RSS
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

menanam harapan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Dakwah merupakan sebuah proses panjang. Mengharapkan setiap orang yang diajak untuk mengikuti jalan Allah swt menyambut dengan gembira merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Jalan dakwah identik dengan cobaan, ujian, permusuhan bahkan ancaman pembunuhan.

Kondisi di atas mengharuskan setiap pelaku dakwah untuk senantiasa menjaga spirit perjuangannya agar tidak mudah lesu dan padam semangatnya menghadapi pihak-pihak yang menentang seruannya. Setiap pelaku dakwah haru mempunyai keyakinan akan datangnya pertolongan Allah swt . Harapan tersebut bisa menjadi obor untuk menjaga istiqomahnya menyeru manusia kepada jalan kebenaran.

Kalaupun kemudian dakwahnya tidak mendapat respon yang baik, setidaknya dia sudah memulai. Mungkin Allah swt nanti yang akan mengirimkan para pengganti untuk meneruskan jejak langkah perjuangannya. Barangkali Allah swt ingin menunda kegembiraannya di akhirat kelak, bukan di dunia.

Begitulah kaidah jalan ini yang setiap penyeru kebaikan akan mengalaminya. Kisah perjalanan dakwah para rasul Allah swt, orang-orang sholeh, para ulama yang lurus, begitu pula para mujahid bertutur seperti itu. Tengoklah bagaimana hal tersebut menimpa manusia agung junjungan kita Rasulullah saw ketika menjalankan misi kenabian beliau; meluruskan jalan manusia yang semula menabrak pagar Allah swt. Dan fragmen di Thaif sudah lebih dari cukup mengambarkannya.

Upaya dakwah Rasulullah saw di Thaif ternyata mendapat masalah yang tak jauh beda dengan apa yang terjadi di Makkah. Penolakan, ejekan, cacian dan cemoohan selalu mengiringi langkah beliau dari rumah ke rumah di Thaif. Bahkan mereka melakukan suatu hal yang belum di lakukan kaum musyrikin Makkah yaitu mengusir beliau keluar dari Thaif.

Dengan menyuruh anak-anak kecil dan perempuan untuk melempari batu, para pemuka Thaif mengusir Rasulullah saw dan Zaid bin Haritsah yang menemani beliau. Beberapa batu mengenai Rasulullah saw sehingga tumit beliau berdarah. Zaid bin Haritsah yang mencoba melindungi Rasulullah saw dengan tubuhnya mengalami luka lebih banyak pada wajah dan tubuh bagian depannya.

Mereka berdua berhasil menyelamatkan diri dan berhenti di luar kota Thaif untuk beristirahat. Ketika itulah datang kepada Rasulullah saw malaikat penjaga gunung untuk menawarkan bantuan. Malaikat tersebut mendapat perintah dari Allah swt untuk taat kepada apapun keingginan Rasulullah saw terhadap orang-orang Thaif yang telah menyakiti dan melukai beliau. Malaikat itu juga menawarkan diri kepada Rasulullah saw untuk diperintahkan supaya menimpakan kedua gunung yang mengapit kota Thaif kepada penduduk kota tersebut.

Namun Rasulullah saw tidak mengiyakan tawaran itu. Beliau malah berdoa kepada Allah swt untuk mengampuni penduduk Thaif karena menurut beliau mereka melakukan itu karena tidak tahu. Bahkan Rasulullah saw berharap kelak anak cucu mereka masuk Islam dan menjadi pendukung setia dakwah Islam.

Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw. Tidak berapa lama kemudian ketika beliau sedang berisitarahat di sebuah kebun kurma dalam perjalanan kembali ke Makkah, seorang pemuda Nasrani bernama Addas tertarik dengan dakwah beliau dan menyatakan keIslamannya. Dan pada masa-masa berikutnya masyarakat Thaif menjadi muslim yang taat dan bermunculan dari kota tersebut pahlawan-pahlawan yang setia dan siap jiwa raganya membela dan mempertahankan keagungan dienul Islam.

Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat." (QS. Al-Hijr ayat 56).

| edit post

Kekuatan memaafkan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pernahkah diri kita berbuat kesalahan kepada orang lain, sengaja maupun tidak? Jawabanya tentu saja pernah. Sebagai manusia kita pasti pernah melakukan hal tersebut sebagaimana juga kita pernah disalahi orang lain dengan sengaja maupun tidak.

Interaksi dalam kehidupan sosial manusia membuat kedua kondisi di atas menjadi lumrah dan sangat wajar terjadi serta menimpa seseorang. Bedanya barangkali terletak dalam penyikapan atas efek yang muncul selanjutanya.

Lumrahnya adalah proses perselisihan yang terjadi antar individu satu dengan individu lainnya tidak membutuhkan waktu relatif lama untuk menyelesaikannya. Setiap masalah pasti ada jalan keluar, setiap kepentingan pasti akan bisa dipertemukan dengan kepentingan lainnya. Terlebih lagi merupakan sebuah kerugian waktu dan tenaga kalau kemudian seseorang memelihara permasalahannya dengan orang lain selama problem yang terjadi masih dalam koridor muamalah.

Dan diantara kata kunci untuk menutup semua permasalahan hati dengan orang lain adalah memaafkan. Seberapa besar seseorang mempunyai keberanian dan kemauan untuk menerima kesalahan orang lain lalu ia maafkan merupakan pintu menyelesaikan kendala interaksi antar sesama manusia.

Berani memaafkan berarti ia memiliki jiwa besar untuk secara utuh menerima orang lain apa adanya. Karena pada hakekatnya tidak ada seorang manusiapun yang selamanya baik dalam pandangan orang lain. Tentu saja ia memiliki karakter, sifat ataupun kebiasaan yang bagi orang lain menganggu sehingga dengan sadar atau tidak terjadi persingungan.

Disamping jiwa besar, seseorang juga perlu memiliki jiwa penuh kesabaran untuk bisa memaafkan orang lain. Kesabaran ini penting sehingga tidak melahirkan dendam berkepanjangan. Jiwa yang sabar akan menyadari konsekuensi hidup bersosial dengan orang banyak sehingga menerima konsekuensinya.

Kalau kita membaca kisah-kisah perjalanan Rasulullah saw dalam mendakwahkan dinnul Islam, tidak sedikit kita menemukan efek positif dari rasa maaf beliau yang sangat tinggi. Banyak musuh-musuh dakwah yang semula menganggu dan mencemooh perjuangan beliau berubah menjadi pengikut setia.

Dalam peristiwa perjalanan hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah kita menemukan tokoh bernama Suraqah bin Malik. Ia adalah seorang pembunuh bayaran yang tertarik hadiahorang-orang quraisy berupa 1000 ekor onta jika berhasil menangkap Rasulullah saw.

Karena kelebihannya dalam mencari jejak, meskipun Rasulullah saw dan Abu Bakar berusaha mengelabui para pengejarnya, Suraqah masih dapat mengikuti rute perjalanan mereka dan mengejarnya. Bahkan jarak antara Suraqah dengan Rasulullah saw ketika sudah tinggal beberapa langkah kaki kuda saja.

Ketika itu kemudian Allah swt menengelamkan kaki kuda Suraqah ke dalam pasir. Awalnya ia masih mencoba mengejar Rasulullah saw kembali, namun lagi-lagi kaki kudanya terperosok ke dalam pasir. Barulah setelah tiga kali upayanya menemui kegagalan, ia menyerah dan berteriak-teriak mengiba meminta maaf serta ampun kepada Rasulullah saw.

Mengetahui pemburunya sudah putus asa, Rasulullah saw kemudian mendatangi Suraqah dan memaafkannya. Melihat ketinggian akhlaq Rasulullah saw Suraqah menjadi malu dan menawarkan bekalnya. Namun Rasulullah saw menolaknya. Beliau hanya berpesan kepada Suraqah untuk tidak mengatakan pertemuan mereka saat itu.

Suraqah menepati janji tersebut. Setiap bertemu orang-orang yang memburu Rasulullah saw, ia selalu menyuruh mereka kembali karena buruannya tidak ada dan sudah pergi terlalu jauh. Orang-orang itu mempercayainya karena mereka mengetahui kehebatan seorang Suraqah dalam berburu. Ia saja gagal apalagi mereka mungkin begitu pikiran mereka ketika itu.

Sejarah kemudian mencatat Suraqah menjadi seorang muslim yang baik. Ia juga mempunyai umur panjang sehinga termasuk mujahid yang membebaskan Madain, pusat kerajaan Persia pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab.

Namun demikian untuk memiliki kemampuan memaafkan kesalahan orang lain membutuhkan perjuangan sangat berat. Tidak setiap jiwa manusia kemudian memiliki kerelaan yang tinggi untuk menerima pernyataan maaf dari orang lain.

Halangan terbedar untuk memberi maaf kepada orang lain adalah ego yang kita miliki. Perasaan lebih dari orang lain, selalu merasa lebih benar, tinggi hati dan penyakit hati yang sejenis menjadi ganjalan seseorang untuk menjadikan sifat pemaaf sebagai karakter dalam dirinya. Apalagi kalau kemudian dirinya dalam posisi benar dan berkuasa, wah..... tambah berat perjuangan dirinya untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain.

Butuh proses belajar untuk berada pada posisi hati gemar memaafkan kesalahan orang lain. Karenanya selalu selipkan permohanan kepada Allah swt dalam doa kita agar Dia memberikan rasa maaf yang tidak terbatas dalam diri kita. Amiiin.

”Maaf mas, kakinya yang kanan saya injak”. Kata seorang penumpang bis ekonomi yang sangat padat sekali pada suatu siang yang sangat terik sekali.
”oh..... nggak papa kok. Kalau mau nginjak yang satunya juga boleh. Nih.... silahkan.” jawab penumpang yang terinjak kakinya sambil tersenyum dan menjulurkan kakinya sebelah kiri.

| edit post

Dekat tapi terasa jauuuuuuuhhhhhhhhhhhhh.....

abinehanafi Filed Under: Label:
Kita Hanya Mampir


"Setiap manusia akan merasakan kematian".
(al-Qur'anul Karim)

Hanzalah bin Abu Amr terkejut. Panggilan jihad yang berkumandang di seantero Madinah mengusik iman dan jiwanya. Ketika itu Madinah memang sedang sibuk mempersiapkan dirinya menghadapi serangan pasukan Musyrikin Makkah. Rasulullah saw mengajak kaum muslimin bersiap-siap menghadapi semangat balas dendam orang-orang musyrik setelah kekalahan mereka dalam perang Badr.

Hanzalah mendengar panggilan jihad bersamaan dengan pesta pernikahannya Sesaat ia berada di persimpangan jalan antara memilih menikmati malam pengantinya lebih lama atau memenuhi seruan Rasulullah saw. Ia memilih yang kedua memenuhi panggilan jihad Rasulullah saw.

Peperanganpun berkorban. Kemenangan kaum muslimin yang sudah di depan mata sirna karena sebagian pasukan melalaikan tugasnya. Banyak para pemuka kaum muslimin syahid seperti Hamzah bin Abdul Muthalib dan Mush’ab bin Umair. Hanzalah mendapat kehormatan juga untuk menjadi salah seorang yang syahid di jalan Allah swt setelah bertempur gagah berani. Allah swt kemudian menugaskan para malaikat memandikan jenazahnya karena ternyata ketika berangkat ke medan jihad Hanzalah dalam keadaan junub. Sebuah kehormatan berlipat baginya.

Ketika Allah swt menciptakan manusia, dari janin menjadi bayi yang dilahirkan sampai tumbuh sebagai manusia dewasa, hingga hari ini, tujuan-Nya adalah menyuruh manusia pergi ke negeri akhirat. Dia menciptakan dunia ini semata-mata untuk sarana permampiran manusia; menyiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi dan mengajak sesamanya yang berjalan menyimpang untuk kembali kepada tujuan kehidupannya di dunia.

Tak ada yang bisa mengubah waktu mampir menjadi waktu bersantai-santai selamanya, karena setiap yang diberi-Nya nyawa otomatis menjadi peserta mampir. Dan tak ada yang tak mampir - alias tinggal untuk selama-lamanya - karena semuanya harus pergi ke tujuan yang sama. Dengan persepsi demikian maka seharusnya setiap muslim menyadari bahwa semua orientasi aktifitas hidupnya adalah mengumpulkan bekal amal kebaikan. Sehingga dan bahagia selamat dalam mengarungi kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (Al-Ankabuut ayat 64).

Kesadaran itu juga akan menjadi benteng dari pengaruh hawa nafsu yang senantiasa ditiupkan oleh setan dan bala tentaranya ke dalam hatinya. Godaan untuk berangan-angan hidup selamanya di dunia dengan sendirinya akan sirna.
Aktifitas hidupnya akan selalu diniatkan sebagai ibadah kepada Allah swt. Dia tidak larut dalam berburuan harta dunia yang sementara. Tidak ikut berlomba menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kekuasaan, kekayaan, dan nama besar. Baginya itu semua hanya sementara.

Dia tidak mudah panik menghadapi permasalahan dunia karena memiliki bekal kesabaran dan kesyukuran. Bersabar ketika menerima ujian Allah swt apapun bentuknya dan bersyukur manakala menerima setiap rizki dari Allah swt. Maka kehidupannya menjadi tenang karena orientasinya jelas. Dia hanya selalu berharap Allah swt memberinya hidayah untuk selamat sampai akhir hidupnya di dunia dan bahagia di akhirat. Allahu’alam


To almarhum Irvan YK; Allahumaghfirlahu warkhamhu wa 'afihi wanfu'anhu

| edit post

Ramadhan di ujung jalan

abinehanafi Filed Under: Label:
Tiga ciri seseorang lulus "training" Ramadhan:

Pertama; merasa sedih ditinggalkan Ramadhan
Ada dua kondisi yang biasanya melingkupi perasaan Rasulullah saw, para sahabat dan salafush sholeh selama Ramadhan. Perasaan pertama muncul menjelang dan awal Ramadhan. Suasana hati mereka teramat riang gembira menyambut dan mengisi bulan mulia ini. Mereka menyadari inilah bulan yang memberikan mereka jembatan emas untuk menggapai ridho dan surga Allah swt. Situasi sebaliknya terjadi ketika di akhir-akhir Ramadhan. Perasaan mereka gundah gulana, sedih penuh duka nestapa menginggat saat-saat istimewa itu segera berlalu. Mereka menangis sampai air mata membasari jenggot-jenggot mereka. Mereka khawatir tahun depan tidak bertemu lagi dengan Ramadhan. Karenany disela-sela do'a mereka mengharapkan lailaut qodar dan ampunan ALlah swt atas segala khilaf serta kesalahan, mereka mengharap dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya.

Kedua; tidak berlebihan merayakan Idul Fitri
Tidak ada kemenangan yang memberikan kebahagiaan lebih besar kepada seorang muslim setelah berhasil mengendalikan hawa nafsunya selama bulan Ramadhan. Kemenangan itu terasa istimewa karena Allah swt kemudian menganugerahi mereka gelar "insan bertaqwa". Masalahnya tidak jarang kebahagiaan itu dirayakan secara berlebihan. Akibatnya nafsunya yang selama 30 hari sebelumnya berhasil "ditidurkan" mendapat momen untuk bangkit kembali dan tidak jarang tampil mengambil porsi peran yang dlebih besar dalam kehidupan seseorang selanjutnya.

Ketiga; menjaga kebiasaan baik Ramadhan pada bulan-bulan setelahnya
Ramadhan adalah madrasah bagi setiap muslim. Ia bukan tujuan tapi sarana untuk hidup lebih bermakna pada sebelas bulan berikutnya. Ramadhan adalah "short training" untuk melatih orang-orang beriman agar memiliki ibadah yang baik, akhlaq yang mulia dan tingkat kepedulian yang tinggi kepada sesama.
Rajin ke masjid untuk berjama'ah, semangat membaca dan mengkaji al-Qur'an, hadist-hadist Rasulullah saw serta ilmu-ilmu agama, senang berbagi dengan sesama, dan kuat menjaga diri untuk tidak terjerumus kepada perbuatan-perbuatan tercela harus tetap digiatkan setelah Ramadhan. Karena kewajiban dan tuntutan untuk menjadi muslim yang baik tidak hanya pada bulan Ramadhan tetapi juga hari-hari setelahnya.

Jadikan semangat Ramadhan sebagai momentum untuk semakin meningkatkan suasana islami di setiap lingkungan tempat tinggal orang-orang beriman. Dengan niat yang jelas membesarkan embrio kebangkitan peradaban Islam yang semakin membesar di setiap sudut bumi Allah swt. Karena Ramadhan adalah bulan perjuangan dan bulan kemenangan bagi kaum muslimin. Allahu Akbar!!!

| edit post