RSS

Ramadhan di ujung jalan

abinehanafi Filed Under: Label:
Tiga ciri seseorang lulus "training" Ramadhan:

Pertama; merasa sedih ditinggalkan Ramadhan
Ada dua kondisi yang biasanya melingkupi perasaan Rasulullah saw, para sahabat dan salafush sholeh selama Ramadhan. Perasaan pertama muncul menjelang dan awal Ramadhan. Suasana hati mereka teramat riang gembira menyambut dan mengisi bulan mulia ini. Mereka menyadari inilah bulan yang memberikan mereka jembatan emas untuk menggapai ridho dan surga Allah swt. Situasi sebaliknya terjadi ketika di akhir-akhir Ramadhan. Perasaan mereka gundah gulana, sedih penuh duka nestapa menginggat saat-saat istimewa itu segera berlalu. Mereka menangis sampai air mata membasari jenggot-jenggot mereka. Mereka khawatir tahun depan tidak bertemu lagi dengan Ramadhan. Karenany disela-sela do'a mereka mengharapkan lailaut qodar dan ampunan ALlah swt atas segala khilaf serta kesalahan, mereka mengharap dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya.

Kedua; tidak berlebihan merayakan Idul Fitri
Tidak ada kemenangan yang memberikan kebahagiaan lebih besar kepada seorang muslim setelah berhasil mengendalikan hawa nafsunya selama bulan Ramadhan. Kemenangan itu terasa istimewa karena Allah swt kemudian menganugerahi mereka gelar "insan bertaqwa". Masalahnya tidak jarang kebahagiaan itu dirayakan secara berlebihan. Akibatnya nafsunya yang selama 30 hari sebelumnya berhasil "ditidurkan" mendapat momen untuk bangkit kembali dan tidak jarang tampil mengambil porsi peran yang dlebih besar dalam kehidupan seseorang selanjutnya.

Ketiga; menjaga kebiasaan baik Ramadhan pada bulan-bulan setelahnya
Ramadhan adalah madrasah bagi setiap muslim. Ia bukan tujuan tapi sarana untuk hidup lebih bermakna pada sebelas bulan berikutnya. Ramadhan adalah "short training" untuk melatih orang-orang beriman agar memiliki ibadah yang baik, akhlaq yang mulia dan tingkat kepedulian yang tinggi kepada sesama.
Rajin ke masjid untuk berjama'ah, semangat membaca dan mengkaji al-Qur'an, hadist-hadist Rasulullah saw serta ilmu-ilmu agama, senang berbagi dengan sesama, dan kuat menjaga diri untuk tidak terjerumus kepada perbuatan-perbuatan tercela harus tetap digiatkan setelah Ramadhan. Karena kewajiban dan tuntutan untuk menjadi muslim yang baik tidak hanya pada bulan Ramadhan tetapi juga hari-hari setelahnya.

Jadikan semangat Ramadhan sebagai momentum untuk semakin meningkatkan suasana islami di setiap lingkungan tempat tinggal orang-orang beriman. Dengan niat yang jelas membesarkan embrio kebangkitan peradaban Islam yang semakin membesar di setiap sudut bumi Allah swt. Karena Ramadhan adalah bulan perjuangan dan bulan kemenangan bagi kaum muslimin. Allahu Akbar!!!

| edit post

Begitulah anak-anak

abinehanafi Filed Under: Label:
Namannya juga anak-anak. Hanya bergerak berdasarkan keinginan. Tidak pernah berfikir lebih lama dari dua detik. Apa yang ia lakukan itulah yang ada dalam pikirannya. Namanya juga anak-anak.

Namanya Abdurahman Ahmad Hanafi, usianya 18 bulan. Layaknya bocah laki-laki seusinya, geraknya, Subhanallah, membuat orang yang melihatnya capek sendiri. Uminya sudah kewalahan dan sering istighfar mengikuti tingkah lakunya. Terlebih lingkungan tempat tinggalnya tidak memungkinkan ia mengikuti kemanapun anaknya bergerak dan bermain.

| edit post

Kesimpulan yang belum berubah

abinehanafi Filed Under: Label:
"Orang yang terbaik pada masa Jahiliyyah akan menjadi orang yang terbaik pada masa Islam"

Saya lupa persisnya kalimat di atas sabda Rasulullah saw atau bukan, cuma seingat saya itu perkataan beliau. Kalimat itu muncul begitu saja di otak saya setelah dua hari bertemu beberapa orang yang dulu pernah beberapa tahun tinggal dan hidup bersama sama disebuah tempat yang sangat istimewa. Sebuah tempat yang membuat saya rela menghabiskan seperempat dari usia yang Allah swt telah anugerahkan.

Ternyata, sejarah belum berubah. Orang-orang yang selama di tempat istimewa itu baik, ketika diluarpun tetap menjadi orang-orang baik. Kalaupun belum aktif menjadi penyuara-penyuara kebenaran, paling tidak mereka tidak mereka bisa menjaga suara kebenaran tetap nyaring dalam dirinya.

Sebaliknya orang-orang yang dulu ketika hidup se-atap dengan saya relatif kurang semangat menjadi corong-corong kebenaran, sekarangpun tidak jauh beda. Mereka lebih asyik dengan dunianya dibanding mengambil peran sejarah dengan memperbanyak amal sholeh menyuarakan kebenaran dengan perkataan, perbuatan dan tingkah laku keseharian.

| edit post