ukurannya sangat subyektif. Wajar kalau kemudian ketika seorang pendidik sedang mempunyai masalah pribadi ukuran maksimal akan mengalami penyusutan nilai. Padahal kondisi seperti itu tidak boleh karena tidak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf I mewakili ikhlash. Inilah kunci terkabulknya amal di hadapan Allah swt. Ikhlash bagi seorang pendidik berarti memberikan ilmunya dengan sepenuh hati hanya dalam rangka taat dan patuh kepada Allah swt. Tidak ada motivasi selain itu.&lt;br /&gt;Jika ada dorongan lain yang ikut bermain apakah materi, jabatan maupun sekedar pujian dan sanjungan dari orang lain tentunya harus di tepikan. Sebisa mungkin seorang pengajar menjaga hati dari motivasi-motivasi yang bisa menganggu konsentrasinya dalam mentransfer ilmu kepada anak didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal adalah kepanjangan huruf T. Artinya setelah berdoa, berbuat maksimal dan ikhlash maka tinggal menunggu takdir dan ketentuan Allah swt. Hanya Dia yang memiliki kekuatan untuk menentukan hitam putihnya nasib setiap insan. Seperti apa warna dan corak masa depan seseorang tidak akan lepas dari keputusan Allah swt.&lt;br /&gt;Dengan kata lain tawakal adalah kepasrahan akan kehendak Allah swt. Setiap keputusanNya adalah baik tidak peduli enak atau tidak enak, menyenangkan atau menyedihkan dalam pandangan nafsu manusia. Dari Allah pasti baik, itulah prinsip yang harus kita pegang erat. Begitulah uraian teman tadi tentang konsep hidupnya yang terwakili empat huruf; D-U-I-T.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi saya setuju dengan konsep berfikir seperti itu. Hari-hari ini kita menyaksikan dekadensi moralitas yang sangat akut di negeri ini.  Satu sisi kita menyaksikan generasi tua negeri ini sudah seharusnya dikurangi perannya terutama mereka-mereka para pelaku maksiat dan kemungkaran, sisi lainnya kita sendiri khawatir dengan para pemuda Indonesia. Realitas menunjukkan angkatan muda harapan masyarakat ternyata otaknya penuh angan-angan hidup foya-foya, selalu gembira, tidak terikat norma dan ingin melepaskan rasa tanggung jawab akan masa depan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalah noraknya karakter sebagian anak muda umat dan bangsa ini diantaranya pasti peran pendidikan mereka selama berada di bangku sekolah. Mungkin faktor sistem pendidikan kita yang masih kurang mampu menyiapkan anak didiknya. Kalau berbicara sistem berarti terdiri dari materi ajar, kurikulum, dan tentunya juga pengajar. Semuanya memiliki peran atas keterpurukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pendidikan formal bukanlah satu-satunya variabel penyebab kebobrokan moralitas sebagian anak muda zaman sekarang, lingkungan juga besar pengaruhnya. Sistem dajjal telah mengangkangi dunia dengan pola dan gaya hidup jahiliyyah modern. Globalisasi telah membuat dunia seperti kampung besar yang tidak dibatasi sekat-sekat lagi. Sayangnya informasi yang dominan penuh ajakan untuk meninggalkan ajaran Allah swt. Kekuatan mereka terlihat sangat besar dan nampaknya tak tertandingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pendidikan yang baik sesuai standard Islam berperan besar untuk membangkitkan kembali kesadaran manusia akan eksistensi dan tugas manusiawinya. Tanpa memiliki kesadaran akan jatidirinya sebagai hamba Allah swt dan tugas utamanya sebagai pengemban risalah langit untuk kemakmuran alam semesta, pola pikir pencari ilmu akan kosong dari idealisme ilahiyyah. Ia hanya akan membumi berfikir tentang pemenuhan ambisi, keingginan dan hasrat nafsu manusiawi. Ujung-ujungya para lulusan lembaga-lembaga pendidikan yang ada tidak lebih sekedar menambah deretan nama perusak keseimbangan sistem alam dan seisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah investasi jangka panjang yang tak takkan putus pahalanya meski kita telah masuk ke dalam tanah. Mari kita lakukan perubahan menuju pendidikan yang lebih baik dari sekarang. Jangan ditunda lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3716767121934291919?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3716767121934291919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/menjaga-motivasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3716767121934291919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3716767121934291919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/12/menjaga-motivasi.html' title='Menjaga Motivasi'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-4744509317218846668</id><published>2010-11-24T21:31:00.005+07:00</published><updated>2010-11-24T21:56:27.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Tentang Rasa Marah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlukah kita marah? Secara teori kondisi seseorang yang marah kontra produktif dengan kesehatan. Jumlah otot tubuh seseorang yang diperlukan untuk marah jauh lebih banyak daripada kebutuhan untuk tertawa. Artinya daya kerja orang yang marah membutuhkan energi lebih besar di banding orang yang tertawa. Penelitian ilmian mengatakan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek lain yang perlu diperhatikan apabila memiliki hasrat untuk marah adalah suasana kejiwaan. Seseorang yang marah tentu butuh waktu untuk mengembalikan suasana emosinya supaya kembali stabil. Lama atau sebentar waktu pemulihan itu tergantung kepada penyebab dan efek dari munculnya rasa marah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apabila luapan marah yang dikeluarkan seseorang juga berlebihan, dampaknya bisa menganggu hubungan personal antara individu, bahkan komunitas tertentu dalam masyarakat mulai kampung sampai bangsa dan negara. Maraknya perang antar warga di negara kita belakangan ini juga diantaranya dipicu oleh sikap marah atau emosional antara mereka karena kasus tertentu. Akibatnya tidak hanya harta benda yang rusak maupun terbakar, ada juga nyawa melayang dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses rekonsiliasi untuk mengakurkan kembali biasanya juga butuh waktu lama. Semakin banyak orang yang terlibat biasanya akan semakin banyak pula kepentingan yang berperan. Tidak cukup satu pertemuan, bisa berkali-kali sampai berpuluh-puluh kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam event olahraga sikap marah juga bisa berakibat kurang baik. Seorang pemain bola yang mudah marah permainannya akan kacau. Kalau musuhnya mampu memprovokasi dan memancing emosinya maka ia akan sering melakukan pelanggaran sehingga rawan mendapatkan sanksi dari sekedar peringatan hingga dikeluarkan dari lapangan. Belum lagi kalau kemudian para penonton atau supporter ikut beraksi maka tawuran anak berlangsung baik di dalam lapangan maupun di tribun-tribun penonton. Itulah sebagian gambaran sepak bola kita belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang suami istri yang saling marah juga tidak baik. Jika tidak ada yang menengahi untuk menjadi meditasi bisa berakibat fatal. Akibat paling ringan tidak terjadi keharmonisan dalam keluarga tersebut, sementara perceraian juga bisa menjadi ancaman bagi keutuhan rumah tangga tersebut. Termasuk juga dampak psikologis dan mental bagi anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi marah juga dibutuhkan. Pada beberapa kondisi atau situasi, sikap marah harus ditunjukkan karena jika tidak justru memberikan gambaran jelek terhadap kepribadiaan seseorang. Mendengar informasi tentang maraknya video porno artis, misalnya, tentu kita harus marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kita marah karena jelas-jelas itu perbuatan maksiat. Jika mereka sepasang suami istri itu adalah kebodohan teramat sangat. Apabila pelakunya belum terikat dengan ikatan pernikahan maka perbuatan itu adalah perzinahan. Kita harus marah akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kedua kita harus marah karena kita mengetahui efek buruk dari peredaran video tersebut. Posisi mereka sebagai public figure tentu mengundang para penggemarnya untuk menirunya. Dan ternyata terbukti maka kita harus marah meski tetap dengan cara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga harus marah karena mendengar rumah tahanan (rutan) negeri ini tidak lebih dari hotel bagi para koruptor berkantor tebal. Melihat serta mendengar dari media masa tentang kebobrokan itu hati kita sangat kecewa,  jengkel dan pasti marah atas tingkah laku para oknum penegak hukum di negara ini. Betapa rasa keadilan terasa sangat jauh dari jangkauan si miskin papa sedangkan terasa di dekapan bagi mereka yang mampu secara ekonomi dan memiliki strata sosial tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti juga marah mendengar berita rencana plesiran para anggota dewan ke luar negeri di tengah beruntunnya bencana yang mendera negeri ini. Hal itu menunjukkan rendahnya empati dan keberpihakan wakil rakyat terhadap masyarakat yang dahulu telah memberikan kepercayaan kepada mereka untuk memperjuangkan nasibnya. Bukankah seharusnya mereka mendatangi para pengungsi dan tidur bersama di tenda-tenda penampungan untuk menunjukkan solidaritas terhadap para konstituennya? Jangan seperti ungkapan habis manis sepah dibuang, habis nyoblos dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan marah juga harus kita ungkapkan kepada orang-orang dan lembaga-lembaga yang terkait melihat para tenaga kerja wanita kita disiksa, diperkosa dan dibunuh di negeri orang. Justru aneh kalau pemerintah tidak sampai mengirim utusan khusus untuk menyelesaikan kasus tersebut. Paling tidak memastikan para pelaku kejahatan terhadap para tenaga kerja wanita kita diproses sesuai hukum yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika ada seseorang atau sekelompok orang tidak marah ketika menemui kondisi sosial penuh dengan kejahatan dan kemaksiatan? Normalkah mereka itu?&lt;br /&gt;Mungkin saja ada orang atau sekelompok orang seperti itu. Bisa jadi karena mereka bagian dari pelaku kejahatan atau kemaksiatan itu sendiri. Wajar kalau tidak ada kutukan ataupun kecaman karena ada mungkin saja terdapat kode etik tertentu di kalangan mereka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain yang mungkin adalah mereka termasuk golongan cuek bebek dengan sekitarnya. Prinsip hidupnya adalah lu adalah lu gue adalah gue; pribadi dan keluarganya aman serta tercukupi semua kebutuhannya, selain urusan pribadi mereka berusaha semaksimal mungkin tidak mencampurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menutup kemungkinan juga mereka kelompok yang sudah terlanjur apatis atau kehilangan harapan untuk melihat kondisi sosial masyarakat yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang frustasi dengan mentoknya segala upaya untuk melakukan islah atau perbaikan dalam masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang perlu diwaspadai adalah jika seseorang itu tidak bisa marah sama sekali dalam hidupnya.  Sekalipun pribadinya dihina dan dilecehkan, ia tetap tidak bisa marah. Bukan karena tidak berani atau malu untuk marah, tetapi memang tidak bisa marah. Ia ingin marah tapi tidak mampu mengekspresikannya secara verbal; lisannya tidak bisa mengucapkan dan fisiknya juga tidak bisa mewakili ungkapan rasa marahnya. &lt;br /&gt;Untuk orang seperti ini harus ada pelatihan khusus untuk menormalkan seluruh sel-sel saraf perasaannya. Secara fitrah manusia seharusnya memiliki rasa marah walaupun kadar pelampiasannya jelas tidak sama antara satu orang dengan lainnya. Ia harus mengikuti terapi khusus agar bisa marah; “Terapi Marah”. Dalam kegiatan tersebut si pasien akan dikondisikan dalam situasi tertekan, tersakiti dan semacamnya supaya emosinya naik sehingga rasa marahnya bisa keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi ini bisa berlangsung sebentar atau lama tergantung progress report dari peserta sendiri. Dengan kata lain, semakin ia bisa cepat marah maka terapi itu akan selesai dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw berpesan kepada kita untuk tidak gampang marah. Dalam sebuah hadist diriwayatkan ketika salah seorang sahabat datang dan minta dinasehati, pesan beliau cuma satu; jangan narah. Nasehat itu beliau ulangi sampai tiga kali; jangan marah. Dalam redaksi lain beliau juga bersabda &lt;span style="font-style:italic;"&gt; “janganlah marah bagimu surga”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat juga riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda kepada umatnya tentang perasaan marah. Beliau menyampaikan bahwa orang yang kuat bukanlah seorang jawara gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan dirinya untuk tidak marah ketika kesempatan dan peluang itu terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika memang harus marah seperlu dan secukupnya saja. Jangan berlebih-lebihan mengeluarkannya dan jangan berkepanjangan sampai diwariskan dari generasi ke generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-4744509317218846668?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/4744509317218846668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/11/tentang-rasa-marah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4744509317218846668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4744509317218846668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/11/tentang-rasa-marah.html' title='Tentang Rasa Marah'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2442620453762401912</id><published>2010-11-21T13:06:00.002+07:00</published><updated>2010-11-21T13:25:25.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realitas'/><title type='text'>Kita Butuh Orang Baik dan Berani</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sampai kapan prahara dunia hukum di negeri ini akan usai. Silih berganti peristiwa mencoreng wajah aparat penegak hukum yang sudah sekian lama penuh dengan kesalahan di mata masyarakat. Kasus teraktual menyangkut Gayus hanyalah episode baru yang mungkin juga endingnya tidak seperti harapan mayoritas masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenuh masyarakat kecil menyaksikan selalu kalahnya hukum dengan semua perlengkapannya di hadapan penjahat berduit dan pesakitan yang sakti karena mempunyai kekuatan menangkis dan menangkal jerat-jerat aparat. Apatisme sudah mencapai titik nadhir bagi sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap kejujuran dan keadilan hukum yang berlaku bagi setiap warga negara tanpa memandang latar belakang apapun yang dimilikinya. Slogan keadilan untuk semua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(justice for all)&lt;/span&gt; tak lebih dari sekedar iklan pemanis bibir yang enak diucapkan namun tak mungkin rasanya dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aturan hukum dan perundang-undangan sudah ada dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Lembaga penegak hukum juga banyak; kepolisian, kejaksaan dan aparat sejenisnya. Gedung-gedung merekapun gagah berdiri di setiap sudut negeri ini. Jumlah anggotanyapun masih cukup untuk mengcover segala macam persoalan yang terjadi di tengah masyarakat setiap saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimana persoalannya? Apakah gaji mereka kurang? Apakah fasilitas yang diberikan negara kepada kepada para abdi masyarakat itu kecil sehingga tidak cukup untuk hidup layak? Atau ilmu hukum yang mereka miliki belum mampu memberikan solusi atas problem hukum di negara kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekedar masalah di atas menjadi penghalang terciptanya budaya tertib dan taat hukum di masyarakat, tentu saja alasan tersebut terkesan mengada-ada serta apologetik. Bukan fasilitas maupun besarnya gaji yang menjadi factor x kegagalan aparat hukum bertindak sesuai prosedur dan aturan yang berlaku, namun lebih mengarah kepada sikap mental aparatur itu sendiri. Sikap mental yang dibangun diatas kesadaran akan tanggung jawab, komitmen kepada pekerjaan, beban moral kepada masyarakat banyak dan tentu saja rasa takut kepada pengawasan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentalitas seperti itulah yang setidaknya bisa menjamin hukum akan memihak kepada yang benar, bukan berdiri pada posisi yang membayar. Karakter penegak seperti itu akan membuat nuansa kolusi dan korupsi dalam setiap kasus penegakkan hukum relatif terkendali dan terminimalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian kondisi penegakkan hukum di negeri ini tetap saja bertahun-tahun tidak ada perubahan lebih baik, apakah memang sudah tidak ada orang baik di kalangan penegak hukum? Sudah habiskan suara-suara kebaikan di dalam nurani para aparat kepolisian, kejaksaan, kehakiman dan segala aparat pendukungnya di negara kita tercinta Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya masih banyak aparat hukum yang baik di Indonesia. Orang-orang yang memiliki integritas moral yang baik, keilmuan yang cukup dan juga track record prestasi yang membanggakan. Layak sebenarnya orang-orang seperti itu mendapat kesempatan untuk memperbaiki carut marut dunia hukum dan peradila negeri ini yang kondisinya saat ini seperti orang masuk ke lorong sangat panjang gelap tiada berujung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun orang dengan kriteria baik belum cukup untuk mengubah sesuatu yang sudah akut menjadi lebih baik. Ada satu hal yang dibutuhkan dari orang-orang baik tersebut yakni keberanian. Itu merupakan modal wajib jika ingin mewujudkan harapan rakyat banyak, khususnya golongan kecil atau kelompok yang seringkali termarjinalkan ketika berhadapan dengan lembaga-lembaga hukum karena mereka moneyless alias kantong kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian dari aparat hukum merupakan sifat yang saat ini sangat langka di hati-hati mereka. Karena memang resikonya besar, bahkan mungkin sangat besar menyangkut karir, penghasilan dan juga kelangsungan pekerjaan. Maka sang pendobrak itu haruslah sangat special. Person de grande.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia haruslah seorang pemberani. Berani menangkap yang salah meskipun ia elit masyarakat, tokoh berpengaruh maupun orang kaya raya. Berani menolak surat sakti, telepon telepati maupun memo-memo khusus lainnya dari para pejabat paling atas di setiap wilayah, bahkan tertinggi di negeri ini. Berani meminggirkan kekuatan yang tidak terlihat namun terasa kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk tentu saja berani bilang “NO” pada seseorang yang datang ke rumah atau kantornya sambil membawa berkoper-koper lembaran kertas bernama uang. Itulah selama ini godaan yang paling nampak berkeliaran di depan mata para penegak hukum. Jika semua itu berhasil ia lempar ke belakang punggungnya, langkah kakinya akan ringan. Gerak tangannya akan ditunggu banyak orang, dan palu yang baru ia angkat belum diketokkan sudah membuat para pesakitan bercucuran keringat serta degup jantungnya terdengar oleh seluruh pengunjung ruang sidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan"&lt;/span&gt;. (An-Nissa’ ayat 135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut diantaranya yang memotivasi hakim Syuraih untuk memenangkan orang Yahudi ketika berperkara dengan sang amirul mukminin ketika itu Ali bin Abi Thalib tentang klaim kepemilikan sebuah baju besi. Meski ia menyidangkan seorang presiden negara besar ketika itu, tidak menyiutkan nyalinya untuk bertindak benar sesuai aturan hukum yang belaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang khalifahpun menerima dengan lapang dada karena memang secara aturan hukum ia layak dikalahkan. Saksi yang ia ajukan kalah dengan bukti milik si Yahudi, maka baju besi itupun menjadi milik orang Yahudi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata keadilan hakim Syuraih dan kepatuhan terhadap hukum khalifah Ali membukakan pintu hidayah sang Yahudi. Keadilan hakim dan ketaatan penguasa kepada hukum membuatnya terpesona dan jatuh hati kepada Islam. Iapun bersyahadat dan menjadi seorang muslim. Indah, bukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2442620453762401912?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2442620453762401912/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/11/kita-butuh-orang-baik-dan-berani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2442620453762401912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2442620453762401912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/11/kita-butuh-orang-baik-dan-berani.html' title='Kita Butuh Orang Baik dan Berani'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-328284378297085890</id><published>2010-11-14T20:14:00.004+07:00</published><updated>2010-11-14T20:20:07.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Inferioritas bangsa terjajah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rendah diri. itu mungkin kata paling tepat untuk menggambarkan mentalitas bangsa ini dihadapan pemerintah dan negara bernama Amerika Serikat. Kesimpulan tersebut  semakin menemukan kebenarannya jika kita mengamati bagaimana sikap para pemimpin bangsa ini dalam mempersiapkan kegiatan sebelum dan ketika kedatangan Presiden Barrack Obama dua hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petinggi negara ini sempat harap-harap cemas khawatir Obama kembali membatalkan kunjungannya seperti beberapa waktu yang lalu. Betapa sumringahnya wajah-wajah “beliau” ketika ternyata Obama jadi datang, meskipun cuma satu malam. Bandingan dengan India yang ia kunjungi selama tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ekspos media terbagi karena masyarakat tersedot perhatiannya terhadap bencana beruntun yang menimpa bangsa ini, persiapan penyamputan Obama dipersiapkan dengan sangat special. Satu tujuannya tentu saja membuat sang tamu nyaman selama berkunjung ke tempat dimana dulu ia pernah beberapa tahun menghabiskan masa kecilnya.&lt;br /&gt;Sudah pasti ada pengalihan konsentrasi jalan ketika Obama lewat untuk menuju suatu tempat. Sesuatu yang tidak mungkin tidak dikeluhkan pengguna jalan lainnya. Ketika pejabat lokal saja mau lawat, paling tidak para pemakai jalan harus mengalah 30 menit. Apalagi kalau yang mau adalah “penguasanya penguasa negeri ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiapan pasukan pengaman juga cukup fenomenal. Hampir semua pasukan elit dari setiap matra angkatan di negeri ini diterjunkan, termasuk pesawat tempur dan kapal perang. Itu belum termasuk pasukan yang dibawa presiden pertama AS berkulit hitam itu sendiri dari negaranya. Sehingga ada sebuah pemadangan menarik ketika jumlah demonstran yang memprotes kedatangan Obama kalah banyak dengan pasukan anti huru hara yang disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran media juga cukup besar untuk membuat seolah-olah kedatangan Obama adalah hajatan besar bagi negeri ini. tidak sedikit media massa, termasuk televise, melakukan laporan ekslusif sejak kedatangan Obama di bandara Halim Perdanakusuma hingga meninggalkan bandara yang sama keesokan harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tayangan eksklusif yang dilakukan televise berskala nasional adalah taklshow atau perbincangan seputar kedatangan Obama. Jika diskusi yang diselenggarakan terkait dengan manfaat atau keuntungan yang didapat dari kedatangan “sang presiden” bagi Indonesia secara umum mungkin masih masuk akal dan bisa diterima akal sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya beberapa televisi  justru menghadirkan perbincangan yang tidak produktif dan konstruktif. Mereka mengundang nara sumber orang-orang dari masa lalu Obama dan mungkin Obama sendiri sudah melupakannya. Teman satu kelasnya selama satu tahun, tetangganya selama sekian bulan ataupun bapak/ibu gurunya ketika ia masih SD. Manfaat apa yang bisa diperoleh bagi masyarakat umum dari perbincangan di televisi jika bahasannya seperti demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling-paling para penonton diajak untuk melihat wajah gembira orang-orang yang menjadi nara sumber tersebut karena mereka pernah bersentuhan secara langsung dengan Obama. Termasuk juga perasaan kecewa yang berlebihan dari mantan murid atau guru dua sekolah yang dulu pernah menjadi tempat Obama belajar selama tiga tahun di Indonesia karena tidak dikunjungi Obama. Bukankah mereka seharusnya sudah paham bahwa kecil sekali kemungkinan Obama mengunjungi mereka, sementara ada saja acara kenegaraan yang sejak awal dalam status “kemungkinan tidak jadi”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang juga memprihatinkan adalah kebanggaan sebagian masyarakat bangsa ini ketika Obama merasa tahu dan masih ingat dengan benda, tempat, atau makanan khas Indonesia yang dulu pernah ia nikmati. Aplaus juga selalu diberikan setiap hadirin pada semua pertemuan Obama dengan masyarakat Indonesia pada saat ia mengucapkan beberapa kata Indonesia. “apa kabar?”,  “salam sejahtera”, “bakso” dan beberapa kata lainnya. Seakan-akan merupakan kebahagiaan dan anugerah bagi bangsa ini ketika Obama masih bisa mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang banyak kemudian lupa menghitung dan memikirkan keuntungan bangsa ini dari kedatangan Obama. Apakah seimbang cost yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh? Ataukan kita mungkin cukup puas bisa menyambut dan menyenangkan sang presiden dari negara tekuat di dunia saat ini tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tindakan yang dilakukan sebagian masyarakat Indonesia tersebut merupakan khas bangsa yang kalah, bahkan terjajah. Perilaku mereka tidak mencerminkan keagungan dari identitas bangsa yang merdeka dan mandiri. Nampak sekali ketundukan representasi dari rasa ketakutan terhadap si tuan besar. Maka semua tindakan adalah dalam rangka menyenangkan dan memuliakan junjungan. Jika tidak mampu berbuat yang terbaik, mereka khawatir mendapatkan marah dan sangsi dari sang penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separah itukah mentalitas bangsa ini? sebagian mungkin iya, bahkan lebih parah dari yang kita bayangkan. Sebagian tentu saja tidak. Mereka masih memiliki nurani untuk mengutuk dan mengecam sepak terjang Obama dan pemerintah Amerika Serikat. Meskipun tidak sebiadab pendahulunya, George Bush, tetap saja tidak ada harapan cerah  bagi hubungan lebih baik antara pemerintahannya dengan umat Islam. Sistem negara yang sudah dalam jeratan jarring-jaring zionis internasional tetap saja memposisikan Amerika dan sekutunya face to face dengan mayoritas umat Islam, kecuali kaki tangannya tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqadimah menggambarkan prototipe bangsa yang kalah akan selalu taat dan patuh dengan bangsa pemenang. Tidak hanya itu, bangsa yang kalah juga akan meniru segala hal yang dilakukan dan diperbuat oleh masyarakat dari bangsa pemenang. Sampai dalam bentuk dan hiasan rumahpun – menurut Ibnu khaldun – bangsa yang kalah akan meniru dari bangsa yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja sangat disayangkan jika mental kalahan terus kita pelihara. Indonesia merupakan bangsa yang besar, satu diantaranya tentu saja karena mayoritas penduduknya muslim. Perlu perubahan paradigm berfikir untuk mengubah mentalitas seperti itu. Dan yang pasti semuanya harus bermula dari para pemimpin negeri ini. Jika para pemimpin negeri ini tidak mampu mengubah sikap dan cara pandang tersebut, mustahil perubahan itu akan berlangsung dengan cepat dan efektif. Apalagi jika para pemimpin negeri ini merasa sangat bangga pernah tinggal di Amerika Serikat dan menganggapnya sebagai rumah kedua sehingga perlu memanggil tamunya "Yang Mulia". Rasanya harapan itu masih lama untuk terwujud.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-328284378297085890?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/328284378297085890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/11/inferioritas-bangsa-terjajah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/328284378297085890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/328284378297085890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/11/inferioritas-bangsa-terjajah.html' title='Inferioritas bangsa terjajah'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-5124003835874383805</id><published>2010-06-20T16:11:00.005+07:00</published><updated>2010-06-20T16:47:20.382+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>hidrosefalus</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hidrosefalus&lt;/span&gt; adalah jenis penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak. Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi karena tersumbatnya aliran sehingga menganggu sirkulasi cairan di dalam otak, bisa juga karena produksi cairan yang berlebihan melebihi kemampuan otak untuk menyerap. Ketidak seimbangan antara produksi dan penyerapan akan menekan jaringan-jaringan otak termasuk tulang tengkorak. Tengkorak bayi di bawah dua tahun yang belum menutup akan memungkinkan kepala bayi tersebut membesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara penyebab bayi terkena penyakit ini adalah kondisi sang ibu ketika hamil. Keadaan fisiknya yang tidak fit kemudian terkena virus-virus disekitarnya. Bisa juga karena sang ibu terlalu banyak mengkonsumsi berbagai macam obat, termasuk multivitamin sementara asupan makanan yang bergizi justru kurang.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan tehnologi sekarang, kondisi kepala bayi yang tidak normal dapat diketahui ketika masih dalam kandungan. Diperlukan pendampingan dari dokter secara intent sejak terdiagnosa mengalami &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hidrosefalus&lt;/span&gt; hingga proses kelahirannya, termasuk jika harus dilakukan pembedahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembedahan atau operasi dilakukan untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"menanam"&lt;/span&gt; sebuah alat semacam selang untuk mengatur keseimbangan antara produksi dan penyerapan cairan dalam otak si bayi. Selang tersebut dipasang memanjang dari bagian otak sampai ke bagian perut. Selang ini diletakkan di bawah kulit sehingga tidak terlihat dari luar. Karena kegunaan selang ini bisa berlaku seumur hidup, maka bahan dari selang ini dipilih yang awet, lentur dan tentu saja tidak mudah putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian ternyata operasi tidak menjamin kelangsungan hidup bayi setelah terdiagnosa penyakit tersebut. Banyak faktor yang mengiringinya, termasuk kepastian ajal seseorang di tangan Allah swt. Begitulah ketentuan takdir bagi seorang bayi bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fatimah Munnaya&lt;/span&gt;. Bayi berumur 7 hari tersebut lebih memilih kembali kepada Allah swt daripada hidup bersama berkumpul dengan kedua orangtua dan saudara-saudaranya usai dua hari menjalani operasi karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hidrosefalus&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Innalillahi wa innailahi raji'un.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-5124003835874383805?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/5124003835874383805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/06/hidrosefalus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5124003835874383805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5124003835874383805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/06/hidrosefalus.html' title='hidrosefalus'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-8529767443600131943</id><published>2010-06-15T09:29:00.008+07:00</published><updated>2010-06-15T20:41:06.679+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>karena kita punya iman</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai apapun kita hari-hari ini tentu saja resah dengan kondisi kehidupan sosial di sekitar kita. Efek video porno yang diduga dilakukan selebritis papan atas negeri ini benar-benar telah menguncang sendi-sendi moral kita sebagai manusia yang beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih ketika secara selentingan kita mendengar bahwa masih ada lagi video-video baru yang siap diedarkan pada waktu-waktu selanjutnya. Belum lagi klaim sebagian pihak yang mengakui bahwa sebenarnya hal itu merupakan fenomena gunung es, artinya lebih banyak hal seperti itu yang tidak terekspos daripada yang muncul ke ranah publik. Bahasa lainnya mereka yang ketahuan itu sedang "apes" alias terkena musibah. Betapa mirisnya kalau memang benar-benar seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keresahan wajar saja menyeruak ke dalam relung batin kita masing-masing. Sebagai orang yang meyakini adanya kewajiban untuk menata hidup ini dengan ketentuan Allah swt realitas di atas sungguh-sungguh menyedihkan. Iman yang bersemayam di dalam hati kita tentu saja bersedih, protes, geram dan marah mengetahui kebejatan moral serta akhlaq manusia-manusia seperti itu. &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Betapa tidak malunya mereka&lt;/span&gt;.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bedanya mereka dengan makhluq Allah swt yang lain selain manusia yang melakukan hubungan dengan pasangannya kemudian dilihat oleh makhluq sejenisnya tanpa ada perasaan risih dan malu. Bedanya mungkin satunya harus menggunakan tehnologi untuk bisa melihatnya, sementara satunya terpampang di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukankah manusia oleh Allah swt mendapat kesempurnaan akal sehingga membuat derajatnya di atas binatang dan makhluq Allah swt yang lainnya. Sayangnya kemudian manusia sering menempatkan dirinya lebih rendah dari desain awal penciptaannya sebagai makhluq terunggul, bahkan memilih posisi sebagai makhluq yang lebih rendah dari binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka iman adalah pembeda. Orang yang beriman tentu saja lebih memilih sebagai manusia daripada makhluq yang memiliki jasmani manusia namun derajatnya lebih rendah dari binatang. Imanlah yang mampu membimbing manusia menyadari esensi dirinya sebagai hamba Allah swt dan wakilnya di muka bumi ini untuk mengatur alam sesuai dengan kehendakNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman pula yang membuat kita seakan ingin meradang dan menerjang manusia-manusia yang seolah-olah seenaknya saja merusak tatanan dunia ini dengan segala polah tingkahnya. Polah tingkah yang justru membuat Allah swt milik alam seluruhnya ini marah karena perintahnya tidak dikerjakan, sementara larangannya diterjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman pula yang seharusnya membuat kita merasa harus berbuat menyelamatkan generasi ini dari banjir kemaksiatan yang bisa berujung kepada banjir azab dari Allah swt. Menyelamatkan generasi berarti melawan pornografi dan segala perangkat pendukungnya, termasuk orang-orang yang menjadi bagian dari mata rantai perusak tatanan sosial dan susila di tengah masyarakat tersebut.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-8529767443600131943?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/8529767443600131943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/06/karena-kita-punya-iman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8529767443600131943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8529767443600131943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/06/karena-kita-punya-iman.html' title='karena kita punya iman'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3770752658991961347</id><published>2010-05-14T22:24:00.001+07:00</published><updated>2010-06-15T20:41:30.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>ketika terorisme sebagai komoditas</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berutunglah para politisi dan tentu saja Polri dengan adanya sejumlah orang yang dianggap sebagai teroris di negeri ini. Betapa tidak, setiap kali terjadi permasalahan di tingkat elit negeri ini baik pemerintahan maupun kepolisian peristiwa terorisme selalu menjadi sosok yang tampil menjadi pahlawan untuk menyelamatkan wajah mereka dari sorotan negatif public. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu saja ingat menjelang akhir 2009 yakni sekitar bulan September, saat kepolisian sedang gencar-gencarnya di serang oleh masyarakat dengan perseteruan cicak versus buaya dalam kasus Bibit-Chandra, tampil Noordin M Top sebagai pahlawan meski harus kehilangan nyawanya.  Wajah kepolisian yang semula diidentikkan dengan profil Anggodo mulai mendapatkan simpati kembali dari masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula munculnya sosok Dulmatin yang santer dicap sebagai salah satu gembong teroris di Asia Tenggara juga bersamaan dengan sedang giat-giatnya anggota DPR menggelar Pansus Century. Publikpun sebagian berpaling dari mempelototi hasil kerja dan rekomendasi Pansus ini dan mulai lupa dengan temuan-temuan yang mencurigakan tentang kemungkinan adanya keterkaitan  tokoh-tokoh penting pemerintahan saat ini dalam kasus Century.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa lebih lanjut, “teroris” kembali menjadi angin segar bagi pihak kepolisian setelah sebelumnya kepolisian sumpek dengan dugaan keterlibatan sejumlah perwiranya dalam kasus mafia Gayus Tambunan. Dalam kasus terakhir, sorotan masyarakat atas konflik internal di lingkungan Polri yang melibatkan sejumlah perwira tinggi tereduksi dengan berita penangkapan para teroris di Cikampek, Cawang dan juga Sukoharjo, Jawa Tengah. Penangkapan dan pembunuhan teroris itu bersamaan dengan semakin memanasnya kasus mantan Kabareskrim Susno Duaji. Semakin lama kasus Susno semakin terbuka borok-borok para penegak hukuk kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar kalau kemudian masyarakat luas mencurigai bahwa aksi terorisme yang muncul di negara ini merupakan by design. Kemunculan para teroris seakan menjadi sarana untuk mengalihkan masyarakat dari isu yang sedang berkembang dan menyerang para pejabat di lingkar kekuasaan. Setiap kasus besar di tingkat elit memanas dan mulai transparan di mata publik, muncul pertempuran seru antara aparat anti teror dengan para teroris bak di film-film laga Hollywood.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lingkup global, keberhasilan pemerintah menindak para teroris bahkan sebelum mereka beraksi menujukkan kepada dunia internasional betapa negara ini serius dalam memerangi terorisme yang menjadi momok menakutkan bagi banyak negara di dunia. Maka citra para pemimpin Indonesia dengan sendirinya akan tergerek naik di percaturan dunia, setidaknya applaus sebagaimana yang diperoleh presiden SBY ketika mengumumkan keberhasilan Polri menembak Dulmatin di depan parlemen Australia beberapa waktu yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping berharap mendapat citra positif di atas, keberhasilan penangkapan teroris ini juga membuka peluang untuk mendapatkan bantuan dana dari luar negeri. Kerja keras aparat Indonesia untuk membekuk dan menumpas “para teroris” tentu saja membutuhkan nutrisi. Termasuk reward atas prestasi mereka membunuh sesama anak bangsa sendiri. Bukan rahasia lagi bahwa sebagian besar - atau mungkin seluruhnya – biaya operasional Densus 88 beserta seluruh aparat anti teror negeri ini berasal dari luar negeri. Mungkin semakin banyak nyawa teroris yang berhasil dihilangkan berarti semakin banyak gemerincingan dolar yang mengalir masuk ke kas lembaga-lembaga anti teror di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang memang kalau peluru yang dimuntahkan aparat negeri ini hanya diarahkan kepada para teroris yang belum pasti tingkat kesalahan dan keterlibatannya dalam sebuah gerakan terror. Padahal, masih lebih banyak para teroris yang telah nyata-nyata menyengsarakan rakyat dan bangsa ini yang masih bebas berkeliaran, sementara mereka lebih layak untuk mendapatkan hukuman mati atas kejahatannya. Para koruptor hitam, pengemplang pajak, makelar kasus, pelaku illegal logging, aktifis pornografi dan pornoaksi lebih pantas untuk mati karena tingkat kerusakan akibat aksi-aksi teror mereka jauh lebih tinggi dan menyengsarakan masyarakat banyak disbanding para tersangka teroris teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun slogan keadilan bagi semua ternyata masih sekedar angan-angan yang masih mengawang di langit, belum membumi di nusantara ini. Siapa yang berkuasa dan mempunyai uang banyak masih lebih berkuasa menentukan hasil sebuah persidangan dibanding para penegak keadilan beserta lembaga-lembaga peradilan itu sendiri. Selama tidak ada perubahan system berbangsa dan bernegara sesuai syariat Allah swt, nampaknya kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat masih sebatas cita-cita semata. ‘Allahu ‘alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3770752658991961347?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3770752658991961347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/05/ketika-terorisme-sebagai-komoditas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3770752658991961347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3770752658991961347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/05/ketika-terorisme-sebagai-komoditas.html' title='ketika terorisme sebagai komoditas'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2858788043665379138</id><published>2010-03-15T05:06:00.005+07:00</published><updated>2010-03-15T17:08:06.982+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peradaban'/><title type='text'>Insya Allah, sekaranglah saatnya!</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt mempergilirkan waktu dalam satu hari ke dalam beberapa fase; fajar, subuh, dhuha, siang, sore (ashr) dan malam. Kesemuanya melaksanakan tugasnya masing-masing  bergantian mengunjungi alam raya. Dan manusiapun berusaha memanfaatkan, dan menyesuaikan aktifitas dirinya dengan alur pergantian waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a04.yimg.com/nimage/6ca86ef43bcb5ff4"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 124px;" src="http://thm-a04.yimg.com/nimage/6ca86ef43bcb5ff4" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pagi hari manusia dalam kesegarannya bangkit menyiapkan dirinya untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang produktif. Antusiasme itu membuat jalan raya di kota-kota besar macet, sawah-sawah di pedesaan mulai riuh gabungan cicitan burung-burung dan obrolan para petani. Apalagi suasana pasar rakyat, pusat-pusat perbelanjaan modern dan juga pusat-pusat aktifitas ekonomi bergeliat menunjukkan kesiapan menyambut hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di siang hari kesibukan mereka semua mencapai puncaknya. Wajah-wajah nampak lebih serius dan gerakan orang semakin cepat karena tuntutan keputusan yang dibuat juga harus cepat. Masuk waktu sore, manusia-manusia pada umumnya mulai merasakan kelelahan, ingin pulang, istirahat dan menginginkan suasana-suasana santai. Kondisi seperti itu terus berlangsung hingga malam hari.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya suasana terasa lebih senyap. Mereka bersiap-siap naik ke peraduan untuk tidur, namun sebelumnya mereka telah menyiapkan hal-hal yang harus dikerjakan keesokan harinya. Tentunya dengan harapan hari esok akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Setelah itu mayoritas manusia akan terlelap, hanya sebagian kecil saja yang tetap produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah rutinitas sebagian besar umat manusia. Termasuk kita tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt sangat serius ketika menekankan urgensi keberlangsungan waktu itu sendiri. Di dalam al-Qur’an beberapa kali Allah swt bersumpah dengan mengambil waktu sebagai titik pangkalnya.  Pada pagi hari  Allah swt bersumpah dua kali untuk dua waktu yang jaraknya amat berdekatan; Wal fajri (demi waktu fajar) dan wash-shubhi (demi waktu shubuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat  Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang sesuatu yang tidak bernyawa dan tidak mempunyai paru-paru tapi bisa bernafas, beliau menjawab; wash-shubhi idza tanaffas (demi waktu subuh ketika dia bernafas). Allah swt juga bersumpah dengan waktu menjelang siang dan siang hari; wadh-Dhuha (demi waktu dhuha). Ketika siang pun Allah bersumpah, wan-nahari idza tajalla (demi siang apabila terang benderang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktu masuk sore hari, Allah bersumpah; wal-Ashri. Kata ini sering kita terjemahkan dengan kalimat “Demi masa”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa al-Ashr artinya adalah zaman, sementara Zaid bin Aslam mengatakan bahwa ‘Ashr itu adalah waktu sholat ‘Ashr.  Waktu  Ashar nampaknya lebih dekat kepada sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk menunjukkan betapa pentingnya waktu malam, Allah swt juga bersumpah dengan waktu malam; wallaili idza yaghsya (demi waktu malam apabila menutupi—cahaya siang). Demikianlah setiap perjalanan dan pergiliran waktu mesti terdapat sumpah Allah swt; Dzat Maha Besar, Maha Mulia yang memiliki selurh alam raya beserta isinya dan kepadaNyalah kita akan dikembalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu hidup peradaban Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demikianlah kami pergilirkan masa (kejayaan dan kehancuran) diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah swt membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” (Ali imran ayat 140).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena waktu adalah perjalanan hidup itu sendiri, maka dengan kaca mata alur waktu pula kita bisa mengambarkan realitas perjalanan peradaban umat ini. Sampai di mana kira-kira posisi waktu kita saat ini dalam satu hari usia peradaban? Mari kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar Islam adalah masa awal ketika risalah dien ini mulai didakwahkan oleh Rasulullah saw. Masa itu merupakan masa-masa penuh kerja keras untuk melandingkan tuntunan Allah swt di muka bumi. Sekaligus menjadi fondasi dasar kegemilangan peadaban masa-masa berikutnya. Inilah masa-masa keindahan spiritual nubuwwah dan keteladanan para pemimpin yang mendapatkan bimbingan dan petunjuk(khulafaurrasyidin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi kemajuan peradaban Islam semakin berkibar dan memuncak semenjak waktu Dhuha hingga siang hari. Ketika itu Islam menjadi soko guru peradaban dunia. Tidak ada wilayah di muka bumi ini yang tidak mendapatkan cahaya dakwah Islam, terlepas mereka mau bergabung atau tidak ke dalam barisan umat ini. Tidak ada satupun kekuatan di dunia ketika itu tidak menyatakan tunduk dan patuh kepada kebesaran penguasa muslim. Umat Islam saat itu adalah mercusuar setiap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta tehnologi. Wajar kalau kemudian orang-orang barat menganggap itulah era keemasan (the golden age).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perputaran waktu adalah sebuah keniscayaan, begitu pula alur peradaban. Ketika cahaya matahari peradaban mulai redup, siang beranjak sore; waktu ‘ashar telah tiba saatnya sebuah peradaban mengalami masa senja menjelang malam tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemilangan Islam dari Madinah, Baghdad, Cordoba, Kairo, Bukhara dan kota-kota lainnya berangsur meredup dan memudar. Kecintaan umat Islam terhadap kehidupan duniawi materialism membuat nilai-nilai spiritual ditinggalkan sedikit demi sedikit. Pada saat bersamaan barat menemukan renaissance dengan menyerap ilmu-ilmu dari perguruan-perguruan tinggi Islam. Mereka menemukan kemajuan justru ketika meninggalkan agamanya, berbeda sebaliknya dengan Islam ketika semakin jauh dari agama maka pemeluknya akan semakin terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuklah masa kegemilangan barat dan kegelapan umat Islam seperti malam hari yang gelap gulita. Kolonialisme dan imperialism menjadi baju baru bagi perang salib untuk menjajah dan menduduki negar-negara kaum muslimin. Maka penindasan, perampokan, penganiayaan, pengerukan kekayaan alam dan pembunuhan kaum muslimin menjadi berita harian umat manusia sejak itu, bahkan sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a01.yimg.com/nimage/ea456b8ace9ca2cc"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 127px; height: 140px;" src="http://thm-a01.yimg.com/nimage/ea456b8ace9ca2cc" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dunia hanya mengenal bahwa pemeluk Islam itu bodoh, terbelakang, miskin, terpinggirkan, mudah diadu domba, memiliki fanatisme sempit, dan ungkapan-ungkapan sejenis. Sementara umat Islam hanya bisa mengeluh, dan merintih. Hanya sedikit dari mereka yang berusaha untuk melawan dan mendobrak itu semua sehingga tidak berlangsung lebih lama lagi. Namun upayanya belum berhasil sesuai harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam sendiri terjebak dalam perpecahan yang menyedihkan. Adu domba kaum kuffar dan  egoisme pribadi serta kelompok mengahalangi kebersamaan untuk menegakkan kembali peradaban Islam. Masalah-masalah kecil membesar, persoalan-persoalan cabang terasa menjadi persoalan aqidah. Gampang mengkafirkan dan menolak saling kerja sama menjadi penyakit yang mengerogiti kesatuan satu tubuh kaum muslimin. Sementara persoalan-persoalan lebih besar tentang kesadaran untuk menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya jalan kebenaran menuju tegakknya kembali peradaban Islam belum menjadi agenda utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas sejarah yang menyesakkan hingga detik ini menimbulkan serentetan pertanyaan-pertanyaan besar dalam diri kita masing-masing; masih jauhkan janji Allah swt untuk kemenangan Islam? Apakah sekarang ini peradaban Islam masih berada dalam kondisi waktu “malam hari”? kalau memang iya masih lamakah fajar akan menyingsing memunculkan semburat warna merah di ufuk langit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena hari-hari ini sesungguhnya kita harus semakin optimis. Sekuat apapun upaya musuh-musuh Islam untuk menekan dan menghilangan Islam dari dada para pemeluknya, justru cahaya itu akan semakin membesar dan membesar. Begitulah bukti berserakan di depan mata kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah stigma terorisme terhadap umat Islam, serangan globalisasi yang banyak menimbulkan kesengsaraan bagi umat manusia secara luas karena bercorak kapitalisme, dan juga deideologi agama dengan nama pluralisme serta kebebasan agama, magnet Islam semakin kuat daya tariknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah ke barat. Betapa penelitian menyebutkan hasil mencegangkan tentang pertumbuhan populasi umat Islam di negara-negara eropa yang justru saat ini begitu getol memusuhi Islam. Bahkan terdapat analisa yang menyebutkan bahwa ada kemungkinan 50 tahun mendatang benua biru (eropa) akan memiliki penduduk yang mayoritas menyebutkan dalam KTP-nya Islam. Subhanallah.!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran berIslam dikalangan kaum musliminpun semakin baik, termasuk dari kelompok kelas bawah atau masyarakat umum. Embel-embel syariah semakin laku dan diminati. Kelompok-kelompok kajian dan pengajianpun bertebaran dimana-mana. Walaupun upaya-upaya sistematis untuk membungkam itu semua terus berjalan secara simultan, namun kebangkitan Islam di kalangan masyarakat tetap bergerak dan meningkat.&lt;br /&gt;Belum lagi arus dakwah gerakan-gerakan Islam yang semakin eksis di setiap negeri kaum muslimin. Meskipun mayoritas masih bergerak secara sosial kemasyarakatan belum berlevel negara, namun telah memiliki basis massa yang cukup besar kuantitasnya dan cukup tinggi kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a01.yimg.com/nimage/6d453e254b367b2a"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 111px;" src="http://thm-a01.yimg.com/nimage/6d453e254b367b2a" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Semoga saja saat sekarang adalah waktu akhir malam menjelang fajar bagi kebangkitan Islam. Ujung malam adalah saat terkumpulnya semua energi bagi manusia untuk menyambut keceriaan mentari esok pagi untuk berprestasi dan berbuat yang terbaik. Harapan kemenangan dan kejayaan kembali umat Islam merupakan bara api yang menjadi sumber kekuatan energy bagi setiap orang yang menrindukannya. Ketika dunia semakin kehilangan aura ilahiyahnya karena nafsu manusia sudah kehilangan spirit spiritualnya, Islam harus datang untuk mengembalikan nur Ilahi kembali menerangi dunia. Sekaranglah saatnya. Semoga saja. ‘Allahu ‘alam.&lt;br /&gt;"Dan ada lagi karunia yang lain yang kamu sukai yaitu pertolongan dari Allah swt dan dekat waktunya. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman" (Ash Shaff ayat 13).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2858788043665379138?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2858788043665379138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/03/sekaranglah-saatnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2858788043665379138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2858788043665379138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/03/sekaranglah-saatnya.html' title='Insya Allah, sekaranglah saatnya!'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-8811251337862253472</id><published>2010-03-02T15:41:00.011+07:00</published><updated>2010-03-15T15:53:55.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>ziarah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan kemarin merupakan libur cukup panjang bagi para pegawai kantoran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;. Tanggal merah pada hari Jum’at bersambung dengan Sabtu yang terjepit dengan Ahad. Lumayan bisa liburan tiga hari bagi sebagian orang yang mempunyai kelebihan keuangan dan terbiasa mengunjungi beberapa tempat khusus untuk melepas penat dan ketegangan. Maka wajar saja informasi di media massa cetak dan elektronik &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;termasuk dunia maya melaporkan kenaikan jumlah penumpang seluruh angkutan baik darat maupun udara. Bahkan angkanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bisa menembus 100% kenaikannya dibandingkan hari-hari biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang belum masuk kategori pewisata karena factor “fulus” tentu tidak mempunyai agenda seperti orang-orang di atas. Bahkan kalaupun memiliki rizki berlebih alangkah lebih baiknya apabila dipergunakan untuk keperluan lain yang dirasa lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata Allah swt memiliki rencanaNya sendiri. Bersamaan dengan libur akhir pekan ini, saya mend&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;apat amanah untuk menjenguk salah seseorang (seorang anak) yang sedang mendapa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tkan musibah, ujian ataupun teguran dari Allah swt, yaitu kecelakaan atau lebih tepatnya jatuh dari sepeda motor. &lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Tiga kateg&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;ori tersebut di atas yakni musibah, ujian maupun teguran saya cantumkan karena tidak tahu mana yang lebih tepat untuk dilekatkan dengan anak ini. Hanya Allah swt yang Maha Tahu, dan mungkin juga anak itu mengetahuinya. ‘Allahu ‘Alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;. (QS. Al-Baqarah ayat 155-156).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermusyawarah dengan teman-teman akhirnya kami memutuskan untuk menjenguk salah seorang dari mereka yang kami anggap lebih parah kondisinya. Harapan kami si anak akan berangsur lebih cepat sembuh menerima kunjungan teman-temannya. Dengan mengendariai satu mobil rombongan kami bernagkat cukup pagi dengan harapan sore sudah kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, meski jalanan macet pada beberapa daerah kami yang dilewati rombongan masih dapat menempuh perjalanan dengan lancar dan menyenangkan. Usai mampir ke sebuah masjid untuk melaksanakan sholat  Dhuhur plus Ashar, kami memasuki halaman rumah tujuan kami bersamaan dengan jam menunjukkan pukul 1 siang, sementara sengatan cahaya matahari dan panasnya suhu udara membuat sebagian kami keringatan. Akhirnya inilah cerita selengkapnya yang kami dapatkan dari orang tuannya, khususnya sang ayah tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu si anak memang sedang bersilaturahim ke rumah dengan satu keperluan yakni mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi). Dengan alasan sebentar lagi masuk bangku kuliah maka orang tuapun mengijinkannya. Berangkatlah ia bersama seorang temannya menuju kantor kepolisan bagian Samsat untuk membuat SIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka harus kecewa begitu sampai di kepolisian karena ternyata hari ini tidak ada pelayanan pembuatan SIM entah dengan alasan apa saya sendiri agak lupa dengan penjelasan anak ini. karena keinginannya tidak terlaksana, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan ditengah perjalanan antara kantor kepolisian dengan rumahlah peristiwa kecelakaan itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon ketika itu, mereka sedang dalam upaya untuk menyalip sebuah mobil di depannya. Namun ternyata di depan mobil tersebut terdapat satu becak sedang melaju dengan penumpang di bagian depannya. Tanpa bisa mengontrol motornya secara penuh merekapun harus rela tersungkur mencium wanginya aspal. Alhamdulillahnya sang becak yang kesenggol tidak mengalami kerusakan parah termasuk penumpangnya dan kotak-kotak tempat penampungan telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saja melihat adegan kecelakaan tersebut, orang-orang di sekitar tempat kejadian beraksi mengulurkan bantuannya dengan mengantar kedua anak ini ke rumah sakit. Dari rumah sakit baru kemudian mereka menghubungi orang tua masing-masing untuk mengabarkan peristiwa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi anaknya dan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, sang ayah memutuskan membawa anaknya ke sangkal putung. Tempat ini memang menjadi rujukan bagi ornag-orang yang mengalami masalah dengan anggota badannya karena kecelakaan maupun musibah-musibah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah setelah tiga kali mengunjungi tukang pijat, kondisi kaki si anak lebih baik. Meskipun untuk menjadi lebih baik memang si anak harus menahan rasa sakit ketika proses pemijatan dan pengobatan. Insya Allah sekali lagi berobat kondisi kakinya sembuh, dengan catatan si anak rutin melatih kakinya untuk berjalan dan menekuknya sesering mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bercerita panjang lebar tentang berbagai tema dan topik, pihak tuan rumah mengeluarkan jamuan yang menyenangkan pikiran, khususnya lidah dan perut. Tidak butuh lama untuk menyelesaikan aktifitas ini (makan) karena kondisi perut semua anggota rombongan memang sudah menunggu untuk segera mendapatkan asupan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alhamdulillah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyantap makan siang plus hidangan penutupnya, kami melanjutkan obrolan dengan tuan rumah. Tak lama kemudian kami minta izin pamit untuk melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu mengunjungi rumah salah seorang anggota rombongan yang rumahnya hanya berjarak 5 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau rumah pertama yang dikunjungi masih berada di daerah pinggiran kota, rumah kedua ini betul-betul lokasinya di dalam desa. Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi hijaunya persawahan, pohon-pohon jati dan rerimbunan bambu yang berjejer di pinggir jalan. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-size:100%;"&gt;Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai tempat tujuan. Tuan rumah menyambut kami dengan hangat. Beraneka suguhan langsug keluar memenuhi meja yang berada di depan tempat duduk kami. Belum lama paksaan tuan rumah untuk menikmati makan siang kedua. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Inna lillahi…....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bercengkerama dengan tuan rumah, satu persatu kami izin menumpang mandi karena kondisi badan yang sudah jauh dari kata sedap dan segar. Kurang lebih 90 menit kami bersilaturahim ke rumah ini. Dengan diiringi salam perpisahan dan doa keselamatan dari tuan rumah, kami meninggalkan halaman halaman rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya perjalanan pulang terasa lebih cepat dari berangkatnya. Meski hal itu hanya pengaruh psikologi biasa namun terus terang kami menikmatinya. Perjalanan hari itu kami akhiri dengan sholat Maghrb-Isya’ berjama’ah dan makan malam. Alhamdulillah. Semoga banyak hikmah yang masing –masing kami bisa mengambilnya sebagai pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan sinag terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang menginggat Allah swt sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “ Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka".&lt;/span&gt; (QS. Ali Imron ayat 190-191). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-8811251337862253472?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/8811251337862253472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/03/ziarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8811251337862253472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8811251337862253472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/03/ziarah.html' title='ziarah'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-8892483784183691090</id><published>2010-01-28T01:33:00.005+07:00</published><updated>2010-02-26T19:30:20.158+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>merawat hubungan dengan manusia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galibnya manusia, keterikatan kita dengan orang lain terjadi dalam setiap waktu dan tempat. Kebutuhan untuk memenuhi, menyelesaikan dan mendapatkan keinginannya merupakan diantara faktor yang membuat seorang manusia menjalin interaksi dan hubungan dengan manusia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/S2CK-4MHRLI/AAAAAAAAAI0/FmEfCh36pUk/s1600-h/ac.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 197px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/S2CK-4MHRLI/AAAAAAAAAI0/FmEfCh36pUk/s200/ac.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431493963448534194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah pepatah mengatakan “lain kepala lain isinya”. Ungkapan tersebut mewakili kenyataan bahwa sudah merupakan fitrah kalau setiap manusia pikiran serta keinginannya berbeda dengan orang lain. Sisi positifnya perbedaan tersebut membuat kehidupan sosial manusia menjadi indah karena setiap warna dari seseorang akan bercampur dengan warna dari orang lain. Tentu saja membutuhkan manajemen yang baik dari masing-masing individu supaya warna-warna tersebut senantiasa menghasilkan perpaduan yang serasi, selaras dan menyenangkan pandangan mata.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Percampuran berbagai warna itu juga akan melahirkan fenomena-fenomena sampingan sebagai akibat perbedaan asal, karakter, kemauan dan beragam latar belakang lainnya. Sentuhan-sentuhan nafsu serta ambisi berbalut emosi akan semakin menambah serunya romantika interaksi sosial antar individu. Jika tidak hati-hati gesekan dari masing-masing gaya individu bisa saja menghasilkan letupan-letupan di sekitar mereka. Letupan-letupan yang awalnya kecil tidak boleh diremehkan dan dibiarkan begitu saja karena jika tidak hati-hati dan dimanage dengan baik, percikannya akan membakar sekitarnya sehingga hanguslah segala amal kebaikan hasil pahala dalam kemesraan berbingkai pertemanan, persahabatan dan pertentanggaan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan sikap-sikap tertentu untuk menjaga pertemuan fisik dan kepentingan antar manusia selalu bernilai positif. Tiga diantara kiat tersebut adalah kemauan untuk mendengar, memberikan sambutan positif kepada orang lain dan berjiwa besar untuk mau mengalah, khususnya dalam masalah-masalah yang bukan termasuk kategori prinsipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau Mendengar&lt;br /&gt;Diantara hikmah Allah swt menganugerahkan kepada manusia dua buah telinga dan satu mulut adalah perintah untuk lebih banyak mendengar daripada bicara. Seorang yang menyisihkan lebih banyak waktunya untuk mendengar biasanya mempunyai peluang lebih banyak untuk mendapatkan informasi dan ilmu. Terlebih bagi seorang pelajar, mendengar merupakan kunci untuk mendapatkan ilmu lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit bicara juga menjaga diri dari dosa. Tidak sedikit manusia terjerumus dalam dosa karena mulutnya. “barang siapa yang banyak berbicara akan banyak salahnya, barang siapa banyak salahnya akan banyak dosanya, dan barang siapa banyak dosanya akan masuk ke dalam neraka”. Nasehat tersebut cukup untuk membuat kita berhati-hati dalam menjaga lisan dan lidah milik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang orang hanya butuh didengar keluh kesahnya daripada dicarikan solusi. Secara psikologi seseorang yang sedang tertimpa masalah dalam kehidupannya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan masalahnya. Hanyak mendengarkan, tidak lebih karena hal itu cukup membantu. Paling tidak dengan menceritakan kepada orang lain masalahnya, beban yang seakan-akan ia pikul sendiri dibagi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja membutuhkan perjuangan tidak ringan untuk menjadi seseorang yang mempunyai kebiasaan mau mendengarkan orang lain. Manusia memiliki kecenderungan untuk diperhatikan dan menjadi pusat perhatian dalam setiap kondisi, dan menguasai pembicaraan dalam sebuah forum adalah sarana paling efektif untuk menjadi pusat perhatian. Namun kalau kita mau mempunyai sebuah hubungan yang sehat dan bertahan lama dengan seseorang harus mulai belajar banyak mendengar dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan apresiasi positif&lt;br /&gt;Kiat kedua untuk merawat sebuah hubungan dengan sesama manusia adalah kerelaan untuk memberikan apresiasi positif kepada orang lain apapun prestasinya. Bisa jadi apa yang orang lain lakukan dan peroleh itu tidak istimewa menurut standard kita, namun bagi orang tersebut mungkin lain. Pencapaian yang ia dapatkan barangkali merupakan prestasi terbaik dalam hidupnya sehingga aura kepuasan dan kebanggaan nampak sekali dalam dirinya. Apakah kita tega merusak kebahagiannya dengan meremehkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan yang kita berikan sebagai wujud ikut bergembira atas pencapaian oran lain bisa berbentuk macam-macam tidak harus memberikan hadiah berupa materi. Apresiasi itu bisa juga berupa menampakan wajah gembira kepada seseorang yang sedang menceritakan prestasi-prestasinya. Tentu saja ekspresi yang dikeluarkan harus dengan hati penuh keikhlasan supaya senyumnya tidak nampak “menakutkan”. Kalau hatinya tidak ikhlash dengan prestasi orang lain tapi malah iri maka tampilan wajahnya bisa lain. Inginya menunjukkan wajah gembira justru yang keluar adalah wajah menyeringai, nyengir atau bahkan sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk apresiasi lainnya yang bisa kita berikan kepada orang yang sedang bergembira dengan prestasinya adalah dengan ucapan.  Redaksi dari kalimat ucapan itu bisa berbagai macam; ucapan selamat atas prestasinya, maupun ungkapan-ungkapan yang menunjukkan kekaguman kita atas pencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jangan sampai apresiasi yang kita berikan berlebihan karena akan menimbulkan efek tidak baik bagi orang itu sendiri. Bisa jadi akan muncul perasaan sombong (khibr) karena merasa sangat hebat. Hal itu tentu saja kontra produktif karena bisa menimbulkan sikap malas dalam dirinya untuk membuat prestasi berikutnya, atau justru merusak niat serta motivasinya karena berusaha mencetak prestasi supaya mendapatkan pengakuan dari orang lain. Oleh karena itu apresiasi tersebut harus tepat bentuk dan tepat sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalah&lt;br /&gt;Mengalah bukan berarti kalah. Bisa jadi tindakan tersebut merupakan sebuah langkah untuk memperoleh kemenangan lebih besar. Gambaran tersebut bisa kita lihat dalam langkah bijak Rasulullah saw dalam melakukan perjanjian Hudaibiyyah dengan kaum musrikin Makkah. Tindakan yang awalnya kurang mendapat persetujuan dari para sahabat karena seakan-akan menunjukkan kekalahan kaum muslimin dari orang-orang kafir ternyata merupakan strategi jitu beliau saw untuk memperoleh kemenangan lebih besar yakni Fathu Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifat dasar manusia ingin selalu menang, maka jika kita bisa dan mau mengalah dari orang lain tentu akan menimbulkan kesan baik bagi orang lain. Tentu saja mengalah disini pada hal-hal yang sifatnya bukan prinsip; aqidah, syaria’t, kebenaran dan kehormatan diri. Kalau hal-hal tersebut tentu saja perhitungannya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana adalah ketika mengemukakan sebuah pendapat atau ide atas sebuah permasalahan pada sebuah forum musyawarah. Tidak perlu kita ngotot memaksa orang untuk mengikuti pendapat kita karena belum tentu lebih baik. Bahkan sekalipun pendapat kita sepertinya paling baik dari semuanya. Berikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan pendapatnya, kalau perlu kita dukung idenya tersebut. Bukankah kebaikan bersama diatas ego dan ambisi tiap-tiap individu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Meskipun tidak semudah membalikkan telapan tangan, keharmonisan hidup dengan orang banyak bukanlah impian pada masa sekarang ini. Arus deras pola hidup dan gaya materialisme memang pada beberapa sisi lebih mengedepankan penghargaan kepada sesama manusia dengan pendekatan materi. Sikap lebih tertutup dengan orang lain dan lingkungan, senantiasa diliputi perasaan was-was dengan orang sekitar sedikit banyak mulai menghingapi sebagian kecil masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/S2CITgNH9II/AAAAAAAAAIs/4UD5dN6z700/s1600-h/aa.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 181px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/S2CITgNH9II/AAAAAAAAAIs/4UD5dN6z700/s200/aa.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431491019252692098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Maka untuk mengurai itu semua kita awali dengan sebuah kesadaran bahwa hidup bersama orang lain adalah lebih baik daripada hidup sendiri meskipun tidak sedikit masalah yang bermunculan kaena hidup bersama tersebut. Panggilan alam sebagai makhluk sosial yang secara fitrah membutuhkan kehadiran orang lain jangan dihilangkan dari diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu kesadaran dan kedewasaan dalam bersikap dan bertingkah laku mutlak diperlukan. Mendengarkan keluh kesahnya, menghargai prestasinya dan berlapang dadalah dengan mengalah atas keinginan mereka merupakan diantara hal untuk menjaga keharmonisan dalam berhubungan dengan orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw mengajarkan kita untuk menjaga lisan dan tangan kita dari mencederai oang lain. Beliau juga menegaskan bahwa ukuran kesempurnaan iman seseorang adalah dengan kebaikan ucapannya, penghormatannya kepada tamu dan juga keharmonisan dengan tetangannya. Bahkan kecintaan kita kepada saudara seiman kita harus sama dengan kecintaan kita kepada diri sendiri, itu baru sempurna iman seorang muslim. Begitu pesan Rasulullah saw. Indah sekali. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu ‘alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-8892483784183691090?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/8892483784183691090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/01/merawat-hubungan-dengan-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8892483784183691090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8892483784183691090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2010/01/merawat-hubungan-dengan-manusia.html' title='merawat hubungan dengan manusia'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/S2CK-4MHRLI/AAAAAAAAAI0/FmEfCh36pUk/s72-c/ac.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3437247637036634129</id><published>2009-12-23T08:24:00.007+07:00</published><updated>2010-02-26T19:31:00.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>menggingat usia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang membuat manusia tidak menyadari betapa waktu sudah berlalu sedemikian lama. Bisa jadi saking sibuknya dia dengan aktifitas hidupnya dalam sehari-hari yang sedemikian menyita perhatian serta konsentrasi pikirannya. Mungkin juga banyaknya persoalan hidup yang melilitnya sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain selain solusi dari beragam problematika pribadi tersebut.  Atau hal-hal lain yang senantiasa mendera dirinya, terutama dalam konotasi negatif. Paling tidak ruang pikiran dan perasaannya penuh dengan input data yang mengakibatkan pernak-pernik kecil kurang mendapat perhatian lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SzFyRreY9vI/AAAAAAAAAIc/vi4tx8C8IrE/s1600-h/42-15474481.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 131px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SzFyRreY9vI/AAAAAAAAAIc/vi4tx8C8IrE/s200/42-15474481.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418237474756949746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kesadaran biasanya sering muncul jika seseorang di luar dirinya mengingatkan, bahkan mungkin menegurnya. Orang itu sudah pasti cukup dekat dengan dirinya. Dekat dalam arti wilayah sosialisasi, bisa juga dekat dalam perspektif emosional seperti teman, sahabat maupun rekan kerja. Tidak tertutup pula kemungkinan pihak-pihak yang menginggatkan tersebut berasal dari masa lalunya. Setelah sekian lama tidak ketemu, ketika bertemu tentu saja suasana curhat pengalaman sekarang maupun kenangan yang telah lewat pasti terjadi. Pada saat flash back itulah kesadaran akan perputaran waktu dan pertambahan usia sengaja maupun tidak muncul dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hitungan usia seseorang bisa berarti banyak hal, lembaran kisah, aneka cerita, beragam perasaan dan pasti jutaan kenangan. Ia bisa berujud amal kebaikan untuk pemiliknya bagian manifestasi ketundukan kepada Sang Pencipta Allah swt atas amanahNya mengabdi sebagai hamba dan mengelola dunia sebagai khalifah. Bisa juga sebaliknya rentetan dosa atas pembangkangkan perintah sang Khaliq karena ketidak tahuan melanggar rambu-rambu yang telah digariskan, maupun juga kesengajaan menabraknya buah dari kekalahan akal pikiran serta jiwa atas dominasi nafsu serta syahwat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SzFzrbdqVvI/AAAAAAAAAIk/rb2sLd765MA/s1600-h/kakek.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SzFzrbdqVvI/AAAAAAAAAIk/rb2sLd765MA/s200/kakek.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5418239016647153394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Usia juga mencerminkan ketinggian ilmu seseorang. Berlalunya waktu seharusnya mendorong manusia semakin mengetahui akan banyak hal dalam hidupnya. Ilmu agama sebagai pondasi untuk bergerak dan referensi dalam melangkah. Ilmu dunia sebagai wujud tanggung jawab atas amanah mengelola alam beserta isinya. Maka sudah seharusnya kalau kemudian semakin berilmu seseorang pasti semakin bertaqwa dan tawadu’. Justru ketika sudah mengetahui banyak hal ia merasa semakin tidak tahu apa-apa kerena ternyata masih jauh lebih banyak yang belum diketahuinya. Itulah kesadaran akan keMaha Kuasaan Allah swt. Dialah Pemilik dan Penguasa seluruh jagad raya dengan segala pirantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baik manusia tentu saja orang yang bertambah usia bertambah pula imannya. Bertambah tua bertambah takwanya. Begitulah pribadi terbaik sepanjang zaman Rasulullah saw berpesan kepada umatnya. Sebaliknya pula, kata beliau, seburu-buruk manusia adalah orang yang diberi usia panjang namun hanya dipakai untuk bermaksiat dan melakukan kedzaliman terhadap dirinya dan orang lain. Tentu saja kita memilih kondisi yang pertama, bukan kedua. Semoga begitu keadaannya hari ini, besok dan akhir dari kehidupan kita di dunia ini. Pertangung jawabnya ringan, cepat dan balasannya pun sangat menyenangkan serta membuat bibir kita tidak pernah bosan meminta kepadaNya; surga yang penuh kenikmatan di dalamnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amiiinnnnn.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3437247637036634129?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3437247637036634129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/12/mengingat-usia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3437247637036634129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3437247637036634129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/12/mengingat-usia.html' title='menggingat usia'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SzFyRreY9vI/AAAAAAAAAIc/vi4tx8C8IrE/s72-c/42-15474481.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-6651854042583886209</id><published>2009-10-16T14:07:00.003+07:00</published><updated>2010-02-26T19:31:23.525+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>menjaga dari hal yang sia-sia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menelusuri kegiatan kita dalam satu hari mungkin seimbang persentase pemafaatan waktu untuk sesuatu yang positif maupun negatif. Lebih baik tentu saja apabila persentase positif lebih dominan daripada negatif. Namun secara jujur kita harus mengakui bahwa tidak jarang juga lebih disibukkan dengan perbuatan-perbuatan yang negatif. Positif negatif di sini tentu saja acuannya adalah konsepsi Islam dalam memandang satu perbuatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan peradaban material manusia modern termasuk di dalamnya adalah maraknya aneka ragam benda yang mampu menghinoptis manusia untuk senantiasa memperhatikannya. Televisi, alat pemutar musik, aneka permainan dan sekumpulan benda untuk memenuhi gaya hidup ala manusia modern.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ukuran baik tidaknya satu aktifitas seorang muslim tentu saja terkait dengan satu pertanyaan; apakah yang kita kerjakan ini menambah iman kepada Allah swt ataukah sebaliknya? Terlalu sederhana barangkali, namun memang seperti itulah ukuran yang harus kita pergunakan untuk meneropong seberapa besar kualitas iman yang bersemayam di dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi generasi muda sekarang tentu saja tantangan untuk menjadi pribadi muslim yang baik semakin berat. Keumuman manusia saat ini adalah cenderung terlibat dalam kebiasaan-kebiasaan yang mensia-siakan waktu. Kalau semua itu bisa diminimalkan bahkan dihilangkan tentunya sebuah prestasi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kecenderungan manusia banyak menghabiskan waktu di depan televisi memelototi tayangan-tayangan yang mengungkap aib seseorang, maka anak muda yang tidak seperti itu tentulah sosok yang cukup baik. Karena ia mempunyai jalan berfikir; ”apakah menambah iman atau ilmu dengan banyak menonton acara seperti itu?” sebagaimana juga orang tidak akan bertambah iman dan ilmunya jika berhasil mencapai level tertinggi dalam sebuah permainan berbasis online (game online).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kebiasaan pemuda untuk memanjakan telinganya mendengarkan alunan syair-syair percintaan melalui ear phone, jika ada anak muda tidak seperti itu tentu luar biasa. Terlebih jika telinganya sering diperdengarkan dengan alunan kalam-kalam Allah swt melalui lisannya sendiri. Wah..... hebat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja untuk bisa begitu membutuhkan perjuangan yang luar biasa beratnya. Faktor nafsu karena dorongan syetan dan pengaruh manusia akan berusaha mengendorkan semangat seseorang untuk menjadi sosok muslim yang baik. Karenanya kesungguh-sungguhan menjadi modal penting supaya tujuan mulia tersebut bisa tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada tiga kunci untuk sukses meninggalkan hal-hal yang tidak berguna dalam keseharian seseorang. Pertama adalah niat, kedua adalah kerja keras, dan ketiga adalah kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ketiga hal tersebut dalam senantiasa kita jaga, harapan menjadi orang baik insya Allah terwujud. Allah swt memberi predikat manusia seperti itu dengan julukan ”orang-orang mukmin yang beruntung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;“Sungguh telah beruntung orang-orang beriman. Yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menhindar dari perbuatan yang sia-sia.” (Qs. Al-Mu’minuun: 1-3)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-6651854042583886209?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/6651854042583886209/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/10/menjaga-dari-hal-yang-sia-sia.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6651854042583886209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6651854042583886209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/10/menjaga-dari-hal-yang-sia-sia.html' title='menjaga dari hal yang sia-sia'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1458286867264760087</id><published>2009-10-12T21:12:00.005+07:00</published><updated>2010-02-26T19:31:53.564+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>generasi pelanjut risalah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara harapan terbesar sepasang orang tua adalah mempunyai keturunan. Anak bagi sebuah rumah merupakan cahaya penyemangat dan pemberi motivasi dalam kehidupan. Betapa sepinya rumah yang tidak pernah terdengar tangisan seorang bayi, cekikikan anak kecil, maupun senda gurau dan gelak tawa antar satu atau beberapa anak dengan sang ayah ataupun ibu. Terbayang suasana yang riang, gembira, dan terasa membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/StM7B7MFBSI/AAAAAAAAAIM/XoTbfXJsERo/s1600-h/twoss.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/StM7B7MFBSI/AAAAAAAAAIM/XoTbfXJsERo/s200/twoss.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391718083146876194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namun sekedar itu manfaat anak bagi kedua orang tuanya. Diantara harapan yang tertancap dalam benak sanubari orang tua terhadap anaknya adalah terjadinya proses pewarisan. Orang tua berharap anak-anaknya mampu mewarisi dengan baik apa saja yang selama ini mereka pegang dan perjuangkan. Kepada siapa lagi seseorang yang sudah tua akan memberikan estafeta perjuangannya kalau bukan kepada anak-anaknya sendiri? Mungkin orang lain bisa mewarisi dan memperjuangkannya dengan lebih baik, tetap saja anak sendiri lebih diharapkan bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih bagi pribadi-pribadi muslim yang mengharapkan tegakknya kalimat haq di bumi ini. Kesadaran akan panjangnya perjuangan untuk menegakkan dan menjaga nilai-nilai tersebut mendorong seorang muslim senantiasa berdoa mempunyai keturunan yang sholeh dan sholehah. Tenang rasanya melihat jejak langkah para pejuang terhahulu terwariskan semangat juangnya oleh generasi-generasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah barangkali keresahan nabi Ibrahim di usia lanjutnya ketika Allah swt belum menganugerahkan keturunan kepada beliau. Beliau khawatir nilai-nilai yang selama ini beliau perjuangkan tidak ada yang melanjutkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh “ ( Qs Al Shoffat : 100 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kelahiran Ismail yang kemudian disusul Ishaq memunculkan kebahagiaan yang tidak terkira dalam diri beliau. Tidak sekedar perasaan sebagai orang tua tapi juga manusia yang memperjuangkan tegakkanya risalah Allah swt di permukaan bumi-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan yang sebelumnya berkecamuk di pikiran beliau setiap malamnya pun berangsur-angsur berkurang. Sejarah kemudian bercerita kepada kita bahwa beliau mendapat gelar bapak para nabi karena dari keturunan-keturunan beliau beberapa orang diantaranya dipilih Allah swt untuk menyampaikan dakwah kepada umat manusia pada beberapa tempat dan beberapa waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula bagi kita sebagai penerus sejarah orang tua kita. Sebelum kita bertanya kepada anak-anak kita sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri ”sudahkah berbuat yang terbuat untuk meneruskan jejak kebaikan orang tua?” Kalau belum tentu saja masih ada waktu untuk memperbaikinya sampai nanti Allah swt menyetop waktu hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/StM8bnAga2I/AAAAAAAAAIU/CcOSTb9gAU0/s1600-h/Ha.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 149px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/StM8bnAga2I/AAAAAAAAAIU/CcOSTb9gAU0/s200/Ha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391719623917857634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Merupakan sikap yang kurang baik dan tidak bijaksana jika masa hidup kita justru membuat perbuatan positif orang tua tercoreng tingkah laku perbuatan yang kita kerjakan. Sebuah perilaku kurang terpuji tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang tua berharap mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehah. Anak sholeh dan sholehah merupakan investasi dunia akhirat. Mereka tidak hanya menggembirakan dengan prestasi duniawinya dalam bidang akademik, sosial politik, materi dan lain sebagainya. Anak sholeh merupakan investasi akhirat karena doanya mampu memberikan pertolongan kepada orang tuanya meskipun sudah meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairoh meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda,”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya selamat kepada teman-teman yang bulan ini Allah swt telah menganugerarkan kepada mereka keturunan, baik sebagai anak pertama, kedua maupun ketiga. Semoga buah hari mereka kelak menjadi pribadi-pribadi yang tidak saja membanggakan kedua orang tuannya, tetpai juga membawa pencerahan bagi masyarakatnya dengan menyalakan cahaya keagungan Allah swt dalam keseharian hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.“(QS Al Baqarah : 200-201)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1458286867264760087?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1458286867264760087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/10/generasi-pelanjut-risalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1458286867264760087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1458286867264760087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/10/generasi-pelanjut-risalah.html' title='generasi pelanjut risalah'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/StM7B7MFBSI/AAAAAAAAAIM/XoTbfXJsERo/s72-c/twoss.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1684149192532213789</id><published>2009-09-29T12:48:00.005+07:00</published><updated>2010-02-26T19:32:45.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realitas'/><title type='text'>mencari pengadil yang adil</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa sudah sekitar satu bulan kita mendapat suguhan informasi tentang  hiruk pikuk pemberitaan tentang KPK dan sederet hal yang mengikutinya. Hampir setiap saat media-media informasi memuat perkembangan kasus tersebut. Nampaknya tidak ada berita lain yang lebih menarik bagi koran, televisi dan juga situs berita on line untuk disajikan kepada para penikmat berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a01.yimg.com/image/9a43e40b009fd804"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 137px; height: 80px;" src="http://thm-a01.yimg.com/image/9a43e40b009fd804" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Begitulah peliknya mencari petugas keadilan dewasa ini. Godaan kekuatan uang, kekuasaan dan wanita pada zaman materialisme sekarang ini membuat kehadiran sosok pengadil yang benar-benar adil terasa semakin diimpikan. Seorang yang kokoh prinsip keadilan dan kebenaran tidak pandang siapa yang sedang berperkara dengan pengadilan. Masih adakah orang seperti itu? Insya Allah masih ada.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teringat saya dengan kisah yang ditulis dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah kegemilangan umat Islam masa lalu. Berawal dari hilangnya baju besi khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang Shiffin. Ternyata baju itu kemudian di temukan sudah berada dalam penguasaan seorang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah segera mendatangi si Yahudi dan meminta baju beliau tersebut. Namun si Yahudi menolaknya karena menganggap barang itu adalah miliknya. Karena tidak menemukan titik temu antara dua pihak dalam permasalahan tersebut, mereka sepakat membawanya ke pengadilan negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layakanya kita, semua orang mungkin saat itu berfikir khalifah Ali akan memenangkan gugatannya. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Hakim Syuraih yang nota bene adalah pejabat bawahan khalifah berfikir lain. Ia menolak dua orang saksi yang diajukan khalifah yaitu puteranya, Hasan bin Ali dan pembantunya. Karena itu khalifah Ali kalah dalam pengadilan terkait kasus beliau. Dan beliaupun menerima kenyataan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata, orang Yahudi yang dimenangkan dalam perkara itu akhirnya mengungkap kebenaran bahwa baju besi itu sebenarnya adalah milik amirul mukminin Khalifah Ali r.a. Keadilan mahkamah peradilan Negara Islam yang digelar secara riil oleh Qadli Syuraih yang notabene adalah pejabat bawahan Khalifah Ali telah membuka mata hati orang Yahudi warga negara Islam itu untuk mengubah keyakinannya. Ia mengatakan : “Aku bersaksi bahwa (keadilan proses peradilan negara Amirul Mukminin) ini adalah sebuah kebenaran yang nyata, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah”.  Begitulah kisah yang tercatat dalam buku-buku sejarah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a03.yimg.com/image/daa60b2fcf657380"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 122px;" src="http://thm-a03.yimg.com/image/daa60b2fcf657380" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Terasa sangat jauh kalau kemudian kisah-kisah keutamaan para hakim dan penguasa zaman ketika Islam masih memimpin dunia jika dibandingkan dengan kondisi sekitar kita hari ini. Betapa semakin mahal dan langka keadilan serta kejujuran sebuah forum pengadilan sekarang ini. Nyaris semuanya telah dipermainkan dengan lembaran uang untuk menentukan putusan kasus ataupun kemenangan dan kekelahan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya hukum menjadi kurang berwibawa. Orang tidak takut lagi berbuat kejahatan karena toh ia memiliki uang untuk mengaturnya. Kalaupun dinyatakan bersalah bisa mengajukan banding dan biasanya hukumannya akan dikurangi atau bahkan dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang memiliki jabatan dan kekayaan merasa aman, sebaliknya rakyat biasa semakin menderita. Seorang pencuri ayam mungkin harus mengganti ayam yang dicurinya dengan nyawanya. Seorang pencopet harus babak belur dulu sebelum diserahkan ke pengadilan. Sementara orang-orang yang mencuri uang rakyat milyaran atau trilyunan malah hidup nyaman di penjara ber AC, fasilitas seperti hotel berbintang lima dan bisa keluar masuk penjara dengan alasan berobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar saja kalau kemudian Allah swt banyak menegur kita dengan serangkaian musibah dan bencana. Dan kalau kesalahan demi kesalahan terus bangsa ini lanjutkan mungkin juga Allah swt akan meneruskan peringatannya kepada kita sampai keadilan di negeri ini tegak bagi semua orang. Allahu ‘Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (An-Nissa’ ayat 135).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1684149192532213789?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1684149192532213789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/09/mencari-pengadil-yang-adil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1684149192532213789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1684149192532213789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/09/mencari-pengadil-yang-adil.html' title='mencari pengadil yang adil'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-6395793424125717061</id><published>2009-09-17T13:56:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:34:48.650+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>agama dan budaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi tadi saya berkesempatan berkunjung ke terminal bus antar kota dan antar propinsi. Sebagai salah satu anggota masyarakat yang menganut paham “mudik itu mencerahkan” tentu saja tidak boleh ketinggalan meramaikan hajatan besar tiap tahun di negeri kita ini. Tentu saja menjaga niat harus senantiasa diupayakan; silaturahim kepada orang tua dan kerabat sebagai salah satu cerminan anak yang berbakti kepada orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana terminal sangatlah penuh dengan manusia. Tidak terasa sudah tiga tahun saya tidak mengunjungi terminal tersebut. Atas kebaikan seorang kawan - yang pada bulan suci ini sudah lebih dulu dipanggil Allah swt - selama tiga tahun saya tidak pernah mencari tiket untuk mudik karena mendapat tumpangan di mobilnya. Jarak kediaman almarhum memang tidak jauh untuk ukuran kampung dengan tempat saya tinggal yakni sekitar 50 sampai 60 km. semoga Allah swt mengampuni segala dosanya dan memasukkan beliau ke surgaNya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aminnn&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;mudik; spiritual, sosial, ekonomi, politik, ...&lt;br /&gt;Konon mudik adalah kebiasaan masyarakat Indonesia yang unik dan asli budaya lokal. Walaupun mungkin di bagian dunia yang lain fenomena tersebut ada, namun dampaknya tidak sampai mempengaruhi kehidupan satu negara seperti disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah untuk melogikakan kebiasaan mudik di masyarakat Indonesia. Fenomena tahunan ini seakan sudah menjadi agenda tahunan wajib bagi sebagian besar perantau. Tidak lengkap rasanya hidup kalau tidak mudik setiap lebaran. Apapun akan dipertaruhkan, seberapa besar biaya yang harus keluar tidak menjadi masalah asalkan bisa berkumpul dengan sanak famili di kampung selama beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kota-kota besar di negeri ini berkurang jumlah warganya, termasuk ibu kota Jakarta. Kota terbesar di Indonesia yang biasanya penuh dan macet selama beberapa hari akan lebih longgar serta lapang. Berkah hari raya bagi yang tidak mudik tentu saja. Saya kadang membayangkan dan berkhayal kalau kemudian ada pasukan bersenjata yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;iseng&lt;/span&gt; karena kurang kerjaan bisa saja memanfaatkan moment mudik untuk menguasai ibu kota dengan pasukannya. Toh banyak pejabat negara termasuk aparat keamanan yang llibut satu atau dua hari ketika Idul Fitri. Namun Alhamdulillah hal tersebut tidak pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan untuk sungkem kepada orang tua, nyekar ke makam para leluhur serta bercekengkerama dengan masa lalu seakan susah untuk dilawan setiap idul fitri. Ada suasana berbeda ketika pulang idul fitri dengan pulang pada hari-hari lainnya. Begitu seorang teman beralasan kenapa setiap idul fitri harus pulang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri juga kalau kedatangan dan kepulangan para pemudik telah memutar lebih kencang roda ekonomi masyarakat selama beberapa hari. Bisnis transportasi mungkin menjadi pihak paling diuntungkan. Lonjakan jumlah penumpang dan hak untuk menaikkan harga tiket menjadi kado lebaran bagi para mengelola bisnis agkutan darat, laut dan udara setiap tahunnya. Sayangnya setiap tahun tetap saja ada beberapa oknum yang nakal merugikan para konsumen jasa transportasi. Semoga tahun ini berita-berita tentang kondisi tersebut tidak terjadi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan yang lumrah kalau kemudian kita melihat orang yang mudik membawa motor atau mobil baru, termasuk bingkisan-bingkisan untuk keluarga di kampung juga harus serba baru. Nampaknya ada keinginan kuat dari para pemudik untuk menjukkan dan menampilkan cerita sukses kehidupan diperantauan malalui barang-barang bawaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih bagi kaum wanita. Bagi mereka biasanya cerita sukses tersebut diwujudkan dengan aksesoris-aksesoris yang dipakai seperti pakaian, gelang, cincin, kalung ataupaun perhiasan emas lainnya. Entah apakah itu semua barang milik pribadi, minjam ataupun sewa toh orang-orang di kampung tidak ada yang mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita sukses lewat omongan dan penampilan itulah yang membuat arus urbanisasi setiap tahun ke kota-kota besar di Indonesia selalu melonjak. Dalam kehidupan yang semakin materialis sepeti sekarang ini siapa yang tidak ngiler mendengar dan melihat tetangganya pulang dengan kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena mudik mungkin tidak akan berakhir karena dorongan psikologis relatif susah untuk dihilangkan, sementara arus urbanisasi mungkin bisa dikurangi dan ditekan seminimal mungkin. Peran pemerintah untuk lebih memeratakan kesejahteraan masyarakat di pedesaan harus lebih ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya selama ini yang sudah berjalan mungkin harus lebih dimonitor dan dievaluasi. Daripada trilyunan uang negara dari rakyat dipergunakan untuk menolong bank-bank yang kolaps dan justru dikorupsi oleh mereka lebih baik disalurkan ke masyarakat di pedesaan. Miris rasanya ketika kita melihat dan mendengar puluhan saudara-saudara kita di Papua kelaparan, sementara trilyunan uang yang seharusnya menjadi hak mereka lenyap dihabiskan para penjahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan di daerah merupakan kunci perubahan bagi masyarakat. Penciptaan lapangan kerja yang mampu memobilisir para pemuda juga diperlukan sehingga bayangan mereka untuk merantau ke kota selepas sekolah menengah akan terkurangi. Bahkan kalau bisa menarik pulang para sarjana yang sudah menyelesaikan kuliahnya di perantauan untuk berkiprah di daerahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja yang tidak kalah penting adalah peran individu dan masyarakat secara umum. Tidak mungkin semuanya diserahkan kepada pemerintah yang tidak jarang juga kurang memikirkan rakyatnya, justru menyelamatkan para kroninya. Bagaimanapun juga keresahan sosial berawal dan berdampak kepada masyarakat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita mendapatkan pencerahan dan energi positif setelah mudik lebaran kali ini. Bagi yang tidak bisa mudik karena berbagai alasan; kuliah, kerja ataupun kendala lainnya tidak usah berkecil hati, toh kalau ada umur panjang Insya Allah masih ada kesempatan untuk sungkem kepada orang tua. Siapa tahu ada hikmah yang Allah swt berikan ketika tidak mudik tahun ini. Amiiin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-6395793424125717061?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/6395793424125717061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/09/agama-dan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6395793424125717061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6395793424125717061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/09/agama-dan-budaya.html' title='agama dan budaya'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-5237401903213474697</id><published>2009-09-04T21:02:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:35:17.613+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><title type='text'>menanam harapan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah merupakan sebuah proses panjang. Mengharapkan setiap orang yang diajak untuk mengikuti jalan Allah swt menyambut dengan gembira merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Jalan dakwah identik dengan cobaan, ujian, permusuhan bahkan ancaman pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di atas mengharuskan setiap pelaku dakwah untuk senantiasa menjaga spirit perjuangannya agar tidak mudah lesu dan padam semangatnya menghadapi pihak-pihak yang menentang seruannya. Setiap pelaku dakwah haru mempunyai keyakinan akan datangnya pertolongan Allah swt . Harapan tersebut bisa menjadi obor untuk menjaga istiqomahnya menyeru manusia kepada jalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kemudian dakwahnya tidak mendapat respon yang baik, setidaknya dia sudah memulai. Mungkin Allah swt nanti yang akan mengirimkan para pengganti untuk meneruskan jejak langkah perjuangannya. Barangkali Allah swt ingin menunda kegembiraannya di akhirat kelak, bukan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kaidah jalan ini yang setiap penyeru kebaikan akan mengalaminya. Kisah perjalanan dakwah para rasul Allah swt, orang-orang sholeh, para ulama yang lurus, begitu pula para mujahid bertutur seperti itu. Tengoklah bagaimana hal tersebut menimpa manusia agung junjungan kita Rasulullah saw ketika menjalankan misi kenabian beliau; meluruskan jalan manusia yang semula menabrak pagar Allah swt. Dan fragmen di Thaif sudah lebih dari cukup mengambarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya dakwah Rasulullah saw di Thaif ternyata mendapat masalah yang tak jauh beda dengan apa yang terjadi di Makkah. Penolakan, ejekan, cacian dan cemoohan selalu mengiringi langkah beliau dari rumah ke rumah di Thaif. Bahkan mereka melakukan suatu hal yang belum di lakukan kaum musyrikin Makkah yaitu mengusir beliau keluar dari Thaif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menyuruh anak-anak kecil dan perempuan untuk melempari batu, para pemuka Thaif mengusir Rasulullah saw dan Zaid bin Haritsah yang menemani beliau. Beberapa batu mengenai Rasulullah saw sehingga tumit beliau berdarah. Zaid bin Haritsah yang mencoba melindungi Rasulullah saw dengan tubuhnya mengalami luka lebih banyak pada wajah dan tubuh bagian depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua berhasil menyelamatkan diri dan berhenti di luar kota Thaif untuk beristirahat. Ketika itulah datang kepada Rasulullah saw malaikat penjaga gunung untuk menawarkan bantuan. Malaikat tersebut mendapat perintah dari Allah swt untuk taat kepada apapun keingginan Rasulullah saw terhadap orang-orang Thaif yang telah menyakiti dan melukai beliau. Malaikat itu juga menawarkan diri kepada Rasulullah saw untuk diperintahkan supaya menimpakan kedua gunung yang mengapit kota Thaif kepada penduduk kota tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Rasulullah saw tidak mengiyakan tawaran itu. Beliau malah berdoa kepada Allah swt untuk mengampuni penduduk Thaif karena menurut beliau mereka melakukan itu karena tidak tahu. Bahkan Rasulullah saw berharap kelak anak cucu mereka masuk Islam dan menjadi pendukung setia dakwah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw. Tidak berapa lama kemudian ketika beliau sedang berisitarahat di sebuah kebun kurma dalam perjalanan kembali ke Makkah, seorang pemuda Nasrani bernama Addas tertarik dengan dakwah beliau dan menyatakan keIslamannya.  Dan pada masa-masa berikutnya masyarakat Thaif menjadi muslim yang taat dan bermunculan dari kota tersebut pahlawan-pahlawan yang setia dan siap jiwa raganya membela dan mempertahankan keagungan dienul Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat."  (QS. Al-Hijr ayat 56).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-5237401903213474697?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/5237401903213474697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/09/menanam-harapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5237401903213474697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5237401903213474697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/09/menanam-harapan.html' title='menanam harapan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1054665944663531108</id><published>2009-08-31T13:16:00.003+07:00</published><updated>2010-02-26T19:35:55.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hikmah'/><title type='text'>Kekuatan memaafkan</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah diri kita berbuat kesalahan kepada orang lain, sengaja maupun tidak? Jawabanya tentu saja pernah. Sebagai manusia kita pasti pernah melakukan hal tersebut sebagaimana juga kita pernah disalahi orang lain dengan sengaja maupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dalam kehidupan sosial manusia membuat kedua kondisi di atas menjadi lumrah dan sangat wajar terjadi serta menimpa seseorang.  Bedanya barangkali terletak dalam penyikapan atas efek yang muncul selanjutanya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lumrahnya adalah proses perselisihan yang terjadi antar individu satu dengan individu lainnya tidak membutuhkan waktu relatif lama untuk menyelesaikannya. Setiap masalah pasti ada jalan keluar, setiap kepentingan pasti akan bisa dipertemukan dengan kepentingan lainnya. Terlebih lagi merupakan sebuah kerugian waktu dan tenaga kalau kemudian seseorang memelihara permasalahannya dengan orang lain selama problem yang terjadi masih dalam koridor muamalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan diantara kata kunci untuk menutup semua permasalahan hati dengan orang lain adalah memaafkan. Seberapa besar seseorang mempunyai keberanian dan kemauan untuk menerima kesalahan orang lain lalu ia maafkan merupakan pintu menyelesaikan kendala interaksi antar sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani memaafkan berarti ia memiliki jiwa besar untuk secara utuh menerima orang lain apa adanya. Karena pada hakekatnya tidak ada seorang manusiapun yang selamanya baik dalam pandangan orang lain. Tentu saja ia memiliki karakter, sifat ataupun kebiasaan yang bagi orang lain menganggu sehingga dengan sadar atau tidak terjadi persingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping jiwa besar, seseorang juga perlu memiliki jiwa penuh kesabaran untuk bisa memaafkan orang lain. Kesabaran ini penting sehingga tidak melahirkan dendam berkepanjangan. Jiwa yang sabar akan menyadari konsekuensi hidup bersosial dengan orang banyak sehingga menerima konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita membaca kisah-kisah perjalanan Rasulullah saw dalam mendakwahkan dinnul Islam, tidak sedikit kita menemukan efek positif dari rasa maaf beliau yang sangat tinggi. Banyak musuh-musuh dakwah yang semula menganggu dan mencemooh perjuangan beliau berubah menjadi pengikut  setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peristiwa perjalanan hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah kita menemukan tokoh bernama Suraqah bin Malik. Ia adalah seorang pembunuh bayaran yang tertarik hadiahorang-orang quraisy berupa 1000 ekor onta jika berhasil menangkap Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelebihannya dalam mencari jejak, meskipun Rasulullah saw dan Abu Bakar berusaha mengelabui para pengejarnya, Suraqah masih dapat mengikuti rute perjalanan mereka dan mengejarnya. Bahkan jarak antara Suraqah dengan Rasulullah saw ketika sudah tinggal beberapa langkah kaki kuda saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu kemudian Allah swt menengelamkan kaki kuda Suraqah ke dalam pasir. Awalnya ia masih mencoba mengejar Rasulullah saw kembali, namun lagi-lagi kaki kudanya terperosok ke dalam pasir. Barulah setelah tiga kali upayanya menemui kegagalan, ia menyerah dan berteriak-teriak mengiba meminta maaf serta ampun kepada Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui pemburunya sudah putus asa, Rasulullah saw kemudian mendatangi Suraqah dan memaafkannya. Melihat ketinggian akhlaq Rasulullah saw Suraqah menjadi malu dan menawarkan bekalnya. Namun Rasulullah saw menolaknya. Beliau hanya berpesan kepada Suraqah untuk tidak mengatakan pertemuan mereka saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suraqah menepati janji tersebut. Setiap bertemu orang-orang yang memburu Rasulullah saw, ia selalu menyuruh mereka kembali karena buruannya tidak ada dan sudah pergi terlalu jauh. Orang-orang itu mempercayainya karena mereka mengetahui kehebatan seorang Suraqah dalam berburu. Ia saja gagal apalagi mereka mungkin begitu pikiran mereka ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kemudian mencatat Suraqah menjadi seorang muslim yang baik. Ia juga mempunyai umur panjang sehinga termasuk mujahid yang membebaskan Madain, pusat kerajaan Persia pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian untuk memiliki kemampuan memaafkan kesalahan orang lain membutuhkan perjuangan sangat berat. Tidak setiap jiwa manusia kemudian memiliki kerelaan yang tinggi untuk menerima pernyataan maaf dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halangan terbedar untuk memberi maaf kepada orang lain adalah ego yang kita miliki. Perasaan lebih dari orang lain, selalu merasa lebih benar, tinggi hati dan penyakit hati yang sejenis menjadi ganjalan seseorang untuk menjadikan sifat pemaaf sebagai karakter dalam dirinya. Apalagi kalau kemudian dirinya dalam posisi benar dan berkuasa, wah..... tambah berat perjuangan dirinya untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh proses belajar untuk berada pada posisi hati gemar memaafkan kesalahan orang lain. Karenanya selalu selipkan permohanan kepada Allah swt dalam doa kita agar Dia memberikan rasa maaf yang tidak terbatas dalam diri kita. Amiiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Maaf mas, kakinya yang kanan saya injak”&lt;/span&gt;.  Kata seorang penumpang bis ekonomi yang sangat padat sekali pada suatu siang yang sangat terik sekali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”oh..... nggak papa kok. Kalau mau nginjak yang satunya juga boleh. Nih.... silahkan.”&lt;/span&gt;   jawab penumpang yang terinjak kakinya sambil tersenyum dan menjulurkan kakinya sebelah kiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1054665944663531108?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1054665944663531108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/08/kekuatan-memaafkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1054665944663531108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1054665944663531108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/08/kekuatan-memaafkan.html' title='Kekuatan memaafkan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-4953090528379732390</id><published>2009-08-30T06:28:00.005+07:00</published><updated>2010-02-26T19:36:30.460+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Nikmatnya hidup berjama’ah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatidiri manusia sebagai makhluq sosial membuat manusia mempunyai naluri dasar untuk hidup berdampingan dengan sesamanya. Gabungan dari individu-individu yang memiliki kecenderungan sama kemudian melahirkan satu kelompok manusia bernama kampung, propinsi, negara, juga ummat. Bersama-sama mereka berusaha mencapai tujuan dan harapan yang ingin dicapainya dalam keidupan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping fitrah manusia, hidup bermasyarakat atau berjama’ah merupakan perintah Allah swt kepada para makhluqnya. Dia mendorong menyuruh manusia untuk bersatu dalam sebuah ikatan syariat Allah yang kokoh sehingga tidak berselisih dan terpecah belah. Allah swt berfirman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...”  (QS. Ali Imron:103).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bukan sembarang kumpulan manusia yang kita jadikan sebagai teman sejalan dan seperjuangan. Orang-orang yang kita kumpuli haruslah orang-orang yang baik dan benar. Allah swt berfirman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk bersatu dalam sebuah jama’ah yang baik dan benar.  Umat ini akan kuat kalau antar personnya bersatu dan tidak tercerai berai. Beliau saw bersabda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Diwajibkan atas kamu sekalian agar berjama’ah dan diperingatkan kepada kamu sekalian dari perpecahan”(HR.Ahmad dan Turmudzi).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian karena sebuah kelompok atau jama’ah merupakan kumpulan dari manusia dengan latar belakang berbeda, tentu saja permasalahan-permasalahan akan timbul. Itulah manusia. Keberadaan manusia dengan segala rasa, cita, kepentingan dan harapan tentu saja tidak selalu akan selaras satu dengan lainnya. Terkadang persingungan dan perbedaan mewarnai kepentingan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu menimpa sebuah kelompok atau jama’ah manusia, faktor landasan gerak dari jama’ah tersebut menjadi faktor penting penentu dan pemutus problem yang muncul. Jika sebuah kelompok memilih landasan geraknya adalah materi (kekayaan dan kekuasaan) kebanyakan permasalahan tidak akan selesai dengan cepat, bahkan tidak bisa diselesaikan dan melahirkan perpecahan. Kalau kita membaca sejarah kehidupan manusia sejak zaman dulu sampai sekarang, kesimpulan tersebut layak untuk dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya Islam mengharuskan umatnya menjadikan al-Qur’an dan as-sunnah sebagai landasan gerak. Sebagai ajaran yang bersumber dari wahyu Allah swt tentu saja Islam sangat sempurna dalam memberikan panduan hidup untuk manusia. Kesempurnaan itu meliputi pedoman hidup sebagai individu, keluarga, masyarakat dan anggota komunitas ummat secara global&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap saudarnya se iman. Prinsip ukhuwah berdasarkan aqidah mengalahkan fanatisme karena darah, suku, dan ikatan wilayah. Karenanya dimanamun mereka berada selama telah mengikrarkan syahadat adalah saudara-saudara kita. Kegembiraan mereka adalah kegembiraan kita, sebaliknya duka nestapa yang mereka alami juga kesedihan serta kepiluan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan iman yang kuat dan kokoh membuat gesekan akibat permasalahan materi duniawi bisa diminimalisi, tapi bukan tidak ada. Kesadaran akan kepentingan bersama yang lebih besar dan keinginan mencapai ridho Allah swt di dunia dan akhirat membuat setiap orang untuk menahan diri dari terlalu sering menyakiti saudaranya. Rasulullah saw mempertegas konsep tersebut dalam sabda beliau ”Tidak sempurna iman kalian sehingga kalian mencintai saudaramu seperti mencintai diri kalian sendiri.”  itulah tingkatan ukhuwah paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau membaca lembaran-lembaran perjalanan hidup para pandahulu kita para sahabat dan salafush sholeh, rententan kisah keindahan persaudaraan terpampang jelas dan banyak. Kisah seteguk air minum dalam perang Yarmuk hanyalah satu dari sekian banyak cerita ketinggian akhlaq para pendahulu kita untuk mendahulukan saudaranya dibandingkan dirinya meskipun nyata atau kematian menjadi taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dalam jama’ah memang berat. Syetan tidak akan membiarkan manusia bersatu dan rukun dengan sesamanya. Segala tipu daya akan ia kerahkan untuk mempengaruhi seseorang agar berselisih dengan saudaranya. Karena ia mengetahui orang-orang yang menyendiri adalah mangsa empuk untuk ia terkam sebagai santapannya. Rasulullah saw memperingatkan umatnya atas bahaya tersebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sesungguhnya syetan itu srigala bagi manusia, seperti srigala bagi kambing yang menerkam kambing-kambing yang keluar dari kawanannya dan menyendiri. Karena itu jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jama’ah dan orang banyak”.(HR. Ahmad)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu seberat apapun dalam hidup berjama’ah tentu lebih selamat daripada hidup sendirian. Kesulitan dan problematika berkumpul menjadi orang banyak tidak harus membuat seseorang lari menjauh. Justru itulah ujian kedewasaan dalam berfikir dan menimbang setiap urusan terkait keinginan sendiri, orang lain serta kepentingan umum. Tentu saja permohonan kepada Allah swt supaya senantiasa dikuatkan hati untuk hidup berjama’ah harus selalu dilantunkan setiap saat. Tanpa pertolongan dan perlindungan Allah swt mustahil insan bisa bertahan dan istiqomah menempuh jalan Islam yang tidak selalu enak dan lurus ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-4953090528379732390?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/4953090528379732390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/08/nikmatnya-hidup-berjamaah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4953090528379732390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4953090528379732390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/08/nikmatnya-hidup-berjamaah.html' title='Nikmatnya hidup berjama’ah'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2942304732888146706</id><published>2009-08-06T22:49:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:37:04.147+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Menyambut Ramadhan</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah…. Beberapa hari lagi insya Allah Ramadhan akan datang menjumpai kita. Sebuah karunia teramat besar dalam hidup seorang muslim manakala menemui bulan mulia tersebut. Banyak kemuliaan yang Allah swt curahkan pada bulan Ramadhan karenanya sayang rasanya kalau kemudian kita isi dengan biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengevaluasi prestasi kita Ramadhan kemarin dan hari-hari sesudahnya merupakan langkah bijak untuk menentukan target Ramadhan tahun ini. Termasuk juga mengevaluasi persiapan kita menyambut ramadhan tahun lalu, karena ada ungkapan orang yang gagal merencanakan berarti telah merencanakan kegagalan. Tentunya kita tidak mau hari-hari kita dalam bulan Ramadhan sama saja dengan hari-hari kita pada bulan-bulan lainnya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sebuah hajatan besar, maka perlu ada persiapan-persiapan khusus yang kita laksanakan sehingga ketika ia datang tidak ada yang tersia-siakan. Ketika kita akan menyelenggarakan satu event ataupun hajatan saja, jauh-jauh hari segala hal yang mendukung keberhasilan acara kita siapkan dengan baik. Apalagi menyambut Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih khusus barangkali mempersiapkan hal-hal yang menjadi prioritas amalan kita selama Ramadhan. Empat hal yang sering kita gencarkan dalam bulan Ramadhan adalah membaca al-Qur’an, tarawih, menjaga diri dari perbuatan maksiat dan memperbanyak amal sholeh, maka ada baiknya ke empat tersebut sudah mulai kita tingkatkan intensitas dan kualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kemarin-kemarin tilawah kita hanya 1 bulan satu juz, bisa ditingkatkan menjadi 1 minggu 1 juz atau lebih. Qiyamul lail yang sebelumnya kita laksanakan satu kali dalam satu minggu ditingkatkan dua sampai tiga kali sepekan. Begitu juga filter terhadap maksiat kita pertebal, sebaliknya motivasi untuk beramal sholeh kepada orang lain semakin ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya adalah mesin kebaikan yang sudah kita panaskan akan mencapai momentum terbaiknya pada hari-hari Ramadhan. Dengan begitu maksimalisasi potensi dari energi Ramadhan dapat kita serap sebanyak-banyaknya sehingga peluang untuk mendapatkan gelar muttaqin tentunya semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah swt menguatkan dan menjaga motivasi kita dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tentu saja jangan lupa selalu menyelipkan permohonan diberi panjang umur sehingga kita masih diberi kesempatan mendapatkan berkah keagungan Ramadhan tahun ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2942304732888146706?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2942304732888146706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/08/menyambut-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2942304732888146706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2942304732888146706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/08/menyambut-ramadhan.html' title='Menyambut Ramadhan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-7171567592201748850</id><published>2009-07-03T14:05:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:40:10.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Keinginan, doa dan maslahat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemarin malam saya menemani teman saya silaturahim ke rumah calon rekan usahanya. Ia mengajak saya karena ada beberapa hal yang mungkin saya bisa memberikan bantuan pemikiran. Meski sempat molor 30 menit dari waktu yang telah kami sepakati berdua yakni persis setelah sholat ‘Asar, acara silaturahim itupun terlaksana. Kurang lebih dua jam kami ngobrol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngalor ngidul&lt;/span&gt; dengan tuan rumah. Menjelang Isya’ kami baru kembali ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan rumah orangnya sangat ramah alias &lt;span style="font-style: italic;"&gt;grapyak tenan&lt;/span&gt;. Selama kami di rumahnya ia menjamu kami dengan keramahannya tersebut. Hebatnya lagi, ia tidak pernah kehabisan cerita yang menarik. Menurutnya, pengalaman hidup yang ia telah alami membuat kalau sudah bercerita akan susah berhenti. Hal itu membuatnya setiap bertamu ke rumah orang pasti akan lama, begitu pula ketika ada tamu berkunjung ke rumahnya akan lama pula.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Satu dari sekian banyak kisah yang ia sampaikan pada kami malam itu adalah proses bagaimana ia menempati rumahnya sekarang. Ternyata ia dan keluarganya baru satu bulan tinggal di rumahnya saat ini. Rumah itu adalah rumah orang yang dipasrahkan kepadanya dengan jangka waktu yang tidak terbatas, termasuk ijin untuk mempergunakannya sebagai tempat usaha kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya keluarga dengan dua orang anak laki-laki itu kos di sebuah rumah yang – menurut mereka sendiri – sangatlah sempit. Satu rumah dengan dua ruangan. Satu ruangan berfungsi sebagai kamar tidur, sementara satunya untuk tempat masak dan keperluan lainnya. Kalau saudara, kerabat atau teman kerja ingin silaturahim ke rumahnya, mereka harus rela berjalan kaki beberapa lama karena jalan depan rumahnya sangat sempit sehingga tidak bisa dilewati kendaraan motor maupun mobil. Tidak heran apabila ada kegiatan kampung (RT/RW) ia selalu meminjam teras tetangganya kalau kebetulan ia menjadi tempat acara (tuan rumah kegiatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon rekanan teman saya ini pekerjaanya adalah bagian marketing dan penarikan sebuah lembaga amil zakat. Ia mendapat tugas untuk menggarap donator amil zakat kelas menengah ke atas. Sebagian donaturnya adalah dosen, pengusaha dan beberapa pejabat teras berbagai instansi pemerintah serta swasta. Dalam kapasitas tugasnya itulah ia sering berkunjung ke rumah donaturnya yang tentu saja kebanyakan mereka memiliki rumah-rumah berukuran luas dan terletak di lingkungan yang berkategori “mahal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bercerita ia menyampaikan kalau dirinya memiliki doa khusus setiap kali memasuki rumah-rumah bertipe mahal. Kalimat doanya adalah permohonan kepada Allah swt agar diberikan sebuah rumah yang besar seperti rumah-rumah yang ia masuki ketika bersilaturim kepada para donatornya. Doa itu bertahun-tahun ia lafadzkan dengan penuh keyakinan suatu ketika Allah swt mengabulkan permohonannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bulan menjelang masa kontrakan rumahnya habis, ia sempat pusing karena tidak ada bayangan mau pindah kemana. Maklum saja ia tidak cukup mempunyai tabungan untuk memperpanjang kontrakkan rumahnya, apalagi mencari kontrakan baru yang lebih baik kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian ia merasa punya satu tempat untuk meminta dan pasti akan dikabulkan. Ia berfikir bahwa ia punya Allah swt pemilik alam raya ini dan penentu semua peristiwa serta kejadian. Kalau berkehendak siapa yang bisa mencegah dan menghalangi? Begitu pikiran dan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah berikutnya yang ia lakukan dengan istrinya adalah memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Tengah malam mereka berdua bangun untuk mendirikan sholat tahajud memohon kepada Allah swt agar mempermudah jalan hidup dan kehidupannya. Ibadah-ibadah sunnah ia tingkatkan dan pergencar sebagai pelengkap serta penyempurna ibadah wajibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ketinggalan pula infaq ia perbanyak. Sebisa mungkin ia menyisihkan penghasilannya yang sudah sedikit itu untuk memberi kepada orang-orang yang membutuhkan. Tidak jarang ia infaq dalam jumlah yang besar karena memiliki keyakinan bahwa semakin besar infaqnya maka Allah swt akan memberikan balasan yang besar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah peningkatan ibadah dan amal sholeh itu ia laksanakan setiap hari selama tiga bulan. Ia sengaja melingkari tanggal dan hari di kalender ketika memulai azzam tersebut supaya terjaga semangatnya. Ia pernah merasa khawatir dan kecewa juga ketika ikhtiar itu sudah memasuki satu bulan tapi belum ada tanda-tanda Allah swt mengabulkan permohonannya. Namun keyakinan dirinya dan istrinya mengalahkan kegalauan tersebut. Semangatnya tetap tinggi karena percaya Allah swt tidak akan pernah menyalahi janjiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat tiga bulan dalam hitungan kalender yang ia lingkari, seseorang menawari dirinya untuk menempati rumahnya. Rumah itu hampir dijual, namun karena satu dan lain hal pihak pembeli tiba-tiba saja membatalkan pembelian. “sudah rejeki kali, semuanya kok serba pas dan terasa kebetulan sekali”. Begitu ia menjelaskan kepada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu positif menempati rumah tersebut, ia langsung sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah swt atas karunianya. Sebuah anugerah yang tidak pernah terbayangkan telah ia dan keluarganya terima. Tak lupa ia mengundang para tetangganya yang dulu hidup berdampingan dalam satu lingkungan untuk datang ke rumahnya; bareng-bareng mensyukuri karunia yang ia terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kelebihan dari bapak ini adalah pengalaman hidupnya yang tak habis-habis untuk diceritakan. Beberapa kali kami mau pamit selalu tertunda karena ada saja bahan cerita yang mengalir begitu saja tanpa disengaja. Termasuk pengakuannya kalau sekarang ia sedang meng “up grade” doanya. Maksudnya doa mendapat rumah sudah terwujud, maka dia berdoa yang lain yang lebih tinggi tingkatannya. Baru setelah istrinya mengingatkan kepada suaminya bahwa mereka punya janji keluar dengan anak-anaknya, percakapan antara kamipun berhenti. Masih dengan keramahannya ia melepas kami sampai di jalan raya depan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan pulang, saya dan teman masih beberapa lama memperbincangkan pertemuan kami barusan. Paling tidak bagi kami yang lebih muda, pengalaman bapak orang yang beberapa tahun di atas usia kami terebut layak menjadi bahan pelajaran dan renungan. Bukankan setiap perisitiwa dari seseorang bisa melahirkan hikmah bagi orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya peribadi ada dua hal menarik yang bisa menjadi pelajaran. Pertama adalah kekuatan doa, sementara hal kedua yang menarik adalah konten (isi) dari doa tersebut beserta sejarah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“kemunculannya”&lt;/span&gt; sebagai perwujudan konsep diri orang itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebagai seorang muslim sangat meyakini bahwa seluruh alam seisinya merupakan milik Allah swt dan berada di dalam gengamanNya. Tidak ada satu peristiwapun yang luput dari campur tangan Allah swt. Seluruh kebaikan, ujian, cobaan dan bencana yang menimpa seseorang pasti masuk dalam rencana Allah swt. Maka sudah sewajarnya kalau setiap manusia memberikan penyembahan dan pengabdian terbaik kepadaNya. Hanyalah orang-orang yang sombong dan tidak tahu diri kalau kemudian menyadari hal itu masih saja menolak untuk taat dan patuh untuk melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi laraganNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan ke Maha Kuasa an Allah swt beserta segala sifat keagunganNya merupakan dasar bagi seorang muslim untuk mengantungkan seluruh harapannya. Setelah melaksanakan segala daya dan upaya berusaha memenuhi hajatnya, maka langkah selanjutnya adalah memohon bantuan kepada Pemilik alam raya ini untuk mewujudkan keinginannya. Itulah doa; permintaan dan permohonan kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada prasyarat-prasyarat khusus agar doa seseorang dikabulkan. Mulai dari rizqi yang halal yang ia makan, ibadah dan amal sholeh sebagai wujud ketaatan bagian pelaksanaan doa itu sendiri harus menunjukkan kesungguhan dan penuh harap kepada Allah swt. Di tambah dengan sebuah kesadaran terkabul tidaknya sebuah doa adalah hak prerogatif Allah swt dan semua pasti mengandung hikmah serta ibrah bagi yang menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau membaca kisah-kisah orang sholeh pada zaman dulu maupun sekarang, kita akan banyak menemukan betapa kekuatan doa mampu mengubah jalannya kehidupan seseorang. Tidak hanya seorang manusia saja, bahkan tidak sedikit pula satu masyarakat, bangsa maupun peradaban berubah karena satu doa yang dimunajadkan di kabulkan Allah swt. Begitulah kemenangan Rasulullah saw dalam perang Badr, ataupun kehancuran yang menimpa kaum nabi Nuh, kamu Tsamud, ‘Aad dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua yang cukup menarik adalah konten (isi) doa sendiri. Seseorang boleh minta apa saja kepada Allah swt; Kesehatan, kecukupan, keberkahan rizqi, tambahan ilmu, juga kekayaan. Paling tidak sebisa mungkin kita mengambil doa-doa yang dicontohkan Rasulullah saw sebagai rujukan. Kalaupun berdoa dengan bahasa dan keinginan sendiri juga tidak apa-apa karena Allah swt tentu saja mengetahui seluruh keinginan hambaNya baik dilisankan maupun masih terbersit di dalam pikiran dan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah keterkaitan antara doa yang seseorang panjantkan dengan karakter dirinya. Rasulullah saw selalu memintakan kebaikan untuk umatnya. Kondisi umat Islam mendapat prioritas lebih dalam doa beliau. Rasa tanggung jawab yang besar terhadap nasib umatnya setelah kehidupan beliau dan hari kiamat sering membuat beliau berlama-lama dalam doanya sambil mengucurkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita saat ini?  Tingkatan iman kita yang belum tinggi serta keterikatan yang kuat dengan dunia memang membuat doa yang terpanjatkan lebih banyak menyentuh aspek kepentingan pribadi. Keinginan-keinginan yang muncul dalam diri karena tuntutan kehidupan sosial lebih sering mengalir dari lisan kita. Tentu saja tidak masalah apapun yang kita pinta selama itu membawa kebaikan bagi agama dan akhirat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan doa minta rumah besar seperti pengalaman rekanan teman saya di atas? ataupun permintaan-permintaan lainnya yang berupa materi dan terkesan materialistik? Kalau hal itu memang membawa kebaikan bagi diri dan agamanya, juga terjaga keihlasannya dalam beribadah dan beramal tidak masalah dimintakan kepada Allah swt. Meskipun nampaknya sebagian orang tidak menyepakati pendapat ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-7171567592201748850?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/7171567592201748850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/07/keinginan-doa-dan-maslahat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7171567592201748850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7171567592201748850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/07/keinginan-doa-dan-maslahat.html' title='Keinginan, doa dan maslahat'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-5094701438041565023</id><published>2009-06-25T09:11:00.003+07:00</published><updated>2010-02-26T19:41:00.211+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umat'/><title type='text'>Islam Yes, Partai Islam No?</title><content type='html'>Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan di atas (tanpa tanda tanya) muncul sebagai wacana di kalangan umat Islam pada awal dekade 70-an. Ungkapan itu muncul dari seorang Nurkholish Majid dan berhasil mengagetkan wajah umat Islam Indonesia, khususnya kaum pergerakan. Nurkholish Majid pada awalnya adalah sosok yang digadang-gadang untuk meneruskan kiprah tokoh perjuangan umat Islam Indonesia M Natsir sehingga mendapat julukan Natsir muda, namun harapan itu gagal terwujud. Sepulang dari studi di Amerika menjadi awal gerakannya menarik gerbong paham sekulerisme di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan ini dilontarkan oleh Nurcholis Madjid dalam wacana “sekularisasi”. Ketika itu, Cak Nur menganggap partai-partai Islam terlalu dipuja-puja, bahkan menjadi sesuatu yang sakral bagi sebagian kalangan muslim. Dia kemudian menawarkan tradisi baru bahwa dalam demokrasi umat Islam yang tak harus bersatu dalam organisasi berlandaskan keyakinan. Menurutnya persatuan umat bisa lebih diletakkan kepada konteks yang lebih luas yaitu kebangsaan. Nurkholis mengambil contoh ketidak berhasilan Masyumi menyelesaikan persoalan-persoalan negara ketika mereka mendapat kesempatan memimpin negara.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Paham Cak Nur itu kemudian menyebar dan mendapat dukungan dari banyak orang. Terlebih statusnya sebagai pentolan para pengasong ide-ide terlarang sipilis membuat tesis tersebut menjadi konsep hidup para pengikutnya. Tesis inilah yang dijadikan pemerintah ketika itu sebagai acuan dalam memberangus politik Islam. Ali Murtopo yang sedang jaya memanfaatkan untuk kepentingan kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah pemerintah orde baru terus menerus mempersempit ruang gerak politik umat Islam dengan melakukan intervensi ke dalam tubuh parpol dan ormas Islam. Hampir tidak ada ormas Islam yang luput dari campurtangan pemerintah, baik dalam pemilihan pengurus, perumusan kebijakan, menjustifikasi semua keinginan pemerintah. Dan siapa yang berani ber"oposisi" dalam tubuh ormas itu akan menghadapi resiko berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan itu muncul dalam lintasan pikiran saya kembali hari-hari ini menjelang pilpres juli mendatang. Tentu saja hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari sepak terjang partai-partai yang menjadikan Islam sebagai azas gerakan politiknya atau dakwah sebagai icon kampanyenya. Termasuk juga partai-partai yang mempunyai basis massa dan mengaku sebagai corong umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat, membaca dan mendengar segala gerak-gerik dan ubet para petinggi partai Islam sekarang, layak kita khawatir sikap apriori sebagain umat  terhadap mereka muncul. Orang-orang yang seharusnya memperjuangkan kepentingan umat secara umum ternyata sebagian besar (asumsinya masih terdapat orang-orang yang lurus) sudah melenceng dari jalan yang benar. Pernyataan dan wacana yang dibangun masing-masing mereka kental sekali dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya. “Kami dapat apa?”  pertanyaan tersebut menjadi tema sentral sebelum mengambil kebijakan partai dalam kerangka bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi para anggota dewan dari partai-partai Islam yang seharusnya memperjuangkan aturan atau undang-undang untuk kemaslahatan umat, ternyata jauh juga dari harapan. Berita yang santer terdengar dari senayan tentang politisi Islam menunjukkan partisipasi sebagian mereka dalam kasus-kasus korupsi, suap, perbuatan asusila dan pelanggaran-pelanggaran kode etik lainya. Nampaknya amanah dari umat yang memilih mereka semakin lama semakin tercederai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealisme yang mulai luntur membuat sebagian mereka tidak masalah kalau harus mengorbankan ajaran dan nilai agama asalkan mendapat kedudukan yang diinginkan. Maka dengan alasan maslahah, keselamatan/kelanjutan dakwah dan ketaatan kepada para pemimpin jama’ah serta umat dipaksa mengikuti keputusan yang mereka ambil. Segala nasehat, saran dan kritik tidak lebih dari sekedar nyanyian yang boleh saja didengar tapi tidak harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahwat kekuasaan sungguh telah berada pada hati dan pikiran sebagian pemimpin umat. Namun dengan cerdik supaya tidak kasat mata, mereka bungkus dengan dalih untuk kelanjutan dakwah dan kemenangan Islam. Sayangnya umat sudah semakin sadar dan mampu membaca situasi yang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian dan konsep politik atau siasah dalam Islam sangat berbeda dengan pengertian serta konsep yang digunakan oleh orang-orang non Islam. Politik dalam Islam mengarahkan kegiatan ummat kepada usaha untuk mendukung dan melaksanakan syari'at Allah melalui sistem kenegaraan. la bertujuan untuk menampilkan segala sudut kesempurnaan aturan Islam melalui satu institusi untuk mengatur dan melaksanakan undang undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain tujuan sistem politik Islam ialah membangun sebuah sistem pemerintahan dan kenegaraan yang tegak untuk melaksanakan seluruh hukum syari'at Islam. Kepentingan pribadi dan kelompok berada di bawah kepentingan syariat dan ummat. Kekuasaan menjadi sarana untuk mengawasi pelaksanaan hukum-hukum Islam dalam kehidupan warga negara secara keseluruhan. Pada porsi ini fungsi Islam sebagai rahmatan lil’alamin terlihat lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran para elit partai Islam, partai dakwah, partai bermassa umat Islam dan partai-partai yang berlabel Islam lainnya mutlak diperlukan segera muncul saat sekarang. Kedewasaan mereka diharapkan mampu untuk mengembalikan esensi aktifitas partai dalam kerangka memperjuangkan Islam sekaligus mengembalikan kepercayaan umat kepada mereka. Jika tidak mungkin akan semakin banyak umat yang bergabung ke dalam barisan orang lain sambil berteriak-teriak: Islam Yes, Partai Islam No Way.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-5094701438041565023?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/5094701438041565023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/islam-yes-partai-islam-no.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5094701438041565023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5094701438041565023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/islam-yes-partai-islam-no.html' title='Islam Yes, Partai Islam No?'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1034800078477081342</id><published>2009-06-23T12:22:00.003+07:00</published><updated>2010-02-26T19:41:24.415+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>tanggung jawab terhadap masa lalu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu berarti waktu atau saat yang telah lewat dalam hidup seseorang, lingkungan, bangsa, kaum, umat dan juga peradaban. Karena masa lalu maka tidak bisa diulang, paling-paling yang bisa diperbuat adalah mengenangnya sambil tersenyum, tertawa, sedih ataupun menyesal. Kalau mau sedikit lebih serius barangkali melihat kembali sebagai bahan renungan sekaligus evaluasi untuk perbaikan ataupun juga bahan pembelajaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ibrah)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam ada anjuran bagi kaum muslimin untuk melihat ke belakang sebagai bekal membuat prestasi masa-masa berikutnya sehingga selamat dunia akhirat. Allah swt menekankan perintah tersebut di dalam surat al-Hasyr ayat 18; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“wahai orang-orang Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat masa lalu kita juga bisa mengukur diri sampai dimana perjalanan yang telah terlewati. Apa yang telah kita lakukan dengan umur kita berapapun sekarang yang telah Allah swt berikan kepada kita. Layakkah kemudian kita mengaku sebagai hamba yang taat karena kepatuhan kita untuk menekuni jalan yang Ia perintahkan kita lewati dan menghindari arah yang Ia larang untuk ditapaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalu juga bisa menjadi salah satu sarana mengendapkan bibit-bibit kesombongan dan keangkuhan nafsu sendiri. Ketika kita sedang merasa lebih dari orang lain karena kekuatan fisik, melimpahnya kekayaan, banyaknya pasukan ataupun empuknya jabatan, ingatlah mereka-mereka yang nama-namanya dan jejak-jejak ucapannya tertulis dalam buku sejarah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa membayangkan kebesaran kaum Tsamud, ‘Aad, Fir’aun ataupun Namrud. Dimana mereka sekarang? Tidak ada yang tersisa kecuali tempat yang pernah mereka singgahi atau tinggali semasa hidupnya. Begitulah Allah swt memusnahkan orang-orang yang enggan dan menyombongkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”&lt;/span&gt; (An Nahl:36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun juga mengingat kebesaran para sahabat Rasulullah saw, para khalifah dan pemimpin Islam seperti Sholahuddin al-Ayubi, Thariq bin Ziyad, Abdurrahman al-Ghafiqi dan sederet nama besar lainnya. Bandingkan dengan diri kita? Layakkah masih berbesar hati mengagungkan diri sendiri? Jauh rasanya mengukur prestasi kita untuk umat dengan jerih payah mereka menyebarkan dakwah Islam ke delapan penjuru mata angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tapi apakah hanya sebatas itukah hubungan kita dengan masa lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu ada kesempatan ngobrol dengan orang-orang dari masa lalu saya. Kami pernah bersama-sama belajar tentang kehidupan dalam kurun waktu tertentu. Usia yang lebih tua ketika itu membuat sebagian mereka juga belajar kehidupan dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perjalanan waktu, merekapun menyebar ke semua arah kehidupan. Segala warna dunia bercampur menjadi satu. Bagi yang kuat memegang prinsip kehidupan, pergiliran zaman tidak membuat mereka lupa diri dengan identitas sebagai seorang yang memegang panji kebenaran Islam. Perpindahan tempat, teman dan aktifitas tidak mengubah keyakinan yang telah tertancap dalam di sanubari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan berbeda dialami sebagain lain dari mereka. Gemerlap dunia yang hadir mengelilingi masa muda mereka teramat berat untuk dilawan. Prinsip dan keyakinan mungkin masih kuat bersemayan di dada, tapi rasa keberpihakan nampaknya mulai susut. Paling tidak ada tiga indikasi keberpihakan seseorang terhadap sesuatu; ucapan, penampilan (atribut) dan keaktifan dalam kegiatan. Ironisnya, ketiga parameter tersebut bernilai negatif semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ngobrol itulah kemudian salah seorang sambil nguyonan mengatakan bahwa anak-anak yang tidak konsisten dengan jalan yang dulu mereka tempuh itu masih tanggung jawah saya. Atau paling tidak ada peran yang saya lakukan sehingga mereka begitu. Dengan guyonan pula saya menjawab tuduhan tersebut sembari membela diri. Diskusipun melebar ke kanan dan ke kiri, menyentuh semua sudut masa lalu dan nasib sebagian mereka di masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bercanda dan kami masih berjam-jam bercengkerama di bawah pohon trembesi sambil menyaksikan anak-anak kecil bermain futsal, celetukkan di atas terekam dengan baik dalam memori saya. Lebih jauh hal itu patut menjadi bahan renungan untuk perbaikan tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat sebuah sabda junjungan umat Rasulullah saw tentang keberlangsungan pahala ataupun dosa akibat perbuatan kita yang diikuti orang lain. Beliau saw bersabda : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petuah itulah yang menjadi penginggat kita untuk berhati-hati ketika mengajak atau mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Kebaikan yang kita sarankan berbuah kebaikan, begitu pula kemaksiatan yang kita setujui melahirkan dosa dan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya kalau kita membaca literatur Islam masa lalu tentang pendidikan khususnya para pendidik, pastilah tercitra kehebatan dan kemuliaan seorang guru. Begitu banyak prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mengajar. Baik terkait dengan kualifikasi keilmuan, akhlaq-karakter sekaligus metodologi pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula murid atau peserta didik. Mereka adalah manusia-manusia yang disiapkan untuk meniti jalan ketuhanan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;salik rabbaniyyah&lt;/span&gt;). Adab adalah sesuatu yang mutlak harus melekat dalam diri mereka karena bersama dengan tawadu’ kedua aspek tersebut merupakan hiasan ilmu. Keberkahan ilmu berjalan seiring dengan keridho’an para guru dan jauhnya dari melakukan maksiat kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membandingkan aplikasi konsep tersebut pada masa sekarang dengan masa keemasan peradaban Islam memang teramat jauh. Pondasi tauhid yang kokoh menjadi semakin perkasa dengan keagungan akhlaq dan ketinggian ilmu kaum muslimin ketika itu. Namun paling tidak ada semangat kita untuk meniru hal-hal yang bisa kita kerjakan saat sekarang. Ada sebuah pepatah Arab yang layak menjadi tambahan motivasi kita: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Serupailah orang-orang terhormat, jika kalian tidak bisa sama persis seperti mereka. Karena menyerupai orang-orang terhormat itu adalah kemenangan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya hanya mampu berdoa kepada Allah swt untuk mengampuni semua kesalahan-kesalahan yang telah saya perbuat, khususnya ucapan, contoh ataupun nasehat yang saya sampaikan kepada orang lain jika itu salah. Termasuk juga bagi orang-orang yang pernah mendapatkan ucapan, contoh ataupun nasehat yang saya sampaikan salah semoga mereka memaafkannya. Meski terkesan apologi namun bukankah manusia memang tempatnya salah dan lupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya saya akan merasa bahagia dan bersyukur apabila ada sebagian kecil dari apa yang telah diperbuat pada masa lalu menjadi amal sholeh di hadapan Allah swt. Rasulullah saw bersabda bahwa jika mati anak Adam mata terputuslah semua hubungan kecuali tiga perkara; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shodaqoh jariyyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan&lt;/span&gt;. Betapa beruntungnya kalau ketiga-tiganya kelak dapat saya raih. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amiiiiin&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1034800078477081342?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1034800078477081342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/tanggung-jawab-terhadap-masa-lalu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1034800078477081342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1034800078477081342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/tanggung-jawab-terhadap-masa-lalu.html' title='tanggung jawab terhadap masa lalu'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2566685609653637308</id><published>2009-06-19T17:18:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:42:06.718+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>Hidup itu (memang) masalah dalam memilih</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini ada satu berita cukup penting di lingkungan saya yang ternyata saya terlambat mendengarnya. Seorang teman bercerita bahwa salah seorang sahabat saya telah memutuskan untuk melanjutkan hidup dan kehidupannya di tempat lain. Kami cukup lama bergaul sehingga wajar kalau saya terkejut mendengarnya. Sahabat saya itu telah memilih apa yang terbaik menurutnya bagi diri dan keluarganya. Semoga pilihan itu benar dan mendapat ridho dari Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang masalah dalam memilih. Setiap saat kita dipaksa atau terpaksa memilih satu diantara dua atau banyak pilihan. Dari mulai memilih makanan, baju, pasangan hidup, sekolah, termasuk cara dan tujuan hidup seseorang. Setiap pilihan pasti menimbukan konsekuensi. Akibat dari pilihat tersebut bisa menyenangkan, tidak jarang juga menyedihkan. Namun karena sudah dipilih, maka apapun akibat yang terjadi harus diterima dengan ikhlash dan lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a02.yimg.com/image/fb5e0e4763650d7e"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 130px; height: 97px;" src="http://thm-a02.yimg.com/image/fb5e0e4763650d7e" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Persoalan yang harus disiapkan barangkali berupaya maksimal sehingga tidak melakukan kesalahan dalam memilih. Kesalahan dalam memilih biasanya berawal dari kekeliruan menganalisa permasalahan dan solusi-solusi yang tersedia. Oleh sebab itu ketelitian dan kecermatan dalam menganalisa persoalan mutlak diperlukan sehingga tidak ada penyesalan di belakang. Bahkan seandainya salah memprediksi akibat yang muncul sekalipun, penyesalan tidak akan sebesar ketika pilihan itu hanya dilakukan sambil lalu tanpa melalui perhitungan yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lalu bagaimana supaya tidak salah memilih?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan pertama tentu saja mengenali piihan-pilihan itu dengan baik. Semakin banyak pilihan yang tersaji tentu membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali masing-masing. Maka faktor kesabaran berperan dalam fase ini. Kalau kita tidak sabar, bisa jadi aspek emosional yang lebih berperan. Karena ingin cepat selesai, tidak berfikir akibat jangka panjang dari pilihan yang diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengenali secara baik pilihan-pilihan yang tersaji di depan kita, maka perlu dilakukan analisa-analisa akibat dari masing-masing pilihan. Dalam beberapa persoalan, kita harus mencoba membuat banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi tentu. Bisa saja membuat 10 kemungkinan dari satu pilihan yang akan diambil. Jangan pernah hanya membuat satu kemungkinan akibat dari satu pilihan yang akan diambil karena ha tersebut akan membuat persiapan kita tidak maksimal ketika ternyata akibat dari pilihan yang kita ambil jauh dari prediksi yang kita buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah selanjutnya adalah menentukan pilihan. Dalam menentukan pilihan maka perhatikan mana alternatif yang paling besar efek positifnya dan paling kecil memberikan dampak negatif bagi kita secara pribadi, orang lain, lingkungan dan lingkup yang lebih besar. Barometer yang dipergunakan sebagai standard adalah pedoman hidup kita yaitu al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Dengan kata lain acuannya adalah apakah pilihan ini mendapat ridho dari Allah swt dan tidak bertentangan dengan contoh Rasulullah saw?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sebuah keputusan bijak kalau kemudian menjadikan hati nurani sebagai patokan dalam memilih. Jika orang tersebut baik imannya, ibadahnya dan juga akhlaq perbuatannya mungkin hati nuraninya membawa kepada maslahat. Tetapi bagaimana kalau dia adalah seorang yang tidak beragama, nafsu mejadi pendorong geraknya dan maksiat adalah amaliahnya. Tentu orang bertipe begini hati nuraninya mendorongnya untuk mengikuti kebiasaan yang ia jalani setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam memilih sesuatu (khususnya masalah-masalah yang besar) menjadikan Allah swt dan RasulNya sebagai patokan, tentu saja seseorang akan melibatkan Allah swt sejauh mungkin. Ia pasti akan meminta petunjuk melalui sholat istikharah sebagai media memohon petunjuk kepada Allah swt. Harapannya tentu saja apapun pilihan yang kita ambil melahirkan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap itu pula akan menimbulkan efek berikutnya; tawakal. Berupaya menerima apapun konsekuensi yang diterima karena telah memilih. Kondisi hati yang selalu berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah swt. Tidak ada penyesalan berkepanjangan atau bahkan umpatan atas segala hal yang terjadi. Dengan penuh iman dan kesadaran menyadari apapun yang terjadi tidak pernah lepasa dari qodho dan qodar Allah swt. Takdir adalah wilayah Allah swt sebagai Pemilik Alam semesta beserta isinya. Wilayah manusia adalah merencanakan, melaksanakan sebaik mungkin, berdoa dan tentu saja menerima hasil dari perbuatan yang telah dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam kamus orang beriman, kondisi putus asa yang sangat berat tidak muncul dalam hidupnya. Apapun yang diperbuat selama itu benar dan baik balasannya pasti juga baik. Kalau balasan di dunia tidak diperoleh, ada hari pembalasan tempat semua amal ditampakkan dan dikembalikan kepada para pemiliknya. Itulah diantara salah satu hikmah meyakini kebenaran hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2566685609653637308?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2566685609653637308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/hidup-itu-memang-masalah-dalam-memilih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2566685609653637308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2566685609653637308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/hidup-itu-memang-masalah-dalam-memilih.html' title='Hidup itu (memang) masalah dalam memilih'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2769902876102369219</id><published>2009-06-14T13:48:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:42:45.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realitas'/><title type='text'>pelajaran dari Iran</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari yang lalu berlangsung pemilihan presiden di Republik Islam Iran. Incumbent Presiden Mahmud Ahmadinejad kembali terpilih sebagai presiden Iran untuk periode empat tahun kedepan. Inilah pemilu terpanas di Iran sejak pecahnya revolusi Islam yang dipimpin Khomeini pada tahun 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam komentar muncul. Tentu saja negara-negara barat yang pro Israel tidak menyukai kembali berkuasanya Ahmadinejad di Iran. Gaya retorika Ahmadinejad yang ceplas ceplos memang membuat orang yang terkena kritikannya bisa langsung panas kepala dan hati. Tetap saja kita tidak membenarkan konsep teologi kaum syiah, namun kita tetap merasa lebih bisa menerima Iran dipimpin seorang Ahmadinejad daripada kompetitornya Mousavi yang cenderung liberal dan pro barat.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan berikut tentang pemilihan presiden di Iran saya kutip dari &lt;a href="http://www.antaranews.com/"&gt;ANTARA News&lt;/a&gt;. Ulasannya cukup menarik dan bisa menjadi pelajaran bagi rakyat Indonesia menjelang pemilihan presiden Juli mendatang. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a02.yimg.com/image/10983a9ad0b53ddc"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 118px; height: 140px;" src="http://thm-a02.yimg.com/image/10983a9ad0b53ddc" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mahmoud Ahmadinejad (ANTARA/Reuters/Raheb Homavandi)&lt;br /&gt;Jakarta (ANTARA News) - Elite demokrasi maju dan terutama pakar serta media Barat, acap mengesampingkan nilai-nilai lokal demi kelompok yang diidentifikasi tengah membawa nilai-nilai yang diyakininya sebagai resultante dari prinsip yang berlaku global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taruhlah resultante itu pandangan liberal atau imitasi gaya hidup global yang mendahului keperluan memperkuat fondasi lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu Iran yang dimenangkan pemimpin garis keras Mahmoud Ahmadinejad mengajarkan hal itu, disamping menjadi satu materi kuliah penting bagi demokrasi berkembang manapun di dunia, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu Iran mengajarkan, jangan pernah mengabaikan realitas lokal hanya karena menganggap nilai lokal telah tersisih oleh modernitas. Penyangkalan lokal itu misalnya tercermin dari prilaku liberal kaum perkotaan dan penepisan simbol atau atribut sosial yang melekat lama dalam masyarakat karena dianggap kuno atau puritan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Abbas Barzegar --seorang akademisi AS keturunan Iran dalam Guardian (13/6)-- ini diantaranya mengungkapkan penyangkalan lokal itu yang berujung pada kekalahan kubu yang acap diatributi pers Barat sebagai kaum reformis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut sadurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berada di Iran, tepatnya seminggu, guna mengikuti pesta demokrasi pada Pemilu Iran 2009. Semenjak saya tiba di sana, hanya sedikit di negeri ini yang ragu bahwa calon incumbent Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang provokatif ini bakal memenangkan Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopir taksi yang menyertai saya mengingatkan bahwa Si Presiden telah mengunjungi semua provinsi di Irak dua kali dalam empat tahun terakhir ini. "Iran itu bukan (hanya) Teheran," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menanyai para pendukung (Mir Hossein) Mousavi, apakah tokoh usungan mereka itu benar-benar akan meraih dukungan tidak hanya di ibukota (Teheran), mereka mengutarakan jawaban-jawaban optimistis gaya Obama seperti, "Ya, kita bisa," "Saya kira begitu," "Jika anda memilih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang menghantui media internasional bahwa "Bagaimana bisa seorang Mousavi kalah?" tampak tak begitu menjadi urusan Komisi Pemilihan Umum Iran dan itu tidak lebih dari persepsi keliru selama ini yang menolak memahami peran agama di Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kemungkinan pemilu curang tetap ada dan orang mesti menunggu sampai pekan-pekan mendatang untuk melihat bagaimana tuduhan itu dapat dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi orang semestinya ingat bahwa dalam tiga dekade Pemilu Presiden, tuduhan kecurangan jarang sekali dialamatkan ke penghitungan suara. Pemilu di sini secara khusus dikendalikan dengan cara membatasi gerak-gerik kandidat atau menutup media massa kelompok oposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lagi, dalam pemilu kali ini, ada dua badan pengawas pemilu bentukkan pemerintah yang terpisah yang memungkinkan saksi semua kubu bisa mencegah terjadinya kecurangan massal dalam pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesangsian atas kemenangan Ahmadinejad yang dituduh pendukung Mousavi sebagai bukti adanya kecurangan oleh negara, seyogyanya selaras dengan ketidakpercayaan sama terhadap merajalelanya korupsi yang berlangsung terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sampai ada bukti meyakinkan yang bisa membenarkan tuduhan-tuduhan oposisi, maka kita perlu melihat alasan lain yang menjelaskan bagaimana begitu banyak orang tersihir oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi seharian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh yang diperhatikan media internasional, tampaknya hanya wangsit yang layak diberitakan dibalik kemenangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa para pendukung Mousavi telah membuat jalanan kota Teheran macet selama berjam-jam setiap malam sepanjang pekan lalu, padahal itu hanya terjadi di bagian utara ibukota yang terkenal lebih makmur. Para wanita menanggalkan hijabnya dan anak-anak muda berjingkrak di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin malam lalu setidaknya 100.000 pendukung sang mantan perdana menteri (Mousavi) membuat rantai manusia di sepanjang kota Teheran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa jam sebelumnya, saya juga menghadiri parade massal pendukung sang incumbent yang kurang diperhatikan pers Barat. Jumlah mereka luar biasa banyak, bahkan tidak pernah terjadi sebelum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan minimal jumlah massa yang mengikuti pidato kampanye Ahmadinejad saat itu adalah 600.000 orang (bahkan banyak yang yakin mencapai satu juta orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari loteng gedung, saya menyaksikan para wanita berjilbab dan pria-pria berjanggut, dari segala umur, berduyun-duyun berkerumun bagai aliran lava gunung berapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekeliruan dalam menaksir secara tepat hal-hal yang berkaitan dengan Iran, bukan sekali ini terjadi. Ketika revolusi Islam 1979 berhasil menghancurkan kediktaturan militer negeri itu yang merupakan sekutu terkuat Amerika di Timur Tengah, hanya sedikit pakar di luar Iran yang memperkirakan bahwa kaum revolusioner Islam akan tumbuh menjadi satu kekuatan utama di Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di Iran sendiri, cendekiawan sekuler seperti Jalal-e-Ahmad, pengarang buku "Occidentosis" yang terkenal itu pun telah memperkirakan rejim (Shah Iran) bakal tumbang di tangan gerakan revolusi Islam, satu dekade sebelum takdir tahun 1979 itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsuf Prancis pemberontak, Michel Foucault, juga secara meyakinkan telah meramalkan peristiwa itu, karena dia merekamnya dari dekat, dalam jarak yang para pengagumnya pun enggan melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak revolusi Islam Iran, para akademisi, intelektual dan para ahli telah meramalkan bakal runtuh cepatnya rejim (Islam Iran). Sampai sekarang ramalan mereka itu tak berbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anomali-anomali seperti itu hanya bisa dijelaskan oleh sejarah. Iran adalah masyarakat yang sangat relijius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nepotisme, otokrasi dan penindasan Shah Iran yang berdekade-dekade diperangi kaum komunis dan liberal gagal diakhiri, tetapi adalah serangan Shah terhadap kemapanan kalangan relijiuslah yang mengantarkan kejatuhan Shah yang terjadi nyaris hanya dalam semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu rakyat Iran menyalurkan impian-impiannya melalui kotak suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1997 setelah asap perang Iran-Irak berhenti dan negara itu melewati satu dekade masa stabil, para pemilih berbondong-bondong memberi dukungan pada ulama yang mantan presiden --Mohammad Khatami-- dalam menghadapi lawannya Natiq Nouri, anggota senior parlemen Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wartawan Barat menyebut momen itu sebagai satu generasi yang terbelah; yaitu kaum muda liberal pecinta kebebasan melawan ulama-ulama tua konservatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pemilu saat itu sesungguhnya adalah pemilu untuk memilih kejujuran dan kesalehan (Khatami), melawan kekuatan yang dituduh korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini orang-orang sama yang dulu mendukung Khatami, menyalurkan suaranya untuk Ahmadinejad kemarin, padahal wajah Khatami menghiasai poster-poster kampanye kubu Mousavi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama hampir seminggu dorongan sosial anti korupsi, kerakyatan dan kesalehan relijius yang dulu melahirkan revolusi Islam tampak kembali di jalanan untuk dipungut lagi oleh rakyat Iran. Untuk sebagian besar rakyat negeri itu, Ahmadinejad adalah perwujudan dorongan-dorongan impian (tentang pemimpin anti korupsi, merakyat dan saleh) ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertamakali masuk ke kantornya, Ahmadinejad menolak mengenakan jas mahal, menolak meninggalkan rumah yang diwarisinya dari sang ayah, dan menolak mengendurkan retorika yang digunakannya untuk melawan mereka yang dituduhnya pengkhianat bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala secara terbuka dia menuduh mantan pesaingnya yang tanggal dari kekuasaanya, Ayatullah Ali Akbar Hashemi Rafsanji, sebagai singa terhadap revolusi, koruptur parasit dan membandingkan pengkhianatan Rafsanjani dengan pengkhianatan terhadap Nabi Muhammad SAW yang menyebabkan syiah dan suni bermusuhan selama 1.400 tahun, dia menawarkan rakyat satu tarikan (moral) yang beberapa generasi lamanya dimimpikan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rafsanjani membela diri melalui suratkabar pro-Mousavi, maka tamatlah riwayat kaum reformis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu Ahmadinejad bagai mengubah pemilu menjadi referendum untuk menentukan bagaimana sikap bangsa Iran terhadap prinsip asasi revolusi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan jalanan mereka berbunyi, "Matilah semua orang yang melawan Imam Tertinggi" yang kemudian diikuti ritual dan pepujian relijius khas syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan itu bukan tandingan semboyan ceria penuh semangat dari kaum muda Teheran utara, yang menyanyikan "Ahmedi-bye-bye, Ahmedi-bye-bye" atau "ye hafte-do hafte, Mahmud hamum na-rafte" (Seminggu, dua minggu, Mahmoud tidak mandi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sejak awal Mousavi memang ditakdirkan akan gagal, begitu dia berharap bisa menggabungkan energi terang antara kelas sosial atas yang liberal dengan kepentingan bisnis pedagang pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye lewat Facebook dan via sms pun tidak relevan dengan kaum pedesaan dan kelompok pekerja yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka, banyak sekali yang tidak mempunyai waktu untuk sekedar pergi ke cafe internet guna mengecek blog mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati Mousavi berupaya menarik kelas pemilih seperti ini, dengan cara mengupas masalah seputar inflasi dan kemiskinan, mereka malah memilih lawan Mousavi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, di masa mendatang, para pengamat (Barat) mesti mempelajari lebih dalam lagi masyarakat Iran sehingga diperoleh gambaran lebih dalam mengenai struktur negara ini yang sangat relijius organik, untuk kemudian disampaikan dalam narasi keniscayaan liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah aspek-aspek relijius unik Persia yang mengantarkan seorang sufi terusir berusia 80 tahun menjadi kepala negara 30 tahun lalu (Ayatullah Ruhallah Khomeini), kemudian ulama kharismatis Khatami 12 tahun lalu, lalu seorang putra pandai besi yang jujur --Ahmadinejad-- empat tahun silam, dan hal sama terjadi kemarin (Jumat 12/6). (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abbas Barzegar adalah kandidat PhD untuk studi keagamaan pada Universitas Emory, Atlanta, Georgia&lt;br /&gt;- Disadur ke dalam Bahasa Indonesia oleh Jafar M. Sidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2769902876102369219?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2769902876102369219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/pelajaran-dari-iran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2769902876102369219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2769902876102369219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/pelajaran-dari-iran.html' title='pelajaran dari Iran'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1769167690257458444</id><published>2009-06-12T07:16:00.002+07:00</published><updated>2010-02-26T19:43:06.637+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umat'/><title type='text'>Menyelaraskan “irama” umat Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap menjelang pemilu (pileg/pilpres), suara umat Islam selalu menjadi primadona. Jumlah kaum muslimin merupakan mayoritas di negeri ini sehingga wajar hal tersebut menjadi fenomena.  Sayangnya, sejarah selalu berulang, umat Islam senantiasa menjadi pendorong mogok mobil. Ketika mobil yang didorong sudah berjalan, umat Islam selalu ditinggal di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka sedang butuh, beribu ucapan menghibur, menyanjung dan mendukung program keumatan terlontar. Pakaian dan atribut keseharian merekapun didesain sedemikian rupa seolah-oleh mereka adalah orang-orang yang baik aplikasi nilai-nilai agamanya. Tokoh-tokoh umat mereka kunjungi untuk mendapatkan restu sembari menjanjikan hal-hal yang seakan-akan menguntungkan perjalanan umat untuk masa-masa berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun biasanya janji tinggal janji. Setelah dukungan mereka dapatkan dan jabatan diperoleh, sebagian besar lupa apa yang telah diucapkan sebelumnya. Boro-boro memperjuangkan nasib umat, tidak jarang mereka justru menjadi penghalang aksi-aksi umat Islam pada beberapa isu yang bersingungan dengan kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal itu selalu terjadi dan terkesan kita malas belajar dari sejarah yang sudah menyajikan cerita dengan lakon yang sama? Satu diantara yang pasti adalah beragamnya kepentingan di kalangan umat Islam sendiri, khususnya para pemuka umat ini. Agenda masing-masing kelompok telah mengalahkan kewajiban umat untuk bersatu dan mengolkan pembumian syariah di nusantara tercinta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat warna pelangi politik Indonesia saat ini, kesimpulan di atas masih layak dipercaya. Meski beberapa partai mengusung simbol dan warna Islam, namun susah sekali rasanya melihat mereka duduk percaya membahas apa yang terbaik bagi umat. Sehingga umat akan tenang dan yakin siapa yang harus dipiih dan diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru sebaliknya yang terjadi, masing-masing kelompok mendukung jagonya masing-masing untuk menjadi pemenang. Beragam dalil dan alasan maslahat berhamburan dari tokoh-tokoh umat untuk membenarkan siapa yang mereka dukung. Bahkan terkadang alasan tersebut mengada-ada dan kelihatan tidak lucu. Ironisnya, tidak ada indikasi nyata salah seorang dari  jagoan mereka tersebut yang benar-benar akan memberikan kontribusi bagi perjalanan dakwah ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat sebuah paduan suara, jika menggunakan nada dasar sama akan melahirkan bunyi yang indah dan serasi. Sebaiknya kalau masing-masing orang daam kelompok paduan suara tersebut mengeluarkan suara sesuai selera mereka sendiri, maka suara yang muncul tidak jauh dengan beda dengan kebisingan di pasar atau terminal bis kota. Ironisnya, demikianlah kondisi umat umat kita sampai dengan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata untuk bersatu saja kita masih cukup susah. Tidak semua isu-isu keumatan bisa melahirkan sebuah suara yang sama. Kasus fatma MUI tentang rokok, kasus Ahmadiyyah dan beberapa kejadian lainnya menunjukkan rentannya terjadi perpecahan di kalangan umat dalam menyikapi satu persoalan tertentu. Lebih-lebih ketika bau jabatan, kekuasaan dan kucuran dana sudah ikut bermain. Perbedaan kepentingan dan keinginan membuat terjadinya perbedaan cara menyikapi sebuah peristiwa. Ujung-ujungnya sudah jelas, pemenangnya adalah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek lainnya yang nampak adalah citra kurang bagus umat ini. Muncul kesan bahwa tidak sedikit pemimpin umat ini mempunyai syahwat kekuasaan yang besar. Kalau sudah begitu maka pertanyaan dari masyarakat umum adalah apa bedanya tokoh agama dengan orang awam jika sama-sama berebut kekuasaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja kita beralasan bahwa pemimpin umat berebut kekuasaan tentu saja untuk kemajuan dan kebaikan umat, kalau orang awam tentu saja demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Namun apakah apologi tersebut memang begitu kenyataannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita baru berbicara dalam lingkup lokal; Indonesia. Padahal di seluruh dunia jumlah umat Islam milyaran dan tidak terhitung berapa banyak mereka bergabung dalam persatuan-persatuan umat Islam baik anggotanya sedikit, banyak maupun sangat banyak. Tentunya butuh energi lebih besar lagi untuk mempersatukan mereka semua dalam satu kesepakatan dan langkah perjuangan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang saya berfikir, apa memang harus menunggu kedatangan Imam Mahdi sehingga umat ini bersatu? Karena menunggu kesadaran dari setiap kelompok untuk mengorbankan ego dan ashobiyyah masing-masing nampaknya masih cukup sulit terwujud. Perlu seseorang dengan segala kelebihan manusiawinya untuk mengabungkan seluruh potensi umat sehingga menjadi kekuatan yang tangguh dan mengetarkan musuh-musuh Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang demikian maka kita harus memperbanyak berdoa supaya figur yang dijanjikan Rasulullah saw tersebut segera muncul. Dengan demikian persatuan umat untuk memperjuangan dien ini dalam satu barisan utuh dapat terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1769167690257458444?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1769167690257458444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/menyelaraskan-irama-umat-islam.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1769167690257458444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1769167690257458444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/menyelaraskan-irama-umat-islam.html' title='Menyelaraskan “irama” umat Islam'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-4363580732080074351</id><published>2009-06-05T21:34:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:43:36.917+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>anomali dalam kebaikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya baru mengenalnya setahun belakangan ini. Bagi saya, dia orang baik, pikirannya tidak neko-neko, sungguh-sungguh mengerjakan amanah yang diberikan kepadanya meskipun terkadang di luar kapasitas dirinya. Tambahan lagi, rasa iri dan cemburu dengan orang lain sangat jarang sekali keluar dari lisannya. Seakan-akan saya melihat tipe sosok orang jawa asli zaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beruntung mengenal dan sering berinteraksi dengannya. Pada saat zaman sudah mengukur segala sesuatu sepenuh hati dengan materi, orang itu masih bisa menjaga dirinya tidak larut dalam budaya tersebut. Keikhlasan, kesungguhan, kerja keras dan ketawakalan merupakan prinsip hidup yang berusaha ia pegang sebagai pesan dari orang tuanya. Terus terang saya banyak belajar dari orang ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejarah memang selalu melahirkan orang-orang yang anomali dengan kondisi umum lingkungan, masyarakat dan dunia secara lebih luas. Mereka hadir untuk memberikan nuansa lain dan menawarkan pilihan hidup lebih baik dari orang kebanyakan. Minoritas memang tidak mesti lebih baik dari mayoritas, tapi juga tidak mesti lebih buruk bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw juga adalah anomali bagi kehidupan jahiliyyah kaum dan masyarakatnya. Beliau berbeda dengan warga Makkah yang ketika itu terjebak dalam tingkah laku menghalalkan segala macam cara untuk memperoleh kekayaan, bergantung kepada kekuatan kosong berhala dan hubungan sosial yang sakit karena yang kuat (kaya) menindas yang lemah (miskin/budak). Beliau tampil untuk merubah dan merombak tatanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mustofa menawarkan peradaban tauhid sebagai pilihan hidup. Beliau mengajarkan kepada manusia kepada siapa seharusnya mereka sembah dan abdikan hidupnya. Dengan bimbingan wahyu Allah swt beliau ajak manusia untuk mencari nafkah dengan cara yang benar dan jujur.  Prinsip sosial berdasarkan azas cinta, kasih sayang dan persaudaraan beliau ajarkan kepada pengikutnya. Maka riba, perbudakan dan pembunuhan anak perempuan hanya tinggal kisah masa lalu yang kelam dan harus dikubur dalam-dalam di buku sejarah bangsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya beliau berteriak sendirian, lalu istri, anak asuh, pembantu dan sahabat terdekatnya mengikuti ajaran agung tersebut. Beliau dimusuhi, diboikot, diancam, dianiaya, diusir dan hampir dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukai seruan kebenaran. Beliau menerima itu semua dan menangungnya dengan suka rela. Tidak heran ketika malaikat gunung menawarkan kepada beliau untuk mengazab orang-orang yang mengusir dan melempari beliau hingga berdarah di Thaif, beliau menolak malah mendoakan kebaikan bagi generasi keturunan orang-orang tersebut. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Subhanallah!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duniapun tercengang karena ketika beliau meninggal, ratusan ribu sahabat beliau tinggalkan. Mereka  melanjutkan gerak dakwah Islam memberikan pencerahan kepada dunia dan manusia yang menghuninya. Selama tujuh abad berikutnya dunia berada dalam naungan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan hidup berbeda itu pula yang diambil salah seorang sahabat terdekat Rasulullah saw, Abu Dzar al-Ghifari. Sahabat ini selalu memanggil Rasulullah saw dengan sebutan Khalilii; kekasihnya. Sebuah panggilan yang menunjukkan cintanya kepada laki-laki mulia tersebut. Dan karena kecintaanya kepada Rasulullah saw itulah yang membuat ia hidup berbeda dari manusia lain pada zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar al-Ghifari tidak tahan melihat kehidupan kaum muslimin pada masa akhir hidupnya mulai bergelimang harta dan berlebih-lebihan dalam kepemilikan materi. Beliau tidak bisa untuk tidak bersuara mengkritik kebiasaan tersebut karena cintanya kepada para sahabatnya dan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya beliau bersuara lantang kepada masyarakat Syam, khususnya gubernur Syam, Muawiyyah bin Abu Sufyan. Sang gubernur yang dikenal cukup falmboyan merasa terusik dan terganggu, tetapi ia menyadari bahwa yang dihadapinya bukan orang biasa tetapi sahabat Rasulullah saw. Maka iapun mengadu kepada sang Khalifah ketiga Utsman bin Affan di Madinah tentang kesusahannya atas keberadaan Abu Dzar di wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Utsman yang terkenal lembut dan penyayang itupun kemudian meminta sahabatnya itu kembali ke Madinah tinggal di kota Nabi. Mendapat panggilan dari sahabat sekaligus khalifahnya, Abu Dzar langsung berangkat tidak menawar sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata iapun harus kecewa kedua kalinya. Di Madinah ia juga melihat beberapa orang mulai menumpuk-numpuk harta secara berlebih. Ia kembali tampil paling depan mengkritisi kenyataan tersebut. Banyak orang simpati dan mendukung sepak terjangnya. Akibatnya orang-orang kaya yang tersindir ucapan-ucapannya gerah dan mulai tidak menyukai kehadirannya di kota Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan yang ada, khalifah Utsman menyuruh Abu Dzar meninggalkan Madinah menuju Rabadzah. Ketika itu Rabadzah adalah sebuah dusun kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah. Beliau pun berangkat memenuhi perintah khalifah dan meninggal di tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya menangis sedih ketika suaminya menjelang meninggal ia tidak mempunyai kain kafan dan juga orang untuk membantunya mengubur jenazahnya. Namun Abu Dzar mengatakan bahwa kekasihnya Muhammad saw telah mengabarkan nasibnya, termasuk akan datangnya sekelompok orang yang akan menguburkannya di tempat ia meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang setelah Abu Dzar meninggal, lewatlah rombongan sahabatnya Abdullah bin Mas’ud di tempat tersebut. Beserta para sahabatnya, ia menguburkan jenazah Abu Dzar al-Ghifarri yang hanya ditunggui oleh istrinya saja. Abdullah bin Mas’ud pun berkata menyampaikan sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah zaman mencatat mereka. Berbeda tapi lebih normal. abnormal tapi justru lebih normal dari orang yang merasa normal. Namun orang-orang seperti itu lebih banyak tidak tercatat dalam sejarah manusia, apalagi mereka juga tidak membutuhkannya. Karena bagaimanapun adalah watak sejarah hanya mencatat peristiwa-peristiwa besar dan orang-orang besar saja. Prinsip sejarah yang sebenarnya telah berubah ketika Islam datang. Karena dalam Islam, seorang Bilal bin Rabah yang seorang budakpun tampil menjadi hero dan teladan bagi umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, tidak salah kalau memilih menjadi anomali bagi lingkungannya. Selama sikap yang berbeda itu lebih baik dan lebih benar dalam pandangan Allah swt dan Rasul-Nya. Jangan sebaliknya, justru di dalam lingkungan yang baik dan benar tidak enjoy dan merasa terasing. Kalau itu yang terjadi artinya yang salah bukan lingkungan, tapi diri sendiri sehingga langkah tepat dan bijaksana kalau segera bertaubat sungguh dan memperbaiki diri. Mumpung belum terlambat dan supaya tidak terlambat sehingga menjadi penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-4363580732080074351?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/4363580732080074351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/anomali-dalam-kebaikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4363580732080074351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4363580732080074351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/anomali-dalam-kebaikan.html' title='anomali dalam kebaikan'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-9099784148322292903</id><published>2009-06-02T23:21:00.004+07:00</published><updated>2010-02-26T19:44:17.004+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='realitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>kuliah menunda pengangguran?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seringkali saya berfikir kurang baik ketika sedang berkendara malam hari di jalan raya melewati beberapa warung, penjual makanan ataupun gerai-gerai kecil lesehan di pinggir jalan dekat kampus ataupun kos/kontrakan mahasiswa. Bisa dipastikan tempat tersebut akan penuh dengan para anak-anak muda – kalau tidak dikatakan mayoritas mahasiswa  - yang cangkrukan sambil minum kopi, ngobrol ngalor ngidul ataupun memetik gitar, juga main kartu. Kegiatan tersebut mereka lakukan mulai sore hari ketika tempat mangkal itu di buka sampai larut malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kalau melewati tempat-tempat persewaan PS ataupun warung-warung internet. Sebagian besar penuh oleh anak-anak muda pelajar dan mahasiswa dengan segala macam kesibukan yang dimainkannya. Meskipun ada juga sebagian yang membuka website tertentu yang cukup positif bagi perkembangan otak dan psikologinya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://images.duniahesti.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SGH-uwoKCsoAAHCKCzY1/IMG_0871.jpg?et=nLBmsfCTQEw9NMr,l5HZ,Q&amp;amp;"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 199px; height: 149px;" src="http://images.duniahesti.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/SGH-uwoKCsoAAHCKCzY1/IMG_0871.jpg?et=nLBmsfCTQEw9NMr,l5HZ,Q&amp;amp;" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Selalu muncul pertanyaan dalam diri saya; apakah mereka tidak belajar, mengerjakan tugas, membaca buku kuliahnya ataupun membaca buku-buku umum. Kalaupun tidak belajar, mengapa mereka tidak mengerjakan sesuatu yang menunjukkan identitasnya sebagai calon intelektual dan teknokrat yang mengedepankan efektifitas dan efisiensi waktu seperti diskusi ataupun aktif dalam kegiatan-kegiatan ekstra kampus ataupun non kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja keprihatinan itu berdasar kenyataan yang tidak bisa ditolak bahwa mahasiswa merupakan salah satu bagian terpenting dari elemen generasi muda. Kualitas mereka akan menentukan arah perjalanan bangsa ke depan. Sebagaimana sebuah sunnatullah transfer ataupun alih generasi akan terjadi dari generasi yang lebih tua kepada angkatan lebih muda. Siap tidaknya para penerima estafeta merupakan cerminan awal dari maju mundurnya masyarakat sebuah bangsa ataupun sebuah peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.sunan-ampel.ac.id/profile/images/mahasiswa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 150px;" src="http://www.sunan-ampel.ac.id/profile/images/mahasiswa.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada masa-masa di bangku kuliah sesungguhnya seorang mahasiswa harus mengasah semua potensi diri yang ia miliki. Pemikiran, skill, kepemimpinan, manajemen diri dan beragam kegiatan yang mengarahkan seorang mahasiswa lebih siap menapaki perjalanan hidupnya setelah lulus nanti. Kesiapan dalam arti kepribadiannya relatif matang, dewasa, amanah dan siap menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat, bukan sebaliknya menjadi bagian dari persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kalau perilaku sebagian mahasiswa seperti di atas, tentu harapan besar tersebut jauh panggang dari api.  Wajar pula jika kemudian ungkapan kuliah hanya menunda pengangguran muncul dan menjadi semacam hipotesa. Apa yang bisa diharapkan dari mahasiswa yang menghabiskan waktunya hanya sekedar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“just for fun”&lt;/span&gt;? Mereka bergantung dengan kiriman fulus dari orang tua yang mengalir lancar melalui rekeningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan mereka bawa ketika lulus nantinya? Selembar ijazah yang akan difoto copi sekian banyak sebagai tambahan lampiran untuk melamar pekerjaan. Pekerjaan apa yang akan mereka cari, geluti dan tekuni? Apa saja yang penting dapat kerjaan. Syukur-syukur pekerjaannya keren, tidak terlalu berat dan gajinya banyak. Wah…. enak donk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak dapat yang seperti itu bagaimana? Ya.. cari terus sampe dapat. Kalau tidak dapat juga? Mending jadi pengangguran tapi keren daripada mendapat pekerjaan yang tidak prestige.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang bekerja di sebuah lembaga pendidikan dan dia berada pada posisi SDM (kepegawaian) memiliki cerita yang menarik. Ia termasuk salah seorang yang menentukan diterima tidaknya calon pegawai atau karyawan baru di lembaga tersebut. Beberapa kali ia menemukan seseorang yang melamar sebuah pekerjaan tapi berbeda jauh dengan latar belakang jurusan ketika kuliah. Belum lagi sebagian dari para pelamar yang nota bene lulusan jenjang strata satu tersebut kualifikasinya pas-pasan, menghadapi wawancara nervous, dan tidak bisa memberikan solusi ketika disodorkan beberapa permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a03.yimg.com/image/ad132aae016c746c"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 144px; height: 106px;" src="http://thm-a03.yimg.com/image/ad132aae016c746c" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tentu saja tidak semua mahasiswa kita seperti itu. Masih sangat banyak dari mereka yang berkualitas, aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan memiliki karakter yang cukup baik. Semoga saja jumlah mahasiswa berkategori seperti itu terus bertambah dan dominan persentasenya di tengah derasnya godaan sekitar yang lebih mengajak anak-anak muda untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;easy going, easy life&lt;/span&gt;, dan istilah-istilah kebebasan serta kesenangan semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian istilah istilah kuliah menunda pengangguran merupakan sebuah tesis yang keliru dan perlu direvisi. Lebih jauh tentunya indeks kualitas manusia bangsa ini terangkat dan mereka bisa memberikan sumbangsih yang terbaik bagi agama, bangsa dan tentu masyarakat luas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semoga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-9099784148322292903?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/9099784148322292903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/kuliah-menunda-pengangguran.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/9099784148322292903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/9099784148322292903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/06/kuliah-menunda-pengangguran.html' title='kuliah menunda pengangguran?'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-7740435420659394791</id><published>2009-05-31T21:37:00.005+07:00</published><updated>2010-02-25T17:18:05.363+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umat'/><title type='text'>simbolisasi agama</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tema menarik dari “pemanasan” perang tema kampanye pilpres adalah masalah jilbab. Ada beberapa pihak yang tiba-tiba melempar wacana tersebut dengan membandingan pemakaian pakaian muslimah tersebut dari isteri para pasangan capres-cawapres. Termasuk juga salah seorang capres yang memang seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip sebuah kentongan di kampung yang dipukul dengan hitungan tertentu karena peristiwa tertentu, langsung saja beragam komentar segera bermunculan. Pro kontra terjadi, polemik berkembang; seru dan menarik untuk di simak. Tentu saja yang paling vokal dan kencang suaranya adalah orang-orang yang terlibat langsung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"perang"&lt;/span&gt; pilpres kali ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kaum muslimin, tokoh umat, tokoh ormas Islam dan aktifis dakwah pun berkomentar. Sayangnya, sebagian orang yang dikategorikan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;taat&lt;/span&gt;” beragama justru berusaha menetralisir wacana yang sedang berkembang tersebut. Termasuk dalam kelompok ini adalah partai-partai yang mengusung simbol Islam dan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sependapat dengan para jurkam capres tertentu yang menganggap isu tersebut sebagai black campaign. Menurut kelompok tersebut isu agama tidak layak masuk dalam wacana publik karena agama adalah urusan pribadi (privat). Mereka juga meminta pihak-pihak tertentu tidak membawa simbol-simbol agama tertentu ke ranah politik (publik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan singkat ini tidak bermaksud ikut memberikan komentar atas polemik masalah itu, terlebih sudah sepakatnya para ulama atas kewajiban jilbab bagi kaum muslimah. Hanya sedikit sengol sana senggol sini tentang hal-hal yang berbau sekulerisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah konsep sekulerisme. Sebuah faham yang memisahkan agama dengan dunia. Penganut ideologi ini akan sangat menentang apabila seseorang berusaha mengarahkan setiap masalah dengan cara pandang agama. Tentu saja sikap tersebut tidak bisa dilepaskan dari sejarah munculnya paham tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekulerisme muncul sebagai buah ketidakpuasan masyarakat, khususnya para kaisar di Eropa abad pertengahan terhadap dominasi gereja di tengah kehidupan sosial, masyarakat dan pemerintahan. Saking berkuasanya gereja (paus), tidak jarang para kaisar harus tunduk pada kemauan mereka. Termasuk yang tidak puas adalah para filosof, cendekiawan dan para pemikir Eropa masa itu. Terlebih sikap gereja semakin lama semakin tidak benar dan bertentangan dengan ideologi kristen sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu diantara yang kemudian menyulut kontroversi adalah terbitnya surat pengampunan dosa. Gereja sebagai wakil Tuhan akan mengampuni seseorang yang berbuat dosa apabila si pendosa membayar uang kepada gereja dengan standard yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan terhadap gerejapun muncul. Dukungan masyarakat banyak dan tentu saja para raja eropa membuat gerakan anti-gereja memperoleh kemenangan. Itulah awal lahirnya – istilah orang barat – renaisance (pencerahan) yang kemudian melahirkan revolusi perancis dan gerakan-gerakan kebangsaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu terdapat dua arus pemikiran yang berkembang di kalangan pemikir barat; sebagian bermaksud menolak sama sekali keberadaan agama beserta segala hal yang berkaitan dengannya, sebagian lainnya masih mengakui peran agama tetapi ingin memisahkannya dari masalah-masalah dunia. Hingga akhirnya pendapat yang kedua yaitu memisahkan peran agama dengan negara lebih dominan dan disepakati para cendekiaran serta tokoh-tokoh masyarakat barat waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kemudian pemisahan itu terjadi, barat memang mengalami kemajuan yang sangat luar biasa pesatnya dalam bidang keduniawiaan. Sementara dalam bidang spiritual mereka justru semakin kosong. Kemajuan ilmu pengetahuan yang tanpa plafon agama membuatnya tanpa rem. Akibatnya semakin maju peradaban duniawi mereka, semakin rusak moralitas dan akhlaq masyarakatnya. Ironisnya kebobrokan yang kemudian di ekspor ke negara-negara berpenduduk muslim itupun di terima dengan senang hati dan penuh kebanggaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide sekulerisme hanya ada di negara-negara barat yang kafir, dan lebih tepat untuk satu agama atau keyakinan yang hanya mengatur ritual peribadatan pemeluknya. Islam adalah sebuah ajaran yang megatur seluruh aspek kehidupan bagi para pemeluknya. Tidak hanya ibadah ritual saja yang menjadi perhatian, tetapi juga ekonomi, sosial, politik, pendidikan, militer, perdagangan dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam Islam itu iman (keyaknian) harus diucapkan dengan lisan, dibenarkan dengan hati dan dikerjakan dengan amalan-amalan. Bukan sekedar hanya diyakini saja karena akan melahirkan aliran kebatinan. Ataupun sekedar diucapkan dengan lisan saja. Ketiga aspek itu harus ada dalam diri setiap orang yang mengaku sebagai muslim dan sudah mengikrarkan kesaksian atas keEsaan Allah swt dan Rasulullah saw sebagai utusan Allah dan penutup para rasul sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika konsep sekulerisme diterapkan di negara-negara yang mayoritas beragama Islam tentu terjadi kepincangan-kepincangan. Hal itu terjadi karena ajaran-ajaran Islam tentang kehidupan tidak mungkin bisa diterapkan. Akibatnya ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist Rasulullah saw hanya akan menjadi bacaan tanpa ruh dan semangat jihad. Kedua pusaka kaum muslimin itu tidak lagi terlihat ampuh kekuatannya di tengah umat Islam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang memang di negara yang mayoritas warganya adalah umat Islam, konsep bernegaranya menganut ideologi sekuler. Mengharapkan hukum Islam landing dengan sempurna di negara ini tentunya relatif sulit. Perlu kerja keras dan perjuangan kaum muslimin yang merindukan tegaknya kembali peradaban Islam di muka bumi Indonesia untuk mewujudkannya bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan kaum muslimin dalam peristiwa hilangnya tujuh kata dalam piagam Jakarta merupakan awal dari kekalahan idologi Islam atas sekulerisme di bumi nusantara ini. Kekalahan yang mengakibatkan darah dan nyawa para syuhada seakan belum lengkap perjuangannya karena cita-cita menegakkan syariat Allah swt belum berhasil. Begitu pula upaya-upaya generasi-generasi selanjutnya melalui jalur politik, ormas dan dakwah belum menunjukkan secara jelas kapan kemenangan ideologi Islam akan tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian tidak ada dalam kamus para penggiat dakwah untuk kemudian surut mundur dan merasa kalah dalam perjuangannya. Terlebih tantangan kian hari kian besar. Muncul istilah-istilah baru yang semakin mengerogoti keimanan dan keIslaman umat hari-hari sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan orang-orang Yahudi dan Nasrani semakin gencar memberondong aqidah umat melalui ideologi pluralisme, liberalisme dan yang terbaru multikulturalisme. Itu semua harus di hadapi, dicounter dan dikalahkan karena sudah banyak cendekiawan dan pemikir Islam ikut larut dalam aliran sesat tersebut, bahkan memperjuangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara upaya untuk membendung dan mengalahkan sekulerisme tentu saja dengan pemenangan wacana, termasuk di kalangan umat Islam sendiri. Karena tidak bisa dipungkiri sudah terlalu banyak umat Islam yang justru telah menikmati hidup dalam ideologi ini dan merasa berat kalau harus berganti kepada ideologi Islam. Memberi tahu mereka tentu saja bukan pekerjaan ringan, terlebih bagi orang-orang yang berada dalam tataran pemegang jabatan publik. Itulah pekerjaan rumah yang harus segera kita selesaikan bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-7740435420659394791?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/7740435420659394791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/simbolisasi-agama.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7740435420659394791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7740435420659394791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/simbolisasi-agama.html' title='simbolisasi agama'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-7035171114849248729</id><published>2009-05-29T18:31:00.003+07:00</published><updated>2010-02-25T17:17:21.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selingan'/><title type='text'>belajar mengikhlashan amal</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan suatu perbuatan baik itu susah. Menjaga perbuatan baik tersebut istiqomah dikerjakan jauh lebih susah. Tapi ada hal yang lebih susah lagi dari menjaga istiqomah yaitu menjaga keikhlasan dalam setiap amalan. Terlebih sebagian manusia sudah terjerat kedalam konsep berfikir materialisme; mengukur segala sesuatu dengan benda atau hal-hal yang sifatnya riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlash berarti mampu mengarahkan seluruh tujuan dari suatu aktifitas kita hanya semata-mata mengharap ridho Allah swt. Hati mampu menepikan dan menolkan seluruh interest kepada selain Allah swt. Tidak ada motivasi lain, hanya memberikan persembahan terbaik kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;(Al-An’am: 162)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, ikhlash lebih mudah untuk diucapkan dengan lisan sementara untuk memiliki sifat tersebut sungguh membutuhkan perjuangan luar biasa kuatnya. Dan tidak banyak manusia yang mampu mendapatkan predikat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian sulitnya, namun kita harus selalu berusaha mendapatkan kondisi ikhlash ketika beramal karena hal tersebut merupakan salah satu syarat diterimanya amalan kita.  “Allah hanya menerima amal yang disertai dengan keikhlasan dan karena ingin mencari ridhaNya”. &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;(HR. Abu Daud da Nasa’i).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara cara melatih diri kita supaya mempunyai karakter mukhlisin adalah berusaha mengendalikan keinginan nafsu kita. Dorongan nafsu karena motivasi internal maupun godaan syaitan seringkali menjadi ganjalan utama untuk ikhlash. Dorongan itu bisa berupa keinginan mendapat pujian, sanjungan, maupun penghargaan dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis menjawab : "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya. Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlish diantara mereka.“ &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;(QS. Shaad : 82-83)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada satu cara sederhana untuk melatih apakah kita ikhlash atau tidak dalam beribadah kepada Allah swt. Coba bandingkan kesungguhan atau keseriusan satu ibadah kita ketika sendirian dan bersama-sama orang banyak. Jika nilainya sama, bisa jadi sudah ada keikhlasan dalam diri kita. Sebaliknya apabila kita ternyata lebih serius beribadah ketika sedang bersama orang banyak, kemungkinan besar hati kita masih ada keinginan mengharap pujian dari manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lainnya untuk melatih keikhlasan adalah dengan mengurangi (karena untuk menghilangkan jelas tidak mungkin) kecintaan kita terhadap dunia. Paling tidak, sifat tamak dan rakus terhadap dunia tidak terdapat di dalam diri kita. Apabila kita mampu selalu menghadirkan kesadaran terhadap keberadaan hari kiamat, insya Allah kecintaan yang berlebihan terhadap dunia akan terkurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak manusia yang beramal dengan susah payah kemudian menganggap akan memperoleh balasan dari Allah swt karena merasa sudah ikhlash, ternyata tidak mendapat apa-apa. Ternyata amalnya rusak oleh hatinya yang tidak sepenuhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat cerita guru saya tentang keikhlasan. Saya lupa darimana beliau mengambil kisah tersebut. Beliau berkisah bahwa ada seseorang yang setiap sholat berjama’ah selalu shalat di shaf terdepan. Hal itu ia lakukan dalam jangka waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pada suatu hari karena sedang mempunyai banyak keperluan, ia terlambat sehigga tidak kebagian tempat di barisan pertama. Ia pun shalat pada barisan kedua. Pada saat itulah muncul perasaan malu di dalam dirinya kepada orang-orang di sekitarnya yang melihatnya berada di barisan kedua. Ternyata selama ini ia lebih merasa senang g]dan nikmat ketika sholat di shof pertama karena ingin di lihat orang lain, bukan semata-mata ingin di lihat Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya mari kita selalu membuat komitmen dalam hati untuk berusaha selalu berniat dan menjaga niat yang benar dalam mengerjakan suatu amalan. Upaya lainnya yang dapat kita    llakukan adalah melakukan evaluasi atau muhasabah diri. Kita cek keikhlasan dalam setiap amal-amal kita. Muhasabah yang dilakukan secara rutin merupakan sarana efektif untuk menjaga komitmen dalam diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh ketinggalan tentunya mengharapkan bantuan dan pertolongan Allah swt. Dialah Dzat yang memiliki seluruh alam raya ini. Dalam kekuasaanNya hati kita sehingga Dia bisa membolak-balik hati setiap manusia kapa saja ia mau. Hanya kepadaNya kita menyembah dan hanya kepadaNya pula memohon pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-7035171114849248729?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/7035171114849248729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/belajar-mengikhlashan-amal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7035171114849248729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7035171114849248729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/belajar-mengikhlashan-amal.html' title='belajar mengikhlashan amal'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-2774402352186574185</id><published>2009-05-28T20:15:00.006+07:00</published><updated>2010-02-25T17:16:35.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>posisi akhirat dalam diri manusia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati dunia sekitar kita hari-hari ini membuat hari serta perasaan kita menjadi sedih dan prihatin. Kemaksiatan merajalela dimana-mana. Hawa nafsu sudah menjadi pengendali  kehidupan. Harta dan kekuasaan menjadi tujuan, wanita diperebutkan, kebenaran semakin dipinggirkan tinggal menghiasi lembaran kisah-kisah orang-orang sholeh zaman dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur dunia semakin tua, kalau diibaratkan hari ia mendekati waktu senja. Dalam kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah saw beliau pernah bercerita bertemu dengna seorang wanita yang sudah tua renta berdandan berlebihan dengan segala make up dan perhiasan miliknya. Ketika Rasulullah saw bertanya tentang fenomena tersebut, malaikat Jibril menjawab bahwa itu adalah gambaran dunia pada masa beliau yang sudah tua renta sehingga berdandan sedemikian rupa untuk menggoda manusia.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya semakin tua dunia malah membuat manusia semakin cinta kepadanya. Bertambah banyak orang tenggelam dalam kelezatan semu atau terjerat tipu daya dunia. Mereka kian lalai terhadap Allah swt, Pencipta dan Pemilik dunia ini. Daya tarik dunia bertambah kuat dan memabukkan sehingga mereka tidak sadar akan buaiannya dan melupakan lain-lainnya, termasuk akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara faktor penyebab hal tersebut adalah ketidak percayaan mereka kepada hari berbangkit. Keyakinan bahwa kehidupan itu hanya selama tinggal di dunia membuat mereka berfikir tidak perlu menabung amal dengan berbuat  kebaikan dalam hidup. Karena berbuat jahat sekalipun, selama hukum di dunia tidak mengetahuinya mereka merasa aman-aman saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana sesungguhnya manusia memandang tentang kehidupan hari berbangkit?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita perhatikan, paling tidak sikap hidup manusia dalam memandang kehidupan hari berbangkit dapat di bagi ke dalam tiga kelompok. Tiga kelompok tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama; golongan manusia yang menolak sama sekali adanya hari kemudian (kiamat). Dewasa ini kuantitas mereka kian hari kian banyak dan menjadi kelompok mayoritas di kalangan manusia. Orang-orang dalam kelompok ini percaya bahwa sesuatu dikatakan ada kalau ada wujudnya. Bagi mereka kehidupan ini hanyalah semata-mata di dunia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kelompok yang menganut paham materialisme. Mereka hanya mempercayai yang nampak saja dan menolak yang ghaib atau tidak nampak. Pemahaman ini kemudian mereka transefer ke dalam perilaku sehari-hari. Akibat ketidak percayaan kepada hari akhir, mereka menghalalkan segala macam cara guna memcapai apa yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata baik atau buruk, boleh atau tidak, yang ada hanyalah apapun yang diinginkan harus diperoleh. Mereka tidak berfikir bagaimana nasib orang lain atas tindakannya; menderita, sengsara atau terdzalimi. Mereka tidak meyakini adanya pembalasan atas semua perbuatan mereka di dunia sehingga tidak pernah merasa perlu mempertanggung jawabkan semua apa yang telah diperbuat dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt menegaskan prinsip hidup manusia  seperti ini di dalam Al-Qur’an surat al-Jatsyiah ayat 24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;“Dan mereka berkata” Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana nasib mereka di hari penghitungan? Kalau tidak bertaubat sampai meninggalnya, pastilah mereka akan menyesal. Kelak orang-orang tersebut akan menyesal ketika mereka dibangkitkan dan mendapatkan balasan atas apa yang mereka dustakan selama hidupnya. Semoga Allah swt senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan menjauhkan kita dari sifat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua; golongan ini adalah kumpulan manusia yang mempercayai keberadaan hari akhirat tetapi tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya. Mereka mengatakan beriman dan percaya kepada hari kiamat, tetapi tingkah laku dalam kehidupan sehari-hati tidak jauh beda dengan golongan manusia pertama tadi. Mereka masih saja menghalalkan segala macam cara untuk menuruti hawa nafsunya. Mereka masih tergoda bujuk rayu syaitan dan ikut berebut kekuasaan dan harta kekayaan dengan cara-cara yang tidak diridhoi Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian umat Islam atau kaum muslimin saat sekarang masih ada yang masuk ke dalam kelompok ini. Seharusnya sebagai orang-orang yang mengimani adanya hari pembalasan, mestinya bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya. Tetapi sayang, keimanan tersebut hanya berhenti disitu saja tidak berpengaruh dalam perbuatan atau tingkah lakunya. Pernyataan iman hanya ada di bibir saja alias dusta, sedangkan kenyataan hidup sehari-hari sangat bertolak belakang dari konsep iman kepada hari akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt mengabarkan sifat dan karakter kelompok manusia ini di dalam Al-Qur’an surat An-Naml ayat 66:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;“Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta dari padanya".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana nasib mereka di hari kiamat? Kalau mereka tetap dalam kondisi demikian dan tidak bertaubat secara sungguh-sungguh kepada Allah swt, hanya kesedihan dan penyesalan yang diperoleh. Kita berdoa kepada Allah swt semoga diri kita tidak masuk ke dalam golongan manusia-manusia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ketiga; mereka meyakini adanya akhirat dan berusaha sekuat tenaga mempersiapkan bekal untuk menghadapainya. Inilah kelompok terbaik; beriman secara lisan, hatinya membenarkan dan perbuatannya menunjukkan keimanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang disebut orang-orang mukmin.  Iman kepada  Allah swt dan hari kiamat membentuk sikap dan perilakunya. Seluruh perbuatannya disesuaikan dengan aturan dan petunjuk Allah swt. Tindakan mereka terkontrol sepenuhnya oleh rasa tanggung jawabnya terhadap hari pengadilan dan pembalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam surat al-Mu’minun ayat 60-61, Allah swt menjelaskan tentang kelompok hamba-hamba yang terpuji ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan demi kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang segera memperoleh balasan".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balasan bagi orang-orang seperti di atas tersebut adalah surgaNya dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang yang mampu mengendalikan sekaligus mengalahkan gejolak nafsu manusiawi di dalam dirinya dan juga bisikan syetan laknatullah. Kita berdoa kepada Allah swt semoga termasuk ke dalam kelompok manusia yang mendapatkan hidayah untuk tetap taat kepadaNya sepanjang hidup di dunia ini. Amiiiiin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-2774402352186574185?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/2774402352186574185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/bismillahirrahmanirrahim-mengamati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2774402352186574185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/2774402352186574185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/bismillahirrahmanirrahim-mengamati.html' title='posisi akhirat dalam diri manusia'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3489302620314737805</id><published>2009-05-27T09:02:00.008+07:00</published><updated>2010-02-25T17:14:17.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>menjaga tujuan (lembaga) pendidikan Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Idealitas Islam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep Islam, tujuan utama pendidikan adalah mengantarkan peserta didik untuk semakin dekat dan taat kepada Alllah swt. Semakin pandai seorang murid harapannya ia akan semakin bertaqwa kepada Allah swt dengan indikasi karakter pribadinya bertambah sholeh dan tawadu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan di atas, materi pelajaran pertama yang diberikan kepada seorang murid adalah materi-materi yang mengarah kepada pembentukan karakter yang Islami. Materi ini diawali dengan pengajaran aqidah yang benar. Pelajaran tersebut bertujuan untuk mengenalkan eksistensi Rabbnya dengan segala sifat keagunganNya dan juga fungsi serta tugas keberadaan manusia di alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembentukan karakter ini para siswa  mengalami pembiasaan ibadah seperti sholat wajib tepat waktu, sholat berjama’ah dan ibadah-ibadah sunnah seperti sholat-sholat sunnah, puasa sunnah serta ibadah-ibadah sunnah lainnya. Murid juga diajari adab-adab bersikap bertingkah laku kepada orang tua, orang yang lebih tua, para guru, orang yang lebih muda dan orang-orang kebanyakan. Belajar adab adalah awal atau pembuka sebelum belajar ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah karakter kepribadiannya baik sesuai standard Islam, murid kemudian di arahkan untuk mempelajari tsaqafah Islamiyah dan menuguasainya dengan handal. Mereka diberikan pengetahuan yang bersifat fardu‘ain maupun fardhu kifayah, sekaligus memberikan mereka kesempatan memilih ilmu mana yang akan diperdalam. Harapannya langkah-langkah mereka dalam kehidupan di dunia selalu mencerminkan pribadi muslim yang utuh dan kaffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan metodologi tersebut maka diharapkan pembentukan karakter seorang murid akan berjalan dengan baik. Sehingga apapun nanti keilmuan yang seorang murid dalami akan semakin mengantarkan ia dekat dengan Allah swt. Ketika ia belajar mengenai sel dalam bidang kedokteran, pengetahuannya itu semakin membuat ia kagum akan kekuasaan dan kebesaran Allah swt. Begitu pula tatkala ia mendalami ilmu-limu lainnya, bertambah ilmunya bertambah pula ketakwaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya mereka yang takut di kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama". (QS. Al-Fathir : 28).&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a04.yimg.com/image/d470df128a2dac9c"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 194px; height: 160px;" src="http://thm-a04.yimg.com/image/d470df128a2dac9c" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah diantaranya yang membuat ketika peradaban Islam sedang berada di puncak dunia, kita akan menemu&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kan seorang &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;astronom yang juga hafidz al-Qur’an dan pakar ilmu-il&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;mu bahasa Arab. Ada pula seorang pangli&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ma perang yang juga ahli tafsir, ataupun ahli m&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;at&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ematika tapi juga ahli qiroat dan lain sebagainya. Hal itu bisa terjadi karena pondasi dasar m&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ereka sudah dicetak dengan benar sehingga bangunan ilmu di atasnya mendukung bahkan semakin mengokohkan pondasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Realitas masa kini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ketika wajah peradaban dunia sekarang ini bercorak barat yang materialis dan sekuler, maka semua aspek kehidupan seluruh dunia juga mengikutinya. Tidak ketin&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ggalan pula segi pendidikan ala barat juga menjadi rujukan dan kiblat  bagi &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;bangsa-bangsa lainnya, termasuk umat Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Karena konsep pendidikan barat yang dipergunakan, maka tidak ada ruh spiritual didalamnya, Menurut mereka ilmu itu bebas nilai (free value), berbeda dengan prinsip Islam yang mengatakan bahwa ilmu itu sarat nilai (value laden). Akiabtnya materi pelajaran yang diberikanpun tidak mengantarkan para murid untuk semakin dekat denga&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;n Allah swt. Bertambahnya pengetahuan yang dimiliki tidak menambah ketaqwaan, ju&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;st&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ru sebagian malah semangat untuk menafikan bahkan menentang kekuasaan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a04.yimg.com/image/d470df128a2dac9c"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a04.yimg.com/image/ac4844b080322550"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 198px; height: 160px;" src="http://thm-a04.yimg.com/image/ac4844b080322550" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ilmu alam dan sosial yang sebenarnya sarana efektif untuk memahami kebesaran dan keagungan Allah swt tidak berfunsi demikian dalam konsep pendidikan fisik-materialis. Justru mereka membuat pernyataan dan kesimpulan baru yang menolak kehadiran Allah swt sebagai Khaliq dan Rabb bagi seluruh alam semesta beserta isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum pendidikan yang ada hanya menambah kepandaian murid dalam aspek intelektual saja, aspek akhlaq dan ruhiyyah tidak mendapat perhatian sekali. Pengajaran bidang studi agama hanya dua jam dalam satu minggu. Bandingkan dengan pelajaran-pelajaran ilmu pengetahuan alam, sosial maupun matematikan yang setiap minggunya mencapai belasan jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi materi pelajaran agama yang dua jam itu juga tidak komprehensif untuk mengantarkan anak memiliki akhlaq mulia sebagaimana tuntuban Islam. Tentu saja tidak bisa banyak diharapkan out put seperti ini akan memberikan pencerahan setelah keluar dari bangku sekolah. Bertahun-tahun ilmu yang mereka pelajari tidak memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain, tentu saja dalam perspektif keselamatan dunia akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya kerusakan di muka bumi semakin menjadi-jadi karena orang –orang yang menguasai ilmu telah kehilangan rasa takut dan tunduknya kepada Allah swt. Kita sering menemui para pelaku kejahatan yang canggih dan pintar justru adalah orang-orang yang telah menempuh jenjang pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya fenomena dewasa ini menunjukkan semakin banyak lembaga pendidikan berlabel Islam terjerat dalam kesalahan bersikap seperti itu. Sebagai salah satu contoh saja pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, mereka sangat ribut dan ribet sekali dalam menyiapkan materi pendidikan yang masuk UAN jauh-jauh hari sebelum waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala daya, upaya dan cara yang terkadang menyalahi aturan kebenaran mereka tempuh supaya para muridnya lulus semua. Karena prestasi dalam ujian tersebut akan sangat membanggakan mereka. Sebaliknya ketika melakukan standarisasi materi ulumuddin atau diniyah mereka banyak memberikan toleransi kepada peserta didiknya karena asumsi yang dipakai toh pelajaran itu sekedar pelengkap atau aksesoris belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa tidak, kebangkitan peradaban Islam selalu berpangkal dari kesadaran setiap muslim untuk menjalankan syariat Islam dengan benar dan sempurna. Lembaga pendidikan Islam mempunyai peran signifikan sebagai pabrik yang memproduksi orang-orang yang siap melaksanakan dan memperjuangkan kebenaran dan keagungan risalah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ShynGmosmRI/AAAAAAAAAH8/gGU34sixWR8/s1600-h/1AHMED+JADALLAH-Reuters-Corbis4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 209px; height: 157px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ShynGmosmRI/AAAAAAAAAH8/gGU34sixWR8/s200/1AHMED+JADALLAH-Reuters-Corbis4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340326990046861586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh karena itu arah pendidikan lembaga Islam harus selaras dengan konsep pendidikan manusia menurut al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Boleh saja kita mengambil konsep dan metodologi pengajaran barat, tapi jangan sampai justru menjadi pekerjaan dan pemeran utama sehingga lambat laun menyingkirkan konsep pendidikan Islam sendiri. Peran serta para ulama dan pakar pendidikan Islam sangat besar untuk melaksanakan pekerjaan ini. Jika tidak harapan kebangkitan Islam yang kita dambakan tentunya akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu ‘alam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3489302620314737805?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3489302620314737805/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/menjaga-tujuan-pendidikan-lembaga-islam.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3489302620314737805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3489302620314737805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/menjaga-tujuan-pendidikan-lembaga-islam.html' title='menjaga tujuan (lembaga) pendidikan Islam'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ShynGmosmRI/AAAAAAAAAH8/gGU34sixWR8/s72-c/1AHMED+JADALLAH-Reuters-Corbis4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1796503161462885877</id><published>2009-05-25T11:36:00.006+07:00</published><updated>2010-02-26T20:03:41.651+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kajian'/><title type='text'>membangun kekuatan spiritual</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya seorang muslim atau sekelompok kaum muslimin untuk melaksanakan ajaran Islam sesuai tuntunan Allah swt dan Rasulullah saw membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Berbagai macam halangan pasti akan menghalangi upaya tersebut. Rintangan bisa datang dari setan dan manusia-manusia yang berkolaborasi dengannya untuk mencegah manusia meniti jalan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halangan yang dihadapi seorang atau sekelompok muslim bisa berupa cemoohan, fitnah, tipu daya, ancaman, teror mental, bahkan juga usaha pembunuhan. Tentunya dibutuhkan kekuatan mental yang luar biasa tangguhnya agar seorang muslim tahan menghadapi semua tekanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Allah swt menyadari itu semua karena Dia adalah dzat yang memiliki alam raya seisinya. Dialah satu-satunya yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, dan menjaga serta menghancurkan seluruh dunia beserta apa yang didalamnya. Tidak ada yang bisa menghalangi apa keinginanNya, sebaliknya juga tidak sesuatupun yang mampu mencegah mauNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sarana membantu para hambaNya agar tahan menghadapi segala rintangan dalam menjalankan syariatNya, Dia menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw yaitu surat al-Muzammil ayat 1-10. Allah swt ingin memberikan kekuatan spiritual kepada setiap muslim yang mau melaksanakan intruksi-intruksiNya dalam 10 ayat surat al-Muzammil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistematika Nuzulnya wahyu sebagai manhaj atau panduan dalam menegakkan peradaban Islam mencontoh apa yang Rasulullah saw dan para sahabat lakukan, surat al-Muzammil 1-10 berada dalam urutan ketiga. Ia turun setelah surat al-Alaq ayat 1-5 dan surat al-Qolam ayat 1-7, serta sebelum Allah swt mewahyukan surat al-Mudatsir ayat 1-7 dan al-Fatihah 1-7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tujuh azimat yang Allah swt berikan kepada kaum muslimin sebagai pusaka atau senjata untuk menghadapi semua perintang dakwah Islam yaitu qiyamul lail (sholat tahajud), tartil (membaca) al-Qur’an, dzikrullah (menginggat), tabatul (sungguh-sungguh) dalam beribadah, sabar, tawakal dan hijrah. Apabila dilaksanakan ketujuh azimat di atas akan memberikan keistimewaan-keistimewaan bagi orang-orang yang melaksanakannya. Tulisan ini hanya akan memberikan penjelasan sedikit tentang azimat pertama yaitu qiyamul (sholat) lail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat tahajud atau qiyamul lail Allah swt perintahkan kepada Rasulullah saw sebelum menurunkan perintah sholat wajib lima kali sehari. Setelah peristiwa Isra’ Mi’raj yang menandari awal perintah sholat wajib, kedudukan qiyamul lail menjadi ibadah sunnah. Namun bagi Rasulullah saw mewajibkan qiyamul lail bagi diri beliau. Demikian juga orang-orang yang mengharapkan dekat dengan Allah swt berusaha menjadikan aktifitas ibadah ini rutin dikerjakan setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ShoqdNyYMBI/AAAAAAAAAH0/dOevX04ziO0/s1600-h/aku+tahu.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ShoqdNyYMBI/AAAAAAAAAH0/dOevX04ziO0/s200/aku+tahu.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339626989606678546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Ada tiga pilihan waktu menurut sunnah Rasulullah saw mengacu kepada surat al-Muzammil. Ketiga pilihan waktu tersebut adalah jam 00.00 – 04.00, 02.00 – 04.00, dan 20.00 – 04.00. Waktu yang dipilih tentu saja berdasarkan kemampuan masing-masing sesuai dengan kondisi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah rakaat qiyamul lail Rasulullah saw biasanya adalah 11 rakaat, dengan format empat rakaat, empat rakaat dan tiga rakaat witir. Kalau kemudian kita merasa berat dengan susunan seperti itu, kita bisa melakukan dua rakaat empat kali dan diakhiri witir tiga rakaat. Silahkan pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa keistimewaan qiyamul lail?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak keistimewaan yang Allah swt berikan kepada hambaNya yang rajin bangun malam. Berbagai bantuan dan kemudahan Dia curahkan kepada orang-orang yang istiqomah mengerjakannya. Berikut ini 6 hal yang Allah swt akan berikan kepada mereka, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mampu mengeluarkan ucapan/rerkataan yang bermakna serta mengandung hikmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;perkataan yang berat&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;”&lt;/span&gt;. (QS. Al-Muzzammil: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wajahnya akan menyenangkan orang yang memandangnya. Tentu saja orang-orang tersebut adalah hamba-hamba Allah swt yang sholeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo`a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni`mat) yang &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;menyedapkan pandangan mata&lt;/span&gt; sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah 16-17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mendapatkan tempat atau yang terpuji di hadapan Allah swt dan oerang-orang beriman.&lt;br /&gt;“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;tempat yang terpuji&lt;/span&gt;.(QS. Al-Isra: 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kekuatan yang menolong.&lt;br /&gt;“Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;kekuasaan yang menolong&lt;/span&gt;”. (QS. Al-Isra’: 80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Permintaannya akan dikabulkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabda Rosulullah SAW :&lt;br /&gt;“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW bersabda juga :&lt;br /&gt;“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak keutaamaan lainnya yang Allah swt janjikan sebagai balasan bagi orang-orang yang mau mengorbankan tidurnya datang bersimpuh di tengah malam sebagai tanda ketaatan kepada Allah swt. Semoga kita menjadi bagian dari kelompok manusia tersebut. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amiin&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1796503161462885877?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1796503161462885877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/membangun-kekuatan-spiritual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1796503161462885877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1796503161462885877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/membangun-kekuatan-spiritual.html' title='membangun kekuatan spiritual'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ShoqdNyYMBI/AAAAAAAAAH0/dOevX04ziO0/s72-c/aku+tahu.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-4452532643685674124</id><published>2009-05-20T20:34:00.006+07:00</published><updated>2010-02-25T17:10:14.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>menyemai generasi Qur’ani</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada obsesi lebih tinggi bagi seorang muslim kecuali berusaha menjadikan dirinya, lingkungannya dan masyarakatnya seperti kondisi pada masa kehidupan Rasulullah saw beserta para sahabat. Itu adalah idealisme tertinggi yang ingin di raih, mengulang masa terbaik dari umat Islam semenjak kemunculannya sampai hari akhir kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat itu yang senantiasa bersemayam di dalam relung hati pribadi-pribadi muslim yang baik. Mereka tidak kemudian larut dalam kekaguman berlebihan dengan peradaban barat yang saat ini menjulang tinggi menjadi barometer kehidupan manusia modern. Mereka menyadari meskipun kelihatan perkasa namun sesungguhnya bangunan peradaban barat itu rapuh secara spiritual dan moral.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peradaban barat yang merupakan kelanjutan peradaban Yunani dan Romawi memang bernafaskan materialisme sehingga kering dari aspek-aspek spiritualitas. Semakin maju mereka akan merasa semakin kering dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Karenanya wajar kalau kemudian kasus kejahatan dan kebobrokan moral berjalan seiring dengan kemajuan peradaban mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa rahasia yang membuat kondisi masyarakat pada saat Rasulullah saw dan para sahabat hidup menjadi begitu istimewa dan menjadi matsaul ‘ala bagi kaum muslimin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia itu ada pada al-Qur’an. Tidak ada lainnya. Kesungguhan mereka melaksanakan al-Qur’an membuat generasi mereka berbeda dengan generasi manapun sesudahnya. Mereka adalah generasi Qur’ani yaitu sekumpulan manusia yang benar-benar menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman, panduan dan barometer dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://static.flickr.com/2244/2405981248_4311a98a67.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 171px; height: 164px;" src="http://static.flickr.com/2244/2405981248_4311a98a67.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sayyid Qutb dalam bukunya petunjuk jalan (ma’alim fit thoriq) menyebut mereka sebagai generasi Qur’ani yang unik. Beliau memberi tiga ciri bagi generasi Rasulullah saw dan para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri pertama, Mereka hanya mengambil satu sumber saja sebagai sumber pemikiran, kemasyarakatan dan peradaban. Sumber itu adalah wahyu Allah swt yaitu al-Qur’an. Mereka tidak mengambil sumber yang lain selain itu. Mereka menolak semua paham-paham buatan manusia meskipun kelihatan menarik dan menguntungkan. Bagi mereka tidak ada sumber kebenaran dan kebaikan selain al-Qur’an. Cukup al-Qur’an, tinggalkan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri kedua adalah totalitas penerimaan terhadap al-Qur’an. Para sahabat tidak membaca al-Qur’an sebatas untuk mencari ilmu saja, atau mengagumi keindahan tafsir serta sastranya. Mereka menerima al-Qur’an seperti seorang prajurit yang menerima perintah harian dari komandannya. Maka dengan penuh keseriusan mereka melaksanakan perintah hati dengan seluruh hati, pikiran dan perasaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah otak mereka merasa lebih pintar dari pada isi al-Qur’an sehingga merasa layak menganggapnya produk budaya masyarakat kuno yang primitif. Tidak pernah mereka memilah-milih mana yang pas dengan kepentingan mereka dan mana yang menganggu kesenangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu contoh adalah ketika Allah swt mewahyukan kepada Rasulullah saw surat Al-Maidah ayat 90-91 yang berisi pengharaman khamr (minuman keras). Maka secara spontan selokan kota Madinah penuh dengan khmar. Kaum muslimin berlomba-lomba membuang seluruh simpanan khamr di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pedagang yang sebelumnya menjual khamr juga langsung membuang seluruh barang dagangannya. Tidak ada raut muka sedih dan menyesal karena kehilangan pekerjaannya. Dalam pikiran mereka yang ada hanyalah bagaimana bisa sesegera mungkin melaksanakan perintah Allah swt dan RasulNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kebiasaan meminum khamr sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Arab ketika itu namun karena Allah swt dan RasulNya yang memerintahkan tanpa ada satu pertanyaanpun perintah tersebut langsung dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri ketiga adalah totalitas mereka dalam memeluk Islam. Setelah meninggalkan jahiliyah menuju Islam, tidak ada keinginan mereka sedikitpun untuk kembali kepada masa lalu sedikitpun. Ketakutan mereka untuk menengok masa jahiliyah seperti ketakutan orang yang masuk ke dalam jurang dan tidak bisa kembali lagi. Mereka kaffah untuk masuk dan melaksanakan syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka wajar kalau kemudian ketika itu seakan tidak ada jarak antara penghuni bumi dengan penghuni langit. Tidak berlebihan jika pertolongan Allah swt selalu datang kapan saja Rasulullah saw dan para sahabat membutuhkannya. Manusia-manusia seperti itu kemudian mencerahkan dunia dengan Islam dan memimpin dunia dalam kebaikan dan kebenaran sesuai perintah Allah swt pemilik alam beserta segala isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hasan Al-Hasany An-Nadawi, seorang ulama dari India, dalam bukunya kerugian dunia akan kemunduran Islam mengatakan sangat layak ketika itu kalau kemudian umat Islam tampil menjadi mercusuar peradaban manusia. Ada empat alasan menurut An-Nadawi sehingga umat Islam ketika itu layak menjaid penguasa dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kaum muslimin membawa kitab suci dari langit. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah swt yang diturunkan kepada manusia melalui Rasulullah saw sebagai aturan dalam kehidupan. Karenanya adalah sebuah kepastian akan kebenaran isi dan kandungannya. Maka siapa saja yang berusaha melaksanakannya dengan penuh kesungguhan, akan mendapatkan bantuan Allah swt untuk mencapai kemenangan yang diidamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tidak ada kepemimpinan dan hukuman dalam Islam kecuali mengajarkan pendidikan akhlaq dan kesucian hati. Tidak pernah ada diantara mereka keinginan untuk saling merebut masalah harta, jabatan maupun urusan duniawi lainnya. Sebaliknya mereka saling menjauh dan manghindar dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut. Generasi didikan Rasulullah saw adalah manusia-manusia yang tawadu’, zuhud, amanah dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mereka berjuang dan berbakti bukan untuk satu bangsa, ras ataupun golongan. Mereka mencurahkan semua tenaga dan pikirannya semata-mata untuk mengajak manusia meng Esakan Allah swt. Kaum muslimin mengajak manusia untuk keluar dari penyembahan kepada sesama manusia kepada penyembahan Dzat yang Maha kuasa, mengajak manusia dari kesempitan hidup kepada keadilan hidup dalam naungan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mereka membawa ajaran yang sempurna. Islam menyeimbangkan antara jasmani dan rohani, fisik dan ruh, kehidupan dunia dan akhirat. Sehingga konsep itu membuat manusia-manusia ketika itu yang sedang terkungkung budaya kejahilan merasa menemukan cahaya untuk membimbing dirinya menemukan kemanusiannya yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa yang harus kita lakukan sekarang?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa sesungguhnya yang membedakan generasi Rasulullah saw dan para sahabat dengan generasi kita? Semua sepakat bahwa sesuatu yang menjadikan mereka unggul dan mulia karena al-Qur’an mereka praktekkah dalam kehidupan sehari-hari. Turunnya al-Qur’an telah merubah bangsa yang semula bukan siapa-siapa dalam percaturan peradaban dunia menjadi bangsa yang mengatur dan menentukan perjalanan manusia selama beberapa abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu para sahabat mempelajari al-Qur’an untuk menerima perintah Allah swt. Apabila mereka membaca sebuah ayat maka yang terbayang dalam pikirannya ayat tersebut merupakan perintah dari Allah swt untuk dilaksanakannya saat itu juga. Maka urusan pribadinya, keluarganya dan masyarakatnya semuanya dikembalikan kepada apa kata al-Qur’an. Wajar kalau kemudian bantuan, pertolongan dan perlindungan Allah swt senantiasa memayungi kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan generasi kita sekarang. Mayoritas orang mempelajari al-Qur’an hanya terbatas sebagai ilmu saja. Mereka membaca, menghafal dan mempelajari tajwid ataupun tafsir hanya sekedar ingin mengetahui keindahan sastranya. Mereka mengaguminya tapi tidak melaksanakan perintah-perintah yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ada orang yang mengajak untuk melaksanakan isinya ia menolak dan berkilah bahwa perintah itu hanya untuk orang-orang yang hidup 15 abad lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya al-Qur’an tidak lagi menjadi pedoman, imam ataupun undang-undang. Ia hanya sebuah buku yang memuat cerita kehidupan orang-orang zaman dulu yang tidak relevan dengan kehidupan sekarang. Dan bisa dipastikan selama mayoritas umat Islam masih berfikir dan bersikap begitu, sulit rasanya membayangkan sistem Islam akan kembali mengatur dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya sebagai orang-orang yang menginginkan dan memimpikan lahirnya kembali generasi seperti itu perlu kesungguhan untuk mendekatkan diri kepada al-Qur’an. Kedekatan secara pribadi maupun mendekatkan keluarga dan masyarakat kita dengan kitab suci tersebut. Semakin dekat setiap muslim dengan al-Qur’an maka sedekat itulah harapan kejayaan Islam kembali hadir mengembalikan kedamaian ke seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam level keluarga yang bisa kita lakukan tentu saja membiasakan anggota keluarga berinteraksi rutin dengan al-Qur’an. Interaksi dilakukan secara pribadi dengan mengaji setiap hari maupun kegiatan-kegiatan keluarga seminggu sekali untuk mengkasi al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus anak-anak, proses pengenalan bisa dilakukan sejak ia masih janin dalam kandungan. Biasakan untuk memperdengarkan suara bacaan al-Qur’an, baik oleh orang tuanya maupun orang lain termasuk media perekam. Kebiasaan tersebut dijaga setelah ia lahir. Jika anak akrab dengan al-Qur’an sejak dini maka Insya Allah keakraban itu akan semakin kuat ketika ia dewasa nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengakraban secara fisik itu kemudian kita tidak lanjuti dengan aktualisasi nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan setiap hari. Kita ajak keluarga untuk sedikit demi sedikit menjalankan apa-apa yang Allah swt perintahkan dan larang melalui al-Qur’an. Jadi ada proses pembelajaran secara langsung; teori dan praktek nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila banyak keluarga muslim melakukan upaya untuk mengakrabi al-Qur’an, tentu akan menjadi fenomena masal di tengah masyarakat. Dalam skala lebih besar ada upaya bersama untuk menjaga kelangsungan hidup lembaga-lembaga pendidikan al-Qur’an pada tingkat anak-anak, remaja maupun dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a02.yimg.com/image/adb267adfd09ea22"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 145px; height: 119px;" src="http://thm-a02.yimg.com/image/adb267adfd09ea22" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Derasnya arus budaya pop mengurangi minat generasi muda Islam untuk menjadi para pembelajar al-Qur’an, termasuk penghafalnya. Peran aktif umat sangat diharapkan untuk menjaga keberlangsungan lembaga-lembaga seperti TPA, TPA, pesantren tahfidz dan lembaga sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja yang tidak boleh ditinggalkan adalah upaya kaum muslimin untuk mengaplikasikan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ada upaya bersama untuk mengamalkan ajaran al-Qur’an dalam lingkup pribadi, keluarga, bersosial masyarakat, setiap aspek kehidupan dan juga berbangsa serta bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya tentu saja semua upaya manusiawi tersebut mendapat hidayah dan mau’nah dari Allah swt. Jika itu terjadi akan klop antara usaha bumi dan kehendak langit, maka kejayaan Islam semakin mendekati kenyataan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amiin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-4452532643685674124?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/4452532643685674124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/menyemai-generasi-qurani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4452532643685674124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/4452532643685674124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/05/menyemai-generasi-qurani.html' title='menyemai generasi Qur’ani'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-6856265686825026634</id><published>2009-04-27T20:46:00.005+07:00</published><updated>2010-02-25T17:09:40.840+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>kami sedang berduka</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini lingkungan tempat saya tinggal sedang berduka. Salah seorang warga kami kehilangan salah seorang puteranya.karena meninggal dunia. Putera itu sendiri masih bayi dan baru berusia dua hari. Kemarin pagi bayi itu lahir ke dunia dengan selamat, namun ia mengalami sesak nafas dan sulit bernafas. Oleh orang tuanya kemudian si bayi di bawa ke rumah sakit dan di rawat di ruang ICU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Allah swt mempunyai rencana lain bagi si bayi dan juga orang tuanya. Menjelang siang hari kira-kira jam 10, bayi itu kembali kepada Rabbnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Innalillahi wa innalillahi roji’un.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isak tangis segera saja memenuhi keluarga yang ditinggalkan. Perasaan duka itupun tidak perlu waktu lama kemudian menjadi milik seluruh warga di lingkungan kami. Tanpa mendapat komando berbondong-bondong orang datang ke rumah duka untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan supaya tabah dan sabar menghadapi peristiwa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah si bayi tidak lama berada di rumahnya. Setelah dimandikan dan dikafani, kemudian di bawa ke masjid untuk disholati. Usai sholat ratusan orang kemudian mengantarkan bayi tersebut ke tempat peristirahatannya. Dalam beberapa hadist shahih disebutkan bayi orang Islam yang meninggal masuk surga dan kelak akan memberikan syafa'at kepada orang tuanya pada hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah swt memberikan ketabahan dan kesabaran kepada pak Fahmi Ahmad sekeluarga dalam menghadapi kedukaan ini. Juga kita yang masih hidup bisa mengambil hikmah pelajaran untuk mempersiapkan diri jika waktunya memang telah tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allahumma firlahu warhamhu wa’fuanhu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-6856265686825026634?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/6856265686825026634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/bismillahirrahmanirrahim-hari-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6856265686825026634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6856265686825026634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/bismillahirrahmanirrahim-hari-ini.html' title='kami sedang berduka'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-1570780269352188558</id><published>2009-04-26T16:42:00.004+07:00</published><updated>2010-02-25T17:08:46.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>orang yang bahagia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang yang paling bahagia adalah seseorang yang mampu membuat hatinya alim yaitu yakin bahwa Allah swt selalu bersamanya dimanapun dan dalam kondisi bagaimanapun, badannya sabar untuk mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah swt dan qona’ah yakni ridho, lega, gembira terhadap rizqi yang dibagi Allah swt, serta hatinya tetap tenang serta sabar ketika tidak ada yang bisa diharapkan selain kepada Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Surga dan neraka bukanlah janji. Wal jannatu haqq wannaaru haqq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Orang yang baik itu ketika ia dapat merasakan surga dalam setiap kebaikannya. Bukan berharap surga disetiap amalnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" class="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-1570780269352188558?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/1570780269352188558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/orang-yang-bahagia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1570780269352188558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/1570780269352188558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/orang-yang-bahagia.html' title='orang yang bahagia'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-5523170816701925758</id><published>2009-04-21T23:08:00.013+07:00</published><updated>2010-02-25T17:06:47.546+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>pergaulan bebas makin marak</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Salah satu bentuk nyata adanya pergeseran nilai-nilai yang tengah berlangsung di tengah-tengah masyarakat kita adalah semakin bebasnya pergaulan antara pria dan wanita. Nilai-nilai luhur yang selama ini mewarnai kehidupan masyarakat semakin luntur bahkan nyaris hilang. Ajaran Islam yang telah berhasil mengantarkan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan umat manusia diterjang dan dihancurkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Keadaan itu semakin parah dengan adanya penyalahgunaan kemajuan ilmu dan tehnologi, khususnya tehnologi informasi-komunikasi. Hal ini terlihat dari adanya aneka rupa perilaku, kebiasaan masyarakat barat, khususnya tingkah polah orang-orang kafir, yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam dikampanyekan dengan gencar. Saking gencarnya hal itu begitu rupa sehingga bagaikan air bah yang masuk melanda serta mengenanggi rumah tangga, lingkungan dan masyarakat kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" id="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Maraknya pergaulan bebas tidak bisa lepas dari apa yang terjadi di eropa beberapa abad yang lalu. Bermula dari keingginan masyarakat yang muak dengan kontrol penuh gereja terhadap kehidupan mereka sehingga melahirkan sekulerisme dan materialisme. Paham itulah yang menjadi cikal bakal pergaulan bebas tanpa batas antara pria dan wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Yahudi menjadi pendukung utama gerakan ini. Tujuan mereka adalah menjatuhkan moral seluruh umat manusia sehingga mereka bisa dengan mudah menguasainya. Mereka selalu mempertontonkan hubungan seks di muka umum supaya para pemuda tidak berfikir tentang dosa karena merasa sudah menjadi suatu kebiasaan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dalih pemahaman sejak dini, pelajaran seks diajarkan di sekolah-sekolah. Ironisnya tujuannya bukan untuk menjaga para siswa menjauhi perbuatan zina tetapi  justru mengajarkan perilaku seks meski dengan kedok seks aman. Para siswa tentu mengikutinya dengan penuh perhatian sekaligus berusaha mempraktekanya dengan teman mereka sendiri,&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt; bahkan dengan para pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan jika di Amerika Serikat, sponsor utama kebebasan berzina, anak di bawah usia 20 tahun sudah terbiasa berhubungan seksual. Kehamilan di luar nikah bagi mereka bukan suatu dosa atau aib, tetapi merupakan hal yang biasa saja, tidak perlu dirisaukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat dari para orang tua, guru atau lembaga-lembaga yang terkait pembinaan remaja bukanlah jauhi zina, takutlah azab Allah swt. Nasehat-nasehat mereka adalah anjuran mempergunakan &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;“alat pengaman”&lt;/span&gt; sebelum berzina supaya &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;"&gt;“aman”&lt;/span&gt;. Nasehat tersebut selalu disampaikan berulang kali dan dalam berbagai kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak yang kemudian terjadi bisa kita lihat bersama saat ini, khususnya di barat adalah kaburnya fungsi dan otoritas rumah tangga, munculnya penyakit-penyakit yang belum ada obatnya, kejahatan yang kian marak kualitas dan kuantitasnya, turunnya status manusia sebagai makhluk paling mulia, dan lain-lainnya termasuk ancaman terhadap keberadaan peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergaulan bebas yang telah menghancurkan banyak aspek kemanusiaan di barat itu kemudian diekspor dan diimpor masuk ke Indonesia secara besar-besaran. Media televisi, radio, film, surat kabar, majalah, kesenian, pariwisata dan lain-lain menjadi aktor utama transfer budaya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari semua itu adalah apa yang kita saksikan di sekitar kita saat ini. Fenomena yang memiriskan itu diantaranya adalahp ergaulan bebas antara pria dan wanita menjadi hal lumrah di hampir semua kegiatan dan menghinggapi di hampir semua usia, kehamilan di luar nikah dianggap oleh sebagian masyarakat bukan aib lagi, apalagi kalau yang melakukan perbuatan maksiat itu dari kalangan artist atau orang terkenal, aborsi atau pembunuhan bayi yang masih ada dalam kandungan terjadi di mana-mana, penyakit AIDS yang mematikan manusia telah menjalar di mana-mana di Indonesia, bisnis pelacuran berkembang pesat ilegal maupun legal dan juga araknya kasus perceraian di sebagian kelompok masyarakat yang berdampak negatif  pada anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102); font-style: italic;"&gt;Lalu bagaimana Islam memberikan solusinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal kelahirannya, Islam telah menegaskan bahwa manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Selain itu manusia juga dilengkapi dengan berbagai bentuk naluri diantaranya nafsu syahwat atau nafsu seks. Manusia dianugerahi pula akal dan fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemua unsur tersebut dengan segala kelengkapannya menyatu pada diri manusia dan tidak dipisahkan satu dengan lainnya, kecuali jika seorang manusia telah udzur atau mati. Sehingga Islam tidak pernah menganggap manusia hanya sebagai materi sehingga kesenangan duniawi sebagai satu-satunyas tujuan. Tetapi Islam juga tidak menganggap naluri seks manusia merupakan kejahatan yang harus dimusnahkan.Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, Islam menganggap naluri seks manusia sebagai karunia Allah swt yang harus dimanfaatkan sesuai dengan kehendak-Nya. Ia menjadi satu kekuatan manusia yang harus diarahkan dan dimanfaakan pada batas-batas yang telah ditentukan oleh penciptanya yaitu Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyalurkan naluri seks adalah suatu keharusan sepanjang sesuai dengan ketentuan Allah SWT yaitu untuk menjalin kasih sayang antara suami-istri dan melanjutkan keturunan. Itulah tuntunan Islam yang didasari atas kecenderungan alami manusia, yaitu fisik dan psikisnya serta berbagai pengaruh yang mungkin bakal ditimbulkannya. Tegasnya, sesuai dengan fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari itu pulalah, Islam sangat menganjurkan kepada orang yang telah mulai dewasa untuk segera menikah agar nafsu seksnya dapat disalurkan dengan cara yang benar. Jika belum mampu menikah dianjurkan untuk berpuasa sebab dengan berpuasa secara sungguh-sungguh sesuai dengan rukun dan syaratnya akan selamat dari godaan syetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalaupun juga berpuasa tidak mampu disarankan untuk melakukan banyak-banyak aktifitas positif yang menguras energi namun tetap tidak bercampur dengan lawan jenis sehingga tidak banyak menghayal melamun membayangkan perbuatan-perbuatan negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak mendorong pemeluknya untuk menunda-nunda pernikahan seperti yang menjadi trend di sebagian masyarakat. Sebab dengan menunda-nunda pernikahan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti perzinaan, padahal perzinaan dapat merusak eksistensi manusia, lingkungannya serta peradabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu besar akibat yang bakal timbul sehingga Allah swt memperingatkan kepada para hamba-Nya untuk menghindari dan menjauhi perzinaan, sebab perzinaan itu merupakan perbuatan keji dan sangat berbahaya &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;(QS. Al-Isra’ ayat 32)&lt;/span&gt;. Sebaliknya Islam menuntun umatnya agar menjaga pandangan matanya &lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt;(QS. An-Nur ayat 30-31)&lt;/span&gt;, menghindari pertemuan yang hanya ada pria dan wanita bukan muhrimnya, menutup aurat jangan sampai terlihat orang lain kecuali istri atau suaminya. Demikian sikap Islam untuk menghindari bahaya datang dan maraknya perzinaan di tengah masyarakat yaitu dengan cara mengajak manusia kembali kepada fitrahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-5523170816701925758?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/5523170816701925758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/pergaulan-bebas-makin-marak.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5523170816701925758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/5523170816701925758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/pergaulan-bebas-makin-marak.html' title='pergaulan bebas makin marak'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-7770660073052918424</id><published>2009-04-15T05:44:00.004+07:00</published><updated>2010-02-25T17:04:43.667+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>ya syaikh…..  doa kami selalu menyertaimu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kami bersyukur dan berbahagia karena dua hari yang lalu tempat kami kedatangan dua orang mujahid dari Palestina, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syaikh Abu Bakar Al-Awwaidah&lt;/span&gt; bersama seorang sahabatnya. Beliau adalah salah seorang anggota Majelis Ulama Palestina, sementara ketua nya sendiri masih dalam tahanan pemerintah zionis Israel. Syaikh Abu Bakar datang dalam rangka mengabarkan kondisi kaum muslimin di Palestina sekaligus menggalang dana bagi perjuangan para mujahidin di sana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeUci4Z39VI/AAAAAAAAAHc/tTnpQgpCnJM/s1600-h/PICT0231.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeUci4Z39VI/AAAAAAAAAHc/tTnpQgpCnJM/s200/PICT0231.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324693520017519954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Biografi dan sepak terjang tentang ulama ini sebelumnya sedikit telah saya ketahui, namun bertemu langsung dengan beliau gambaran itu terasa lebih mengharukan dan menyemangatkan. Secara fisik beliau sekarang tidak sempurna. Kedua mata beliau tidak bisa melihat karena mengalami kebutaan ketika dalam penyiksaan Israel. Lebih dari 20 kali beliau keluar masuk penjara Israel sejak usia muda. Pada penangkapan yang ke 13 atau 14 itulah beliau mengalami penyiksaan yang sangat luar biasa biadabnya sampai mengalami kebutaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" id="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Dalam penjara-penjara zionis Israel para mujahidin Palestina terbiasa disiksa selama berjam-jam setiap hari dari mulai sekedar digantung kepala di bawah, dipukuli, ditendangi, disetrum maupun bentuk-bentuk kebiadaban lainnya. Sangat jarang sekali para tahanan mendapat jatah makan, bahkan menurut beliau pernah berhari-hari hanya mendapat satu gelas air setiap enam jam. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Naudzubillahimindzalik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeUgxZnaGfI/AAAAAAAAAHk/kmi-9qem0OQ/s1600-h/PICT0246.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeUgxZnaGfI/AAAAAAAAAHk/kmi-9qem0OQ/s200/PICT0246.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324698167497333234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Acara tabligh dan pengumpulan dana itu diawali dengan pemutaran beberapa cuplikan film tentang perang Gaza beberapa waktu yang lalu.  Meskipun sebagian besar hadirin sudah pernah menyaksikan film-film yang diputar, namun suasana penuh empati terhadap derita saudara-saudara kita di Palestina tetap tinggi. Termasuk ketika layar menampilkan keberhasilan para mujahidin Palestina, pekik takbir menggema di ruangan tempat kegiatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abu Bakar kemudian menyampaikan tausyiah kepada para hadirin tentang sejarah perjuangan rakyat Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun melawan zionis Israel. Beliau juga menyampaikan beberapa pertolongan Allah swt yang diterima para mujahidin dalam perang 23 hari di Gaza kemarin. Tak lupa juga beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada dukungan kaum muslimin seluruh dunia terhadap perjuangan rakyat Palestina selama ini. Alhamdulillah pada saat penggalangan dana panitia berhasil mengumpulkan lebih dari 20 juta rupiah dan beberapa perhiasan dari ibu-ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeUh6HOXxqI/AAAAAAAAAHs/cJsIeFynsws/s1600-h/PICT0253.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeUh6HOXxqI/AAAAAAAAAHs/cJsIeFynsws/s200/PICT0253.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5324699416690935458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Diantara hal yang mengharukan lainnya adalah ketika seorang panitia dari sahabat al-Aqsha menawarkan kepada para hadirin untuk menukar HP mereka yang bermerk Nokia dengan kaos boikot produk Yahudi. Dari sekian banyak hadirin ternyata yang mengawali untuk maju ke depan adalah seorang anak kecil berusia 11 tahun masih duduk di kelas 3 SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir acara semua hadirin laki-laki bersalaman dan berangkulan dengan para mujahid dari Palestina tersebut. Syaikh Abu Bakar dan sahabatnya akan melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat lainnya untuk terus menjaga gelora semangat kaum muslimin Indonesia dalam mendukung perjuangan para mujahidin di Palestina. Semoga Allah swt melindungimu ya... syaikh dan memberikan kemenangan kepada kaum muslimin di Palestina. amiin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-7770660073052918424?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/7770660073052918424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/ya-syaikh-doa-kami-selalu-menyertaimu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7770660073052918424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/7770660073052918424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/ya-syaikh-doa-kami-selalu-menyertaimu.html' title='ya syaikh…..  doa kami selalu menyertaimu'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeUci4Z39VI/AAAAAAAAAHc/tTnpQgpCnJM/s72-c/PICT0231.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3985038588450963663</id><published>2009-04-09T17:38:00.005+07:00</published><updated>2010-02-25T17:04:07.449+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selingan'/><title type='text'>lima menit untuk selamanya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Baru hari ini saya mengetahui ada satu lagu yang menjadi bagian kampanye untuk mengajak rakyat Indonesia datang ke TPS mencontreng alias tidak golput. Maklum saya termasuk orang yang sangat jarang sekali menonton TV ataupun mendengarkan radio. Informasi biasanya saya peroleh dari koran maupun internet. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lagu itu judulnya lima menit untuk lima tahun. Lima menit pada judul lagu itu merujuk pada lamamnya waktu yang dibutuhkan seorang pemilih untuk hadir di sebuah TPS, sedangkan lima tahun adalah waktu seorang anggota legislatif atau presiden hasil contrengan itu menjabat. Sebenarnya terlambat kalau mengomentari lagu tersebut karena pemilu sudah terlaksana. Tapi tidak mengapalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" id="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Menyimak judul lagu tersebut sebenarnya ada kekeliruan pemahaman si pencipta lagu tersebut  tentang kehidupan manusia jika dikaitkan dengan konsep Islam. Dalam ajaran Islam setiap perbuatan manusia berdimensi jauh; dunia dan akhirat. Tidak ada satu perbuatan manusiapun yang tidak dihitung oleh Allah swt setiap detiknya dan akan mendapatkan balasannya di hari kiamat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda hanya dengan paham materialisme. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materialis adalah paham yang hanya bersandar pada materi (ma’dah) yang tidak meyakini apa yang ada di balik alam ghaib. Tidak meyakini alam ghaib berarti tidak meyakini adanya kekuatan yang menguasai alam semesta ini. Dan hal ini secara otomatis menafikan adanya Allah sebagai pencipta alam semesta. Karena menurut paham ini, alam beserta isinya berasal dari satu sumber yaitu materi (ma’dah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, ciri-ciri paham ini bisa kita klarifikasikan. Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini: Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi, tidak meyakini adanya alam ghaib, menjadikan panca-indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu, memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakkan hukum, dan menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlaq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pengertian seperti itu maka tidak ada pertanggung jawabkan bagi seseorang atas perbuatannya di dunia. Begitu meninggal semua sudah berakhir dan habis. Tentu saja ideologi ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam tentang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala memberikan kepada manusia anggota tubuh untuk bergerak, akal untuk berpikir, ini semua kenikmatan yang harus disyukuri, dengan cara menggunakannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, dan beraktifitas keduniawiaan yang bermanfaat dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfiman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran itu yang membuat kita berhati-hati dalam berucap dan berbuat, karena semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala di akhirat. &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga apapun yang kita lakukan tadi pagi; datang atau tidak ke tempat coblosan, memilih atau golput sekalipun dampaknya tidak hanya kita rasakan lima tahun sesuai usia pemerintahan sistem demokrasi Indonesia. Lima menit tadi pagi waktu yang kita pakai beraktifitas juga akan kita ambil hasilnya kelak pada hari di mana tidak ada yang berhak menentukan nasib seseorang kecuali Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-3985038588450963663?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/3985038588450963663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/lima-menit-untuk-selamanya.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3985038588450963663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/3985038588450963663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/lima-menit-untuk-selamanya.html' title='lima menit untuk selamanya'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-8009289224582794188</id><published>2009-04-06T19:00:00.005+07:00</published><updated>2011-10-19T11:40:13.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>belajar dari tiga sesepuh</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial; font-size: 100%; font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hari ini saya pergi ke tukang cukur rambut untuk mengurangi rambut di kepala yang mulai tebal dan panjang. Di samping juga supaya tidak “kualat” karena hari-hari terakhir ini saya sering mengingatkan beberapa orang yang rambutnya juga mulai panjang dan tebal untuk menguranginya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Karena hari sudah siang, saya harus antri beberapa lama untuk mendapat giliran. Sambil menunggu antrian saya asyik menyimak cerita seorang bapak yang sudah sepuh dan menjadi tokoh sentral dalam diskusi kecil di tempat cukur rambut tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thm-a03.yimg.com/image/4d69aab4e238a5d6" style="font-family: arial;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://thm-a03.yimg.com/image/4d69aab4e238a5d6" style="cursor: pointer; float: left; height: 145px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 145px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Pengetahuan dan wawasan bapak itu terhadap sejarah Indonesia zaman dulu relatif sangat, khususnya sejak penjajahan Belanda, Jepang sampai era bung Karno. Terlebih beliau tentu saja mengalami sendiri sebagian masa-masa getir tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost" style="font-family: arial; font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia yang menjelang 85 tahun (pengakuannya sendiri), geraknya masih energik, suaranya masih jelas dan subahanallah ingatannya masih kuat. Dengan sangat lancar beliau menceritakan kesengsaraan rakyat ketika hidup pada masa Belanda dan Jepang. Juga menyayangkan bangsa Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam melimpah ruah ternyata rakyatnya masih banyak yang susah dan menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali bapak itu menepuk-nepuk punggung saya ketika mengomentari kehidupan anak muda saat sekarang. Termasuk juga makin hilangnya kesopanan remaja sekarang. Bapak itu menyayangkan semakin jarangnya penggunaan bahasa jawa halus dalam masyarakat di jawa. Beliau yang bisa sedikit-sedikit bahasa Belanda, Jepang dan Madura menganggap bahasa Jawa cukup efektif untuk mendidik sopan santun anak-anak kepada orang tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggalkan saya dan orang-orang yang sedari tadi asyik menyimak ceritannya, ia mengajak kami untuk bersikap seperti dirinya; memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sebagai bangsa Indonesia. Beliau meninggalkan kami dengan empat nasehat agar hidup tenang di masyarakat; jangan merasa sombong, kalau tidak mau disakiti jangan menyakiti, berbuat baik kepada tetangga karena itu saudara terdekat kita dan jangan membeda-bedakan orang karena suku, agama maupun warna kulitnya karena kita sama-sama orang Indonesia. Hemmm.... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nasionalis tulen&lt;/span&gt;, begitu pikir saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian teringat dua orang tokoh yang sebaya bapak tersebut, satunya sekarang masih hidup dan satunya sudah lama sekali meninggal. Orang pertama adalah &lt;span style="color: #000099; font-style: italic;"&gt;Hugh Hefner&lt;/span&gt; pemilik majalah play boy yang saat ini berusia sekitar 83 tahun, sedangkan satu orang lainnya yaitu &lt;span style="color: #000099; font-style: italic;"&gt;Abu Ayyub Al-Anshari&lt;/span&gt; salah seorang sahabat Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hugh Hefner kita kenal sebagai salah satu penyebar kemaksiatan terbesar di dunia pada era modern. Kakek satu ini yang sekarang tinggal seatap dengan para model tanpa ikatan apapun mulai menjalankan kerajaan bisnis pornografinya pada tahun 1953. Playboy telah  berperan sangat penting dalam membawa pornografi ke luar dari kamar tidur dan memasuki ruang publik secara terbuka. Sejak awal memang majalah ini dirancang untuk menjajakan paham kekebasan dalam berperilaku sebagai bagian dari gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thm-a02.yimg.com/image/73a5912709a9605a"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://thm-a02.yimg.com/image/73a5912709a9605a" style="cursor: pointer; float: left; height: 139px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 106px;" /&gt;&lt;/a&gt;Peredaran majalah ini sudah mendunia, termasuk (ironisnya) di negara kita yang penduduknya mayoritas muslim. Pada tahun 2006 majalah playboy harus mencetak 7 juta eksemplar setiap bulannya. Bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang beredar dalam bisnis haram tersebut, termasuk segala pernik-pernik aksesoris pornografi sebagai penunjanngya. Konon untuk mendapatkan hak atau lisensi terbit di tanah air, pengelola playboy Indonesia harus merogoh kocek 1 miliar. Berarti secara kalkulasi bisnis ada keyakinan peredaran majalah ini akan sangat menguntungkan sehingga berani resiko menghadapi segala macam penentangan dari masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sagat wajar dan menjadi keharusan kalau kita memerangi pornografi dan segala instrumen pendukungnya. Kita menyadari bahwa pornografi sudah seperti candu yang mengandung bahaya besar dan merusak seluruh sendi kehidupan masyarakat khususnya bagi generasi muda, sehingga pemberantasan pornografi harus senantiasa digelorakan setiap saat. Pornografi bisa mengancam kehidupan moral pribadi seseorang yang menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-style: italic;"&gt;Allah swt berfirman “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak remaja paling rentan terhadap bahaya pornografi karena secara psikologi mereka sedang memasuki masa pubertas dengan libido (nafsu seksual) yang berpotensi meledak-ledak, di samping perasaan ingin tahunya yang sangat besar terhadap dorongan biologis itu. Tidak bisa dihitung lagi berapa kali kita mendengar para remaja, pemuda dan mahasiswa melakukan perzinaan setelah terprovokasi adegan-adegan panas dari majalah, surat kabar dan VCD porno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya dosa kakek Hugh jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Apalagi orang yang mengawali kemaksiatan akan menerima tambahan dosa dari orang-orang yang mengikuti jalannya bermaksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000066; font-style: italic;"&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua sepuh ketiga yang juga tokoh kaum muslimin adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Sesuai dengan nama belakangnya, beliau berasal dari kabilah Anshar atau penduduk asli Madinah yang menolong kaum Muhajirin yaitu kaum muslimin Makkah yang berhijrah di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah beliau sempat menjadi tempat tinggal Rasulullah saw dan keluarganya pada hari-hari pertama di Madinah sebelum di buatkan rumah untuk beliau dan keluarganya di sebelah masjid Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt menganugerahi laki-laki sholeh ini umur cukup panjang 80 tahun lebih. Beliau mengalami masa empat khalifah yang lurus (khulafaurrasyidin) Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Beliau sangat aktif mengikuti perjalanan jihad bersenjata kaum muslimin khususnya setiap usaha membuka kota konstantinopel. Beliau sangat mengharapkan menjadi anggota pasukan terbaik kaum muslimin sebagai kabar nubuwwah Rasulullah Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-style: italic;"&gt;“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”. [H.R. Ahmad bin Hanbal).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak serangan yang dilancarkan para khalifah Islam dalam rangka penaklukan konstantinopel dalam rentang waktu 800 tahun lamanya karena terinspirasi dan termotivasi sabda Rasulullah saw. Namun semuanya mengalami kegagalan sampai penyerangan terakhir yang dilakukan oleh sultan muhammad II dari kekhalifahan Utsmaniyyah yang bergelar muhammad Al-Fatih.&lt;/span&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSYARIF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-family: arial;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CSYARIF%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data" style="font-family: arial;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Arial; font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost" style="font-family: arial; font-size: 100%;"&gt;Usaha pertama untuk mengepung Konstantinopel dilakukan pada tahun 34 H. / 654 M masa pemerintahan Usman bin Affan ra. Dia mengirimkan Muawiyah bin Abu Sofyan r.a. dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkannya. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa disebabkan oleh kokohnya pertahanan kota Konstantinopel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kekhilafahan Islam masa Bani Umayah tercatat 2 serangan penting yang dilancarkan Pertama; yang dilakukan pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan r.a. sayangnya upaya itu belum berhasi. Kedua; adalah yang dilakukan pada masa Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H . Pada saat itu khalifah mengirimkan pasukan tentara sejumlah 20.000 orang dan sekitar seratus perahu untuk mengepung dan menaklukkan Konstantinopel, namun belum memperoleh apa yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://thm-a01.yimg.com/image/86e9b3179ed41228"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://thm-a01.yimg.com/image/86e9b3179ed41228" style="cursor: pointer; float: right; height: 163px; margin: 0pt 0pt 10px 10px; width: 144px;" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam usaha penaklukan yang pertama itulah Abu Ayub Al-Anshari syahid. Ketika itu beliau telah berusia 80 tahun lebih. Dalam pertempuran yang sengit di sekitar benteng konstantinopel beliau mengalami luka sangat parah. Sebelum wafat Abu Ayyub sempat berwasiat jika meninggal dunia dalam pertempuran besok paginya,  beliau meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim dari wilayah konstantinopel. Dan para sahabatnya memenuhi permintaan beliau dan berhasil menyelinap untuk memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn. Makamnya sampai sekarang masih ada di Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah masalah dalam memilih karena Allah swt telah memberikan dua alternatif bagi kita; kebaikan atau kefasikan (Asy-Syams ayat 8), telebih hidup itu sesungguhnya adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik amalnya (Al-Mulk ayat 2).  Alangkah indahnya kalau kemudian sepanjang waktu yang diberikan kepada kita sebagai kesempatan hidup di dunia penuh dengan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt. Itulah golongan manusia-manusia terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099; font-style: italic;"&gt;Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang terbaik di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Kata beliau, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling panjang umurnya dan paling baik amalnya.” (HR. Ahmad)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah swt juga memberikan kesanggupan kepada kita untuk mengisi waktu demi waktu keseharian dengan lebih banyak mengerjakan kebaikan. Jangan sampai pertambahan usia kita justru menambah banyaknya jumlah kesalahan yang kita kerjakan. &lt;span style="color: #000099; font-style: italic;"&gt;Bukankah semua kelak akan kita pertanggung jawabkan di mahkamah pembalasan? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-8009289224582794188?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/8009289224582794188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/belajar-dari-tiga-sesepuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8009289224582794188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8009289224582794188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/belajar-dari-tiga-sesepuh.html' title='belajar dari tiga sesepuh'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-8575125583240152408</id><published>2009-04-04T21:41:00.005+07:00</published><updated>2010-02-25T17:02:07.176+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>kita ini masih muda, mas…</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Saya minta bantuannya karena anak saya mengaku stress, depresi, sumpek, tertekan dengan teman, guru dan linkungannya. Saya berniat siang ini berangkat ke sana untuk berbicara dengannya. Saya khawatir karena sebentar lagi ujian. Saya sebaiknya bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sebagian penggalan dialog saya dengan seorang ibu lewat ponsel kemarin pagi. Sembari memberikan beberapa saran yang menurut saya baik untuk menenangkannya, saya berjanji membantu ibu itu untuk ngobrol dengan putranya. Saya meminta beliau untuk menghubungi saya beberapa hari lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" id="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi saya duduk berdua berhadap-hadapan dengan putra si ibu itu di sebuah ruangan. Awalnya si anak tidak mengaku kalau dirinya sedang tidak stabil. Bahkan meskipun ia bercerita beberapa hal tentang dirinya, ada yang ia sembunyikan. Sayapun tidak memaksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia bercerita, saya sampaikan hal-hal yang menurut saya penting untuk diketahuinya. Paling tidak secara teori ia memiliki landasan dalam menyikapi kondisi dirinya. Alhamdulillah, ia tetap sabar mendengar kalimat demi kalimat yang saya sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih 15 menit saya menyampaikan tentang apa itu stress, penyebab dan kira-kira solusi apa yang sebaiknya dilakukan orang yang sedang dalam kondisi tersebut. Ia mengangguk dan menyanggupi beberapa permintaan saya untuk ia lakukan terkait dirinya serta orang tua yang menyayanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya semakin percaya kesimpulan banyak orang yang mengatakan kalau remaja dan pemuda sekarang gampang down ketika menghadapi persoalan sedikit rumit. Nampaknya predikat sebagai generasi instant yang pingin serba cepat, pingin enak terus dan ogah sedih semakin menemukan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terjebak dalam perangkap kehidupan pop ala televisi dan majalah-majalah remaja tiruan barat. Live is for fun, life is easy going, just for happy, free style dan ungkapan yang sejenis mewakili gambaran kehidupan yang mereka inginkan. Kampanye yang setiap hari mereka ikuti dengan sadar ataupun tidak, berhasil mengubah bangunan karakter yang harusnya dimiliki sebagai pewaris negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a03.yimg.com/image/c245ec42bd199056"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 80px; height: 60px;" src="http://thm-a03.yimg.com/image/c245ec42bd199056" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Akibatnya ketika persoalan yang sebenarnya tidak seberapa, seakan-akan seperti memikirkan masalah orang satu kampung. Ditambah lagi dengan minimnya upaya untuk mencari solusi-solusi alternatif supaya masalahnya selesai. Ia hanya menunggu orang-orang di sekitarnya membantu untuk menyelesaikan masalahnya. Pasif dan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak semua anak muda berkarakter seperti itu, namun wabah itu terasa semakin menyebar ke mana-mana. Tidak ketinggalan pula menghinggapi generasi muda Islam. Mungkinkah amanah perjuangan umat ini diserahkan kepada mereka yang bertipologi seperti itu? Bukankah pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan panjang kehidupan manusia sudah mengajarkan pentingnya peran sosok para pemuda dalam kebangkitan sebuah masyarakat, bangsa ataupun peradaban. Energi besar yang berkumpul dalam diri mereka merupakan modal luar biasa jika mampu memaksimalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a01.yimg.com/image/406e31b168abbf48"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 82px;" src="http://thm-a01.yimg.com/image/406e31b168abbf48" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bukankah para pendahulu kita generasi muslim pertama para pembela Rasulullah saw sebagian besar adalah anak-anak muda. Ada Ali dan Ja’far bin Abi Thalib serta Zubair bin Awwam yang masih berusia 8 tahun, Arqam bin Abi Arqam 16 tahun, Shahih Ar Rumy 19 tahun,  Zaid bin Haritsah 20 tahun, Saad bin Abi Waqqash 17 tahun, dan Utsman bin Affan 17 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid ketika berusia 18 tahun sebagai panglima perang menghadapi negara adi kuasa Romawi. termasuk Umar bin Khatab yang sering mengajak Abdullah bin Abbas mengikuti rapat-rapat kenegaraan karena kecerdasan dan kefaqihan ilmu agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana dengan remaja dan pemuda Islam hari ini? Saatnya unjuk prestasi!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-8575125583240152408?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/8575125583240152408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/kita-ini-masih-muda-mas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8575125583240152408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/8575125583240152408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/kita-ini-masih-muda-mas.html' title='kita ini masih muda, mas…'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-624358183340142284</id><published>2009-04-03T20:45:00.008+07:00</published><updated>2010-02-26T19:47:12.375+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Membangkitkan Islam dengan Manhaj Nabawi.</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Bagaimana membangkitkan kembali peradaban Islam yang sedang berada di bawah bayang-bayang peradaban barat yang kafir?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kita ingat bahwa perjuangan dakwah Rasulullah saw tidak bertumpu kepada kekuasan, ekonomi, ataupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Beliau pernah mencoba cara-cara itu untuk memperbaiki masyarakatnya, namun tidak berhasil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dalam bidang politik beliau pernah mencoba ketika terjadi peristiwa peletakkan Hajar Aswad. Ketika semua suku dan kabilah sudah menghunus pedang, kuda-kuda perang sudah dilepas dari kandangnya dan setiap prajurit sudah menyiapkan jiwa dan raganya untuk kehormatan kaum, Muhammad saw melakukan sebuah terobosan politik yang luar biasa jeniusnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" id="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a01.yimg.com/image/8b737abf8aa0ca3a"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 108px;" src="http://thm-a01.yimg.com/image/8b737abf8aa0ca3a" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Meskipun mendapatkan mandat secara penuh untuk memutuskan pengembalian Hajar Aswad ke tempatnya, beliau mengajak seluruh ketua kabilah mengangkat batu itu bersama-sama. Makkah terhindar dari banjir darah. Tapi hanya begitu saja, setelah itu semua kembali kepada kebiasaan lama mereka. Hanya saja kemudian mereka memberi gelar kepada beliau Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam bidang sosial ekonomi. Rasulullah saw dikenal sebagai seorang penyantun, suka menyambung tali silaturrahim dan membebaskan budak. Bahkan salah seorang budak itu kemudian beliau angkat menjadi anak beliau yakni Zaid bin Haritsah. Namun kebijakan-kebijakan itu juga belum mampu mengubah sruktur keyakinan dan perubahan masyarakat Quraisy secara keseluruhan. Ternyata bukan itu semua solusi permasalahan bagi kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a02.yimg.com/image/263f6228a919e0f2"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 145px; height: 108px;" src="http://thm-a02.yimg.com/image/263f6228a919e0f2" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beliau kemudian mengasingkan diri, berlari, mengungsi dan menjauhi masyarakatnya untuk merenung mencari jalan terbaik keluar dari krisis multidimensional tersebut. Beliau merasa otak dan akalnya sudah buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika Allah swt melalui malaikat Jibril menyuruh beliau membaca, jawaban beliau adalah aku tidak bisa membaca. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“bacalah ya Muhammad” “aku tidak bisa membaca”&lt;/span&gt;. Beliau merasa tidak lagi mempunyai alternatif untuk memecahkan persoalan masyarakatnya. Beliau membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia untuk menyelesaikan problem sosial di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bacalah dengan nama Rabb mu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Rabb mu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan qolam. Dia mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengherankan tentunya kalau membandingkan problem yang harus Rasulullah saw hadapi serta solusi yang ingin beliau dapatkan dengan perintah pertama yang beliau terima. Apa hubungannya? Allah swt adalah pencipta dan pemilik jagad raya ini. Tentu saja Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bacalah dengan nama Rabb mu yang menciptakan&lt;/span&gt;". Dari sini sebuah paradigma baru telah dibangun, yaitu adanya rekrontruksi (penataan ulang) pola pikir (tashawwur)  yang dilakukan dengan menggunakan potensi Rububiyah. Gugah, ketuk dan bangkitkan potensi Rabbaniyah yang sudah lama terpatri dalam nurani setiap manusia, sebelum membicarakan berbagai macam aturan dan hukum, sebelum menentukan halal dan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iqra’ Bismirabbika -  merupakan suatu paradigma dalam menyerap realitas lahiriah (syahadah) dan metafisik (ghaib) melalui kesadaran Rububiyah. Pada dasarnya, kesadaran Rububiyah sudah melekat dengan penciptaan manusia itu sendiri,  ia sesungguhnya adalah kesadaran yang bersifat fitri (sesuatu yang melekat pada proses penciptaan fisik manusia). Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Ia jadikan mereka saksi atas diri mereka: “Bukanlah Aku Tuhan kamu?” mereka berkata: “Betul! Kami menyaksikan” Yang demikian supaya kamu (tidak) berkata pada hari kiamat: “sesungguhnya kami tentang hal ini termasuk orang-orang yang lalai. &lt;/span&gt;(Q.S. Al Araf : 172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi oleh karena beratnya godaan dan rayuan dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan sponsor utama syaithan laknatullah, maka potensi Rububiyah tidak lagi dominan dalam diri manusia. Ia sesungguhnya tidak hilang dan tidak akan mungkin hilang, melainkan tertimbun dan tertekan oleh  dahsyatnya dominasi nafsu syahwat dan godaan syaithan tersebut. Oleh karena itu di dalam mengantarkan seorang manusia menuju kesadaran dasar yang dituju oleh wahyu, maka seseorang itu harus melakukan proses iqra’ bismirabbik,. Yakni, mengembalikan dominasi fitrah dalam membaca dan menyerap realitas kehidupan dunia dan alam semesta yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan al-Alaq mengugah kesadaran manusia untuk mengetahui bahwa dirinya adalah ciptaan dan berasal dari sesuatu yang hina (‘alaq) dan bodoh ( ma lam ya’ lam). Sementara Rabb nya adalah Maha Pencipta (Kholiq), Maha Mulia (Akram) dan Maha Mengetahui (‘alamal Insan).  Al-Alaq ayat 1-5 akan melahirkan falsafah hidup bertauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Falsafah hidup tauhid, yaitu kesadaran dasar akan eksistensi, kekuasaan dan kemuliaan Allah sebagai sumber cipta dan sumber ilmu akan melahirkan kesadaran Allah sebagai tujuan akhir (ghoyah). Jika digambarkan seorang yang telah beriman berada pada posisi awal, dan tujuan hidup yang baru yaitu Allah Yang Maha Agung daya tarik  itu berada pada posisi lain, maka  perjalanan menuju Allah adalah mujahadah. Atau, perjuangan yang sesungguhnya adalah perjalanan menuju Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://thm-a01.yimg.com/image/7b03be9fdecc5c9a"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 145px; height: 99px;" src="http://thm-a01.yimg.com/image/7b03be9fdecc5c9a" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dengan demikian falsafah tauhid-lah yang menjadi dasar bagi perjuangan seorang Mukmin. Ia menjadi landasan, tempat berpijak,  pangkalan dan tempat bertolak perjalanan hidup seorang Mukmin, dalam usahanya menuju kepada Allah. Perjuangan itu tidak saja merupakan jihad yang suci, tetapi sebuah perjalanan perjuangan yang berat, panjang dan melelahkan. Berbagai hambatan dan rintangan siap menghadang. Begitu juga godaan dan rayuan selalu muncul. Karena beratnya perjalanan itu, maka pada dasarnya tidak seorang pun yang sukses melewatinya, dalam arti mampu mencapai Allah, jika semata-mata berbekal pada kemampuan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menapak tilasi perjalanan sejarah Rasul bersama para sahabat, dan dikaitkan dengan kelahiran  kesadaran atau falsafah hidup yang memunculkan orientasi hidup menuju Allah, maka kita memahami betapa falsafah hidup itu mengubah jalan sejarah, tidak saja bagi individu Mukmin, tetapi juga kemanusiaan dan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lahirnya iman, ketergantungan, harapan hidup adalah kepada diri sendiri, atau kepada sanak keluarga atau handai taulan, atau kepada berhala-berhala baik yang berwujud maupun yang abstrak. Kemudian setelah lahirnya iman, maka seluruh harapan hidup digantungkan hanya kepada Allah, tunduk dan patuh ditujukan kepada Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah bangunan peradaban itu dibangun kembali dengan mengacu kepada jejak langkah perjalanan Rasulullah saw dan para sahabat memenangkan Islam. Tidak mungkin apa yang Allah swt ajarkan kepada Rasulullah saw dan beliau lakukan salah serta keliru. Itu adalah kenyataan historis yang tidak terbantahkan, ditunjang landasan normatif sebagai panduan kita untuk mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah manhaj nabawi. Metode ini bertumpu pada lima surat yang pertama kali turun kepada Rasulullah saw yaitu al-Alaq ayat 1-5, Al-Qolam ayat 1-7, Al-Muzammil ayat 1-10, al-Mudatsir ayat 1-7 dan al-Fatihah ayat 1-7. Kelima surat tersebut biasa disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sistematika Nuzulnya Wahyu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari orientasi hidup yang kita bangun melalui surat Al Alaq. Setelah itu lahirlah sebuah obsesi hidup berqur’an dengan surat Al Qolam. Dan ketika obsesi telah terbangun, dilanjutkan dengan proses Internalisasi, proses Kristalisasi melalui surat Al Muzammil sebagai bekal mujahid dakwah. Baru kita mengadakan Ekspansi dengan dakwah dan jihad dalam berbagai aspek serta lingkupnya dengan surat Al Mudatstsir. Dengan demikian maka akan lahir Paradigma yang terbuka dan membuka kejumudan, yaitu paradigma Al-Fatihah. Insya Allah segalanya akan berakhir dengan Alhamdulillah, berakhir dengan tegaknya peradaban yang mendapat keridhoan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-624358183340142284?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/624358183340142284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/membangkitkan-islam-dengan-manhaj.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/624358183340142284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/624358183340142284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/04/membangkitkan-islam-dengan-manhaj.html' title='Membangkitkan Islam dengan Manhaj Nabawi.'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-6096305641079174508</id><published>2009-03-26T08:01:00.005+07:00</published><updated>2010-02-25T17:01:12.094+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>berharap sakit</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kalau ada orang yang bertanya kepada kita apakah mau sakit, bisa dipastikan semua kita akan menjawab tidak. Sakit adalah suatu keadaan yang ingin dihindari setiap orang karena kondisi tersebut bisa membuat orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“menderita”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; dan harus rela kehilangan kegiatan serta aktifitas rutinnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a style="font-family: arial;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sk1.yt-thm-a04.yimg.com/image/5c6a5707b98bde8e"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 125px; height: 95px;" src="http://sk1.yt-thm-a04.yimg.com/image/5c6a5707b98bde8e" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Namun sesungguhnya ada saat tertentu di mana sakit bisa berfungsi sebagai sebuah kebaikan bagi orang yang mengalaminya. Coba bayangkan apakah ada saat dimana seseorang dikenal sebagai pembunuh, perampok, pencuri ataupun bentuk-bentuk kegiatan yang menyeramkan lainnya secara tiba-tiba membatalkan perbuatannya? Kalau sekedar kepingin makan, minum ataupun buang air sekalipun, nampaknya tidak mungkin menghentikan hasratnya untuk melakukan pembunuhan, perampokan ataupun pencurian. Seseorang yang sudah diliputi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;“aura”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; seperti itu, ibarat mesin tanpa nurani yang hanya menuruti nafsunya sementara nafsunya sudah dikendalikan oleh setan beserta para pembantunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kondisi seperti itu, ada satu keadaan yang bisa mengerem perbuatannya. Ya kondisi sedang sakit. Sejahat apapun seorang manusia tidak mampu berbuat apa-apa jika sedang sakit. Orang sakit membutuhkan perlakuan dan kebiasaan yang berbeda sama sekali dengan orang sehat. Tidak ada bedanya orang sakit tersebut seorang pengemis, konglomerat, pejabat ataupun rakyat jelata sekalipun. Semuanya sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin sakit flu yang menyerang orang kaya tidak membuat hidungnya meler, mata berkunang ataupun badan terasa ngereges. Begitu pula adalah kemustahilan kalau kemudian seorang yang miskin papa terkena penyakit stroke tidak mengalami kesulitan menggerakkan sebagaian ataupun seluruh anggota badannya sebaliknya malah suka main bola ataupun bulu tangkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://sk1.yt-thm-a03.yimg.com/image/1ebe55950208718c"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 87px; height: 125px;" src="http://sk1.yt-thm-a03.yimg.com/image/1ebe55950208718c" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Normal kalau kemudian semua manusia memilih dan berdoa untuk sehat selalu. Hanya saja sejarah telah mencatat oang yang tidak pernah mengalami sakit justru terjebak dalam kesombongan dan bergelimang maksiat. Kita mengenal Fir’aun yang konon tidak pernah terkena satu penyakitpun sepanjang hidupnya. Akibatnya pada puncak kesombongannya merasa lebih dari manusia lainnya, ia merasa sudah seperti Tuhan. Dengan restu orang sekelilingnya iapun memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan yang menentukan hidup dan matinya seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan orang yang pernah merasakan sakit. Ia pasti berfikir apakah sakitnya sembuh atau tidak? Kalau sembuh kapan waktunya, kalau tidak segera sembuh nanti bagaimana? Bahkan mungkin akan menyusup ke dalam pikirannya; apakah saya akan mati karena penyakit ini? Dan kekhawatiran-kekhawatiran yang semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak orang-orang yang memiliki kekhawatiran seperti di atas akan berfikir untuk berdoa kepada Allah swt dan memperbanyak ibadahnya. Tidak jarang sebagian orang kemudian berjanji untuk memperbaiki dirinya jika diberikan kesembuhan. Tidak sedikit pula orang yang dekat kembali dengan Allah swt setelah tertimpa sebuah penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak ada salahnya selain berdoa untuk diberikan kesehatan dan kebaikan hidup di dunia dan akhirat, sekali-kali juga minta sakit kepada Allah swt. Jika kita memiliki keinginan kurang baik untuk menyimpang atau melanggar syariat Allah swt sadar ataupun tidak, dengan sendirinya akan terbatalkan. Terlebih Rasulullah saw pernah bersabda jika seorang muslim tertimpa sakit bahkan tertusuk duri kemudian ikhlash akan berkurang dosa-dosanya. Bonus dari Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari Aisyah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau tertimpa bencana yang lebih besar dari itu kecuali akan tercatat baginya dengan bencana itu satu peningkatan derajat serta akan dihapuskan dari dirinya satu dosa kesalahan. (HR Muslim)&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4447797861929948292-6096305641079174508?l=abinehanafi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abinehanafi.blogspot.com/feeds/6096305641079174508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/03/berharap-sakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6096305641079174508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4447797861929948292/posts/default/6096305641079174508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abinehanafi.blogspot.com/2009/03/berharap-sakit.html' title='berharap sakit'/><author><name>abinehanafi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07940992520673866530</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/SeJupFYNKeI/AAAAAAAAAG8/wEScbnJP1Vc/S220/hanafi+9+bln.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4447797861929948292.post-3443682301623136737</id><published>2009-03-18T09:52:00.012+07:00</published><updated>2010-02-25T16:59:27.406+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah'/><title type='text'>dua minggu yang “mempesona”</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Alhamdulillah. Hari ini masuk dua tahun usia Abdurrahman Ahmad Hanafi, orang biasa memanggilnya Hanafi. Seorang bocah kecil yang diharapkan menjadi anak soleh, permata keluarga, masyakarat tempat ia tinggal dan umat secara keseluruhan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-Baqarah:128, 132)&lt;/span&gt;. Doa itu menjadi bagian wirid harian kedua orang tuanya karena menyadari tantangan kehidupan mendatang jauh lebih sulit dan kompleks. Hanya inayah dan maunah Allah swt yang bisa menjaga anak ini berjalan dan tetap istiqomah menapak tilasi perjalanan Rasulullah saw, para sahabat beliau dan orang-orang sholeh yang memperjuangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: arial;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ScBkioVHH6I/AAAAAAAAAGM/aalYYuLVFqI/s1600-h/twoss.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ScBkioVHH6I/AAAAAAAAAGM/aalYYuLVFqI/s200/twoss.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5314358106401480610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seperti anak-anak lainnya, diantara masa paling krusial bagi dirinya adalah ketika usianya beranjak memasuki dua tahun. Krusial karena usia dua tahun adalah batas masa ia boleh mengkonsumsi ASI (Air Susu Ibu) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(al-Baqarah ayat 233)&lt;/span&gt;. Meski bukan satu-satunya menu makanan yang dikonsumsi seorang anak, namun aspek psikologis-batin antara ibu dan anak membuat ASI menjadikan ASI semacam ketergantungan bagi sebagian besar anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;" id="fullpost"  &gt;&lt;br /&gt;Para ahli tentang bayi dan anak menyarankan agar hati-hati serta waspada memperlakukan anak ketika menjelang dan setelah masa menyapih. Jika tidak hati-hati, gangguan psikologis yang dialaminya akan berpengaruh terhadap diri si anak sampai usia dewasa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wah… mengerikan sekali kayaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan informasi itu dan cerita dari teman-teman yang sudah pernah mengalaminya, saya berusaha melihat lebih jelas perkembangan psikologi Hanafi. Meski dengan variasi problem psikologi yang berbeda, namun informasi dari mereka memang saya lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanafi yang sebelumnya relatif periang dan suka main sendiri, menjelang dan setelah di stop ASI nya nyaris berubah drastis. Gejala yang nampak adalah ia menjadi suka marah, terutama ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;uminya&lt;/span&gt;. Tidak jarang ketika sedang ketagihan ASI dan tidak di turuti, tangan dan kakinya berusaha &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dilayangkan&lt;/span&gt; ke tubuh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;uminya&lt;/span&gt;. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ScBo8_fQB0I/AAAAAAAAAGU/zJrnqa9DK2o/s1600-h/21+bln+%284%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_pW9ZmnPm-M8/ScBo8_fQB0I/AAAAAAAAAGU
