Bismillahirrahmanirrahim
Menelusuri kegiatan kita dalam satu hari mungkin seimbang persentase pemafaatan waktu untuk sesuatu yang positif maupun negatif. Lebih baik tentu saja apabila persentase positif lebih dominan daripada negatif. Namun secara jujur kita harus mengakui bahwa tidak jarang juga lebih disibukkan dengan perbuatan-perbuatan yang negatif. Positif negatif di sini tentu saja acuannya adalah konsepsi Islam dalam memandang satu perbuatan manusia.
Kemajuan peradaban material manusia modern termasuk di dalamnya adalah maraknya aneka ragam benda yang mampu menghinoptis manusia untuk senantiasa memperhatikannya. Televisi, alat pemutar musik, aneka permainan dan sekumpulan benda untuk memenuhi gaya hidup ala manusia modern.
Ukuran baik tidaknya satu aktifitas seorang muslim tentu saja terkait dengan satu pertanyaan; apakah yang kita kerjakan ini menambah iman kepada Allah swt ataukah sebaliknya? Terlalu sederhana barangkali, namun memang seperti itulah ukuran yang harus kita pergunakan untuk meneropong seberapa besar kualitas iman yang bersemayam di dalam diri kita.
Bagi generasi muda sekarang tentu saja tantangan untuk menjadi pribadi muslim yang baik semakin berat. Keumuman manusia saat ini adalah cenderung terlibat dalam kebiasaan-kebiasaan yang mensia-siakan waktu. Kalau semua itu bisa diminimalkan bahkan dihilangkan tentunya sebuah prestasi yang luar biasa.
Ketika kecenderungan manusia banyak menghabiskan waktu di depan televisi memelototi tayangan-tayangan yang mengungkap aib seseorang, maka anak muda yang tidak seperti itu tentulah sosok yang cukup baik. Karena ia mempunyai jalan berfikir; ”apakah menambah iman atau ilmu dengan banyak menonton acara seperti itu?” sebagaimana juga orang tidak akan bertambah iman dan ilmunya jika berhasil mencapai level tertinggi dalam sebuah permainan berbasis online (game online).
Pada saat kebiasaan pemuda untuk memanjakan telinganya mendengarkan alunan syair-syair percintaan melalui ear phone, jika ada anak muda tidak seperti itu tentu luar biasa. Terlebih jika telinganya sering diperdengarkan dengan alunan kalam-kalam Allah swt melalui lisannya sendiri. Wah..... hebat sekali.
Tentu saja untuk bisa begitu membutuhkan perjuangan yang luar biasa beratnya. Faktor nafsu karena dorongan syetan dan pengaruh manusia akan berusaha mengendorkan semangat seseorang untuk menjadi sosok muslim yang baik. Karenanya kesungguh-sungguhan menjadi modal penting supaya tujuan mulia tersebut bisa tercapai.
Paling tidak ada tiga kunci untuk sukses meninggalkan hal-hal yang tidak berguna dalam keseharian seseorang. Pertama adalah niat, kedua adalah kerja keras, dan ketiga adalah kesabaran.
Apabila ketiga hal tersebut dalam senantiasa kita jaga, harapan menjadi orang baik insya Allah terwujud. Allah swt memberi predikat manusia seperti itu dengan julukan ”orang-orang mukmin yang beruntung”
“Sungguh telah beruntung orang-orang beriman. Yaitu mereka yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menhindar dari perbuatan yang sia-sia.” (Qs. Al-Mu’minuun: 1-3)
16 Oktober 2009
menjaga dari hal yang sia-sia
12 Oktober 2009
generasi pelanjut risalah
Bismillahirrahmanirrahim
Diantara harapan terbesar sepasang orang tua adalah mempunyai keturunan. Anak bagi sebuah rumah merupakan cahaya penyemangat dan pemberi motivasi dalam kehidupan. Betapa sepinya rumah yang tidak pernah terdengar tangisan seorang bayi, cekikikan anak kecil, maupun senda gurau dan gelak tawa antar satu atau beberapa anak dengan sang ayah ataupun ibu. Terbayang suasana yang riang, gembira, dan terasa membahagiakan.Namun sekedar itu manfaat anak bagi kedua orang tuanya. Diantara harapan yang tertancap dalam benak sanubari orang tua terhadap anaknya adalah terjadinya proses pewarisan. Orang tua berharap anak-anaknya mampu mewarisi dengan baik apa saja yang selama ini mereka pegang dan perjuangkan. Kepada siapa lagi seseorang yang sudah tua akan memberikan estafeta perjuangannya kalau bukan kepada anak-anaknya sendiri? Mungkin orang lain bisa mewarisi dan memperjuangkannya dengan lebih baik, tetap saja anak sendiri lebih diharapkan bisa mewujudkan mimpi-mimpi mereka.
Terlebih bagi pribadi-pribadi muslim yang mengharapkan tegakknya kalimat haq di bumi ini. Kesadaran akan panjangnya perjuangan untuk menegakkan dan menjaga nilai-nilai tersebut mendorong seorang muslim senantiasa berdoa mempunyai keturunan yang sholeh dan sholehah. Tenang rasanya melihat jejak langkah para pejuang terhahulu terwariskan semangat juangnya oleh generasi-generasi berikutnya.
Demikianlah barangkali keresahan nabi Ibrahim di usia lanjutnya ketika Allah swt belum menganugerahkan keturunan kepada beliau. Beliau khawatir nilai-nilai yang selama ini beliau perjuangkan tidak ada yang melanjutkannya.
"Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh “ ( Qs Al Shoffat : 100 )
Maka kelahiran Ismail yang kemudian disusul Ishaq memunculkan kebahagiaan yang tidak terkira dalam diri beliau. Tidak sekedar perasaan sebagai orang tua tapi juga manusia yang memperjuangkan tegakkanya risalah Allah swt di permukaan bumi-Nya.
Kegundahan yang sebelumnya berkecamuk di pikiran beliau setiap malamnya pun berangsur-angsur berkurang. Sejarah kemudian bercerita kepada kita bahwa beliau mendapat gelar bapak para nabi karena dari keturunan-keturunan beliau beberapa orang diantaranya dipilih Allah swt untuk menyampaikan dakwah kepada umat manusia pada beberapa tempat dan beberapa waktu.
Begitu pula bagi kita sebagai penerus sejarah orang tua kita. Sebelum kita bertanya kepada anak-anak kita sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri ”sudahkah berbuat yang terbuat untuk meneruskan jejak kebaikan orang tua?” Kalau belum tentu saja masih ada waktu untuk memperbaikinya sampai nanti Allah swt menyetop waktu hidup kita.
Merupakan sikap yang kurang baik dan tidak bijaksana jika masa hidup kita justru membuat perbuatan positif orang tua tercoreng tingkah laku perbuatan yang kita kerjakan. Sebuah perilaku kurang terpuji tentunya.
Setiap orang tua berharap mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehah. Anak sholeh dan sholehah merupakan investasi dunia akhirat. Mereka tidak hanya menggembirakan dengan prestasi duniawinya dalam bidang akademik, sosial politik, materi dan lain sebagainya. Anak sholeh merupakan investasi akhirat karena doanya mampu memberikan pertolongan kepada orang tuanya meskipun sudah meninggal dunia.
Abu Hurairoh meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda,”Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : dari sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Karenanya selamat kepada teman-teman yang bulan ini Allah swt telah menganugerarkan kepada mereka keturunan, baik sebagai anak pertama, kedua maupun ketiga. Semoga buah hari mereka kelak menjadi pribadi-pribadi yang tidak saja membanggakan kedua orang tuannya, tetpai juga membawa pencerahan bagi masyarakatnya dengan menyalakan cahaya keagungan Allah swt dalam keseharian hidupnya.
“Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.“(QS Al Baqarah : 200-201)
29 September 2009
mencari pengadil yang adil
Bismillahirrahmanirrahim
Tanpa terasa sudah sekitar satu bulan kita mendapat suguhan informasi tentang hiruk pikuk pemberitaan tentang KPK dan sederet hal yang mengikutinya. Hampir setiap saat media-media informasi memuat perkembangan kasus tersebut. Nampaknya tidak ada berita lain yang lebih menarik bagi koran, televisi dan juga situs berita on line untuk disajikan kepada para penikmat berita.Begitulah peliknya mencari petugas keadilan dewasa ini. Godaan kekuatan uang, kekuasaan dan wanita pada zaman materialisme sekarang ini membuat kehadiran sosok pengadil yang benar-benar adil terasa semakin diimpikan. Seorang yang kokoh prinsip keadilan dan kebenaran tidak pandang siapa yang sedang berperkara dengan pengadilan. Masih adakah orang seperti itu? Insya Allah masih ada.
Teringat saya dengan kisah yang ditulis dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah kegemilangan umat Islam masa lalu. Berawal dari hilangnya baju besi khalifah Ali bin Abi Thalib dalam perang Shiffin. Ternyata baju itu kemudian di temukan sudah berada dalam penguasaan seorang Yahudi.
Khalifah segera mendatangi si Yahudi dan meminta baju beliau tersebut. Namun si Yahudi menolaknya karena menganggap barang itu adalah miliknya. Karena tidak menemukan titik temu antara dua pihak dalam permasalahan tersebut, mereka sepakat membawanya ke pengadilan negeri.
Layakanya kita, semua orang mungkin saat itu berfikir khalifah Ali akan memenangkan gugatannya. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Hakim Syuraih yang nota bene adalah pejabat bawahan khalifah berfikir lain. Ia menolak dua orang saksi yang diajukan khalifah yaitu puteranya, Hasan bin Ali dan pembantunya. Karena itu khalifah Ali kalah dalam pengadilan terkait kasus beliau. Dan beliaupun menerima kenyataan tersebut.
Namun ternyata, orang Yahudi yang dimenangkan dalam perkara itu akhirnya mengungkap kebenaran bahwa baju besi itu sebenarnya adalah milik amirul mukminin Khalifah Ali r.a. Keadilan mahkamah peradilan Negara Islam yang digelar secara riil oleh Qadli Syuraih yang notabene adalah pejabat bawahan Khalifah Ali telah membuka mata hati orang Yahudi warga negara Islam itu untuk mengubah keyakinannya. Ia mengatakan : “Aku bersaksi bahwa (keadilan proses peradilan negara Amirul Mukminin) ini adalah sebuah kebenaran yang nyata, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah”. Begitulah kisah yang tercatat dalam buku-buku sejarah Islam.Terasa sangat jauh kalau kemudian kisah-kisah keutamaan para hakim dan penguasa zaman ketika Islam masih memimpin dunia jika dibandingkan dengan kondisi sekitar kita hari ini. Betapa semakin mahal dan langka keadilan serta kejujuran sebuah forum pengadilan sekarang ini. Nyaris semuanya telah dipermainkan dengan lembaran uang untuk menentukan putusan kasus ataupun kemenangan dan kekelahan seseorang.
Akibatnya hukum menjadi kurang berwibawa. Orang tidak takut lagi berbuat kejahatan karena toh ia memiliki uang untuk mengaturnya. Kalaupun dinyatakan bersalah bisa mengajukan banding dan biasanya hukumannya akan dikurangi atau bahkan dihapuskan.
Orang-orang yang memiliki jabatan dan kekayaan merasa aman, sebaliknya rakyat biasa semakin menderita. Seorang pencuri ayam mungkin harus mengganti ayam yang dicurinya dengan nyawanya. Seorang pencopet harus babak belur dulu sebelum diserahkan ke pengadilan. Sementara orang-orang yang mencuri uang rakyat milyaran atau trilyunan malah hidup nyaman di penjara ber AC, fasilitas seperti hotel berbintang lima dan bisa keluar masuk penjara dengan alasan berobat.
Wajar saja kalau kemudian Allah swt banyak menegur kita dengan serangkaian musibah dan bencana. Dan kalau kesalahan demi kesalahan terus bangsa ini lanjutkan mungkin juga Allah swt akan meneruskan peringatannya kepada kita sampai keadilan di negeri ini tegak bagi semua orang. Allahu ‘Alam.
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (An-Nissa’ ayat 135).
17 September 2009
agama dan budaya
Bismillahirrahmanirrahim
Pagi tadi saya berkesempatan berkunjung ke terminal bus antar kota dan antar propinsi. Sebagai salah satu anggota masyarakat yang menganut paham “mudik itu mencerahkan” tentu saja tidak boleh ketinggalan meramaikan hajatan besar tiap tahun di negeri kita ini. Tentu saja menjaga niat harus senantiasa diupayakan; silaturahim kepada orang tua dan kerabat sebagai salah satu cerminan anak yang berbakti kepada orang tua.
Suasana terminal sangatlah penuh dengan manusia. Tidak terasa sudah tiga tahun saya tidak mengunjungi terminal tersebut. Atas kebaikan seorang kawan - yang pada bulan suci ini sudah lebih dulu dipanggil Allah swt - selama tiga tahun saya tidak pernah mencari tiket untuk mudik karena mendapat tumpangan di mobilnya. Jarak kediaman almarhum memang tidak jauh untuk ukuran kampung dengan tempat saya tinggal yakni sekitar 50 sampai 60 km. semoga Allah swt mengampuni segala dosanya dan memasukkan beliau ke surgaNya. Aminnn.
mudik; spiritual, sosial, ekonomi, politik, ...
Konon mudik adalah kebiasaan masyarakat Indonesia yang unik dan asli budaya lokal. Walaupun mungkin di bagian dunia yang lain fenomena tersebut ada, namun dampaknya tidak sampai mempengaruhi kehidupan satu negara seperti disini.
Susah untuk melogikakan kebiasaan mudik di masyarakat Indonesia. Fenomena tahunan ini seakan sudah menjadi agenda tahunan wajib bagi sebagian besar perantau. Tidak lengkap rasanya hidup kalau tidak mudik setiap lebaran. Apapun akan dipertaruhkan, seberapa besar biaya yang harus keluar tidak menjadi masalah asalkan bisa berkumpul dengan sanak famili di kampung selama beberapa hari.
Maka kota-kota besar di negeri ini berkurang jumlah warganya, termasuk ibu kota Jakarta. Kota terbesar di Indonesia yang biasanya penuh dan macet selama beberapa hari akan lebih longgar serta lapang. Berkah hari raya bagi yang tidak mudik tentu saja. Saya kadang membayangkan dan berkhayal kalau kemudian ada pasukan bersenjata yang iseng karena kurang kerjaan bisa saja memanfaatkan moment mudik untuk menguasai ibu kota dengan pasukannya. Toh banyak pejabat negara termasuk aparat keamanan yang llibut satu atau dua hari ketika Idul Fitri. Namun Alhamdulillah hal tersebut tidak pernah terjadi.
Kebutuhan untuk sungkem kepada orang tua, nyekar ke makam para leluhur serta bercekengkerama dengan masa lalu seakan susah untuk dilawan setiap idul fitri. Ada suasana berbeda ketika pulang idul fitri dengan pulang pada hari-hari lainnya. Begitu seorang teman beralasan kenapa setiap idul fitri harus pulang kampung.
Tidak bisa dipungkiri juga kalau kedatangan dan kepulangan para pemudik telah memutar lebih kencang roda ekonomi masyarakat selama beberapa hari. Bisnis transportasi mungkin menjadi pihak paling diuntungkan. Lonjakan jumlah penumpang dan hak untuk menaikkan harga tiket menjadi kado lebaran bagi para mengelola bisnis agkutan darat, laut dan udara setiap tahunnya. Sayangnya setiap tahun tetap saja ada beberapa oknum yang nakal merugikan para konsumen jasa transportasi. Semoga tahun ini berita-berita tentang kondisi tersebut tidak terjadi lagi.
Pemandangan yang lumrah kalau kemudian kita melihat orang yang mudik membawa motor atau mobil baru, termasuk bingkisan-bingkisan untuk keluarga di kampung juga harus serba baru. Nampaknya ada keinginan kuat dari para pemudik untuk menjukkan dan menampilkan cerita sukses kehidupan diperantauan malalui barang-barang bawaannya.
Terlebih bagi kaum wanita. Bagi mereka biasanya cerita sukses tersebut diwujudkan dengan aksesoris-aksesoris yang dipakai seperti pakaian, gelang, cincin, kalung ataupaun perhiasan emas lainnya. Entah apakah itu semua barang milik pribadi, minjam ataupun sewa toh orang-orang di kampung tidak ada yang mengetahuinya.
Cerita sukses lewat omongan dan penampilan itulah yang membuat arus urbanisasi setiap tahun ke kota-kota besar di Indonesia selalu melonjak. Dalam kehidupan yang semakin materialis sepeti sekarang ini siapa yang tidak ngiler mendengar dan melihat tetangganya pulang dengan kesuksesan.
Fenomena mudik mungkin tidak akan berakhir karena dorongan psikologis relatif susah untuk dihilangkan, sementara arus urbanisasi mungkin bisa dikurangi dan ditekan seminimal mungkin. Peran pemerintah untuk lebih memeratakan kesejahteraan masyarakat di pedesaan harus lebih ditingkatkan.
Upaya selama ini yang sudah berjalan mungkin harus lebih dimonitor dan dievaluasi. Daripada trilyunan uang negara dari rakyat dipergunakan untuk menolong bank-bank yang kolaps dan justru dikorupsi oleh mereka lebih baik disalurkan ke masyarakat di pedesaan. Miris rasanya ketika kita melihat dan mendengar puluhan saudara-saudara kita di Papua kelaparan, sementara trilyunan uang yang seharusnya menjadi hak mereka lenyap dihabiskan para penjahat.
Pendidikan di daerah merupakan kunci perubahan bagi masyarakat. Penciptaan lapangan kerja yang mampu memobilisir para pemuda juga diperlukan sehingga bayangan mereka untuk merantau ke kota selepas sekolah menengah akan terkurangi. Bahkan kalau bisa menarik pulang para sarjana yang sudah menyelesaikan kuliahnya di perantauan untuk berkiprah di daerahnya sendiri.
Tentu saja yang tidak kalah penting adalah peran individu dan masyarakat secara umum. Tidak mungkin semuanya diserahkan kepada pemerintah yang tidak jarang juga kurang memikirkan rakyatnya, justru menyelamatkan para kroninya. Bagaimanapun juga keresahan sosial berawal dan berdampak kepada masyarakat sendiri.
Semoga kita mendapatkan pencerahan dan energi positif setelah mudik lebaran kali ini. Bagi yang tidak bisa mudik karena berbagai alasan; kuliah, kerja ataupun kendala lainnya tidak usah berkecil hati, toh kalau ada umur panjang Insya Allah masih ada kesempatan untuk sungkem kepada orang tua. Siapa tahu ada hikmah yang Allah swt berikan ketika tidak mudik tahun ini. Amiiin.
04 September 2009
menanam harapan
Bismillahirrahmanirrahim
Dakwah merupakan sebuah proses panjang. Mengharapkan setiap orang yang diajak untuk mengikuti jalan Allah swt menyambut dengan gembira merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Jalan dakwah identik dengan cobaan, ujian, permusuhan bahkan ancaman pembunuhan.
Kondisi di atas mengharuskan setiap pelaku dakwah untuk senantiasa menjaga spirit perjuangannya agar tidak mudah lesu dan padam semangatnya menghadapi pihak-pihak yang menentang seruannya. Setiap pelaku dakwah haru mempunyai keyakinan akan datangnya pertolongan Allah swt . Harapan tersebut bisa menjadi obor untuk menjaga istiqomahnya menyeru manusia kepada jalan kebenaran.
Kalaupun kemudian dakwahnya tidak mendapat respon yang baik, setidaknya dia sudah memulai. Mungkin Allah swt nanti yang akan mengirimkan para pengganti untuk meneruskan jejak langkah perjuangannya. Barangkali Allah swt ingin menunda kegembiraannya di akhirat kelak, bukan di dunia.
Begitulah kaidah jalan ini yang setiap penyeru kebaikan akan mengalaminya. Kisah perjalanan dakwah para rasul Allah swt, orang-orang sholeh, para ulama yang lurus, begitu pula para mujahid bertutur seperti itu. Tengoklah bagaimana hal tersebut menimpa manusia agung junjungan kita Rasulullah saw ketika menjalankan misi kenabian beliau; meluruskan jalan manusia yang semula menabrak pagar Allah swt. Dan fragmen di Thaif sudah lebih dari cukup mengambarkannya.
Upaya dakwah Rasulullah saw di Thaif ternyata mendapat masalah yang tak jauh beda dengan apa yang terjadi di Makkah. Penolakan, ejekan, cacian dan cemoohan selalu mengiringi langkah beliau dari rumah ke rumah di Thaif. Bahkan mereka melakukan suatu hal yang belum di lakukan kaum musyrikin Makkah yaitu mengusir beliau keluar dari Thaif.
Dengan menyuruh anak-anak kecil dan perempuan untuk melempari batu, para pemuka Thaif mengusir Rasulullah saw dan Zaid bin Haritsah yang menemani beliau. Beberapa batu mengenai Rasulullah saw sehingga tumit beliau berdarah. Zaid bin Haritsah yang mencoba melindungi Rasulullah saw dengan tubuhnya mengalami luka lebih banyak pada wajah dan tubuh bagian depannya.
Mereka berdua berhasil menyelamatkan diri dan berhenti di luar kota Thaif untuk beristirahat. Ketika itulah datang kepada Rasulullah saw malaikat penjaga gunung untuk menawarkan bantuan. Malaikat tersebut mendapat perintah dari Allah swt untuk taat kepada apapun keingginan Rasulullah saw terhadap orang-orang Thaif yang telah menyakiti dan melukai beliau. Malaikat itu juga menawarkan diri kepada Rasulullah saw untuk diperintahkan supaya menimpakan kedua gunung yang mengapit kota Thaif kepada penduduk kota tersebut.
Namun Rasulullah saw tidak mengiyakan tawaran itu. Beliau malah berdoa kepada Allah swt untuk mengampuni penduduk Thaif karena menurut beliau mereka melakukan itu karena tidak tahu. Bahkan Rasulullah saw berharap kelak anak cucu mereka masuk Islam dan menjadi pendukung setia dakwah Islam.
Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw. Tidak berapa lama kemudian ketika beliau sedang berisitarahat di sebuah kebun kurma dalam perjalanan kembali ke Makkah, seorang pemuda Nasrani bernama Addas tertarik dengan dakwah beliau dan menyatakan keIslamannya. Dan pada masa-masa berikutnya masyarakat Thaif menjadi muslim yang taat dan bermunculan dari kota tersebut pahlawan-pahlawan yang setia dan siap jiwa raganya membela dan mempertahankan keagungan dienul Islam.
Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat." (QS. Al-Hijr ayat 56).
