RSS

kami sedang berduka

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini lingkungan tempat saya tinggal sedang berduka. Salah seorang warga kami kehilangan salah seorang puteranya.karena meninggal dunia. Putera itu sendiri masih bayi dan baru berusia dua hari. Kemarin pagi bayi itu lahir ke dunia dengan selamat, namun ia mengalami sesak nafas dan sulit bernafas. Oleh orang tuanya kemudian si bayi di bawa ke rumah sakit dan di rawat di ruang ICU.

Namun Allah swt mempunyai rencana lain bagi si bayi dan juga orang tuanya. Menjelang siang hari kira-kira jam 10, bayi itu kembali kepada Rabbnya. Innalillahi wa innalillahi roji’un.

Isak tangis segera saja memenuhi keluarga yang ditinggalkan. Perasaan duka itupun tidak perlu waktu lama kemudian menjadi milik seluruh warga di lingkungan kami. Tanpa mendapat komando berbondong-bondong orang datang ke rumah duka untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan supaya tabah dan sabar menghadapi peristiwa ini.

Jenazah si bayi tidak lama berada di rumahnya. Setelah dimandikan dan dikafani, kemudian di bawa ke masjid untuk disholati. Usai sholat ratusan orang kemudian mengantarkan bayi tersebut ke tempat peristirahatannya. Dalam beberapa hadist shahih disebutkan bayi orang Islam yang meninggal masuk surga dan kelak akan memberikan syafa'at kepada orang tuanya pada hari kiamat.

Semoga Allah swt memberikan ketabahan dan kesabaran kepada pak Fahmi Ahmad sekeluarga dalam menghadapi kedukaan ini. Juga kita yang masih hidup bisa mengambil hikmah pelajaran untuk mempersiapkan diri jika waktunya memang telah tiba.

Allahumma firlahu warhamhu wa’fuanhu




| edit post

orang yang bahagia

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Orang yang paling bahagia adalah seseorang yang mampu membuat hatinya alim yaitu yakin bahwa Allah swt selalu bersamanya dimanapun dan dalam kondisi bagaimanapun, badannya sabar untuk mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah swt dan qona’ah yakni ridho, lega, gembira terhadap rizqi yang dibagi Allah swt, serta hatinya tetap tenang serta sabar ketika tidak ada yang bisa diharapkan selain kepada Allah swt.

Surga dan neraka bukanlah janji. Wal jannatu haqq wannaaru haqq.

Orang yang baik itu ketika ia dapat merasakan surga dalam setiap kebaikannya. Bukan berharap surga disetiap amalnya.



| edit post

pergaulan bebas makin marak

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Salah satu bentuk nyata adanya pergeseran nilai-nilai yang tengah berlangsung di tengah-tengah masyarakat kita adalah semakin bebasnya pergaulan antara pria dan wanita. Nilai-nilai luhur yang selama ini mewarnai kehidupan masyarakat semakin luntur bahkan nyaris hilang. Ajaran Islam yang telah berhasil mengantarkan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan umat manusia diterjang dan dihancurkan.

Keadaan itu semakin parah dengan adanya penyalahgunaan kemajuan ilmu dan tehnologi, khususnya tehnologi informasi-komunikasi. Hal ini terlihat dari adanya aneka rupa perilaku, kebiasaan masyarakat barat, khususnya tingkah polah orang-orang kafir, yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam dikampanyekan dengan gencar. Saking gencarnya hal itu begitu rupa sehingga bagaikan air bah yang masuk melanda serta mengenanggi rumah tangga, lingkungan dan masyarakat kita.

Maraknya pergaulan bebas tidak bisa lepas dari apa yang terjadi di eropa beberapa abad yang lalu. Bermula dari keingginan masyarakat yang muak dengan kontrol penuh gereja terhadap kehidupan mereka sehingga melahirkan sekulerisme dan materialisme. Paham itulah yang menjadi cikal bakal pergaulan bebas tanpa batas antara pria dan wanita.

Orang-orang Yahudi menjadi pendukung utama gerakan ini. Tujuan mereka adalah menjatuhkan moral seluruh umat manusia sehingga mereka bisa dengan mudah menguasainya. Mereka selalu mempertontonkan hubungan seks di muka umum supaya para pemuda tidak berfikir tentang dosa karena merasa sudah menjadi suatu kebiasaan umum.

Dengan dalih pemahaman sejak dini, pelajaran seks diajarkan di sekolah-sekolah. Ironisnya tujuannya bukan untuk menjaga para siswa menjauhi perbuatan zina tetapi justru mengajarkan perilaku seks meski dengan kedok seks aman. Para siswa tentu mengikutinya dengan penuh perhatian sekaligus berusaha mempraktekanya dengan teman mereka sendiri, bahkan dengan para pelacur.

Tidak mengherankan jika di Amerika Serikat, sponsor utama kebebasan berzina, anak di bawah usia 20 tahun sudah terbiasa berhubungan seksual. Kehamilan di luar nikah bagi mereka bukan suatu dosa atau aib, tetapi merupakan hal yang biasa saja, tidak perlu dirisaukan.

Nasehat dari para orang tua, guru atau lembaga-lembaga yang terkait pembinaan remaja bukanlah jauhi zina, takutlah azab Allah swt. Nasehat-nasehat mereka adalah anjuran mempergunakan “alat pengaman” sebelum berzina supaya “aman”. Nasehat tersebut selalu disampaikan berulang kali dan dalam berbagai kesempatan.

Dampak yang kemudian terjadi bisa kita lihat bersama saat ini, khususnya di barat adalah kaburnya fungsi dan otoritas rumah tangga, munculnya penyakit-penyakit yang belum ada obatnya, kejahatan yang kian marak kualitas dan kuantitasnya, turunnya status manusia sebagai makhluk paling mulia, dan lain-lainnya termasuk ancaman terhadap keberadaan peradaban manusia.

Pergaulan bebas yang telah menghancurkan banyak aspek kemanusiaan di barat itu kemudian diekspor dan diimpor masuk ke Indonesia secara besar-besaran. Media televisi, radio, film, surat kabar, majalah, kesenian, pariwisata dan lain-lain menjadi aktor utama transfer budaya tersebut.

Hasil dari semua itu adalah apa yang kita saksikan di sekitar kita saat ini. Fenomena yang memiriskan itu diantaranya adalahp ergaulan bebas antara pria dan wanita menjadi hal lumrah di hampir semua kegiatan dan menghinggapi di hampir semua usia, kehamilan di luar nikah dianggap oleh sebagian masyarakat bukan aib lagi, apalagi kalau yang melakukan perbuatan maksiat itu dari kalangan artist atau orang terkenal, aborsi atau pembunuhan bayi yang masih ada dalam kandungan terjadi di mana-mana, penyakit AIDS yang mematikan manusia telah menjalar di mana-mana di Indonesia, bisnis pelacuran berkembang pesat ilegal maupun legal dan juga araknya kasus perceraian di sebagian kelompok masyarakat yang berdampak negatif pada anak-anak mereka.

Lalu bagaimana Islam memberikan solusinya?

Sejak awal kelahirannya, Islam telah menegaskan bahwa manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Selain itu manusia juga dilengkapi dengan berbagai bentuk naluri diantaranya nafsu syahwat atau nafsu seks. Manusia dianugerahi pula akal dan fikiran.

Kesemua unsur tersebut dengan segala kelengkapannya menyatu pada diri manusia dan tidak dipisahkan satu dengan lainnya, kecuali jika seorang manusia telah udzur atau mati. Sehingga Islam tidak pernah menganggap manusia hanya sebagai materi sehingga kesenangan duniawi sebagai satu-satunyas tujuan. Tetapi Islam juga tidak menganggap naluri seks manusia merupakan kejahatan yang harus dimusnahkan.Tidak!

Sebaliknya, Islam menganggap naluri seks manusia sebagai karunia Allah swt yang harus dimanfaatkan sesuai dengan kehendak-Nya. Ia menjadi satu kekuatan manusia yang harus diarahkan dan dimanfaakan pada batas-batas yang telah ditentukan oleh penciptanya yaitu Allah SWT.

Menyalurkan naluri seks adalah suatu keharusan sepanjang sesuai dengan ketentuan Allah SWT yaitu untuk menjalin kasih sayang antara suami-istri dan melanjutkan keturunan. Itulah tuntunan Islam yang didasari atas kecenderungan alami manusia, yaitu fisik dan psikisnya serta berbagai pengaruh yang mungkin bakal ditimbulkannya. Tegasnya, sesuai dengan fitrah manusia.

Dari itu pulalah, Islam sangat menganjurkan kepada orang yang telah mulai dewasa untuk segera menikah agar nafsu seksnya dapat disalurkan dengan cara yang benar. Jika belum mampu menikah dianjurkan untuk berpuasa sebab dengan berpuasa secara sungguh-sungguh sesuai dengan rukun dan syaratnya akan selamat dari godaan syetan.

Dan kalaupun juga berpuasa tidak mampu disarankan untuk melakukan banyak-banyak aktifitas positif yang menguras energi namun tetap tidak bercampur dengan lawan jenis sehingga tidak banyak menghayal melamun membayangkan perbuatan-perbuatan negatif.

Islam tidak mendorong pemeluknya untuk menunda-nunda pernikahan seperti yang menjadi trend di sebagian masyarakat. Sebab dengan menunda-nunda pernikahan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti perzinaan, padahal perzinaan dapat merusak eksistensi manusia, lingkungannya serta peradabannya.

Begitu besar akibat yang bakal timbul sehingga Allah swt memperingatkan kepada para hamba-Nya untuk menghindari dan menjauhi perzinaan, sebab perzinaan itu merupakan perbuatan keji dan sangat berbahaya (QS. Al-Isra’ ayat 32). Sebaliknya Islam menuntun umatnya agar menjaga pandangan matanya (QS. An-Nur ayat 30-31), menghindari pertemuan yang hanya ada pria dan wanita bukan muhrimnya, menutup aurat jangan sampai terlihat orang lain kecuali istri atau suaminya. Demikian sikap Islam untuk menghindari bahaya datang dan maraknya perzinaan di tengah masyarakat yaitu dengan cara mengajak manusia kembali kepada fitrahnya.

| edit post

ya syaikh….. doa kami selalu menyertaimu

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Kami bersyukur dan berbahagia karena dua hari yang lalu tempat kami kedatangan dua orang mujahid dari Palestina, Syaikh Abu Bakar Al-Awwaidah bersama seorang sahabatnya. Beliau adalah salah seorang anggota Majelis Ulama Palestina, sementara ketua nya sendiri masih dalam tahanan pemerintah zionis Israel. Syaikh Abu Bakar datang dalam rangka mengabarkan kondisi kaum muslimin di Palestina sekaligus menggalang dana bagi perjuangan para mujahidin di sana.

Biografi dan sepak terjang tentang ulama ini sebelumnya sedikit telah saya ketahui, namun bertemu langsung dengan beliau gambaran itu terasa lebih mengharukan dan menyemangatkan. Secara fisik beliau sekarang tidak sempurna. Kedua mata beliau tidak bisa melihat karena mengalami kebutaan ketika dalam penyiksaan Israel. Lebih dari 20 kali beliau keluar masuk penjara Israel sejak usia muda. Pada penangkapan yang ke 13 atau 14 itulah beliau mengalami penyiksaan yang sangat luar biasa biadabnya sampai mengalami kebutaan.


Dalam penjara-penjara zionis Israel para mujahidin Palestina terbiasa disiksa selama berjam-jam setiap hari dari mulai sekedar digantung kepala di bawah, dipukuli, ditendangi, disetrum maupun bentuk-bentuk kebiadaban lainnya. Sangat jarang sekali para tahanan mendapat jatah makan, bahkan menurut beliau pernah berhari-hari hanya mendapat satu gelas air setiap enam jam. Naudzubillahimindzalik.

Acara tabligh dan pengumpulan dana itu diawali dengan pemutaran beberapa cuplikan film tentang perang Gaza beberapa waktu yang lalu. Meskipun sebagian besar hadirin sudah pernah menyaksikan film-film yang diputar, namun suasana penuh empati terhadap derita saudara-saudara kita di Palestina tetap tinggi. Termasuk ketika layar menampilkan keberhasilan para mujahidin Palestina, pekik takbir menggema di ruangan tempat kegiatan tersebut.

Syaikh Abu Bakar kemudian menyampaikan tausyiah kepada para hadirin tentang sejarah perjuangan rakyat Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun melawan zionis Israel. Beliau juga menyampaikan beberapa pertolongan Allah swt yang diterima para mujahidin dalam perang 23 hari di Gaza kemarin. Tak lupa juga beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada dukungan kaum muslimin seluruh dunia terhadap perjuangan rakyat Palestina selama ini. Alhamdulillah pada saat penggalangan dana panitia berhasil mengumpulkan lebih dari 20 juta rupiah dan beberapa perhiasan dari ibu-ibu.

Diantara hal yang mengharukan lainnya adalah ketika seorang panitia dari sahabat al-Aqsha menawarkan kepada para hadirin untuk menukar HP mereka yang bermerk Nokia dengan kaos boikot produk Yahudi. Dari sekian banyak hadirin ternyata yang mengawali untuk maju ke depan adalah seorang anak kecil berusia 11 tahun masih duduk di kelas 3 SD.

Di akhir acara semua hadirin laki-laki bersalaman dan berangkulan dengan para mujahid dari Palestina tersebut. Syaikh Abu Bakar dan sahabatnya akan melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat lainnya untuk terus menjaga gelora semangat kaum muslimin Indonesia dalam mendukung perjuangan para mujahidin di Palestina. Semoga Allah swt melindungimu ya... syaikh dan memberikan kemenangan kepada kaum muslimin di Palestina. amiin.

| edit post

lima menit untuk selamanya

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Baru hari ini saya mengetahui ada satu lagu yang menjadi bagian kampanye untuk mengajak rakyat Indonesia datang ke TPS mencontreng alias tidak golput. Maklum saya termasuk orang yang sangat jarang sekali menonton TV ataupun mendengarkan radio. Informasi biasanya saya peroleh dari koran maupun internet.

Lagu itu judulnya lima menit untuk lima tahun. Lima menit pada judul lagu itu merujuk pada lamamnya waktu yang dibutuhkan seorang pemilih untuk hadir di sebuah TPS, sedangkan lima tahun adalah waktu seorang anggota legislatif atau presiden hasil contrengan itu menjabat. Sebenarnya terlambat kalau mengomentari lagu tersebut karena pemilu sudah terlaksana. Tapi tidak mengapalah.

Menyimak judul lagu tersebut sebenarnya ada kekeliruan pemahaman si pencipta lagu tersebut tentang kehidupan manusia jika dikaitkan dengan konsep Islam. Dalam ajaran Islam setiap perbuatan manusia berdimensi jauh; dunia dan akhirat. Tidak ada satu perbuatan manusiapun yang tidak dihitung oleh Allah swt setiap detiknya dan akan mendapatkan balasannya di hari kiamat kelak.

Berbeda hanya dengan paham materialisme. Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.

Materialis adalah paham yang hanya bersandar pada materi (ma’dah) yang tidak meyakini apa yang ada di balik alam ghaib. Tidak meyakini alam ghaib berarti tidak meyakini adanya kekuatan yang menguasai alam semesta ini. Dan hal ini secara otomatis menafikan adanya Allah sebagai pencipta alam semesta. Karena menurut paham ini, alam beserta isinya berasal dari satu sumber yaitu materi (ma’dah).

Secara umum, ciri-ciri paham ini bisa kita klarifikasikan. Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini: Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi, tidak meyakini adanya alam ghaib, menjadikan panca-indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu, memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakkan hukum, dan menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlaq.

Dengan pengertian seperti itu maka tidak ada pertanggung jawabkan bagi seseorang atas perbuatannya di dunia. Begitu meninggal semua sudah berakhir dan habis. Tentu saja ideologi ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam tentang kehidupan.

Allah Ta’ala memberikan kepada manusia anggota tubuh untuk bergerak, akal untuk berpikir, ini semua kenikmatan yang harus disyukuri, dengan cara menggunakannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala semata, dan beraktifitas keduniawiaan yang bermanfaat dalam kebaikan. Allah Ta’ala berfiman:

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36)

Kesadaran itu yang membuat kita berhati-hati dalam berucap dan berbuat, karena semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala di akhirat. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)

Sehingga apapun yang kita lakukan tadi pagi; datang atau tidak ke tempat coblosan, memilih atau golput sekalipun dampaknya tidak hanya kita rasakan lima tahun sesuai usia pemerintahan sistem demokrasi Indonesia. Lima menit tadi pagi waktu yang kita pakai beraktifitas juga akan kita ambil hasilnya kelak pada hari di mana tidak ada yang berhak menentukan nasib seseorang kecuali Allah swt.

| edit post

belajar dari tiga sesepuh

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini saya pergi ke tukang cukur rambut untuk mengurangi rambut di kepala yang mulai tebal dan panjang. Di samping juga supaya tidak “kualat” karena hari-hari terakhir ini saya sering mengingatkan beberapa orang yang rambutnya juga mulai panjang dan tebal untuk menguranginya.

Karena hari sudah siang, saya harus antri beberapa lama untuk mendapat giliran. Sambil menunggu antrian saya asyik menyimak cerita seorang bapak yang sudah sepuh dan menjadi tokoh sentral dalam diskusi kecil di tempat cukur rambut tersebut.

Pengetahuan dan wawasan bapak itu terhadap sejarah Indonesia zaman dulu relatif sangat, khususnya sejak penjajahan Belanda, Jepang sampai era bung Karno. Terlebih beliau tentu saja mengalami sendiri sebagian masa-masa getir tersebut.

Dalam usia yang menjelang 85 tahun (pengakuannya sendiri), geraknya masih energik, suaranya masih jelas dan subahanallah ingatannya masih kuat. Dengan sangat lancar beliau menceritakan kesengsaraan rakyat ketika hidup pada masa Belanda dan Jepang. Juga menyayangkan bangsa Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam melimpah ruah ternyata rakyatnya masih banyak yang susah dan menderita.

Beberapa kali bapak itu menepuk-nepuk punggung saya ketika mengomentari kehidupan anak muda saat sekarang. Termasuk juga makin hilangnya kesopanan remaja sekarang. Bapak itu menyayangkan semakin jarangnya penggunaan bahasa jawa halus dalam masyarakat di jawa. Beliau yang bisa sedikit-sedikit bahasa Belanda, Jepang dan Madura menganggap bahasa Jawa cukup efektif untuk mendidik sopan santun anak-anak kepada orang tuannya.

Sebelum meninggalkan saya dan orang-orang yang sedari tadi asyik menyimak ceritannya, ia mengajak kami untuk bersikap seperti dirinya; memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sebagai bangsa Indonesia. Beliau meninggalkan kami dengan empat nasehat agar hidup tenang di masyarakat; jangan merasa sombong, kalau tidak mau disakiti jangan menyakiti, berbuat baik kepada tetangga karena itu saudara terdekat kita dan jangan membeda-bedakan orang karena suku, agama maupun warna kulitnya karena kita sama-sama orang Indonesia. Hemmm.... nasionalis tulen, begitu pikir saya dalam hati.

Saya kemudian teringat dua orang tokoh yang sebaya bapak tersebut, satunya sekarang masih hidup dan satunya sudah lama sekali meninggal. Orang pertama adalah Hugh Hefner pemilik majalah play boy yang saat ini berusia sekitar 83 tahun, sedangkan satu orang lainnya yaitu Abu Ayyub Al-Anshari salah seorang sahabat Rasulullah saw.

Hugh Hefner kita kenal sebagai salah satu penyebar kemaksiatan terbesar di dunia pada era modern. Kakek satu ini yang sekarang tinggal seatap dengan para model tanpa ikatan apapun mulai menjalankan kerajaan bisnis pornografinya pada tahun 1953. Playboy telah berperan sangat penting dalam membawa pornografi ke luar dari kamar tidur dan memasuki ruang publik secara terbuka. Sejak awal memang majalah ini dirancang untuk menjajakan paham kekebasan dalam berperilaku sebagai bagian dari gaya hidup.

Peredaran majalah ini sudah mendunia, termasuk (ironisnya) di negara kita yang penduduknya mayoritas muslim. Pada tahun 2006 majalah playboy harus mencetak 7 juta eksemplar setiap bulannya. Bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang beredar dalam bisnis haram tersebut, termasuk segala pernik-pernik aksesoris pornografi sebagai penunjanngya. Konon untuk mendapatkan hak atau lisensi terbit di tanah air, pengelola playboy Indonesia harus merogoh kocek 1 miliar. Berarti secara kalkulasi bisnis ada keyakinan peredaran majalah ini akan sangat menguntungkan sehingga berani resiko menghadapi segala macam penentangan dari masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin.

Sagat wajar dan menjadi keharusan kalau kita memerangi pornografi dan segala instrumen pendukungnya. Kita menyadari bahwa pornografi sudah seperti candu yang mengandung bahaya besar dan merusak seluruh sendi kehidupan masyarakat khususnya bagi generasi muda, sehingga pemberantasan pornografi harus senantiasa digelorakan setiap saat. Pornografi bisa mengancam kehidupan moral pribadi seseorang yang menyukainya.

Allah swt berfirman “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32).

Anak-anak remaja paling rentan terhadap bahaya pornografi karena secara psikologi mereka sedang memasuki masa pubertas dengan libido (nafsu seksual) yang berpotensi meledak-ledak, di samping perasaan ingin tahunya yang sangat besar terhadap dorongan biologis itu. Tidak bisa dihitung lagi berapa kali kita mendengar para remaja, pemuda dan mahasiswa melakukan perzinaan setelah terprovokasi adegan-adegan panas dari majalah, surat kabar dan VCD porno.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya dosa kakek Hugh jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Apalagi orang yang mengawali kemaksiatan akan menerima tambahan dosa dari orang-orang yang mengikuti jalannya bermaksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim).

Orang tua sepuh ketiga yang juga tokoh kaum muslimin adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Sesuai dengan nama belakangnya, beliau berasal dari kabilah Anshar atau penduduk asli Madinah yang menolong kaum Muhajirin yaitu kaum muslimin Makkah yang berhijrah di Madinah.

Rumah beliau sempat menjadi tempat tinggal Rasulullah saw dan keluarganya pada hari-hari pertama di Madinah sebelum di buatkan rumah untuk beliau dan keluarganya di sebelah masjid Nabawi.

Allah swt menganugerahi laki-laki sholeh ini umur cukup panjang 80 tahun lebih. Beliau mengalami masa empat khalifah yang lurus (khulafaurrasyidin) Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Beliau sangat aktif mengikuti perjalanan jihad bersenjata kaum muslimin khususnya setiap usaha membuka kota konstantinopel. Beliau sangat mengharapkan menjadi anggota pasukan terbaik kaum muslimin sebagai kabar nubuwwah Rasulullah Muhammad saw.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”. [H.R. Ahmad bin Hanbal).

Banyak serangan yang dilancarkan para khalifah Islam dalam rangka penaklukan konstantinopel dalam rentang waktu 800 tahun lamanya karena terinspirasi dan termotivasi sabda Rasulullah saw. Namun semuanya mengalami kegagalan sampai penyerangan terakhir yang dilakukan oleh sultan muhammad II dari kekhalifahan Utsmaniyyah yang bergelar muhammad Al-Fatih.
Usaha pertama untuk mengepung Konstantinopel dilakukan pada tahun 34 H. / 654 M masa pemerintahan Usman bin Affan ra. Dia mengirimkan Muawiyah bin Abu Sofyan r.a. dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkannya. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa disebabkan oleh kokohnya pertahanan kota Konstantinopel.

Pada masa kekhilafahan Islam masa Bani Umayah tercatat 2 serangan penting yang dilancarkan Pertama; yang dilakukan pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan r.a. sayangnya upaya itu belum berhasi. Kedua; adalah yang dilakukan pada masa Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H . Pada saat itu khalifah mengirimkan pasukan tentara sejumlah 20.000 orang dan sekitar seratus perahu untuk mengepung dan menaklukkan Konstantinopel, namun belum memperoleh apa yang diharapkan.

Dalam usaha penaklukan yang pertama itulah Abu Ayub Al-Anshari syahid. Ketika itu beliau telah berusia 80 tahun lebih. Dalam pertempuran yang sengit di sekitar benteng konstantinopel beliau mengalami luka sangat parah. Sebelum wafat Abu Ayyub sempat berwasiat jika meninggal dunia dalam pertempuran besok paginya, beliau meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim dari wilayah konstantinopel. Dan para sahabatnya memenuhi permintaan beliau dan berhasil menyelinap untuk memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn. Makamnya sampai sekarang masih ada di Turki.

Hidup adalah masalah dalam memilih karena Allah swt telah memberikan dua alternatif bagi kita; kebaikan atau kefasikan (Asy-Syams ayat 8), telebih hidup itu sesungguhnya adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik amalnya (Al-Mulk ayat 2). Alangkah indahnya kalau kemudian sepanjang waktu yang diberikan kepada kita sebagai kesempatan hidup di dunia penuh dengan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt. Itulah golongan manusia-manusia terbaik.

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang terbaik di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Kata beliau, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling panjang umurnya dan paling baik amalnya.” (HR. Ahmad)

Semoga Allah swt juga memberikan kesanggupan kepada kita untuk mengisi waktu demi waktu keseharian dengan lebih banyak mengerjakan kebaikan. Jangan sampai pertambahan usia kita justru menambah banyaknya jumlah kesalahan yang kita kerjakan. Bukankah semua kelak akan kita pertanggung jawabkan di mahkamah pembalasan?

| edit post

kita ini masih muda, mas…

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

“Saya minta bantuannya karena anak saya mengaku stress, depresi, sumpek, tertekan dengan teman, guru dan linkungannya. Saya berniat siang ini berangkat ke sana untuk berbicara dengannya. Saya khawatir karena sebentar lagi ujian. Saya sebaiknya bagaimana?”

Begitu sebagian penggalan dialog saya dengan seorang ibu lewat ponsel kemarin pagi. Sembari memberikan beberapa saran yang menurut saya baik untuk menenangkannya, saya berjanji membantu ibu itu untuk ngobrol dengan putranya. Saya meminta beliau untuk menghubungi saya beberapa hari lagi.

Tadi pagi saya duduk berdua berhadap-hadapan dengan putra si ibu itu di sebuah ruangan. Awalnya si anak tidak mengaku kalau dirinya sedang tidak stabil. Bahkan meskipun ia bercerita beberapa hal tentang dirinya, ada yang ia sembunyikan. Sayapun tidak memaksanya.

Setelah ia bercerita, saya sampaikan hal-hal yang menurut saya penting untuk diketahuinya. Paling tidak secara teori ia memiliki landasan dalam menyikapi kondisi dirinya. Alhamdulillah, ia tetap sabar mendengar kalimat demi kalimat yang saya sampaikan.

Kurang lebih 15 menit saya menyampaikan tentang apa itu stress, penyebab dan kira-kira solusi apa yang sebaiknya dilakukan orang yang sedang dalam kondisi tersebut. Ia mengangguk dan menyanggupi beberapa permintaan saya untuk ia lakukan terkait dirinya serta orang tua yang menyayanginya.

Saya semakin percaya kesimpulan banyak orang yang mengatakan kalau remaja dan pemuda sekarang gampang down ketika menghadapi persoalan sedikit rumit. Nampaknya predikat sebagai generasi instant yang pingin serba cepat, pingin enak terus dan ogah sedih semakin menemukan kebenarannya.

Mereka terjebak dalam perangkap kehidupan pop ala televisi dan majalah-majalah remaja tiruan barat. Live is for fun, life is easy going, just for happy, free style dan ungkapan yang sejenis mewakili gambaran kehidupan yang mereka inginkan. Kampanye yang setiap hari mereka ikuti dengan sadar ataupun tidak, berhasil mengubah bangunan karakter yang harusnya dimiliki sebagai pewaris negeri.

Akibatnya ketika persoalan yang sebenarnya tidak seberapa, seakan-akan seperti memikirkan masalah orang satu kampung. Ditambah lagi dengan minimnya upaya untuk mencari solusi-solusi alternatif supaya masalahnya selesai. Ia hanya menunggu orang-orang di sekitarnya membantu untuk menyelesaikan masalahnya. Pasif dan menunggu.

Meskipun tidak semua anak muda berkarakter seperti itu, namun wabah itu terasa semakin menyebar ke mana-mana. Tidak ketinggalan pula menghinggapi generasi muda Islam. Mungkinkah amanah perjuangan umat ini diserahkan kepada mereka yang bertipologi seperti itu? Bukankah pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan?

Perjalanan panjang kehidupan manusia sudah mengajarkan pentingnya peran sosok para pemuda dalam kebangkitan sebuah masyarakat, bangsa ataupun peradaban. Energi besar yang berkumpul dalam diri mereka merupakan modal luar biasa jika mampu memaksimalkannya.

Bukankah para pendahulu kita generasi muslim pertama para pembela Rasulullah saw sebagian besar adalah anak-anak muda. Ada Ali dan Ja’far bin Abi Thalib serta Zubair bin Awwam yang masih berusia 8 tahun, Arqam bin Abi Arqam 16 tahun, Shahih Ar Rumy 19 tahun, Zaid bin Haritsah 20 tahun, Saad bin Abi Waqqash 17 tahun, dan Utsman bin Affan 17 tahun.

Bahkan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid ketika berusia 18 tahun sebagai panglima perang menghadapi negara adi kuasa Romawi. termasuk Umar bin Khatab yang sering mengajak Abdullah bin Abbas mengikuti rapat-rapat kenegaraan karena kecerdasan dan kefaqihan ilmu agamanya.

Bagaimana dengan remaja dan pemuda Islam hari ini? Saatnya unjuk prestasi!!!




| edit post

Membangkitkan Islam dengan Manhaj Nabawi.

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Bagaimana membangkitkan kembali peradaban Islam yang sedang berada di bawah bayang-bayang peradaban barat yang kafir?

Kita ingat bahwa perjuangan dakwah Rasulullah saw tidak bertumpu kepada kekuasan, ekonomi, ataupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Beliau pernah mencoba cara-cara itu untuk memperbaiki masyarakatnya, namun tidak berhasil.

Dalam bidang politik beliau pernah mencoba ketika terjadi peristiwa peletakkan Hajar Aswad. Ketika semua suku dan kabilah sudah menghunus pedang, kuda-kuda perang sudah dilepas dari kandangnya dan setiap prajurit sudah menyiapkan jiwa dan raganya untuk kehormatan kaum, Muhammad saw melakukan sebuah terobosan politik yang luar biasa jeniusnya.

Meskipun mendapatkan mandat secara penuh untuk memutuskan pengembalian Hajar Aswad ke tempatnya, beliau mengajak seluruh ketua kabilah mengangkat batu itu bersama-sama. Makkah terhindar dari banjir darah. Tapi hanya begitu saja, setelah itu semua kembali kepada kebiasaan lama mereka. Hanya saja kemudian mereka memberi gelar kepada beliau Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Begitu pula dalam bidang sosial ekonomi. Rasulullah saw dikenal sebagai seorang penyantun, suka menyambung tali silaturrahim dan membebaskan budak. Bahkan salah seorang budak itu kemudian beliau angkat menjadi anak beliau yakni Zaid bin Haritsah. Namun kebijakan-kebijakan itu juga belum mampu mengubah sruktur keyakinan dan perubahan masyarakat Quraisy secara keseluruhan. Ternyata bukan itu semua solusi permasalahan bagi kaumnya.

Beliau kemudian mengasingkan diri, berlari, mengungsi dan menjauhi masyarakatnya untuk merenung mencari jalan terbaik keluar dari krisis multidimensional tersebut. Beliau merasa otak dan akalnya sudah buntu.

Maka ketika Allah swt melalui malaikat Jibril menyuruh beliau membaca, jawaban beliau adalah aku tidak bisa membaca. “bacalah ya Muhammad” “aku tidak bisa membaca”. Beliau merasa tidak lagi mempunyai alternatif untuk memecahkan persoalan masyarakatnya. Beliau membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia untuk menyelesaikan problem sosial di Makkah.

“Bacalah dengan nama Rabb mu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Rabb mu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan qolam. Dia mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.”

Mengherankan tentunya kalau membandingkan problem yang harus Rasulullah saw hadapi serta solusi yang ingin beliau dapatkan dengan perintah pertama yang beliau terima. Apa hubungannya? Allah swt adalah pencipta dan pemilik jagad raya ini. Tentu saja Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya.

“Bacalah dengan nama Rabb mu yang menciptakan". Dari sini sebuah paradigma baru telah dibangun, yaitu adanya rekrontruksi (penataan ulang) pola pikir (tashawwur) yang dilakukan dengan menggunakan potensi Rububiyah. Gugah, ketuk dan bangkitkan potensi Rabbaniyah yang sudah lama terpatri dalam nurani setiap manusia, sebelum membicarakan berbagai macam aturan dan hukum, sebelum menentukan halal dan haram.

Iqra’ Bismirabbika - merupakan suatu paradigma dalam menyerap realitas lahiriah (syahadah) dan metafisik (ghaib) melalui kesadaran Rububiyah. Pada dasarnya, kesadaran Rububiyah sudah melekat dengan penciptaan manusia itu sendiri, ia sesungguhnya adalah kesadaran yang bersifat fitri (sesuatu yang melekat pada proses penciptaan fisik manusia). Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an:

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Ia jadikan mereka saksi atas diri mereka: “Bukanlah Aku Tuhan kamu?” mereka berkata: “Betul! Kami menyaksikan” Yang demikian supaya kamu (tidak) berkata pada hari kiamat: “sesungguhnya kami tentang hal ini termasuk orang-orang yang lalai. (Q.S. Al Araf : 172)

Tetapi oleh karena beratnya godaan dan rayuan dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan sponsor utama syaithan laknatullah, maka potensi Rububiyah tidak lagi dominan dalam diri manusia. Ia sesungguhnya tidak hilang dan tidak akan mungkin hilang, melainkan tertimbun dan tertekan oleh dahsyatnya dominasi nafsu syahwat dan godaan syaithan tersebut. Oleh karena itu di dalam mengantarkan seorang manusia menuju kesadaran dasar yang dituju oleh wahyu, maka seseorang itu harus melakukan proses iqra’ bismirabbik,. Yakni, mengembalikan dominasi fitrah dalam membaca dan menyerap realitas kehidupan dunia dan alam semesta yang ada.

Kandungan al-Alaq mengugah kesadaran manusia untuk mengetahui bahwa dirinya adalah ciptaan dan berasal dari sesuatu yang hina (‘alaq) dan bodoh ( ma lam ya’ lam). Sementara Rabb nya adalah Maha Pencipta (Kholiq), Maha Mulia (Akram) dan Maha Mengetahui (‘alamal Insan). Al-Alaq ayat 1-5 akan melahirkan falsafah hidup bertauhid.

Falsafah hidup tauhid, yaitu kesadaran dasar akan eksistensi, kekuasaan dan kemuliaan Allah sebagai sumber cipta dan sumber ilmu akan melahirkan kesadaran Allah sebagai tujuan akhir (ghoyah). Jika digambarkan seorang yang telah beriman berada pada posisi awal, dan tujuan hidup yang baru yaitu Allah Yang Maha Agung daya tarik itu berada pada posisi lain, maka perjalanan menuju Allah adalah mujahadah. Atau, perjuangan yang sesungguhnya adalah perjalanan menuju Allah.

Dengan demikian falsafah tauhid-lah yang menjadi dasar bagi perjuangan seorang Mukmin. Ia menjadi landasan, tempat berpijak, pangkalan dan tempat bertolak perjalanan hidup seorang Mukmin, dalam usahanya menuju kepada Allah. Perjuangan itu tidak saja merupakan jihad yang suci, tetapi sebuah perjalanan perjuangan yang berat, panjang dan melelahkan. Berbagai hambatan dan rintangan siap menghadang. Begitu juga godaan dan rayuan selalu muncul. Karena beratnya perjalanan itu, maka pada dasarnya tidak seorang pun yang sukses melewatinya, dalam arti mampu mencapai Allah, jika semata-mata berbekal pada kemampuan dirinya.

Jika kita menapak tilasi perjalanan sejarah Rasul bersama para sahabat, dan dikaitkan dengan kelahiran kesadaran atau falsafah hidup yang memunculkan orientasi hidup menuju Allah, maka kita memahami betapa falsafah hidup itu mengubah jalan sejarah, tidak saja bagi individu Mukmin, tetapi juga kemanusiaan dan dunia.

Sebelum lahirnya iman, ketergantungan, harapan hidup adalah kepada diri sendiri, atau kepada sanak keluarga atau handai taulan, atau kepada berhala-berhala baik yang berwujud maupun yang abstrak. Kemudian setelah lahirnya iman, maka seluruh harapan hidup digantungkan hanya kepada Allah, tunduk dan patuh ditujukan kepada Allah semata.

Dari sinilah bangunan peradaban itu dibangun kembali dengan mengacu kepada jejak langkah perjalanan Rasulullah saw dan para sahabat memenangkan Islam. Tidak mungkin apa yang Allah swt ajarkan kepada Rasulullah saw dan beliau lakukan salah serta keliru. Itu adalah kenyataan historis yang tidak terbantahkan, ditunjang landasan normatif sebagai panduan kita untuk mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan.

Itulah manhaj nabawi. Metode ini bertumpu pada lima surat yang pertama kali turun kepada Rasulullah saw yaitu al-Alaq ayat 1-5, Al-Qolam ayat 1-7, Al-Muzammil ayat 1-10, al-Mudatsir ayat 1-7 dan al-Fatihah ayat 1-7. Kelima surat tersebut biasa disebut Sistematika Nuzulnya Wahyu.

Berawal dari orientasi hidup yang kita bangun melalui surat Al Alaq. Setelah itu lahirlah sebuah obsesi hidup berqur’an dengan surat Al Qolam. Dan ketika obsesi telah terbangun, dilanjutkan dengan proses Internalisasi, proses Kristalisasi melalui surat Al Muzammil sebagai bekal mujahid dakwah. Baru kita mengadakan Ekspansi dengan dakwah dan jihad dalam berbagai aspek serta lingkupnya dengan surat Al Mudatstsir. Dengan demikian maka akan lahir Paradigma yang terbuka dan membuka kejumudan, yaitu paradigma Al-Fatihah. Insya Allah segalanya akan berakhir dengan Alhamdulillah, berakhir dengan tegaknya peradaban yang mendapat keridhoan Allah swt.

| edit post