RSS

mengapa anak merokok?

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pertanyaan itu mungkin aneh untuk saat ini. Fenomena anak merokok adalah hal yang lumrah terlihat di sekeliling kita. Tidak hanya tingkat anak "tanggung" yaitu seusia pelajar sekolah menengah, tapi juga sudah merambah ke anak-anak sekolah tingkat dasar. Semoga saja tidak merembet ke anak-anak usia pra sekolah, musibah besar!!!!

Namun tetap saja membuat hati tidak nyaman melihat dan menyaksikan tangan-tangan yang masih kelihatan belum kokoh tersebut sudah terselip sebatang rokok di sela-sela jarinya. Nggak tega rasanya. tidak jarang terbersit pikiran "apa sih enaknya merokok?", "sudah tidak enak, merusak lagi!". Begitu barangkali lintasan-lintasan ungkapan muncul secara spontan dalam pikiran melihat fenomena banyaknya generasi masa depan umat terperangkap dalam gaya hidup yang keliru. Bahkan fatwa haram dari MUI pun tidak mampu mengerem hasrat mereka mengkonsumsi barang terlarang tersebut.

Banyak alasan seseorang atau seorang anak menjadi perokok. Namanya juga alasan bisa beneran atau juga sekedar kambing hitam karena sudah terlanjur kecanduan "Tuhan 9 centi" tersebut. Tuhan 9 centi merupakan ungkapan Taufik Ismail dalam puisinya untuk menyindir tentang ketaatan para perokok terhadap "berhalanya" tersebut.

Lalu kenapa seorang anak jadi perokok?
Paling tidak ada tiga alasan yang bisa disebutkan disini, tentu saja alasan-alasan berikut ini bisa ditambahi sendiri. Penyebab pertama seorang anak merokok karena orang tuanya adalah perokok. Betapa tidak akan tergoda untuk mencoba jika setiap hari seorang anak menyaksikan orang tuanya asyik melahap rokok di depan matanya. Nampaknya lezat, begitu barangkali awalnya dalam pikiran si anak melihat gumpalan-gumpalan asap keluar dari mulut bapaknya. Akhirnya bisa ditebak, lambat laun sang anak menapaki jejak yang sama dengan bapaknya menjadi "ahli hisab"

Disamping orang tua, teman dan lingkungan pergaulan bisa juga mempengaruhi seseorang menjadi perokok. Berteman dengan perokok merupakan faktor kedua yang mungkin bisa menyebabkan seorang anak merokok. Meski tidak ada anggota keluarganya yang merokok, namun karena setiap hari berkumpul dengan anak-anak yang sebaya bisa menyebabkan seseorang menjadi perokok.

Melihat teman-temannya nampak macho ketika merokok plus puluhan kali rayuan untuk mencoba satu atau dua hisapan biasanya cukup ampuh meruntuhkan daya tahan seorang anak yang sebelumnya tidak merokok. Awalnya mungkin sekedar iseng mencoba, sungkan menolak ajakan atau menghormati teman. Namun karena setiap hari begitu tidak butuh waktu lama untuk membuatnyapun menjadi pecandu.

Penyebab yang ketiga mengapa anak merokok adalah salah mempersepsikan rokok. Bagi anak-anak yang merokok tidak jarang merasa dengan merokok dirinya sudah dewasa. Dengan kata lain merokok merupakan simbok kedewasaan bagi seseorang, khususnya anak laki-laki. Persepsi yang ngawur tersebut dianut sebagian anak-anak dan remaja yang menjadikan rokok sebagai bagian dari gaya hidupnya.

Masih banyak penyebab yang mungkin dijadikan alasan seorang anak sehingga ia merokok. Bisa jadi karena tidak memiliki prestasi yang layak dibanggakan dalam lingkup sekolahnya baik akademik maupun non akademik sehingga merokok supaya bisa sedikit bangga di depan teman-temannya. Bisa pula beralasan sering stress karena masalah ini dan itu sehingga perlu merokok beberapa batang sebagai sarana refreshing sesaat. Dan bla... bla.... bla.....

Akhirnya, berhenti sajalah yang sudah menjadi barisan perokok berapapun usianya, apapun profesinya dan dimanapun berada. Jangan kembali menjadi orang yang buta huruf sehingga peringatan dari pemerintah di setiap bungkus rokok tidak terbaca. Masak memiliki pikiran kalau badanya terbuat dari besi sehingga tidak akan keropos terkena racun dari setiap asap yang dihisap dari batang rokok? Itu sih kelewatan.

| edit post

karena cinta

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

"kapan mudik?" "tanggal berapa mudik?" "mudik pake apa?"

Bagi orang perantauan seperti saya dan setipe, pertanyaan diatas sudah banyak dilontarkan teman sejak ramadhan masuk angka dua puluhan. Tentu saja tidak boleh bosan menjawabnya, walaupun yang bertanya sampai puluhan orang secara bergantian. Belum lagi keluarga di kampuang yang juga pingin tahu kapan mudiknya. Pastilah lebih banyak mengulang jawaban yang sama.

Sulit membayangkan lebaran di Indonesia tanpa istilah mudik. Pastilah tidak seru alias hampar. Hanya libur dua hari pas tanggal merahnya. Tidak ada keramaian dan keriuhan seperti ketika mudik menjadi fenomena massal di negeri ini. Pusat perbelanjaan tradisional dan modern penuh sesak. Agen kendaraan umum panen keuntungan. Terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan penuh sesak dengan manusia. Belum lagi kesemerawutan jalan raya di hampir seluruh jalan yang menghubungkan kota-kota besar menuju kota-kota kecil maupun daerah pinggiran.

| edit post

Generasi sakit yang dilupakan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Kalimat diatas terbaca dari tulisan kaos bagian belakang salah seorang remaja tanggung yang melewati saya. Dengan pede nya mereka berjalan menyeruak di tengah keramaian sambil tertawa dan bernyanyi kecil bersama. Mereka berombongan sekitar lima orang dengan penampilan khas anak-anak “punk”. Mungkin kalimat tersebut mewakili pikiran dan nasib mereka sendiri; generasi sakit yang dilupakan.

Muncul dari kompleksitas peradaban manusia dengan segala perniknya. Aliran punk kemudian membuat sub system sendiri di tengah pergaulan masyarakat. Dengan segala atribut khasnya yang menurut sebagian besar masyarakat aneh membuat mereka nampak berbeda. Justru itu yang – mungkin - mereka banggakan sebagai kelebihan.
Perasaan aneh itulah yang kayaknya membuat orang umumnya menganggap kurang baik pada mereka. Urakan, tidak terdidik, jarang mandi dan berbagai atribut negatif terlanjur dilabelkan masyarakat kepada mereka. Akibatnya kelompok mereka jarang mendapat pembinaan dan sentuhan perhatian dari system masyarakat sendiri.

| edit post

Menolak hujan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Hujan adalah rahmat. Itu pasti. Namun pada saat tertentu tidak semua orang berharap hujan turun. Tentunya bukan karena menolak rahmat, ada rahmat lainnya yang lebih besar ingin diraih. Satu tujuan beda jalan. Mungkin.

Saya tidak tahu persis benar tidaknya, namun hal tersebut sudah mafhum di masyarakat luas. Konon ada orang-orang tertentu yang bisa menolak hujan. Ada yang mengatakan menunda hujan, tidak sedikit pula yang bilang mereka memindahkan tempat turunnya hujan. Wallahu ‘alam.

Biasanya mereka diundang oleh orang-orang yang sedang mengadakan hajatan; resepsi pernikahan, khitanan, upacara selamatan, pertandingan-pertandingan olah raga maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan pengerahan manusia dalam jumlah banyak. Dan mereka mendapatkan upah untuk jasanya tersebut. Besarnya upah tidak ada tarif resmi tapi sudah tahu sama tahu. Kita sering menyebutnya pawang hujan.

Mereka akan sibuk sekali melayani permintaan ketika bulan-bulan masehi mendekati akhir tahun dan awal tahun. Mungkin juga pada saat musim sedang tidak menentu seperti ini. Job mereka padat dan tidak jarang pengguna jasa mereka harus inden jauh-jauh sebelumnya. Terlebih jika sang pawang cukup terkenal karena keampuhannya. Bisa satu dua bulan sebelum hari H harus sudah booking duluan.

Bagaimana mereka bisa melakukan hal tersebut? Pawang hujan bukanlah ahli meteorology dan geofisika. Pasti bukan. Mereka bukan pula para fisikawan atau ilmuwan alam lainnya. Apakah mereka punya mesin untuk mengendalikan tempat turunnya hujan? Tentu tidak. Lalu bagaimana mereka melakukannya? Wallahu ‘alam

Masyarakat umum mengatakan pawang hujan memiliki ilmu kesaktian untuk menolak hujan. Ada yang mengatakan mereka memiliki ritual-ritual khusus sebelum dan setelah beraksi. Tidak sedikit pula yang menuduh mereka berkawan ria dengan para makhluq halus. Wallahu ‘alam.

Satu yang pasti apapun yang terjadi di muka bumi ini tidak lepas dari kehendak Allah swt. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah swt mengatur seluruh alam raya dengan kehendakNya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak dan ijin Allah swt.

Seminggu terakhir saya termasuk orang yang berharap hujan tidak turun hari ini. Kami mempunyai agenda penting untuk menyambut tamu ratusan orang yang bersilaturahim. Kasihan rasanya melihat ratusan orang harus berlari-lari menghindari hujan atau basah pakainnya terkena cipratan air dari jalan yang tegenang. Kami khawatir tidak bisa memuliakan tamu sebagaimana perintah Rasulullah saw. “Barang siapa beriman kepada Allah swt dan hari akhir maka muliakanlah tamunya” (al-Hadist).

Alhamdulillah. Allah swt berkenan mengabulkan doa kami. Meski sepanjang hari harus dag dig dug karena setiap melihat ke langit nampak awan putih bercampur dengan awan hitam. Belum lagi angin sepoi sepoi dingin membuat setiap menit penuh dengan suasana khawatir kalau-kalau tumpah juga akhirnya air dari langit.

Tidak ada pawang hujan yang terlibat disini. Hanya doa orang-orang setiap sholat lima waktu dan ibadah sunnah lainnya selama satu minggu penuh. Terima kasih ya Allah, Engkau kabulkan permohonan kami. Amiiinnn.


| edit post

Sejenak mengingat kesalahan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pernahkan kita mengkalkulasi secara cermat dan jujur dosa-dosa kita sejak baligh sampai hari ini? Mungkin ada diantara kita yang melakukannya, meski jumlahnya tidak banyak. Betapa melimpahnya kesalahan-kesalahan kita kepada Allah swt mulai dari skala yang kecil sampai besar. Bahkan ada juga sebagian yang kita lupa atau sengaja kita lupakan. Mungkin kita berfikir; ah..... itu kan dosa kecil saja paling-paling juga Allah swt memaafkannya.

Atau juga sudah terlanjur salah cara berfikir kita. Kita sejak kecil sudah diajari bahwa setiap muslim yang sudah bersyahadat pasti masuk surga. Kuncinya adalah syahadat. Keyakinan itu menjadi bagian alam bawah sadar kita sehingga sebagian saudara kita mempunyai motto “yang penting syahadat, sholat tidak wajib apalagi puasa. Maksiat selama tidak syirik langsung tidak masalah karena pasti dimaafkan”.

Memang benar Allah swt menjamin hamba-Nya yang bersyahadat akan masuk surga. Tetapi bukan sekedar syahadat lisan saja. Syahadat yang dijamin Allah swt dengan surga adalah syahadat yang diwujudkan dengan amal perbuatan sehari-hari. Amal perbuatan yang tentu saja sesuai dengan perintah Allah swt serta tidak sedikitpun melanggar laranganNya.

Teringat saya dengan salah seorang sahabat besar Rasulullah saw, Umar ibnul Khatab. Dalam kisah hidunya kita menyimak satu episode tentang ketakutan beliau akan kesalahannya pada masa lalu. Beliau setiap sholat sewaktu melakukan salam dengan memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan tidak jarang menangis. Bahkan sampai sesunggukan sambil berlinang air mata. Para sahabat heran dengan sikap Umar bin Khatab.

Salah seorang mereka kemudian bertanya kepada Umar bin Khatab tentang kebiasaan tersebut. Di sela-sela tangisnya Umar bin Khatab menjawab bahwa ia teringat akan putrinya. Umar menjelaskan bahwa dulu di masa jahilyyah ia pernah membunuh salah seorang putrinya yang masih kecil. Ia melakukan perbuatan tersebut karena malu mempunyai anak perempuan. Tradisi jahiliyyah memang memandang rendah derajat perempuan. Kelahirannya merupakan aib, keberadaanya dianggap menyusahkan kabilahnya.

Umar merasa bersalah kepada putrinya dan berdosa besar kepada Allah swt atas perbuatannya tersebut. Ia sadar betul balasan Allah swt bagi orang yang menghilangkan nyawa orang lain tanpa hak adalah neraka. Ia merasa bayangan putrinya selalu hadir di pelupuk mata. Perasaan tersebut masih saja seperti itu meskipun Rasulullah saw telah mengabarinya menjadi salah satu dari sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga (al-‘asyarah mubasyarah).

Umar bin Khatab adalah salah seorang sahabat besar Rasulullah saw. Allah swt menurunkan beberapa ayat al-Qur’an untuk membenarkan pendapatnya atau juga menjawab pertanyaannya. Usai perang Badr Rasulullah saw memutuskan para tawanan perang musyrikin Makkah untuk membayar tebusan untuk kebebasannya. Itu saran Abu Bakar dan Rasulullah saw menyetujuinya. Umar bin Khatab tidak sependapat. Adalah lebih baik kalau kemudian para tawanan itu dibunuh untuk memberi pelajaran kepada mereka atas penentangannya kepada syariat Allah swt dan Rasulullah saw. Allah swt membenarkan pendapat Umar bin Khatab dan menegur Rasulullah saw atas keputusannya. Tidak layak bagi seorang nabi untuk meminta tebusan sementara masih banyak orang kafir berkeliaran di muka bumi.

Kualitas Umar bin Khatab yang seperti itu tetap saja membuatnya risau atas dosa-dosanya yang telah lalu. Bahkan meski ia tahu Rasulullah saw telah menjaminnya masuk surga, ia tetap saja gundah. Khawatir Allah swt murka atas perbuatannya dulu dan mengazabnya dengan siksaan yang tidak mungkin dapat ia tanggung. Kekhawatiran itu terus membayanginya sampai akhir kehidupannya. Bagaimana dengan kita?


| edit post

Memadukan kepentingan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Desain awal musyawarah adalah untuk menyelesaian permasalahan, mensikronkan semua hal yang belum nyambung dan memberikan keputusan final terhadap hal-hal yang masih mengambang. Maka semua argumentasi, dalil, alasan dan sebab akibat akan dikeluarkan sehingga menemukan solusi atau jalan keluar dari permasalahan. Tentu saja akan menimbulkan diskusi menarik apabila semua peserta berfikir keras memeras otak dan menggali penggalaman pribadi ataupun orang lain sebagai acuan peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu

Repotnya memang terkadang dan tidak jarang diskusi berkembang menjadi debat panas penuh nuansa persaingan kepentingan dengan ide serta argumentasi masing-masing. Kualitas pemimpin forum mutlak menentukan lancar tidaknya alur diskusi, atau bahkan tidak lebih dari debat kusir tanpa arah dan keputusan.

Biasanya forum musyawarah akan menjadi hangat apabila masing-masing pihak memegang erat prinsipnya tanpa mau berkompromi dengan pihak lain. Disitulah masalahnya. Padahal musyawarah dibuat untuk memadukan semua kepentingan pribadi atau kelompok menjadi kepentingan bersama. Memangkas semua ambisi setiap kelompok menjadi ambisi bersama seluruh peserta musyawarah.

Tidak masalah kalau memang harus terjadi debat panas dengan suara yang cukup keras, mata melotot atau bahkan sambil berdiri untuk memberikan penekanan pada argumentasinya. Asalkan kepala dan hati tetap dingin, dan senyum masih terkembang lebar di bibir masing-masing. Karena lebih baik semua uneg-uneg terlontar di forum resmi daripada gerundel dibelakang. Hal itu merupakan kebiasaan yang kurang baik.

Kuncinya pada pengendalian emosi dan kepentingan masing-masing. Jika tidak mampu mengerem itu semua akibatnya bisa fatal. Kita tidak sedikit kali mendengar rapat nasional sebuah organisasi baik pemuda maupun orang dewasa terjadi adu jotos, lempar-lemparan kursi, jual beli kata-kata kasar atau umpatan dan sebagian memilih aksi walk out keluar sidang. Langkah selanjutnya biasanya muncul kepengurusan tandingan dari organisasi tersebut. Rasanya tidak sekali dua kali kita mendengar dan melihat fenomena seperti itu di masyarakat.

Bahkan seorang teman pernah bercerita tentang serunya suasana rapat yang ia ikuti dari sebuah lembaga mahasiswa Islam beberapa tahun silam. Acara rapat yang dibarengi dengan angkat dan banting kursi, kata-kata kurang baik hampir menjadi pemandangan wajib. What a shame!!!

Lebih ironis lagi jika salah seorang peserta rapat yang memang orang cukup baik dan memiliki pemahanam Islam cukup baik pula mencoba untuk berdalil dengan ayat-ayat al-Qur’an atau menenangkan peserta rapat supaya suasana lebih kondusif, tidak jarang akan diejek peserta rapat lainnya. Misalnya beberapa dari mereka akan berkata “kalau ceramah di masjid saja mas”, atau bahkan akan berteriak-teriak seperti orang kesurupan “panas, panas. kita kan jin dengar ayat Qur’an pasti kepanasan” sambil melompat-lompat di tempatnya. Nau’dzubillah.

Jika sudah seperti itu musyawarah bukan sesuatu yang menarik dan produktif lagi. Kalau tujuan awalnya adalah untuk mencari solusi, hasilnya justru menimbulkan masalah-masalah baru. Perang batin, perang perasaan, perang dingin antar pihak-pihak tertentu dan perang-perang lainnya.

Sehingga idealnya setiap kita harus siap lebih dahulu untuk berbagi kepentingan dengan orang lain sebelum menghadiri atau masuk ke sebuah ruangan untuk bermusyawarah. Siap untuk memberi dan menerima. Memberikan usul dan solusi serta menerima keputusan terbaik yang disepakati bersama pula.

Penyiapan diri tentu lebih baik sehingga timbul perasaan tidak selalu merasa benar ide dan pikirannya, tidak mesti menang kemauannya dan motivasi untuk selalu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Padahal itu yang paling penting namun tidak jarang malah terkubur oleh ego dan ambisi sebagian peserta musyawarah.


| edit post

Selalu berbaik sangka

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Tidak enak rasanya dibohongi seseorang. Apapun alasannya, pasti menyakitkan. Rasa sakit itu butuh waktu untuk sembuh. Tapi itu fitrah manusia dan demikianlah adanya, kecuali bagi manusia-manusia khusus seperti Rasulullah saw dan peneladan sifat-sifat beliau. Namun untuk menjadi seperti itu memang berat dan tidak banyak orang bisa melakukannya.

Ternyata ada cara untuk lebih mempercepat proses keseimbangan jiwa dan rasa setelah dibohongi orang. Cara itu adalah membiasakan diri berbaik sangka, kepada siapapun dan kapanpun. Selalu menyiapkan alasan untuk membetulkan sikap orang lain terhadap dirinya.

Kalau selama ini umumnya orang selalu mencari kambing hitam dari si pelaku atau sang pembohong, cara ini sebaliknya. Ia selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakan seseorang sehingga berbohong kepada dirinya. Se imposible apapun alasannya akan selalu di cari dan dibenarkan sendiri. Betapa susahnya…!!!

Maka kalimat pemakluman selalu terlontar dari lisannya setiap kali orang meminta maaf atas perbuatannya yang tidak pas atau tidak tepat. Misalkan tidak datang ketika janjian bertemu, ia akan menerima jika si penjanji itu beralasan tidak datang karena pekerjaan, cuaca, kendaraan, keluarga maupun kesehatan. Everything is ok!

Bahkan ketika orang yang berjanji itupun tidak datang dan tidak memberikan alas an, iapun masih mencari alasan untuk membenarkan ketidak datangan orang tersebut. Subhanallah. Bisakah kita senantiasa seperti itu?

Begitupun ketika ia membeli barang namun tidak sama dengan promosinya. Ini contoh lainnya. Tidak serta merta ia mengecam dan menghujat si penjual, sebaliknya ia lebih dulu introspeksi dengan dirinya. Kenapa ia ceroboh, kenapa kurang teliti dan kalimat-kalimat sejenis untuk menunjukkan bahwa sebenarnya dirinyalah yang lebih bersalah dibanding si penjual barang yang berbohong tersebut. Luar biasa.

Konon prinsip ini mampu membuat seseorang selalu bersikap positif kepada orang lain; khususnya orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Dengan pikiran positif tersebut maka semangat hidupnya terjaga bahkan meningkat. Endingnya tentu saja prestasi hidupnya senantiasa meningkat setiap waktu. Jikapun tidak meningkat akan tetap stabil tidak turun ataupun menemui kegagalan.

Sayangnya saya belum bisa berfikir dan bertindak seperti itu. Berat sekali ketika mencobanya. Semoga anda bisa melakukannya dengan lebih baik. Amiiin.


| edit post

Hati-hati, jauhi mereka bertiga

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Ketika kondisi cuaca sudah pada situasi tidak pasti dan tidak tentu seperti sekarang ini, kita selalu diingatkan untuk menjaga kesehatan. Tubuh manusia memang tidak selamanya fit atau siap menerima serangan berbagai macam virus yang bergentayangan di sekitar kita untuk masuk merasuk ke dalam tubuh setiap kita. Tentu saja lebih efektif untuk mencegah daripada mengobati, sedia payung sebelum hujan.

Beragam cara dilakukan orang-orang berduit demi menjaga tubuh mereka senantiasa sehat seperti mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi mencukupi, istirahat teratur, olahraga teratur, dan rekreasi teratur. Belum lagi mengangarkan anggaran rutin untuk sebulan sekali mengunjungi dokter untuk cek up ataupun sekedar konsultasi.

Namun saat ini saya tidak terpikir akan hal itu karena pada umumnya penyakit-penyakit seperti itu lebih jelas cara mengobatinya selama obat tersedia dan uang di kantong cukup untuk membayar dokter ataupun rumah sakit. Memang akan sangat menderita jika sedang sakit dan tidak punya uang. Langsung kita teringat pesan sebagian orang yang kemudian diwujudkan dalam sebuah buku berjudul “orang miskin dilarang sakit”. Semoga kita semua tidak seperti itu.

Disamping senantiasa waspada menjaga fisik dari penyakit-penyakit jasmani, orang juga harus selalu waspada dengan penyakit-penyakit hati. Saya ambil tiga penyakit yang sangat berbahaya bagi manusia. Penyakit itu adalah sombong, rakus, dan iri hati.

Sombong atau kata padanannya takabur merupakan sifat seseorang yang disebabkan perasaan lebih baik dari orang lain. Perasaan lebih baik itu bisa karena kualitas intelektual, jumlah harta kekayaannya, jabatan atau kekuasaan maupun tampang muka dan jaringan relasi sosial.

Kalau penyakit itu sudah akut bawaan orang tersebut pasti selalu meremehkan dan mengkerdilkan orang lain dimana saja serta kapan saja. Bahkan kalau sudah kronis stadium dua belas mungkin dia akan super narsis; tidak ada orang yang sebaik dirinya, apalagi lebih baik. “Ketahuilahsesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup”. (Al-Alaq:6-7).

Kita harus hati-hati dengan sifat ini jangan sampai membiarkannya tidur nyeyak di dalam tingkah laku dan pikiran kita. Akhir dari orang dengan kepribadiaan seperti ini pasti jelek. Pasti jelek. Fira’un, Namrudz, Qorun maupun manusia-manusia lain yang meng copy paste karakter mereka.

Jangan lupa juga bahwa gelar “terkutuk atau terlaknat” yang diperoleh iblis dari Allah swt dan semua orang beriman adalah karena sifat ini; sombong dan takabur. Perasaan Iblis yang merasa lebih mulia dari Adam karena ia diciptakan Allah swt dari api sementara Adam dari tanah mengantarkannya pada posisi enggan dan menyombongkan diri (aba wastakbar).

Saking sombongnya ia berani menolak perintah Allah swt untuk bersujud kepada Adam. Suatu perintah yang dipatuhi oleh seluruh malaikat di langit. Ia bersikeras bahwa ia lebih baik dan lebih mulia sehingga tidak pada tempatnya harus bersujud kepada Adam.

Akibat pembangkangannya tersebut Iblis di laknat Allah swt sampai akhir zaman. Garansinya sudah jelas neraka jahanam di dalamnya selamanya. Apakah kita masih berminat memelihara sifat jelek itu? A’udzubillah min dzalik.

Penyakit kedua yang harus dipastikan jauh dari kita adalah rakus alias tamak. Gambaran ideal untuk personifikasi sifat itu mungkin ada pada monyet. Seekor monyet akan berusaha memenuhi kedua tangan dan kakinya dengan pisang, itupun dalam kondisi mulutnya penuh sedang mengunyah pisang. Satu belum habis sudah menyiapkan empat.

Dalam kisah terusirnya bapak moyang kita nabi Adam as sifat ini menjadi aktornya. Adam dan Hawa awalnya adalah penduduk surga. Berbagai fasilitas dan kenikmatan surga berhak mereka nikmati sepuasnya. Sebuah karunia yang sangat luar biasa tingginya dari Allah swt Maha Rahman dan Rahim.

Beliau berdua hanya mendapat satu pesan khusus; "jangan mendekati pohon ini (apalagi memakannya). (Maka jika kalian lakukan) kalian termasuk orang-orang aniaya". (QS. 2:35). Perintahnya begitu singkat dan sangat jelas. Sayangnya perintah Allah swt itu tidak berhasil dilaksanakan dengan baik.

Iblis yang sudah mendeclare dirinya sebagai musuh manusia sampai akhir masa berhasil mengoda sepasang manusia bertama tersebut,- Adam dan Hawa - terus menerus dan tidak putus asa. Ia menggelitik-gelitik nafsu beliau berdua sehingga akhirnya tergoda jeratan Iblis dan melanggar perintah Allah swt. Beliau berdua tidak hanya mendekati pohon itu, tapi juga memakannya. Inilah pelanggaran pertama manusia terhadap perintah Allah swt. Dan sebagai hukumannya Allah swt menurunkan beliau berdua ke bumi.

Pada masa sekarang ketamakan manusia sudah melewati batas kewajaran. Misalnya saja seseorang yang mempunyai uang banyak pingin memiliki semua benda berharga di muka bumi ini, tidak sekedar property benda mati tapi juga manusia.

Monopoli dalam bidang ekonomi seperti perdagangan dan penguasaan kekayaan alam contoh lain dari kerakusan manusia. Indonesia yang sedemikian luasnya hanya dimiliki tidak lebih dari 10% total penduduknya. Tanah, air dan udara bahkan sudah dikapling-kapling orang-orang kaya sebagai propertinya. Maka kemiskinan, kemelaratan, dan kesengsaraan sebagaian umat manusia di dunia ini diantaranya disebabkan rakusnya sebagian manusian yang lain.

Kurangnya rasa syukur kepada Allah swt merupakan efek berikutnya dari ketamakan. Perasaan selalu kurang-kurang terus dipeliharan dan disuburkan di dalam hatinya. Punya satu pingin dua, punya dua pingin tiga dan seterusnya. Jika tidak hati-hati bisa terperosok lebih dalam kepada kufur nikmat. Astaghfirrullahala’dzim.

Iri atau hasad merupakan penyakit jiwa ketiga yang harus tidak ada dalam diri kita. Penyakit ini membuat pola interaksi seseorang dengan orang lain tidak nyaman sama sekali. Ia tidak sedang melihat orang lain mendapatkan kebaikan, kelebihan, prestasi maupun penghargaan yang lebih daripada dirinya. Hatinya ngenes jika melihat orang lain lebih daripada dirinya.

Dulu saya pernah mendengar ceramah seorang dai terkenal pada masanya sehingga mendapat julukan da’I sejuta umat mencontohkan akibat sifat iri dalam diri seseorang dengan ilustrasi seperti ini; "melihat tetangganya beli televisi baru ia meriang, mendengar tetangganya beli kulkas baru sakitnya lebih parah, mendengar tetangganya beli mobil baru ia opname, akhirnya mendengar tetangganya beli rumah baru ia meninggal dunia". Mungkin gambaran tersebut berlebihan, namun suasana kejiwaan yang digambarkan mungkin mendekati realitas.

Sejarah pembunuhan pertama di muka bumi juga dilatar belakangi perasaan iri atau hasad ini. Gejolak kejiwaan karena perasaan iri itulah yang mendorong anak nabi Adam membunuh saudara kandungnya sendiri.

Berawal dari ketentuan Allah swt untuk memutuskan tentang siapa menikah dengan siapa diantara dua pasang anak kembar nabi Adam as. Ketentuannya adalah siapa yang kurbannya diterima Allah swt maka akan mendapatkan pasangan hidup terbaik.

Namun disitulah pangkal masalahnya. Justu karena tersebut , Qobil membunuh Habil. Ia iri kurban yang ia persembahkan kepada Allah swt tidak diterima sedangkan kurban saudaranya diterima. Sebenarnya wajar saja kalau kurban yang dipersembahkan Qobil tidak diterima Allah swt karena ia memberikan tanaman maupun hewan sisa-sisa dan kurus-kurus. Ia lebih memilih hewan atau tanaman yang baik-baik untuk dirinya, sementara hewan dan tanaman yang tidak ia pergunakan dipersembahkan kepada Allah swt. Jelas saja kurbannya tertolak.

Berbeda dengan Habil. Ketaatannya kepada Allah swt membuatnya rela mengikhlashkan hasil ternak dan panennya untuk kurban. Ia menyadari kalau kurba terbaiklah yang akan diterima oleh Allah swt. Dan pilihannya terbukti benar, kurbannya diterima sebaliknya saudaranya tidak. Tabiat seperti itu kemudian terwariskan kepada anak cucu Habil sampai dengan masa kita sekarang ini.

Menginggat besarnya dampak negative yang timbul, perlu upaya preventif kita supaya tidak terjangkiti virus-virus ketiga penyakit diatas. Usaha tersebut harus dilakukan dengan penuh kesadaran, sepenuh kemauan dan keberlangsungannya yang terus menerus atau istiqomah

Jangan hanya mengurusi kesiapan fisik atau jasmani kita belaka tetapi benteng pertahanan harus sudah terbangun di hati dan pikiran sehingga aman dari rongrongan para penyakit tersebut. Dan jika sudah nampak infeksi masuk ke sebagian hati serta pikiran kita segeralah diobati dengan obat paling mujarab di dunia yakni menginggat kebesaran dan ke Maha Kuasa an Allah swt.


| edit post

Tujuan utama pendidikan Islam

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Apa sesungguhnya tujuan pendidikan dalam Islam? Terdapat tiga tujuan utama seorang anak murid dididik dalam sebuah lembaga pendidikan berkarakter Islam. Pertama adalah mengenal Rabbnya, kedua adalah mengenal nabinya, dan terakhir adalah mengenal agamanya. Inilah esensi utama pendidikan kita.

Mengenal Allah swt sebagai Rabb merupakan point paling penting dalam pendidikan Islam. Hal itu merupakan entry point bagi pondasi keimanan seorang manusia kepada keesaan dan kemaha kuasaan Allah swt. Selanjutnya melahirkan ketundukan dan ketaatan kepada seluruh syariat Allah swt.

Mengenal Allah swt dalam segala asma’ dan sifatnya, juga nama-namaNya yang baik (asmaul husna). Kesuksesan dalam fase ini akan menjadi landasan kokoh bagi penanaman benih-benih aqidah seseorang. Inilah hikmah Allah swt menurunkan surat al-Alaq 1-5 sebagai wahyu pertama kepada Rasulullah Muhammad saw untuk memberikan cakrawala pemahaman kepada beliau tentang keberadaan Rabb bagi manusia serta posisi masing-masing.

Surat al-Alaq memberikan pelajaran sangat berharga bagi seorang manusia untuk memahami konsep-konsep penting dalam dien ini. Tentu saja supaya tidak salah memilih jalan dan pegangan hidup.

“Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan nama Rabbmu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan qolam. Dia mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya”. (Al-Alaq 1-5).

Membaca ayat tersebut paling tidak membuat kita memahami beberapa konsep dasar dalam Islam. Konsep-konsep itu meliputi; konsep Rabb/ketuhanan, penciptaan, hakekat manusia, filsafat Ilmu, alam, lahirnya kesaksian (syahadat) dan loyalitas.

Dengan ma’rifatullah tentunya diharapkan melahirkan pengabdian yang tulus dan murni hanya kepada Allah swt dalam segala aktifitas kehidupannya. Tidak berhenti sekedar mengerti wacana dan konsep teoritis tapi aplikasi amaliyyah. Ia mengerti fungsi dan tugasnya hidup di dunia dan siap untuk melaksanakan itu semua dalam rangka mencari keridhoan Allah swt.

Tujuan pendidikan Islam yang kedua adalah mengenalkan anak untuk mengenal para rasul utusan Allah swt, khususnya Rasulullah saw. Seorang anak murid diharapkan mengetahui keberadaan para utusan Allah swt beserta segala fungsi dan tugasnya sebagai penterjemah kehendak Allah swt kepada manusia, makhluk ciptaanNya.

Tujuan akhirnya adalah memberikan spirit kepada setiap anak murid untuk meneladani jejak hidup, perjuangan dan pengorbanan mereka dalam menegakkan dienul Islam. Lebih khusus tentu saja pola hidup Rasulullah saw sebagai uswah hasanah setiap pribadi muslim. Anak didik diharapkan memiliki kebanggaan dengan menjadikan Rasulullah saw sebagai sosok manusia agung yang wajib menjadikan perjalanan hidup beliau sebagai teladan dalam kehidupan.

Dengan demikian pribadinya tidak mengalami kebingungan dan perpecahan (spilt personality). Seorang muslim yang masih mengalami split personality biasanya terjadi pada orang-orang yang mengaku Islam dan umat Rasulullah Muhammad saw namun pola hidup dan perilakunya berbeda jauh dengan beilau, bahkan tidak jarang bertolak belakang. Penyebabnya diantaranya adanya kesalahan mengambil satu sosok figur sebagai panutan. Mereka lebih senang mengambil sosok itu tanpa melihat latar belakang agama dan perilakunya. Mungkin orang itu menonjol dalam bidang ilmu atau prestasi lainnya, namun secara akhlaq dan kepribadian ia rusak ataupun tercela.

Tujuan ketiga dalam pendidikan Islam adalah proses untuk mengenalkan anak murid kepada Islam. Pendidik harus mampu memberikan gambaran yang lengkap serta sempurna tentang dien ini. Para murid diharapkan memiliki pengetahuan cukup tentang jati diri dan karakter Islam sebagai satu-satunya agama yang mendapat ridho Allah swt.

Mereka mengetahui keunggulan dan keagungan Islam (ya’lu wala yu’la a’laihi). Bangga dengan jati dirinya sebagai seorang muslim. Kebanggaan itu mereka nampakan dalam pemikiran, penampilan, perbuatan, sikap dan tingkah laku setiap hari yang dapat dilihat manusia.


| edit post

Orang baik yang sukses

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Kita semua, saya dan anda pastilah menginginkan sukses dalam hidupnya. Menjadi orang sukses tentulah idaman setiap orang. Jika tidak pastilah ia orang aneh. Dalam kehidupan kita sekarang ini sukses identik dengan keberhasilan yang sifatnya material. Mengapa demikian? Karena kita sedang hidup dalam masyarakat yang kental dengan budaya dan nilai materialistic.

Wajar kalau mayoritas orang tua yang memiliki anak senantiasa mendoktrin buah hatinya dengan serangkaian nasehat serta petuah sebagai bekal meraih kesuksesan. “belajar rajin biar besok bisa kerja yang enak”, “bekerja serius supaya dipercaya atasan dan gajinya cepat naik” dan beragam pesan-pesan lainnya yang senada ungkapan dan maknanya.

Dengan kerangka berfikir seperti itu pula proses mencari pasangan hidup bagi seorang gadis tidak boleh melewatkan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini dari orang tuanya; “calonmu itu bisa menghidupimu dengan layak tidak?”, “rencananya nanti setelah menikah kalian mau tinggal dimana?”, dan sederet pertanyaannya untuk memastikan anak gadisnya dapat hidup dengan layak usai menikah kelak.

Apakah salah ketika kita berfikir seperti di atas; mengukur kesuksesan dengan ukuran-ukuran material? Jawaban ya dan tidak bisa masuk kedua-duanya. Tergantung perspektif kita sebagai penjawabnya.

Jika materi menjadi fokus dari keberlangsungan hidup seseorang maka pilihannya tersebut kurang tepat. Keinginan manusia terhadap materi senantiasa berkembang dan bertambah. Tidak ada kata berhenti atau puas terhadap kepemilikan terhadap materi. Nafsu manusia akan selalu menginginkan tambah dan tambah lagi. Selalu begitu. Dan ambisi itu akan berhenti setelah ia meninggal dunia, atau dalam bahasa Rasulullah saw “setelah mulutnya dipenuhi dengan tanah”. (al-hadist).

Kecintaan berlebihan terhadap materi juga bisa menjadikan seseorang gelap mata. Kalau ia berupa harta maka asal usul dan cara tidak terlalu diperhatikan. Ada idiom yang sungguh tidak baik sudah sering kita dengar dari sebagian orang dewasa ini “mencari yang haram saja susah, apalagi mikirin yang halal”. Kalimat salah keluar dari orang tidak berpengetahuan baik.

Termasuk juga jika kita berbicara jabatan. Pokoknya posisi itu diperoleh, terkait dengan sikut kanan sikut kiri, black campaign terhadap competitor, juga deal dengan bandar judi dan mafia bukan masalah. Tentu saja itu semua tidak gratis. Barter kebijakan mesti terjadi ketika nanti menjabat sebagai imbalan pasokan dana sewaktu kampanye sebelumnya. Sebuah harga mahal untuk satu konsep bernama demokrasi.

Sayangnya pola pikir materialisme justru yang sekarang ini digemari dan digandrungi oleh sebagian besar masyarakat manusia di dunia, termasuk sebagian umat Islam. Barat sebagai penguasa peradaban modern sekarang ini gencar sekali mengekspor ideologinya tersebut ke seluruh pelosok penjuru dunia. Dengan kekuatan media; cetak elektronik dan komunikasi hampir tidak ada jengkal tanah yang tidak terkena kampanye mereka. Mungkin hanya orang gua yang tidak pernah keluar dari tempatnya sejak lahir sampai meninggal selamat dari jebakan tipu daya mereka.

Idealnya kita sebagai seorang makhluk yang tujuan keberadaannya untuk berbakti kepada Allah swt memiliki prinsip kehidupan berbeda dengan mereka. Dengan memahami esensi fungsi dan tugas dirinya manusia memiliki worldview yang lengkap mencakup seluruh aspek kehidupannya, termasuk tanggung jawab sosial untuk memastikan dunia beserta seluruh isinya berjalan dalam rel syariat yang benar.

Belum lagi jika memikirkan pertanggung jawaban akhir kelak di hari pembalasan. Itulah salah satu pilar pembeda kita sebagai muslim dengan orang-orang yang tidak meyakini adanya hari kiamat. Keyakinan itu sekaligus menjadi rem kita sehingga semua langkah dan tindakan keseharian sebagai seorang manusia terjaga dalam koridor kebaikan, kebenaran dan ketaatan kepada Allah swt.

Berbeda halnya apabila seseorang tidak meyakini adanya saat pembalasan nantinya. Ketidak punyaannya terhadap perspektif jauh ke depan tentang pertanggung jawaban kepada Pemberi Kehidupan membuat mereka seolah-olah hanya menghabiskan seluruh upaya, kerja dan kesenangan di dunia semata. Mereka tidak memiliki kekhawatiran terhadap buah dari seluruh perbuatannya di dunia. Kalaupun takut berbuat salah tidak lebih karena khawatir sanksi dan hukuman dari aturan manusia sehingga manakala ia berkuasa dan mempunyai uang untuk mengatur seperangkat penegak hukum, ketakutan itu hilang dengan sendirinya.

Maka kerangka berfikir tentang indikator-indikator sukses itu yang harus dirubah. Dalam Islam sukses itu berdimensi dekat dan jauh; dekat berkorelasi dengan dunia, sementara jauh berarti akhirat. Maka doa setiap muslim adalah “Ya Allah berikanlah kepada kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka”. (QS. al-baqarah).

Doa di atas melambangkan perspektif seorang muslim yang sempurna dan jauh ke depan. Ia tidak hanya meminta sesuatu di depan mata yang pragmatis, tetapi juga mempersiapkan kondisi masa depan dirinya setelah meninggal nanti. Rasulullah saw menyebut orang-orang seperti itu sebagai orang cerdas. “Orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan untuk akhiratnya”. (al-Hadist).

Dengan demikian apabila seseorang ingin masuk ke dalam kategori sukses menurut indikasi-indikasi yang ditunjukkan Rasulullah saw haruslah menjadi orang baik. Mengapa harus baik? Karena tanpa menjadi orang baik mustahil orang itu mau melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi semua larangan Allah swt dalam kondisi apapun dan tempat manapun.

Tentu saja baik di sini rujukannya adalah Allah swt dan Rasulullah saw seperti tercantum dalam panduan hidup muslim yakni al-Qura’nul karim serta al-Hadist asy-syarif. Patokannya jelas dan tetap, bukan baik dalam pandangan manusia yang sifatnya bisa berubah-ubah menurut pikiran latar belakang dan kepentingan subyektif para pembuatnya.

Jika ia orang baik kesuksesan duniawi dan materi pastilah diperoleh dengan cara benar serta dipergunakan pada jalan benar pula. Tidak ada pula bentuk arogansi kepada orang lain karena memiliki kelebihan harta maupun jabatan tinggi yang sedang ia sandang. Tanggung jawab sosial juga akan tinggi terhadap lingkungan sekitara maupun umat secara keseluruhan. Itu semua bermuara kepada satu tujuan hakiki hidupnya yakni mencari keridhoan Allah swt.


| edit post

Pemuda Pejuang Islam

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Para Pemuda memang hebat. Jarang atau mungkin bisa dikatakan tidak ada perubahan pada sebuah masyarakat, bangsa atau peradaban tangan ada campur tangan para pemuda di dalamnya. Setiap kisah tentang bangkitnya spirit perubahan di sebuah wilayah pasti menceritakan tentang sepak terjang keresahan anak-anak muda dalam menyikapi kondisi zamannya. Keresahan yang lahir dari rasa tanggung jawab untuk memenuhi tuntutan rakyat banyak baik terucap lewat lisan orang awam ataupun jeritan kehidupan keseharian karena penzaliman satu atau beberapa pihak sekaligus.

Semangat anak muda adalah semangat kemajuan. Obsesi tinggi tentang kehidupan ideal di mana mereka tinggal dan menetap merupakan spirit ampuh untuk menggerakkan sebuah perubahan menuju tata hidup, nilai maupun social yang lebih baik dari sebelumnya. Orisinalitas pikiran mereka yang jauh dari interest-interest pragmatis membuat gerakan mereka senantiasa meresahkan bagi para pelaku maupun pendukung status quo. Sebaliknya masyarakat banyak berharap aspirasi mereka berhasil digolkan dan perubahan sosialpun terjadi, meski harus lewat sebuah revolusi.

Pada banyak kondisi mentalitas pemuda merupakan cermin sebuah sistem masyarakat. Sakitnya pemuda merupakan sakitnya masyarakat, dan jeleknya pemuda juga rusaknya masyarakat. Begitu pula ketika profil pemudanya baik maka peradaban masyarakat itu memiliki prospek cerah di masa depan.

Singkatnya pemuda memiliki dua sisi yang sama-sama penting dan menentukan. Pada satu sisi mereka merupakan cerminan kualitas pewaris peradaban masyarakatanya pada masa mendatang. Apabila ingin mengetahui seperti apa wajah peradaban sebuah bangsa dua puluh tahun yang akan datang, silahkan melihat prototipe anak-anak muda mereka hari ini.

Pada sisi lainnya generasi muda adalah katalisator perbaikan peradaban mereka sendiri jika mulai aus arah dan geraknya karena beban berat akibat kesalahan-kesalahan masyarakat tuanya. Jika usia peradaban semakin tua atau masih muda tapi terjerat dalam kekuasaan yang tidak pernah berubah biasanya mengalami stagnisasi perkembangan, mandeg total bahkan mengalami kemunduran. Apabila pemudanya tidak mampu membalik kondisi menjadi lebih baik, peradaban itu sesungguhnya telah berada di bibir jurang sejarah. Hilang ditelan zaman.

Sebagai sebuah kesatuan peradaban, perjalanan umat Islam telah melewati 15 abad. Berawal ketika Rasulullah saw menerima wahyu pertama di gua Hira yakni surat al-Alaq 1 – 5. Ketika beliau saw mulai berdakwahpun para pendukung pertama dan utama beliau adalah anak-anak muda semisal Ali bin Abi Thalib, Musha’b bin Umair, Zaid bin Haritsah, Sa’ad bin Abi Waqash dan lain-lainnya.

Sebaliknya penentang beliau mayoritas berasal dari golongan tua seperti Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin Mughirah. Berkat dukungan dari para pemuda tersebut Rasulullah saw berhasil membagun basis dakwah di Madinah dan selanjutnya perlahan-lahan membawa jazirah Arab tersinari dengan cahaya Islam secara keseluruhan.

Awal kemandengan dan mundurnya umat Islam juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi riil generasi mudanya. Masa itu peradaban Islam sudah sedemikian berkembang dalam segala aspek kehidupan dan hamper di setiap pelosok dunia. Godaan untuk hidup enak dan nikmat merasuki sebagaian umat ini, khususnya para pewaris peradaban. Mereka terjerat kehidupan penuh kesenangan duniawi. Semua ada dan bisa dilakukan.

Lambat laun estafeta kepemimpinan umat mengalami kemunduran sedikit demi sedikit. Musuh semakin pintar untuk menggerogoti kekuatan umat dengan cara merusak para pewaris peradaban Islam. Dalam kondisi kebobrokan akhlaq dan moral secara internal umat, gelombang pasukan musuh menyerang secara serentak dan reduplah keagungan umat ini.

Waktu demi waktu berlalu para penjajah masih mencengkeram bumi-bumi umat Islam. Kembali para pemuda tampil menggerakan roda perlawanan di setiap wilayah dimana umat Islam teraniaya. Tidak sedikit wilayah Islam berhasil dibebaskan dengan pengorbanan ribuan bahkan jutaan nyawa kaum muslimin termasuk remaja dan para pemuda Islam.
Ketika zionisme mengambil peran sebagai musuh Islam dan pemeluknya, generasi muda Islam kembali menjadi sasaran tembaknya. Beragam cara dan upaya mereka kerahkan untuk menghancurkan seluruh aspek kekuatan kader-kader terbaik umat. Mulai dari pemikiran, pendidikan, kebiasaan hingga gaya hidup.

Akibatnya jelas umat terperosok dalam lubang lebih dalam. Belum sempat bangkit secara sepenuhnya tiang-tiang penyangga kembali mendapat hantaman bertubi-tubi. Kebangkitan Islam yang diharapkan menemukan momentumnya belum menemukan sinarnya. Gerhana masih saja menutupi cahaya Islam. Hingga detik ini.

Para pemuda Islam dewasa ini lebih asyik mengekor kebudayaan barat yang penuh dengan eksploitasi hawa nafsu manusia. Syahwat begitu diagungkan dalam setiap aspek kehidupan. Materialisme menenggelamkan spiritual dan menjadikannya sesuatu yang tidak menarik. Ibadah tak lebih dari ritual harian tanpa makna sehingga tidak memberikan dampak signifikan dalam kehidupan. Padahal hidup itu sendiri adalah ibadah kepada Allah swt.

Beruntung tidak semua generasi muda Islam terjerat dalam tipuan dan jebakan syetan seperti itu. Tetap saja ada sekelompok pemuda yang memegang erat komitmen keIslamannya. Mereka kemudian menyebarkan bara api Islam itu ke seluruh pelosok dunia sehingga orang-orang yang masih memiliki kesadaran terpantik semanggatnya untuk tetap menjadikan Islam sebagai keyakinan hidup.

Dan usaha itu tetap berlansung sampai hari ini. Proyek kebangkitan umat adalah proyek menyelamatkan generasi muda Islam dari dekapan nilai-nilai jahiliyah modern. Proyek ini membutuhkan kerja sangat keras dari semua unsur umat ini. Jika ingin lebih cepat merebut kembali kejayaan peradaban di muka bumi ini langkah strategisnya tentu saja membangkitkan kesadaran kepada para pemuda Islam akan eksistensi dan tanggung jawabnya. Mereka adalah pewaris peradaban sesungguhnya.

Menempa generasi muda Islam dengan memantapkan keyakinan mereka akan kebenaran ajaran ini. Mendorong mereka mempelajari dien ini dengan penuh kesungguhan dan mengamalkannya dalam tingkah laku hidup sehari-hari. Jika mayoritas mereka sudah bangga dengan keIslamannya dan menunjukkan di mana saja berada maka mengajaknya untuk memperjuangkan Islam menjadi langkah selanjutnya.

Para pemuda pejuang Islam itulah gelar yang layak diberikan kepada mereka ketika itu. Sosok-sosok pemuda yang mencintai Islam dengan sepenuh jiwa raganya dan rela berkorban untuk keagungannya. Ditangan merekalah kebangkitan dan kejayaan umat ini akan dipertaruhkan pada saatnya. Semoga waktunya tidak lama lagi.

| edit post

Rentang Waktu Peradaban Islam

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Peradaban adalah wujud konkret realitas iman seseorang dalam setiap sisi kehidupan. Setiap sisi kehidupan tentu saja mewakili seluruh aspek gerak seseorang; ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan hal-hal lainnya. Dengan kata lain manifestasi seseorang dalam setiap langkah kehidupan itulah peradaban. Dan tentu saja peradaban Islam adalah peradaban Qur’an.

Peradaban Islam bermula sejak Rasulullah saw menerima wahyu dari Allah swt yakni surat al-Alaq ayat 1-5 di gua Hira’. Itulah awal blue print peradaban Islam dicetak dan siap untuk diwujudkan dalam kehidupan.

Proses pembentukan peradaban Islam secara sosial memang sangat berat ketika dakwah Islam masih selingkup kota Makkah. Tantangan dan permusuhan orang-orang kafir, terutama para pembesarnya, membuat aktualisasi peradaban Islam ketika itu tidak bisa leluasa. Tidak sedikit pemeluk Islam generasi awal harus menyembunyikan identitas muslimnya demi menjaga nyawa tidak meregang dari badan. Allah swt memahami kondisi tersebut dan memperbolehkan sikap itu dipilih selama situasinya darurat betul dan bara iman tetap tersimpan kuat di dalam dada(QS. An-Nahl ayat 85).

Visi besar memujudkan tegaknya peradaban Islam yang kaffah menemukan momentumnya ketika Rasulullah saw melaksanakan hijrah ke Madinah. Lahan dakwah yang sudah disemai oleh Mushab bin Umair mendapatkan sentuhan pengokohan. Tunas-tunas Islam telah menancap kuat di dada para penolong (Anshar), terlebih bagi para pendatang (Muhajirin) yang telah mengalami masa-masa tidak menyenangkan selama menjaga keberadaan iman selama 13 tahun di Makkah.

Panduan wahyu Allah swt terhadap gabungan energi besar Anshar dan Muhajirin menjadikan Madinah sebagai wujud nyata idealitas peradaban Islam. Tatanan sosial, relasi sosial, struktur ekonomi dan kesanggupan berkorban apapun demi agama tergambar jelas. Masa yang penuh keindahan, kecemerlangan dan naungan ridho Allah swt tersebut menjadi mimpi serta harapan setiap muslim pada generasi-generasi berikutnya hingga akhir zaman nanti.

Rasulullah saw wafat meninggalkan ratusan ribu anak panah yang siap melanjutkan estafeta keberlangsungan peradaban Islam. Maka tidak hanya Madinah, Makkah dan jazirah Arab yang merasakan kenikmatan hidup dalam sentuhan nubuwwah, gema suara adzanpun terdengar di benua hitam Afrika, benua biru Eropa dan tentu saja Asia tempat kita tinggal dan menetap.

Namun tetap saja tidak ada yang abadi dalam kefanaan dunia, apapun itu. Kecemerlangan sentuhan nubuwwah penuh berkah mulai mengalami penurunan nilai pasca wafatnya empat khalifah yang lurus (khalifah rasyidah) Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Thalib radhiyallahu’anhum ajma’in. Pertanda akhir sebuah era dan permulaan era yang lain.

Perlahan-lahan ketaatan manusia terhadap patokan wahyu menyusut. Iman sebagai panduan hidup mulai berbenturan dengan sentuhan syahwat materi dan godaan hati untuk mencintai sebagian yang subhat. Awalnya adalah sedikit, ibarat minum air laut haus ternyata tidak hilang dengan sekali teguk tapi justru akan semakin haus ketika semakin minum. Benarlah sabda Rasulullah saw bahwa mulut manusia itu baru akan merasa puas jika diisi dengan tanah alias masuk ke liang kubur.

Sempat hadir beberapa pemimpin harapan untuk menjaga bangunan umat supaya tidak roboh. Umar bin Abdul Aziz, sang khulafaurrasyidin ke 5, berusaha mengembalikan era nubuwwah di tengah keluarga Umawi yang sebagian sudah terjerat cinta dunia berlebihan. Sang khalifah berhasil mewujudkan kesehateraan misal selama dua setengah tahun masa pemerintahannya sampai-sampai para amil zakat bingung hendak kemana membagi harta zakat. Sayang konspirasi jahat para penggila harta dan kuasa berhasil mengantar beliau lebih cepat menemui Rabbnya.

Hadir pula dalam pentas sejarah sosok Sultan Sholahuddin al-Ayubi, sang pembebas al-Quds. Asa kaum muslimin selama 90 tahun untuk melepaskan tanah suci ketiga tersebut dari tangan para penyembah kayu salib terwujudkan. Beliau berhasil membangkitkan kembali bara jihad yang sekian lama sebelumnya terpuruk di hati para lelaki muslim.

Para ulama salafus sholeh juga berjasa besar memihara keberlangsungan cahaya Allah swt tetap bersinar terang di permukaan bumi. Kehadiran para imam-imam fiqih dan hadist menjadi obor penerang umat ditengah kejayaan materi umat yang kian melimpah ruah. Tanpa mereka jelas umat akan semakin lepas kendali dan lebih cepat keterpurukan melanda umat ini.

Setelah invasi biadab bangsa barbar Tartar, kedatangan bangsa barat seakan menjadi titik besar kemunduran umat Islam dalam percaturan peradaban manusia. Imperialisme dan kolonialisme menjadi gong permulaan dominasi peradaban materialisme barat yang menindas dan memporak-porandakan semua sendi penopang bangunan peradaban Islam. Yahudi dengan zionismenya berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang dan tangan lainnya mengenggam bola dunia.

Umat terlucuti keagungannya. Tak tampak lagi rona kebanggaan sebagai para pewaris kebenaran para nabi dan rasul. Risalah langit termarjinalkan di sudut-sudut kehidupan. Cengkeraman itu terasa sangat dalam karena berulang kali para pahlawan Islam yang muncul belum sanggup mencabutnya dari tubuh umat.

Abad telah berlalu sementara kemenangan kembali umat ini belum terlaksana. Bukankah sudah banyak darah syuhada tertumpah untuk menegakkan kembali keagungan agama ini? Bukankah sudah ribuan bahkan jutaan para pembela Islam bangkit berusaha membebaskan umat ini dari ketidak berdayaan di hadapan orang-orang kafir penentang Allah swt?
“Dan demikianlah kami pergilirkan hari-hari itu (kemenangan) diantara manusia”. “Dan tidaklah kamu akan mendapati bahwa sunnah-sunnah Allah swt akan berubah”.

Spirit itu harus terus terjaga dalam setiap hati dan doa orang-orang beriman. Waktu bukan masalah, siapa pendobrak dan pengusung bendera kemenangan bukan persoalan. Keagungan risalah dan umat ini harus direbut kembali berapapun ongkos yang harus dikeluarkan. Tidak peduli berapa nyawa harus dikorbankan. Dan tak perlu bertanya berapa waktu yang diperlukan. “Sesungguhnya Allah swt tidak akan menyalahi janji-Nya”.

| edit post

melihat orang (sedang) jatuh cinta

abinehanafi Filed Under: Label:
bismillahirrahmanirrahim

Inilah salah satu episode paling menarik dalam perjalanan seorang manusia; menyukai lawan jenis. Rasa suka itu bisa muncul pada siapa saja tanpa terkecuali. Tentu saja ada perbedaan kualitas dan cara menyikapinya. Biasanya semakin baik kualitas keimanan dan kedewasaan karakter seseorang penyikapannya akan semakin lebih baik. Meski tidak juga selalu begitu.

Ini masalah perasaan maka lebih sering penguasanya adalah emosi, bukan pikiran. Orang sepintar apapun bisa takluk dengan perasaannya. Kepandaian otaknya tidak mampu menolong mengendalikan dorongan hatinya untuk mengekspresikan rasa suka itu dalam berbagai bentuk dan cara. Bahkan kadang-kadang bisa mengubah perilaku seseorang secara luar biasa.

Seorang laki-laki yang semula (maaf) kurang rapi bisa menjadi pribadi rapi seketika. Ia yang semula sangat cuek dengan penampilannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Mulai ujung rambutnya disisir, pakaiannya disetrika, hingga tubuhnya senantiasa berbau harum.

Jari-jari tangannya juga tidak pernah bergeser dari tombol-tombol HP. Entah apa yang diketiknya kok tidak pernah selesai. Belum lagi hobinya yang suka pojok-pojok untuk nelpon sambil senyum-senyum sendiri. Bisa berjam-jam ia nelpon; berdiri, duduk, sampai berbaring. Mungkin tema diskusinya menyangkut nasib jutaan orang sehingga sulit untuk diputus walaupun satu detik.

Ada juga kebiasaan barunya; duduk-duduk di pinggir jalan, tenggok kiri-kanan. Ternyata ia menunggu teman atau tetanggayang lewat jalan itu dengan naik motor dan sendirian. Untuk apa? Tentu saja ia ingin nebeng mengunjungi si dia yang setia menanti di sana.

Kalau perempuan yang sedang ia incar adalah si penjaga counter pulsa, ia akan sering mengisi pulsa di tempat itu. Bahkan tanpa disuruh pun ia akan mempromosikan tempat tersebut sebagai rujukan beli pulsa buat teman-temannya. Harapannya adalah teman itu akan minta ia untuk mengantarnya, berarti kesempatannya bertemu dengan pujaan hati tercapai.

Begitu pula kalau yang ia taksir adalah anaknya ibu penjual gorengan. Setiap hari ia akan mengunjungi penjual tersebut untuk membeli gorengan plus. Plusnya tentu saja bertemu dengan si anak yang saban hari membantu ibunya berjualan.

Profil di atas para pelakunya tentu remaja atau pemuda kalangan bawah; rakyat kecil. Cirinya adalah fasilitas minim, finansial sedikit, juga kesempatan tidak banyak. Janjian mereka dengan pujaan hati dilakukan di sela-sela waktu mereka bekerja mencari nafkah hidup sehari-hari. Awalnya mungkin tidak sengaja, terprovokasi ataupun coba-coba. Namun nafsu kadang susah dikendalikan.

Jika rasa kangen tidak tertahan, sebagian mereka rela ijin kepada atasannya untuk suatu keperluan yang tidak mau disebutkan; pokoknya rahasia. Jika ada tambahan waktu bekerjapun ditolaknya dengan halus meski kompensasinya lebih tinggi dari biasanya. Nampaknya mereka tidak mau kalah dengan remaja-remaja kota kaya yang disaksikannya melalui sinetron-sinetron layar kaca. Imitasi sempurna.

Anak zaman memang susah untuk berperilaku beda dengan zamannya. Tekanan sosial lingkungan dan dorongan psikologis komunal membuat berat untuk tampil lain dari umumnya orang. Orang lebih nyaman menjadi orang biasa daripada orang luar biasa. Memilih untuk sama tentu saja lebih aman dan nyaman daripada berbeda tapi tidak nyaman; dianggap nyeleneh, aneh dan tidak up to date. Nggak gaul.

Sayangnya, perilaku mayoritas tidak selalu baik dan benar. Mungkin demokrasi ada baiknya, namun tidak semuanya baik. Tergantung kualitas subyek-subyek pelakunya. Jika kualitas pelakunya orang-orang yang baik dan suka kebenaran, demokrasi disitu tentu akan baik. Namun jika pelakunya adalah para bandit, maling, pecinta kejahatan dan kemaksiatan, pastilah namanya demokrasi penjahat.

Karenanya standard nilainya harus pasti dan tidak berubah. Patokannya adalah kebenaran yang pasti dan hakiki, tidak relatif serta temporer. Standar yang tidak berubah oleh zaman, tempat dan kecenderungan nafsu manusia. Tentu saja ia bukan buatan manusia supaya bisa obyektif, juga menembus batas waktu serta ruang. Itulah wahyu Allah swt. Kebenaran mutlak dari langit. Tidak ada keraguan di dalamnya.

Jikalaupun berbeda, maka berbedalah karena kebenaran. Mengusung misi lain dari orang kebanyakan karena dorongan kebenaran tentulah istimewa. Bisa jadi dianggap tidak umum, tidak waras alias abnormal. Termasuk dalam urusan perasaan.

Menyukai lawan jenis adalah kepastian, dan itu normal. Namun jika kemudian diteruskan dengan tindakan-tindakan progresif karena dorongan nafsu, rasa suka itu akan menjadi salah. Jika belum waktunya jangan bermain-main dengan perasaan, begitulah pesan orang bijak.

Kecanggihan tehnologi khususnya alat komunikasi membuat batas wilayah semakin hilang. Orang yang nun jauh disana seberang lautan bahkan samudra luas tanpa batas, nampak jelas di pelupuk mata. Riil dan hidup. Itu juga godaan.

Motivasi bisa dipikir dan datang belakangan. Ketika hati dan rasa suka sudah muncul, alasan untuk legalitas bisa diketemukan. Memotivasi belajar, meningkatkan gairah bekerja, atau apapun alibi yang dikemukakan sebenarnya hanyalah pembelaan diri (self defense). Mungkin saja bisa, namun caranya tidak benar maka hasilnya pasti tidak baik.

Tidak layak seorang muslim meng copy paste semua kemajuan ala umat lain. Batas pergaulan , kebebasan berpakaian, kebebasan mengekspresikan rasa suka tidak termasuk yang harus ditiru mutlak. Toh kita sudah punya batas nilai sendiri. Kita menyebutkan adab pergaulan terhadap lawan jenis.

Paling tidak ada tiga hal yang harus kita jaga ketika berhubungan dengan lawan jenis, tentu saja mereka yang bukan keluarga kita (mahram). Prinsip pertama adalah membentengi diri dari melihat yang tidak boleh. Islam mengatakan perbuatan tersebut sebagai ghodul bashor (menundukkan pandangan). Karena mata adalah pintu pertama, kita harus menjaganya dengan baik. Tidak jelalatan, atau malah mencari-cari untuk dipandang.

Hal kedua yang harus kita hindari adalah berduaan dengan lawan jenis, secara fisik riil maupun non riil. Dengan komunikasi berduaan bisa berarti dengan HP, internet maupun fasilitas yang sejenis. Kita menyebutnya khalwat (berduaan). Awas, ketika dua orang lawan jenis berduaan ada pihak ketiga yang menemani yaitu syetan. Tentu saja memprovokasi mereka untuk berbuat lebih tidak baik lagi dari sekedar berduaan.

Tindakan ketiga yang perlu kita jaga adalah menyentuh lawan jenis. Tidak perlu menyentuhnya kalau ia bukan orang-orang yang dihalalkan oleh agama untuk kita sentuh; orang tua, saudara kandung, atau karena hubungan pernikahan sehingga boleh bagi kita. Inilah prinsip yang susah untuk istiqomah dikerjakan ketika acara walimah, kenduri, atau menghadiri acara-acara seremonial lainnya. Sesuatu yang sering kita harus hadiri sebagai ciri makhluk sosial.

Jarang kita menemukan sebuah situasi massa yang tidak terjadi ikhtilat (percampuran laki dan perempuan). Pendidikan, rumah sakit, apalagi pasar merupakan tempat yang hampir mustahil tidak terjadi percampuran laki-perempuan. Khusus pendidikan sebenarnya bisa untuk diskenariokan untuk tidak bercampur, terutama lembaga berbasis Islam. Tinggal motivasi dan kebijakan untuk menerapkan aturan tersebut.

Lebih dari semua aturan tersebut adalah kemauan untuk tunduk kepada aturan Allah swt. Itu prinsip dan pembuka tindakan. Selama tidak ada keingginan melaksanakan tuntunan Allah swt dan rasul-Nya, semua aturan bisa dicari celahnya untuk dimanfaatkan demi menuruti dorongan nafsunya. Hanya keyakinan akan tanggung jawab terhadap hari akhir yang mampu membimbing seseorang senantiasa meniti jalan-jalan kebenaran meskipun itu sulit, berat dan tidak semua manusia mau melewatinya. Semoga kita termasuk golongan itu.

| edit post