RSS
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

karena cinta

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

"kapan mudik?" "tanggal berapa mudik?" "mudik pake apa?"

Bagi orang perantauan seperti saya dan setipe, pertanyaan diatas sudah banyak dilontarkan teman sejak ramadhan masuk angka dua puluhan. Tentu saja tidak boleh bosan menjawabnya, walaupun yang bertanya sampai puluhan orang secara bergantian. Belum lagi keluarga di kampuang yang juga pingin tahu kapan mudiknya. Pastilah lebih banyak mengulang jawaban yang sama.

Sulit membayangkan lebaran di Indonesia tanpa istilah mudik. Pastilah tidak seru alias hampar. Hanya libur dua hari pas tanggal merahnya. Tidak ada keramaian dan keriuhan seperti ketika mudik menjadi fenomena massal di negeri ini. Pusat perbelanjaan tradisional dan modern penuh sesak. Agen kendaraan umum panen keuntungan. Terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan penuh sesak dengan manusia. Belum lagi kesemerawutan jalan raya di hampir seluruh jalan yang menghubungkan kota-kota besar menuju kota-kota kecil maupun daerah pinggiran.

| edit post

Generasi sakit yang dilupakan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Kalimat diatas terbaca dari tulisan kaos bagian belakang salah seorang remaja tanggung yang melewati saya. Dengan pede nya mereka berjalan menyeruak di tengah keramaian sambil tertawa dan bernyanyi kecil bersama. Mereka berombongan sekitar lima orang dengan penampilan khas anak-anak “punk”. Mungkin kalimat tersebut mewakili pikiran dan nasib mereka sendiri; generasi sakit yang dilupakan.

Muncul dari kompleksitas peradaban manusia dengan segala perniknya. Aliran punk kemudian membuat sub system sendiri di tengah pergaulan masyarakat. Dengan segala atribut khasnya yang menurut sebagian besar masyarakat aneh membuat mereka nampak berbeda. Justru itu yang – mungkin - mereka banggakan sebagai kelebihan.
Perasaan aneh itulah yang kayaknya membuat orang umumnya menganggap kurang baik pada mereka. Urakan, tidak terdidik, jarang mandi dan berbagai atribut negatif terlanjur dilabelkan masyarakat kepada mereka. Akibatnya kelompok mereka jarang mendapat pembinaan dan sentuhan perhatian dari system masyarakat sendiri.

| edit post

Menolak hujan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Hujan adalah rahmat. Itu pasti. Namun pada saat tertentu tidak semua orang berharap hujan turun. Tentunya bukan karena menolak rahmat, ada rahmat lainnya yang lebih besar ingin diraih. Satu tujuan beda jalan. Mungkin.

Saya tidak tahu persis benar tidaknya, namun hal tersebut sudah mafhum di masyarakat luas. Konon ada orang-orang tertentu yang bisa menolak hujan. Ada yang mengatakan menunda hujan, tidak sedikit pula yang bilang mereka memindahkan tempat turunnya hujan. Wallahu ‘alam.

Biasanya mereka diundang oleh orang-orang yang sedang mengadakan hajatan; resepsi pernikahan, khitanan, upacara selamatan, pertandingan-pertandingan olah raga maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang melibatkan pengerahan manusia dalam jumlah banyak. Dan mereka mendapatkan upah untuk jasanya tersebut. Besarnya upah tidak ada tarif resmi tapi sudah tahu sama tahu. Kita sering menyebutnya pawang hujan.

Mereka akan sibuk sekali melayani permintaan ketika bulan-bulan masehi mendekati akhir tahun dan awal tahun. Mungkin juga pada saat musim sedang tidak menentu seperti ini. Job mereka padat dan tidak jarang pengguna jasa mereka harus inden jauh-jauh sebelumnya. Terlebih jika sang pawang cukup terkenal karena keampuhannya. Bisa satu dua bulan sebelum hari H harus sudah booking duluan.

Bagaimana mereka bisa melakukan hal tersebut? Pawang hujan bukanlah ahli meteorology dan geofisika. Pasti bukan. Mereka bukan pula para fisikawan atau ilmuwan alam lainnya. Apakah mereka punya mesin untuk mengendalikan tempat turunnya hujan? Tentu tidak. Lalu bagaimana mereka melakukannya? Wallahu ‘alam

Masyarakat umum mengatakan pawang hujan memiliki ilmu kesaktian untuk menolak hujan. Ada yang mengatakan mereka memiliki ritual-ritual khusus sebelum dan setelah beraksi. Tidak sedikit pula yang menuduh mereka berkawan ria dengan para makhluq halus. Wallahu ‘alam.

Satu yang pasti apapun yang terjadi di muka bumi ini tidak lepas dari kehendak Allah swt. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah swt mengatur seluruh alam raya dengan kehendakNya. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kehendak dan ijin Allah swt.

Seminggu terakhir saya termasuk orang yang berharap hujan tidak turun hari ini. Kami mempunyai agenda penting untuk menyambut tamu ratusan orang yang bersilaturahim. Kasihan rasanya melihat ratusan orang harus berlari-lari menghindari hujan atau basah pakainnya terkena cipratan air dari jalan yang tegenang. Kami khawatir tidak bisa memuliakan tamu sebagaimana perintah Rasulullah saw. “Barang siapa beriman kepada Allah swt dan hari akhir maka muliakanlah tamunya” (al-Hadist).

Alhamdulillah. Allah swt berkenan mengabulkan doa kami. Meski sepanjang hari harus dag dig dug karena setiap melihat ke langit nampak awan putih bercampur dengan awan hitam. Belum lagi angin sepoi sepoi dingin membuat setiap menit penuh dengan suasana khawatir kalau-kalau tumpah juga akhirnya air dari langit.

Tidak ada pawang hujan yang terlibat disini. Hanya doa orang-orang setiap sholat lima waktu dan ibadah sunnah lainnya selama satu minggu penuh. Terima kasih ya Allah, Engkau kabulkan permohonan kami. Amiiinnn.


| edit post

melihat orang (sedang) jatuh cinta

abinehanafi Filed Under: Label:
bismillahirrahmanirrahim

Inilah salah satu episode paling menarik dalam perjalanan seorang manusia; menyukai lawan jenis. Rasa suka itu bisa muncul pada siapa saja tanpa terkecuali. Tentu saja ada perbedaan kualitas dan cara menyikapinya. Biasanya semakin baik kualitas keimanan dan kedewasaan karakter seseorang penyikapannya akan semakin lebih baik. Meski tidak juga selalu begitu.

Ini masalah perasaan maka lebih sering penguasanya adalah emosi, bukan pikiran. Orang sepintar apapun bisa takluk dengan perasaannya. Kepandaian otaknya tidak mampu menolong mengendalikan dorongan hatinya untuk mengekspresikan rasa suka itu dalam berbagai bentuk dan cara. Bahkan kadang-kadang bisa mengubah perilaku seseorang secara luar biasa.

Seorang laki-laki yang semula (maaf) kurang rapi bisa menjadi pribadi rapi seketika. Ia yang semula sangat cuek dengan penampilannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Mulai ujung rambutnya disisir, pakaiannya disetrika, hingga tubuhnya senantiasa berbau harum.

Jari-jari tangannya juga tidak pernah bergeser dari tombol-tombol HP. Entah apa yang diketiknya kok tidak pernah selesai. Belum lagi hobinya yang suka pojok-pojok untuk nelpon sambil senyum-senyum sendiri. Bisa berjam-jam ia nelpon; berdiri, duduk, sampai berbaring. Mungkin tema diskusinya menyangkut nasib jutaan orang sehingga sulit untuk diputus walaupun satu detik.

Ada juga kebiasaan barunya; duduk-duduk di pinggir jalan, tenggok kiri-kanan. Ternyata ia menunggu teman atau tetanggayang lewat jalan itu dengan naik motor dan sendirian. Untuk apa? Tentu saja ia ingin nebeng mengunjungi si dia yang setia menanti di sana.

Kalau perempuan yang sedang ia incar adalah si penjaga counter pulsa, ia akan sering mengisi pulsa di tempat itu. Bahkan tanpa disuruh pun ia akan mempromosikan tempat tersebut sebagai rujukan beli pulsa buat teman-temannya. Harapannya adalah teman itu akan minta ia untuk mengantarnya, berarti kesempatannya bertemu dengan pujaan hati tercapai.

Begitu pula kalau yang ia taksir adalah anaknya ibu penjual gorengan. Setiap hari ia akan mengunjungi penjual tersebut untuk membeli gorengan plus. Plusnya tentu saja bertemu dengan si anak yang saban hari membantu ibunya berjualan.

Profil di atas para pelakunya tentu remaja atau pemuda kalangan bawah; rakyat kecil. Cirinya adalah fasilitas minim, finansial sedikit, juga kesempatan tidak banyak. Janjian mereka dengan pujaan hati dilakukan di sela-sela waktu mereka bekerja mencari nafkah hidup sehari-hari. Awalnya mungkin tidak sengaja, terprovokasi ataupun coba-coba. Namun nafsu kadang susah dikendalikan.

Jika rasa kangen tidak tertahan, sebagian mereka rela ijin kepada atasannya untuk suatu keperluan yang tidak mau disebutkan; pokoknya rahasia. Jika ada tambahan waktu bekerjapun ditolaknya dengan halus meski kompensasinya lebih tinggi dari biasanya. Nampaknya mereka tidak mau kalah dengan remaja-remaja kota kaya yang disaksikannya melalui sinetron-sinetron layar kaca. Imitasi sempurna.

Anak zaman memang susah untuk berperilaku beda dengan zamannya. Tekanan sosial lingkungan dan dorongan psikologis komunal membuat berat untuk tampil lain dari umumnya orang. Orang lebih nyaman menjadi orang biasa daripada orang luar biasa. Memilih untuk sama tentu saja lebih aman dan nyaman daripada berbeda tapi tidak nyaman; dianggap nyeleneh, aneh dan tidak up to date. Nggak gaul.

Sayangnya, perilaku mayoritas tidak selalu baik dan benar. Mungkin demokrasi ada baiknya, namun tidak semuanya baik. Tergantung kualitas subyek-subyek pelakunya. Jika kualitas pelakunya orang-orang yang baik dan suka kebenaran, demokrasi disitu tentu akan baik. Namun jika pelakunya adalah para bandit, maling, pecinta kejahatan dan kemaksiatan, pastilah namanya demokrasi penjahat.

Karenanya standard nilainya harus pasti dan tidak berubah. Patokannya adalah kebenaran yang pasti dan hakiki, tidak relatif serta temporer. Standar yang tidak berubah oleh zaman, tempat dan kecenderungan nafsu manusia. Tentu saja ia bukan buatan manusia supaya bisa obyektif, juga menembus batas waktu serta ruang. Itulah wahyu Allah swt. Kebenaran mutlak dari langit. Tidak ada keraguan di dalamnya.

Jikalaupun berbeda, maka berbedalah karena kebenaran. Mengusung misi lain dari orang kebanyakan karena dorongan kebenaran tentulah istimewa. Bisa jadi dianggap tidak umum, tidak waras alias abnormal. Termasuk dalam urusan perasaan.

Menyukai lawan jenis adalah kepastian, dan itu normal. Namun jika kemudian diteruskan dengan tindakan-tindakan progresif karena dorongan nafsu, rasa suka itu akan menjadi salah. Jika belum waktunya jangan bermain-main dengan perasaan, begitulah pesan orang bijak.

Kecanggihan tehnologi khususnya alat komunikasi membuat batas wilayah semakin hilang. Orang yang nun jauh disana seberang lautan bahkan samudra luas tanpa batas, nampak jelas di pelupuk mata. Riil dan hidup. Itu juga godaan.

Motivasi bisa dipikir dan datang belakangan. Ketika hati dan rasa suka sudah muncul, alasan untuk legalitas bisa diketemukan. Memotivasi belajar, meningkatkan gairah bekerja, atau apapun alibi yang dikemukakan sebenarnya hanyalah pembelaan diri (self defense). Mungkin saja bisa, namun caranya tidak benar maka hasilnya pasti tidak baik.

Tidak layak seorang muslim meng copy paste semua kemajuan ala umat lain. Batas pergaulan , kebebasan berpakaian, kebebasan mengekspresikan rasa suka tidak termasuk yang harus ditiru mutlak. Toh kita sudah punya batas nilai sendiri. Kita menyebutkan adab pergaulan terhadap lawan jenis.

Paling tidak ada tiga hal yang harus kita jaga ketika berhubungan dengan lawan jenis, tentu saja mereka yang bukan keluarga kita (mahram). Prinsip pertama adalah membentengi diri dari melihat yang tidak boleh. Islam mengatakan perbuatan tersebut sebagai ghodul bashor (menundukkan pandangan). Karena mata adalah pintu pertama, kita harus menjaganya dengan baik. Tidak jelalatan, atau malah mencari-cari untuk dipandang.

Hal kedua yang harus kita hindari adalah berduaan dengan lawan jenis, secara fisik riil maupun non riil. Dengan komunikasi berduaan bisa berarti dengan HP, internet maupun fasilitas yang sejenis. Kita menyebutnya khalwat (berduaan). Awas, ketika dua orang lawan jenis berduaan ada pihak ketiga yang menemani yaitu syetan. Tentu saja memprovokasi mereka untuk berbuat lebih tidak baik lagi dari sekedar berduaan.

Tindakan ketiga yang perlu kita jaga adalah menyentuh lawan jenis. Tidak perlu menyentuhnya kalau ia bukan orang-orang yang dihalalkan oleh agama untuk kita sentuh; orang tua, saudara kandung, atau karena hubungan pernikahan sehingga boleh bagi kita. Inilah prinsip yang susah untuk istiqomah dikerjakan ketika acara walimah, kenduri, atau menghadiri acara-acara seremonial lainnya. Sesuatu yang sering kita harus hadiri sebagai ciri makhluk sosial.

Jarang kita menemukan sebuah situasi massa yang tidak terjadi ikhtilat (percampuran laki dan perempuan). Pendidikan, rumah sakit, apalagi pasar merupakan tempat yang hampir mustahil tidak terjadi percampuran laki-perempuan. Khusus pendidikan sebenarnya bisa untuk diskenariokan untuk tidak bercampur, terutama lembaga berbasis Islam. Tinggal motivasi dan kebijakan untuk menerapkan aturan tersebut.

Lebih dari semua aturan tersebut adalah kemauan untuk tunduk kepada aturan Allah swt. Itu prinsip dan pembuka tindakan. Selama tidak ada keingginan melaksanakan tuntunan Allah swt dan rasul-Nya, semua aturan bisa dicari celahnya untuk dimanfaatkan demi menuruti dorongan nafsunya. Hanya keyakinan akan tanggung jawab terhadap hari akhir yang mampu membimbing seseorang senantiasa meniti jalan-jalan kebenaran meskipun itu sulit, berat dan tidak semua manusia mau melewatinya. Semoga kita termasuk golongan itu.

| edit post

Sepak bola dan pengemarnya

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Dengan kualitas tertentu, saya juga pengemar sepak bola. Meski belum pernah datang ke stadion menyaksikan sebuah pertandingan, saya cukup puas menyaksikan tayangan langsung live di sebuah stasiun televisi swasta. Olah raga ini juga yang rutin saya mainkan satu kali seminggu di lingkungan saya tinggal. Sekedar untuk menjaga kesehatan dan bercengkerama bersama teman-teman.

Wajar juga kalau kemudian saya sedikit banyak mengetahui riuhnya berita tentang sepak bola yang sedang menjadi head line di media massa negeri ini, cetak dan elektronik hari-hari ini. Mulai “kehebatan” tim nasional Indonesia di kompetisi AFF yang diikutinya, juga munculnya seorang hero baru bernama Irfan Bachdim. Hingga keyakinan sebagian penggemar bola di Indonesia bahwa sekaranglah saatnya merebut juara Asia Tenggara setelah selama ini paling banter tiga kali menjadi finalis. Semoga saja.

Bola memang bundar. Beragam peristiwa terangkum di dalamnya. Olah raga yang diklaim memiliki penggemar paling banyak didunia. Olahraga rakyat, begitu sebagain orang menyebutknya. Mungkin dulu iya, entah kalau sekarang. Menyusutnya jumlah lapangan bola membuat banyak orang kehilangan kesempatan menyalurkan hobinya.

Juara dunia sepak bola prestisenya juga mengalahkan seluruh olahraga lainnya. Negara yang sedang konflikpun menikmati berkahnya karena masyarakat rehat sebentar menyaksikan tayangan pertandingan antar kesebelasan yang bertanding. Bahkan ada juga pemimpin negara terntentu mempergunakannya untuk mengalihkan masyarakatnya dari perhatian terhadap kemerosotan ekonomi dan maraknya korupsi yang sedang melilit negara tersebut.


Tidak sedikit yang heran dengan kegilaan sebagian orang yang rela mengorbankan segala miliknya termasuk nyawanya untuk mengejar, menendang dan merasakan sensasi dalam sebuah parade kemenangan. Namun justru yang lebih edan lagi adalah orang-orang yang menempatkanya lebih dari sekedar hiburan, permainan dan juga olahraga. Sepak bola adalah agama, lebih ekstrim lagi sepak bola di atas segalanya termasuk hidup itu sendiri.

Faktor ekonomi memang mempengaruhi hegemoni sepak bola didunia kita. Trilyunan uang yang berputar di sekelilingnya membuat orang-orang berlomba menjadi ahlinya dalam segala sisi; pemain, pelatih, manajer, pelatih dan juga sponsor. Jangan lupakan pula komentator bola, orang berjas dan berdasi di atas kursi yang seakan-akan sangat jago bola melebihi manajer paling top di dunia sekalipun. Maka bukan hal yang aneh sekarang ini jika para pemain dan pelatih bola lebih dikenal warga sebuah negara dibanding para pemimpin negerinya sendiri.

Beda mungkin bagi anak-anak di lingkungan rumah saya. Bermain bola merupakan sarana melampiaskan kepenatan dan rasa jenuh setelah enam hari berkutat dengan kesibukan mencari ilmu. Selama dua hari nafsu menendang bola dikeluarkan semuanya.

Meski harus bergantian tidak masalah, justru lebih menantang. Beberapa anak membentuk satu tim tergantung kesepakatan mereka sendiri. Tim yang bermain dan kemasukan bola alias kena gol otomatis akan diganti tim lainnya. Sementara bagi yang menang mempunyai hak untuk meneruskan permainan sampai ia kemasukan bola dan diganti oleh tim berikutnya.

Seorang teman pernah mengolok temannya karena tidak menyukai sepak bola sehingga tidak pernah mau bermain bola setiap diajak. Sambil guyonan ia mengatakan normalnya seorang laki-laki itu menyukai sepak bola, kalau seorang laki-laki tidak menyukai bola maka diragukan kelaki-lakiannya. Namun sayang provokasi itu tidak berhasil memanasi temannya untuk tertarik bersikap seperti dirinya “gibol alias gila bola”.

Sebegitu saktikah sepak bola? Bagi yang menyukai mungkin iya, bagi yang tidak menyukainya ia ibarat pertunjukkan bodoh duapuluh dua orang memperebutkan bola untuk dimasukkan ke dalam gawang. Tidak jarang orang yang tidak menyukai bola guyon dengan menawarkan kepada teman-temannya untuk membelikan bola 22 biji untuk dibagi kepada setiap pemain bola. Daripada rebutan, begitu katanya.

Memang ada orang yang mengatakan kalau sepak bola bisa mengajarkan kepada orang prinsip kerja sama dan fair atau kejujuran. Kerja sama dalam mencapai tujuan dan fair untuk menerima kekalahan dengan lapang dada serta tidak sombong ketika memperoleh kemenangan.

Namun nampaknya tidak banyak orang yang benar-benar berfikir begitu. Kebanyakan orang hanya menikmati permainan dan merayakan kemenangan kesebelasan yang mereka dukung. Karena ketika sebuah tim tertentu kalah, ternyata tidak semua pendukung dan penggemarnya rela menerimanya. Mereka meneror tim lawan, aparat pertandingan dan termasuk pendukung tim lawan. Banyak sudah contoh yang bisa kita ingat dari amuk supporter bola di negeri ini.

Bagi orang yang tidak terlibat langsung dalam pekerjaan terkait sepak bola, menyukai sepak bola boleh-boleh saja asalkan dalam posisi sewajarnya. Letakkan ia sebagai sebuah permainan dan olah raga, tidak lebih. Tidak patut kalau kemudian ia bisa menyedot seluruh perhatian dan konsentrasi pikiran kita. Tidak pantas pula kalau kita rela mengorbankan hal-hal yang lebih penting untuk bela-belain menonton, menyaksikan ataupun membicarakannya sepanjang waktu. Masih banyak hal lebih penting untuk kita pikirkan, rencanakan, diskusikan dan kerjakan.

| edit post

Ketika pingin punya uang banyak

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim


Saya lupa persisnya kapan pingin punya uang banyak terakhir kalinya. Namun tiba-tiba hari saja hari ini saya sangat kepingin sekali punya uang banyak. Saking inginnya langsung berdoa kepada Allah swt supaya harapan itu bisa terkabul seketika. Tentu saja kecil kemungkinan tersebut, karena toh saya menyadari kualitas iman saya belum cukup untuk membuat Allah swt mengijabahi permohonan itu secara kontan.

Adalah pertemuan dengan tiga orang teman dalam satu hari yang jarak antar satu dengan lainnya tidak lama membuat keinginan punya uang banyak itu muncul dan sangat kuat. Ketiga-tiganya sedang diuji oleh Allah swt dengan jenis yang berbeda, sementara solusi terdekat dan tercepat memberi mereka bantuan berupa uang karena itu yang dibutuhkan saat ini.

Teman pertama butuh uang untuk mengobati orang tua laki-lakinya. Belum lama ini bapaknya divonis gagal ginjal. Satu-satunya terapi yang mungkin adalah melakukan cuci darah satu minggu sekali. Berita itu tentu saja membuat keluarga tersebut menarik nafas cukup dalam membayangkan biaya untuk melakukannya.

Kalau melihat kondisi ekonomi keluarga teman ini, memang biaya cuci darah yang sekian ratus ribu sekali jalan cukup berat. Saya yang pernah nyambangi rumahnya dan sedikit tahu aktifitas keluarga itu tentu menyadari beban tersebut. Informasi dari teman itu kemarin kakak tertuanya sedang mengurus jamkesda (jaminan kesehatan daerah) sebagai biaya utama pengobatan.

Kemarin saya bersama beberapa orang teman besuk ke rumah sakit. Dalam perjalanan pulang dari ruang inap pasien sampai tempat parkir kendaraan muncul perasaan bersalah karena tidak bisa membantu apa-apa. Ketika itulah perasaan pingin punya uang banyak mulai muncul. Bukan untuk yang lain, tentu ingin membantu keluarga itu terbebas dari beban biaya pengobatan kepala keluarganya.

Hari ini saya mendapat informasi kalau bapaknya belum boleh pulang karena kondisinya belum memungkinkan. Dokter masih menunggu perkembangannya setelah menjalani cuci darah yang kedua lusa nanti.

Teman kedua yang hari ini butuh uang lain lagi masalahnya. Ia baru saja mewakili orang tuanya memenuhi panggilan sekolah tempat sang adik belajar. Ternyata ada beberapa tagihan yang harus segera si adik bayar karena minggu depan akan diadakan ujian semester (UAS). Besaran tunggakan itu mungkin bagi sebagian orang tidak banyak, namun bagi ia dan keluarganya sangat banyak.

Maka teman tadi berusaha menemui orang-orang yang ia anggap bisa membantunya meminjami uang. Saya termasuk yang ia anggap bisa membantu untuk mencarikan solusi dari masalahnya. Tentu saja saya berusaha melakukan apa yang bisa dilakukan meskipun belum mampu menyelesaikan seluruh

Teman yang ketiga sedikit lebih kompleks masalahnya. Ia bercerita tentang kondisi keuangannya yang tiga bulan ini selalu dalam kondisi minus. Awalnya hanya puluhan ribu, sekarang angka minusnya sudah sampai ratusan ribu setiap bulannya. Tentu saja bagi orang-orang kecil kondisi tersebut membuat bingung.

Sebenarnya secara kasat mata ia sudah bekerja sangat keras. Dalam satu hari ia bekerja pada dua tempat yang berbeda; pagi sampai siang sebagai pedagang dan siang sampai malam sebagai pegawai pada sebuah lembaga di dekat tempat tinggalnya.
Menurutnya ada dua penyebab, paling tidak, penyebab defisit keuangan keluarganya. Alasan pertama yakni kebutuhan susu bayinya. Karena ibunya tidak bisa menghasilkan ASI terpaksa kebutuhan makanan si bayi berasal dari susu bubuk. Akibatnya semakin besar sang bayi, semakin banyak pula kebutuhan susu bubuknya. Dan itu harus ia beli seminggu satu sampai dua kali.

Penyebab lain dalam pikirannya adalah kebutuhan sekolah adiknya. Meski bukananak tertua dan orang berkecukupan ia mengangkat beban menanggung biaya sekolah adiknya paling kecil. Itu ia lakukan karena kasihan dengan adik dan ibunya. Ia ambil adiknya dari desa asalnya dan ia sekolahkan di dekat rumahnya.

Ternyata kebutuhan anak sekolah zaman sekarang di luar hitungannya. Selain uang saku masih banyak yang ia harus penuhi dari kebutuhan sekolah adiknya. Meski ia tahu sendiri sang adik sudah sedemikian ngirit untuk meringankan beban kakaknya.

Sambil berfikir keras mencari cara untuk membantu mereka, sekilas terlintas wajah Gayus dan teman-teman seprofesinya yakni para koruptor besar negeri ini. Andaikan mereka tidak mengemplang uang rakyat tentu pemerintah bisa mensejahterakan rakyatnya, tentu saja termasuk tiga orang teman saya tadi.

Namun menyalahkan mereka saja nampaknya masih kurang karena setiap harinya sudah kerja ekstra banting tulang bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Jangan lupakan tanggung jawab pemerintah untuk menjamin kecukupan rakyatnya dalam aspek-aspek mendasar kebutuhan manusia; pangan, papan, sandang, perumahan dan pendidikan. Itulah kebutuhan asasi setiap warga negara yang harus dicukupi pemerintah.

Namun kenyataan di negeri ini masih jauh dari harapan. Betapa kekuasaan ekonomi di negeri ini hanya berputar pada segelintir orang di negeri ini. Data menunjukkan bahwa tanah produktif di Indonesia hanya dimiliki 0.2% manusia dari sekian ratus juta jumlah penduduknya. Wajar kalau kemudian orang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin tambah sengsara dalam kemiskinannya.

Teringat saya akan kehidupan umat Islam pada masa khalifah Umar bin Khatab. Beliau mempunyai kebijakan ekonomi dengan istilah santunan warga negara. Program ini menjamin tidak ada orang yang kekurangan karena negara mengalokasikan dana sangat besar untuk kesejahteraan warganya.

Begitu pula masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Masa dimana tidak ada orang yang mau menerima zakat dari amil dan negara karena semua mampu mengeluarkan zakat. Para pembagi zakat harus membawa kembali zakat yang hendak mereka bagi ke baitul maal. Itu semua tentu saja karena negara berhasil membuat seluruh warganya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan mempunyai kelebihan sehingg bisa mengeluarkan zakatnya.

Muara dari kondisi tersebut ada pada pemimpin yang adil. Seorang pemimpin yang menyadari ia adalah pelayan rakyatnya. Sebagai pelayan maka ia tentu akan giat melayani majikannya, memeriksa apa yang kurang dari servisnya dan memastikan tidak ada keluhan dari tuannya terkait pelayanannya. Maka ia menjadi orang terakhir yang merasakan enak ketika makan, nyeyak ketika tidur dan berbahagia ketika sedang santai-santai karena semua majikan telah terlayani dengan baik.

Sayangnya diri kita belum memiliki kesempatan untuk hidup dalam masa seperti itu. Para pemimpin kita layaknya bos kita. Mereka minta dilayani segala keinginannya dan didahulukan segala keperluannya. Prinsipnya bukan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat saya tapi apa yang rakyat saya bisa dipersembahkan kepada saya. Semua yang ada dinegeri ini adalah milik saya; tanah, laut, udara dan juga manusianya. Tipologi pemimpin khas monarkhi zaman purba dulu.

| edit post

ziarah

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Akhir pekan kemarin merupakan libur cukup panjang bagi para pegawai kantoran
. Tanggal merah pada hari Jum’at bersambung dengan Sabtu yang terjepit dengan Ahad. Lumayan bisa liburan tiga hari bagi sebagian orang yang mempunyai kelebihan keuangan dan terbiasa mengunjungi beberapa tempat khusus untuk melepas penat dan ketegangan. Maka wajar saja informasi di media massa cetak dan elektronik termasuk dunia maya melaporkan kenaikan jumlah penumpang seluruh angkutan baik darat maupun udara. Bahkan angkanya bisa menembus 100% kenaikannya dibandingkan hari-hari biasa.

Saya yang belum masuk kategori pewisata karena factor “fulus” tentu tidak mempunyai agenda seperti orang-orang di atas. Bahkan kalaupun memiliki rizki berlebih alangkah lebih baiknya apabila dipergunakan untuk keperluan lain yang dirasa lebih penting.

Namun ternyata Allah swt memiliki rencanaNya sendiri. Bersamaan dengan libur akhir pekan ini, saya mend
apat amanah untuk menjenguk salah seseorang (seorang anak) yang sedang mendapatkan musibah, ujian ataupun teguran dari Allah swt, yaitu kecelakaan atau lebih tepatnya jatuh dari sepeda motor.
Tiga kategori tersebut di atas yakni musibah, ujian maupun teguran saya cantumkan karena tidak tahu mana yang lebih tepat untuk dilekatkan dengan anak ini. Hanya Allah swt yang Maha Tahu, dan mungkin juga anak itu mengetahuinya. ‘Allahu ‘Alam.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. (QS. Al-Baqarah ayat 155-156).

Setelah bermusyawarah dengan teman-teman akhirnya kami memutuskan untuk menjenguk salah seorang dari mereka yang kami anggap lebih parah kondisinya. Harapan kami si anak akan berangsur lebih cepat sembuh menerima kunjungan teman-temannya. Dengan mengendariai satu mobil rombongan kami bernagkat cukup pagi dengan harapan sore sudah kembali.

Alhamdulillah, meski jalanan macet pada beberapa daerah kami yang dilewati rombongan masih dapat menempuh perjalanan dengan lancar dan menyenangkan. Usai mampir ke sebuah masjid untuk melaksanakan sholat Dhuhur plus Ashar, kami memasuki halaman rumah tujuan kami bersamaan dengan jam menunjukkan pukul 1 siang, sementara sengatan cahaya matahari dan panasnya suhu udara membuat sebagian kami keringatan. Akhirnya inilah cerita selengkapnya yang kami dapatkan dari orang tuannya, khususnya sang ayah tercinta.

Hari itu si anak memang sedang bersilaturahim ke rumah dengan satu keperluan yakni mengurus SIM (Surat Izin Mengemudi). Dengan alasan sebentar lagi masuk bangku kuliah maka orang tuapun mengijinkannya. Berangkatlah ia bersama seorang temannya menuju kantor kepolisan bagian Samsat untuk membuat SIM.

Mereka harus kecewa begitu sampai di kepolisian karena ternyata hari ini tidak ada pelayanan pembuatan SIM entah dengan alasan apa saya sendiri agak lupa dengan penjelasan anak ini. karena keinginannya tidak terlaksana, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan ditengah perjalanan antara kantor kepolisian dengan rumahlah peristiwa kecelakaan itu terjadi.

Konon ketika itu, mereka sedang dalam upaya untuk menyalip sebuah mobil di depannya. Namun ternyata di depan mobil tersebut terdapat satu becak sedang melaju dengan penumpang di bagian depannya. Tanpa bisa mengontrol motornya secara penuh merekapun harus rela tersungkur mencium wanginya aspal. Alhamdulillahnya sang becak yang kesenggol tidak mengalami kerusakan parah termasuk penumpangnya dan kotak-kotak tempat penampungan telur.

Kontan saja melihat adegan kecelakaan tersebut, orang-orang di sekitar tempat kejadian beraksi mengulurkan bantuannya dengan mengantar kedua anak ini ke rumah sakit. Dari rumah sakit baru kemudian mereka menghubungi orang tua masing-masing untuk mengabarkan peristiwa yang terjadi.

Melihat kondisi anaknya dan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, sang ayah memutuskan membawa anaknya ke sangkal putung. Tempat ini memang menjadi rujukan bagi ornag-orang yang mengalami masalah dengan anggota badannya karena kecelakaan maupun musibah-musibah lain.

Alhamdulillah setelah tiga kali mengunjungi tukang pijat, kondisi kaki si anak lebih baik. Meskipun untuk menjadi lebih baik memang si anak harus menahan rasa sakit ketika proses pemijatan dan pengobatan. Insya Allah sekali lagi berobat kondisi kakinya sembuh, dengan catatan si anak rutin melatih kakinya untuk berjalan dan menekuknya sesering mungkin.

Setelah bercerita panjang lebar tentang berbagai tema dan topik, pihak tuan rumah mengeluarkan jamuan yang menyenangkan pikiran, khususnya lidah dan perut. Tidak butuh lama untuk menyelesaikan aktifitas ini (makan) karena kondisi perut semua anggota rombongan memang sudah menunggu untuk segera mendapatkan asupan. Alhamdulillah.

Usai menyantap makan siang plus hidangan penutupnya, kami melanjutkan obrolan dengan tuan rumah. Tak lama kemudian kami minta izin pamit untuk melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu mengunjungi rumah salah seorang anggota rombongan yang rumahnya hanya berjarak 5 km.

Kalau rumah pertama yang dikunjungi masih berada di daerah pinggiran kota, rumah kedua ini betul-betul lokasinya di dalam desa. Sepanjang perjalanan mata kami disuguhi hijaunya persawahan, pohon-pohon jati dan rerimbunan bambu yang berjejer di pinggir jalan. Subhanallah.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencapai tempat tujuan. Tuan rumah menyambut kami dengan hangat. Beraneka suguhan langsug keluar memenuhi meja yang berada di depan tempat duduk kami. Belum lama paksaan tuan rumah untuk menikmati makan siang kedua. Inna lillahi…....

Sambil bercengkerama dengan tuan rumah, satu persatu kami izin menumpang mandi karena kondisi badan yang sudah jauh dari kata sedap dan segar. Kurang lebih 90 menit kami bersilaturahim ke rumah ini. Dengan diiringi salam perpisahan dan doa keselamatan dari tuan rumah, kami meninggalkan halaman halaman rumah tersebut.

Seperti biasanya perjalanan pulang terasa lebih cepat dari berangkatnya. Meski hal itu hanya pengaruh psikologi biasa namun terus terang kami menikmatinya. Perjalanan hari itu kami akhiri dengan sholat Maghrb-Isya’ berjama’ah dan makan malam. Alhamdulillah. Semoga banyak hikmah yang masing –masing kami bisa mengambilnya sebagai pelajaran.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan sinag terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang menginggat Allah swt sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “ Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Ali Imron ayat 190-191).

| edit post

agama dan budaya

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pagi tadi saya berkesempatan berkunjung ke terminal bus antar kota dan antar propinsi. Sebagai salah satu anggota masyarakat yang menganut paham “mudik itu mencerahkan” tentu saja tidak boleh ketinggalan meramaikan hajatan besar tiap tahun di negeri kita ini. Tentu saja menjaga niat harus senantiasa diupayakan; silaturahim kepada orang tua dan kerabat sebagai salah satu cerminan anak yang berbakti kepada orang tua.

Suasana terminal sangatlah penuh dengan manusia. Tidak terasa sudah tiga tahun saya tidak mengunjungi terminal tersebut. Atas kebaikan seorang kawan - yang pada bulan suci ini sudah lebih dulu dipanggil Allah swt - selama tiga tahun saya tidak pernah mencari tiket untuk mudik karena mendapat tumpangan di mobilnya. Jarak kediaman almarhum memang tidak jauh untuk ukuran kampung dengan tempat saya tinggal yakni sekitar 50 sampai 60 km. semoga Allah swt mengampuni segala dosanya dan memasukkan beliau ke surgaNya. Aminnn.

mudik; spiritual, sosial, ekonomi, politik, ...
Konon mudik adalah kebiasaan masyarakat Indonesia yang unik dan asli budaya lokal. Walaupun mungkin di bagian dunia yang lain fenomena tersebut ada, namun dampaknya tidak sampai mempengaruhi kehidupan satu negara seperti disini.

Susah untuk melogikakan kebiasaan mudik di masyarakat Indonesia. Fenomena tahunan ini seakan sudah menjadi agenda tahunan wajib bagi sebagian besar perantau. Tidak lengkap rasanya hidup kalau tidak mudik setiap lebaran. Apapun akan dipertaruhkan, seberapa besar biaya yang harus keluar tidak menjadi masalah asalkan bisa berkumpul dengan sanak famili di kampung selama beberapa hari.

Maka kota-kota besar di negeri ini berkurang jumlah warganya, termasuk ibu kota Jakarta. Kota terbesar di Indonesia yang biasanya penuh dan macet selama beberapa hari akan lebih longgar serta lapang. Berkah hari raya bagi yang tidak mudik tentu saja. Saya kadang membayangkan dan berkhayal kalau kemudian ada pasukan bersenjata yang iseng karena kurang kerjaan bisa saja memanfaatkan moment mudik untuk menguasai ibu kota dengan pasukannya. Toh banyak pejabat negara termasuk aparat keamanan yang llibut satu atau dua hari ketika Idul Fitri. Namun Alhamdulillah hal tersebut tidak pernah terjadi.

Kebutuhan untuk sungkem kepada orang tua, nyekar ke makam para leluhur serta bercekengkerama dengan masa lalu seakan susah untuk dilawan setiap idul fitri. Ada suasana berbeda ketika pulang idul fitri dengan pulang pada hari-hari lainnya. Begitu seorang teman beralasan kenapa setiap idul fitri harus pulang kampung.

Tidak bisa dipungkiri juga kalau kedatangan dan kepulangan para pemudik telah memutar lebih kencang roda ekonomi masyarakat selama beberapa hari. Bisnis transportasi mungkin menjadi pihak paling diuntungkan. Lonjakan jumlah penumpang dan hak untuk menaikkan harga tiket menjadi kado lebaran bagi para mengelola bisnis agkutan darat, laut dan udara setiap tahunnya. Sayangnya setiap tahun tetap saja ada beberapa oknum yang nakal merugikan para konsumen jasa transportasi. Semoga tahun ini berita-berita tentang kondisi tersebut tidak terjadi lagi.

Pemandangan yang lumrah kalau kemudian kita melihat orang yang mudik membawa motor atau mobil baru, termasuk bingkisan-bingkisan untuk keluarga di kampung juga harus serba baru. Nampaknya ada keinginan kuat dari para pemudik untuk menjukkan dan menampilkan cerita sukses kehidupan diperantauan malalui barang-barang bawaannya.

Terlebih bagi kaum wanita. Bagi mereka biasanya cerita sukses tersebut diwujudkan dengan aksesoris-aksesoris yang dipakai seperti pakaian, gelang, cincin, kalung ataupaun perhiasan emas lainnya. Entah apakah itu semua barang milik pribadi, minjam ataupun sewa toh orang-orang di kampung tidak ada yang mengetahuinya.

Cerita sukses lewat omongan dan penampilan itulah yang membuat arus urbanisasi setiap tahun ke kota-kota besar di Indonesia selalu melonjak. Dalam kehidupan yang semakin materialis sepeti sekarang ini siapa yang tidak ngiler mendengar dan melihat tetangganya pulang dengan kesuksesan.

Fenomena mudik mungkin tidak akan berakhir karena dorongan psikologis relatif susah untuk dihilangkan, sementara arus urbanisasi mungkin bisa dikurangi dan ditekan seminimal mungkin. Peran pemerintah untuk lebih memeratakan kesejahteraan masyarakat di pedesaan harus lebih ditingkatkan.

Upaya selama ini yang sudah berjalan mungkin harus lebih dimonitor dan dievaluasi. Daripada trilyunan uang negara dari rakyat dipergunakan untuk menolong bank-bank yang kolaps dan justru dikorupsi oleh mereka lebih baik disalurkan ke masyarakat di pedesaan. Miris rasanya ketika kita melihat dan mendengar puluhan saudara-saudara kita di Papua kelaparan, sementara trilyunan uang yang seharusnya menjadi hak mereka lenyap dihabiskan para penjahat.

Pendidikan di daerah merupakan kunci perubahan bagi masyarakat. Penciptaan lapangan kerja yang mampu memobilisir para pemuda juga diperlukan sehingga bayangan mereka untuk merantau ke kota selepas sekolah menengah akan terkurangi. Bahkan kalau bisa menarik pulang para sarjana yang sudah menyelesaikan kuliahnya di perantauan untuk berkiprah di daerahnya sendiri.

Tentu saja yang tidak kalah penting adalah peran individu dan masyarakat secara umum. Tidak mungkin semuanya diserahkan kepada pemerintah yang tidak jarang juga kurang memikirkan rakyatnya, justru menyelamatkan para kroninya. Bagaimanapun juga keresahan sosial berawal dan berdampak kepada masyarakat sendiri.

Semoga kita mendapatkan pencerahan dan energi positif setelah mudik lebaran kali ini. Bagi yang tidak bisa mudik karena berbagai alasan; kuliah, kerja ataupun kendala lainnya tidak usah berkecil hati, toh kalau ada umur panjang Insya Allah masih ada kesempatan untuk sungkem kepada orang tua. Siapa tahu ada hikmah yang Allah swt berikan ketika tidak mudik tahun ini. Amiiin.

| edit post

Keinginan, doa dan maslahat

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Kemarin malam saya menemani teman saya silaturahim ke rumah calon rekan usahanya. Ia mengajak saya karena ada beberapa hal yang mungkin saya bisa memberikan bantuan pemikiran. Meski sempat molor 30 menit dari waktu yang telah kami sepakati berdua yakni persis setelah sholat ‘Asar, acara silaturahim itupun terlaksana. Kurang lebih dua jam kami ngobrol ngalor ngidul dengan tuan rumah. Menjelang Isya’ kami baru kembali ke rumah.

Tuan rumah orangnya sangat ramah alias grapyak tenan. Selama kami di rumahnya ia menjamu kami dengan keramahannya tersebut. Hebatnya lagi, ia tidak pernah kehabisan cerita yang menarik. Menurutnya, pengalaman hidup yang ia telah alami membuat kalau sudah bercerita akan susah berhenti. Hal itu membuatnya setiap bertamu ke rumah orang pasti akan lama, begitu pula ketika ada tamu berkunjung ke rumahnya akan lama pula.

Satu dari sekian banyak kisah yang ia sampaikan pada kami malam itu adalah proses bagaimana ia menempati rumahnya sekarang. Ternyata ia dan keluarganya baru satu bulan tinggal di rumahnya saat ini. Rumah itu adalah rumah orang yang dipasrahkan kepadanya dengan jangka waktu yang tidak terbatas, termasuk ijin untuk mempergunakannya sebagai tempat usaha kecil-kecilan.

Sebelumnya keluarga dengan dua orang anak laki-laki itu kos di sebuah rumah yang – menurut mereka sendiri – sangatlah sempit. Satu rumah dengan dua ruangan. Satu ruangan berfungsi sebagai kamar tidur, sementara satunya untuk tempat masak dan keperluan lainnya. Kalau saudara, kerabat atau teman kerja ingin silaturahim ke rumahnya, mereka harus rela berjalan kaki beberapa lama karena jalan depan rumahnya sangat sempit sehingga tidak bisa dilewati kendaraan motor maupun mobil. Tidak heran apabila ada kegiatan kampung (RT/RW) ia selalu meminjam teras tetangganya kalau kebetulan ia menjadi tempat acara (tuan rumah kegiatan).

Calon rekanan teman saya ini pekerjaanya adalah bagian marketing dan penarikan sebuah lembaga amil zakat. Ia mendapat tugas untuk menggarap donator amil zakat kelas menengah ke atas. Sebagian donaturnya adalah dosen, pengusaha dan beberapa pejabat teras berbagai instansi pemerintah serta swasta. Dalam kapasitas tugasnya itulah ia sering berkunjung ke rumah donaturnya yang tentu saja kebanyakan mereka memiliki rumah-rumah berukuran luas dan terletak di lingkungan yang berkategori “mahal”.

Ketika bercerita ia menyampaikan kalau dirinya memiliki doa khusus setiap kali memasuki rumah-rumah bertipe mahal. Kalimat doanya adalah permohonan kepada Allah swt agar diberikan sebuah rumah yang besar seperti rumah-rumah yang ia masuki ketika bersilaturim kepada para donatornya. Doa itu bertahun-tahun ia lafadzkan dengan penuh keyakinan suatu ketika Allah swt mengabulkan permohonannya.

Tiga bulan menjelang masa kontrakan rumahnya habis, ia sempat pusing karena tidak ada bayangan mau pindah kemana. Maklum saja ia tidak cukup mempunyai tabungan untuk memperpanjang kontrakkan rumahnya, apalagi mencari kontrakan baru yang lebih baik kondisinya.

Namun demikian ia merasa punya satu tempat untuk meminta dan pasti akan dikabulkan. Ia berfikir bahwa ia punya Allah swt pemilik alam raya ini dan penentu semua peristiwa serta kejadian. Kalau berkehendak siapa yang bisa mencegah dan menghalangi? Begitu pikiran dan keyakinannya.

Langkah berikutnya yang ia lakukan dengan istrinya adalah memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Tengah malam mereka berdua bangun untuk mendirikan sholat tahajud memohon kepada Allah swt agar mempermudah jalan hidup dan kehidupannya. Ibadah-ibadah sunnah ia tingkatkan dan pergencar sebagai pelengkap serta penyempurna ibadah wajibnya.

Tidak ketinggalan pula infaq ia perbanyak. Sebisa mungkin ia menyisihkan penghasilannya yang sudah sedikit itu untuk memberi kepada orang-orang yang membutuhkan. Tidak jarang ia infaq dalam jumlah yang besar karena memiliki keyakinan bahwa semakin besar infaqnya maka Allah swt akan memberikan balasan yang besar juga.

Demikianlah peningkatan ibadah dan amal sholeh itu ia laksanakan setiap hari selama tiga bulan. Ia sengaja melingkari tanggal dan hari di kalender ketika memulai azzam tersebut supaya terjaga semangatnya. Ia pernah merasa khawatir dan kecewa juga ketika ikhtiar itu sudah memasuki satu bulan tapi belum ada tanda-tanda Allah swt mengabulkan permohonannya. Namun keyakinan dirinya dan istrinya mengalahkan kegalauan tersebut. Semangatnya tetap tinggi karena percaya Allah swt tidak akan pernah menyalahi janjiNya.

Tepat tiga bulan dalam hitungan kalender yang ia lingkari, seseorang menawari dirinya untuk menempati rumahnya. Rumah itu hampir dijual, namun karena satu dan lain hal pihak pembeli tiba-tiba saja membatalkan pembelian. “sudah rejeki kali, semuanya kok serba pas dan terasa kebetulan sekali”. Begitu ia menjelaskan kepada kami.

Dan begitu positif menempati rumah tersebut, ia langsung sujud syukur sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah swt atas karunianya. Sebuah anugerah yang tidak pernah terbayangkan telah ia dan keluarganya terima. Tak lupa ia mengundang para tetangganya yang dulu hidup berdampingan dalam satu lingkungan untuk datang ke rumahnya; bareng-bareng mensyukuri karunia yang ia terima.

Satu kelebihan dari bapak ini adalah pengalaman hidupnya yang tak habis-habis untuk diceritakan. Beberapa kali kami mau pamit selalu tertunda karena ada saja bahan cerita yang mengalir begitu saja tanpa disengaja. Termasuk pengakuannya kalau sekarang ia sedang meng “up grade” doanya. Maksudnya doa mendapat rumah sudah terwujud, maka dia berdoa yang lain yang lebih tinggi tingkatannya. Baru setelah istrinya mengingatkan kepada suaminya bahwa mereka punya janji keluar dengan anak-anaknya, percakapan antara kamipun berhenti. Masih dengan keramahannya ia melepas kami sampai di jalan raya depan rumahnya.

Sepanjang perjalanan pulang, saya dan teman masih beberapa lama memperbincangkan pertemuan kami barusan. Paling tidak bagi kami yang lebih muda, pengalaman bapak orang yang beberapa tahun di atas usia kami terebut layak menjadi bahan pelajaran dan renungan. Bukankan setiap perisitiwa dari seseorang bisa melahirkan hikmah bagi orang lain?

Bagi saya peribadi ada dua hal menarik yang bisa menjadi pelajaran. Pertama adalah kekuatan doa, sementara hal kedua yang menarik adalah konten (isi) dari doa tersebut beserta sejarah “kemunculannya” sebagai perwujudan konsep diri orang itu sendiri.

Kita sebagai seorang muslim sangat meyakini bahwa seluruh alam seisinya merupakan milik Allah swt dan berada di dalam gengamanNya. Tidak ada satu peristiwapun yang luput dari campur tangan Allah swt. Seluruh kebaikan, ujian, cobaan dan bencana yang menimpa seseorang pasti masuk dalam rencana Allah swt. Maka sudah sewajarnya kalau setiap manusia memberikan penyembahan dan pengabdian terbaik kepadaNya. Hanyalah orang-orang yang sombong dan tidak tahu diri kalau kemudian menyadari hal itu masih saja menolak untuk taat dan patuh untuk melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi laraganNya.

Kesadaran akan ke Maha Kuasa an Allah swt beserta segala sifat keagunganNya merupakan dasar bagi seorang muslim untuk mengantungkan seluruh harapannya. Setelah melaksanakan segala daya dan upaya berusaha memenuhi hajatnya, maka langkah selanjutnya adalah memohon bantuan kepada Pemilik alam raya ini untuk mewujudkan keinginannya. Itulah doa; permintaan dan permohonan kepada Allah swt.

Tentu saja ada prasyarat-prasyarat khusus agar doa seseorang dikabulkan. Mulai dari rizqi yang halal yang ia makan, ibadah dan amal sholeh sebagai wujud ketaatan bagian pelaksanaan doa itu sendiri harus menunjukkan kesungguhan dan penuh harap kepada Allah swt. Di tambah dengan sebuah kesadaran terkabul tidaknya sebuah doa adalah hak prerogatif Allah swt dan semua pasti mengandung hikmah serta ibrah bagi yang menerimanya.

Kalau membaca kisah-kisah orang sholeh pada zaman dulu maupun sekarang, kita akan banyak menemukan betapa kekuatan doa mampu mengubah jalannya kehidupan seseorang. Tidak hanya seorang manusia saja, bahkan tidak sedikit pula satu masyarakat, bangsa maupun peradaban berubah karena satu doa yang dimunajadkan di kabulkan Allah swt. Begitulah kemenangan Rasulullah saw dalam perang Badr, ataupun kehancuran yang menimpa kaum nabi Nuh, kamu Tsamud, ‘Aad dan yang lainnya.

Bagian kedua yang cukup menarik adalah konten (isi) doa sendiri. Seseorang boleh minta apa saja kepada Allah swt; Kesehatan, kecukupan, keberkahan rizqi, tambahan ilmu, juga kekayaan. Paling tidak sebisa mungkin kita mengambil doa-doa yang dicontohkan Rasulullah saw sebagai rujukan. Kalaupun berdoa dengan bahasa dan keinginan sendiri juga tidak apa-apa karena Allah swt tentu saja mengetahui seluruh keinginan hambaNya baik dilisankan maupun masih terbersit di dalam pikiran dan hatinya.

Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah keterkaitan antara doa yang seseorang panjantkan dengan karakter dirinya. Rasulullah saw selalu memintakan kebaikan untuk umatnya. Kondisi umat Islam mendapat prioritas lebih dalam doa beliau. Rasa tanggung jawab yang besar terhadap nasib umatnya setelah kehidupan beliau dan hari kiamat sering membuat beliau berlama-lama dalam doanya sambil mengucurkan air mata.

Bagaimana dengan kita saat ini? Tingkatan iman kita yang belum tinggi serta keterikatan yang kuat dengan dunia memang membuat doa yang terpanjatkan lebih banyak menyentuh aspek kepentingan pribadi. Keinginan-keinginan yang muncul dalam diri karena tuntutan kehidupan sosial lebih sering mengalir dari lisan kita. Tentu saja tidak masalah apapun yang kita pinta selama itu membawa kebaikan bagi agama dan akhirat kita.

Bagaimana dengan doa minta rumah besar seperti pengalaman rekanan teman saya di atas? ataupun permintaan-permintaan lainnya yang berupa materi dan terkesan materialistik? Kalau hal itu memang membawa kebaikan bagi diri dan agamanya, juga terjaga keihlasannya dalam beribadah dan beramal tidak masalah dimintakan kepada Allah swt. Meskipun nampaknya sebagian orang tidak menyepakati pendapat ini.

| edit post

tanggung jawab terhadap masa lalu

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Masa lalu berarti waktu atau saat yang telah lewat dalam hidup seseorang, lingkungan, bangsa, kaum, umat dan juga peradaban. Karena masa lalu maka tidak bisa diulang, paling-paling yang bisa diperbuat adalah mengenangnya sambil tersenyum, tertawa, sedih ataupun menyesal. Kalau mau sedikit lebih serius barangkali melihat kembali sebagai bahan renungan sekaligus evaluasi untuk perbaikan ataupun juga bahan pembelajaran (ibrah).

Dalam Islam ada anjuran bagi kaum muslimin untuk melihat ke belakang sebagai bekal membuat prestasi masa-masa berikutnya sehingga selamat dunia akhirat. Allah swt menekankan perintah tersebut di dalam surat al-Hasyr ayat 18; “wahai orang-orang Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Dengan melihat masa lalu kita juga bisa mengukur diri sampai dimana perjalanan yang telah terlewati. Apa yang telah kita lakukan dengan umur kita berapapun sekarang yang telah Allah swt berikan kepada kita. Layakkah kemudian kita mengaku sebagai hamba yang taat karena kepatuhan kita untuk menekuni jalan yang Ia perintahkan kita lewati dan menghindari arah yang Ia larang untuk ditapaki.

Masa lalu juga bisa menjadi salah satu sarana mengendapkan bibit-bibit kesombongan dan keangkuhan nafsu sendiri. Ketika kita sedang merasa lebih dari orang lain karena kekuatan fisik, melimpahnya kekayaan, banyaknya pasukan ataupun empuknya jabatan, ingatlah mereka-mereka yang nama-namanya dan jejak-jejak ucapannya tertulis dalam buku sejarah manusia.

Kita bisa membayangkan kebesaran kaum Tsamud, ‘Aad, Fir’aun ataupun Namrud. Dimana mereka sekarang? Tidak ada yang tersisa kecuali tempat yang pernah mereka singgahi atau tinggali semasa hidupnya. Begitulah Allah swt memusnahkan orang-orang yang enggan dan menyombongkan dirinya.

"Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An Nahl:36).

Ataupun juga mengingat kebesaran para sahabat Rasulullah saw, para khalifah dan pemimpin Islam seperti Sholahuddin al-Ayubi, Thariq bin Ziyad, Abdurrahman al-Ghafiqi dan sederet nama besar lainnya. Bandingkan dengan diri kita? Layakkah masih berbesar hati mengagungkan diri sendiri? Jauh rasanya mengukur prestasi kita untuk umat dengan jerih payah mereka menyebarkan dakwah Islam ke delapan penjuru mata angin.

Tapi apakah hanya sebatas itukah hubungan kita dengan masa lalu?

Dua hari yang lalu ada kesempatan ngobrol dengan orang-orang dari masa lalu saya. Kami pernah bersama-sama belajar tentang kehidupan dalam kurun waktu tertentu. Usia yang lebih tua ketika itu membuat sebagian mereka juga belajar kehidupan dari saya.

Seiring perjalanan waktu, merekapun menyebar ke semua arah kehidupan. Segala warna dunia bercampur menjadi satu. Bagi yang kuat memegang prinsip kehidupan, pergiliran zaman tidak membuat mereka lupa diri dengan identitas sebagai seorang yang memegang panji kebenaran Islam. Perpindahan tempat, teman dan aktifitas tidak mengubah keyakinan yang telah tertancap dalam di sanubari.

Kenyataan berbeda dialami sebagain lain dari mereka. Gemerlap dunia yang hadir mengelilingi masa muda mereka teramat berat untuk dilawan. Prinsip dan keyakinan mungkin masih kuat bersemayan di dada, tapi rasa keberpihakan nampaknya mulai susut. Paling tidak ada tiga indikasi keberpihakan seseorang terhadap sesuatu; ucapan, penampilan (atribut) dan keaktifan dalam kegiatan. Ironisnya, ketiga parameter tersebut bernilai negatif semua.

Ketika ngobrol itulah kemudian salah seorang sambil nguyonan mengatakan bahwa anak-anak yang tidak konsisten dengan jalan yang dulu mereka tempuh itu masih tanggung jawah saya. Atau paling tidak ada peran yang saya lakukan sehingga mereka begitu. Dengan guyonan pula saya menjawab tuduhan tersebut sembari membela diri. Diskusipun melebar ke kanan dan ke kiri, menyentuh semua sudut masa lalu dan nasib sebagian mereka di masa kini.

Meski bercanda dan kami masih berjam-jam bercengkerama di bawah pohon trembesi sambil menyaksikan anak-anak kecil bermain futsal, celetukkan di atas terekam dengan baik dalam memori saya. Lebih jauh hal itu patut menjadi bahan renungan untuk perbaikan tentu saja.

Saya teringat sebuah sabda junjungan umat Rasulullah saw tentang keberlangsungan pahala ataupun dosa akibat perbuatan kita yang diikuti orang lain. Beliau saw bersabda : “Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).

Petuah itulah yang menjadi penginggat kita untuk berhati-hati ketika mengajak atau mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Kebaikan yang kita sarankan berbuah kebaikan, begitu pula kemaksiatan yang kita setujui melahirkan dosa dan kesalahan.

Karenanya kalau kita membaca literatur Islam masa lalu tentang pendidikan khususnya para pendidik, pastilah tercitra kehebatan dan kemuliaan seorang guru. Begitu banyak prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mengajar. Baik terkait dengan kualifikasi keilmuan, akhlaq-karakter sekaligus metodologi pengajaran.

Begitu pula murid atau peserta didik. Mereka adalah manusia-manusia yang disiapkan untuk meniti jalan ketuhanan (salik rabbaniyyah). Adab adalah sesuatu yang mutlak harus melekat dalam diri mereka karena bersama dengan tawadu’ kedua aspek tersebut merupakan hiasan ilmu. Keberkahan ilmu berjalan seiring dengan keridho’an para guru dan jauhnya dari melakukan maksiat kepada Allah swt.

Membandingkan aplikasi konsep tersebut pada masa sekarang dengan masa keemasan peradaban Islam memang teramat jauh. Pondasi tauhid yang kokoh menjadi semakin perkasa dengan keagungan akhlaq dan ketinggian ilmu kaum muslimin ketika itu. Namun paling tidak ada semangat kita untuk meniru hal-hal yang bisa kita kerjakan saat sekarang. Ada sebuah pepatah Arab yang layak menjadi tambahan motivasi kita: "Serupailah orang-orang terhormat, jika kalian tidak bisa sama persis seperti mereka. Karena menyerupai orang-orang terhormat itu adalah kemenangan."

Akhirnya saya hanya mampu berdoa kepada Allah swt untuk mengampuni semua kesalahan-kesalahan yang telah saya perbuat, khususnya ucapan, contoh ataupun nasehat yang saya sampaikan kepada orang lain jika itu salah. Termasuk juga bagi orang-orang yang pernah mendapatkan ucapan, contoh ataupun nasehat yang saya sampaikan salah semoga mereka memaafkannya. Meski terkesan apologi namun bukankah manusia memang tempatnya salah dan lupa?

Tentunya saya akan merasa bahagia dan bersyukur apabila ada sebagian kecil dari apa yang telah diperbuat pada masa lalu menjadi amal sholeh di hadapan Allah swt. Rasulullah saw bersabda bahwa jika mati anak Adam mata terputuslah semua hubungan kecuali tiga perkara; shodaqoh jariyyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan. Betapa beruntungnya kalau ketiga-tiganya kelak dapat saya raih. Amiiiiin.

| edit post

Hidup itu (memang) masalah dalam memilih

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Minggu ini ada satu berita cukup penting di lingkungan saya yang ternyata saya terlambat mendengarnya. Seorang teman bercerita bahwa salah seorang sahabat saya telah memutuskan untuk melanjutkan hidup dan kehidupannya di tempat lain. Kami cukup lama bergaul sehingga wajar kalau saya terkejut mendengarnya. Sahabat saya itu telah memilih apa yang terbaik menurutnya bagi diri dan keluarganya. Semoga pilihan itu benar dan mendapat ridho dari Allah swt.

Hidup memang masalah dalam memilih. Setiap saat kita dipaksa atau terpaksa memilih satu diantara dua atau banyak pilihan. Dari mulai memilih makanan, baju, pasangan hidup, sekolah, termasuk cara dan tujuan hidup seseorang. Setiap pilihan pasti menimbukan konsekuensi. Akibat dari pilihat tersebut bisa menyenangkan, tidak jarang juga menyedihkan. Namun karena sudah dipilih, maka apapun akibat yang terjadi harus diterima dengan ikhlash dan lapang dada.

Persoalan yang harus disiapkan barangkali berupaya maksimal sehingga tidak melakukan kesalahan dalam memilih. Kesalahan dalam memilih biasanya berawal dari kekeliruan menganalisa permasalahan dan solusi-solusi yang tersedia. Oleh sebab itu ketelitian dan kecermatan dalam menganalisa persoalan mutlak diperlukan sehingga tidak ada penyesalan di belakang. Bahkan seandainya salah memprediksi akibat yang muncul sekalipun, penyesalan tidak akan sebesar ketika pilihan itu hanya dilakukan sambil lalu tanpa melalui perhitungan yang matang.

Lalu bagaimana supaya tidak salah memilih?

Tindakan pertama tentu saja mengenali piihan-pilihan itu dengan baik. Semakin banyak pilihan yang tersaji tentu membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali masing-masing. Maka faktor kesabaran berperan dalam fase ini. Kalau kita tidak sabar, bisa jadi aspek emosional yang lebih berperan. Karena ingin cepat selesai, tidak berfikir akibat jangka panjang dari pilihan yang diambil.

Setelah mengenali secara baik pilihan-pilihan yang tersaji di depan kita, maka perlu dilakukan analisa-analisa akibat dari masing-masing pilihan. Dalam beberapa persoalan, kita harus mencoba membuat banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi tentu. Bisa saja membuat 10 kemungkinan dari satu pilihan yang akan diambil. Jangan pernah hanya membuat satu kemungkinan akibat dari satu pilihan yang akan diambil karena ha tersebut akan membuat persiapan kita tidak maksimal ketika ternyata akibat dari pilihan yang kita ambil jauh dari prediksi yang kita buat.

Langkah selanjutnya adalah menentukan pilihan. Dalam menentukan pilihan maka perhatikan mana alternatif yang paling besar efek positifnya dan paling kecil memberikan dampak negatif bagi kita secara pribadi, orang lain, lingkungan dan lingkup yang lebih besar. Barometer yang dipergunakan sebagai standard adalah pedoman hidup kita yaitu al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Dengan kata lain acuannya adalah apakah pilihan ini mendapat ridho dari Allah swt dan tidak bertentangan dengan contoh Rasulullah saw?

Bukan sebuah keputusan bijak kalau kemudian menjadikan hati nurani sebagai patokan dalam memilih. Jika orang tersebut baik imannya, ibadahnya dan juga akhlaq perbuatannya mungkin hati nuraninya membawa kepada maslahat. Tetapi bagaimana kalau dia adalah seorang yang tidak beragama, nafsu mejadi pendorong geraknya dan maksiat adalah amaliahnya. Tentu orang bertipe begini hati nuraninya mendorongnya untuk mengikuti kebiasaan yang ia jalani setiap harinya.

Ketika dalam memilih sesuatu (khususnya masalah-masalah yang besar) menjadikan Allah swt dan RasulNya sebagai patokan, tentu saja seseorang akan melibatkan Allah swt sejauh mungkin. Ia pasti akan meminta petunjuk melalui sholat istikharah sebagai media memohon petunjuk kepada Allah swt. Harapannya tentu saja apapun pilihan yang kita ambil melahirkan kebaikan.

Sikap itu pula akan menimbulkan efek berikutnya; tawakal. Berupaya menerima apapun konsekuensi yang diterima karena telah memilih. Kondisi hati yang selalu berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah swt. Tidak ada penyesalan berkepanjangan atau bahkan umpatan atas segala hal yang terjadi. Dengan penuh iman dan kesadaran menyadari apapun yang terjadi tidak pernah lepasa dari qodho dan qodar Allah swt. Takdir adalah wilayah Allah swt sebagai Pemilik Alam semesta beserta isinya. Wilayah manusia adalah merencanakan, melaksanakan sebaik mungkin, berdoa dan tentu saja menerima hasil dari perbuatan yang telah dikerjakan.

Maka dalam kamus orang beriman, kondisi putus asa yang sangat berat tidak muncul dalam hidupnya. Apapun yang diperbuat selama itu benar dan baik balasannya pasti juga baik. Kalau balasan di dunia tidak diperoleh, ada hari pembalasan tempat semua amal ditampakkan dan dikembalikan kepada para pemiliknya. Itulah diantara salah satu hikmah meyakini kebenaran hari kiamat.

| edit post

anomali dalam kebaikan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Saya baru mengenalnya setahun belakangan ini. Bagi saya, dia orang baik, pikirannya tidak neko-neko, sungguh-sungguh mengerjakan amanah yang diberikan kepadanya meskipun terkadang di luar kapasitas dirinya. Tambahan lagi, rasa iri dan cemburu dengan orang lain sangat jarang sekali keluar dari lisannya. Seakan-akan saya melihat tipe sosok orang jawa asli zaman dulu.

Saya beruntung mengenal dan sering berinteraksi dengannya. Pada saat zaman sudah mengukur segala sesuatu sepenuh hati dengan materi, orang itu masih bisa menjaga dirinya tidak larut dalam budaya tersebut. Keikhlasan, kesungguhan, kerja keras dan ketawakalan merupakan prinsip hidup yang berusaha ia pegang sebagai pesan dari orang tuanya. Terus terang saya banyak belajar dari orang ini.

Sejarah memang selalu melahirkan orang-orang yang anomali dengan kondisi umum lingkungan, masyarakat dan dunia secara lebih luas. Mereka hadir untuk memberikan nuansa lain dan menawarkan pilihan hidup lebih baik dari orang kebanyakan. Minoritas memang tidak mesti lebih baik dari mayoritas, tapi juga tidak mesti lebih buruk bukan?

Rasulullah saw juga adalah anomali bagi kehidupan jahiliyyah kaum dan masyarakatnya. Beliau berbeda dengan warga Makkah yang ketika itu terjebak dalam tingkah laku menghalalkan segala macam cara untuk memperoleh kekayaan, bergantung kepada kekuatan kosong berhala dan hubungan sosial yang sakit karena yang kuat (kaya) menindas yang lemah (miskin/budak). Beliau tampil untuk merubah dan merombak tatanan tersebut.

Al-Mustofa menawarkan peradaban tauhid sebagai pilihan hidup. Beliau mengajarkan kepada manusia kepada siapa seharusnya mereka sembah dan abdikan hidupnya. Dengan bimbingan wahyu Allah swt beliau ajak manusia untuk mencari nafkah dengan cara yang benar dan jujur. Prinsip sosial berdasarkan azas cinta, kasih sayang dan persaudaraan beliau ajarkan kepada pengikutnya. Maka riba, perbudakan dan pembunuhan anak perempuan hanya tinggal kisah masa lalu yang kelam dan harus dikubur dalam-dalam di buku sejarah bangsa Arab.

Mulanya beliau berteriak sendirian, lalu istri, anak asuh, pembantu dan sahabat terdekatnya mengikuti ajaran agung tersebut. Beliau dimusuhi, diboikot, diancam, dianiaya, diusir dan hampir dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukai seruan kebenaran. Beliau menerima itu semua dan menangungnya dengan suka rela. Tidak heran ketika malaikat gunung menawarkan kepada beliau untuk mengazab orang-orang yang mengusir dan melempari beliau hingga berdarah di Thaif, beliau menolak malah mendoakan kebaikan bagi generasi keturunan orang-orang tersebut. Subhanallah!!!

Duniapun tercengang karena ketika beliau meninggal, ratusan ribu sahabat beliau tinggalkan. Mereka melanjutkan gerak dakwah Islam memberikan pencerahan kepada dunia dan manusia yang menghuninya. Selama tujuh abad berikutnya dunia berada dalam naungan Islam.

Pilihan hidup berbeda itu pula yang diambil salah seorang sahabat terdekat Rasulullah saw, Abu Dzar al-Ghifari. Sahabat ini selalu memanggil Rasulullah saw dengan sebutan Khalilii; kekasihnya. Sebuah panggilan yang menunjukkan cintanya kepada laki-laki mulia tersebut. Dan karena kecintaanya kepada Rasulullah saw itulah yang membuat ia hidup berbeda dari manusia lain pada zamannya.

Abu Dzar al-Ghifari tidak tahan melihat kehidupan kaum muslimin pada masa akhir hidupnya mulai bergelimang harta dan berlebih-lebihan dalam kepemilikan materi. Beliau tidak bisa untuk tidak bersuara mengkritik kebiasaan tersebut karena cintanya kepada para sahabatnya dan kaum muslimin.

Awalnya beliau bersuara lantang kepada masyarakat Syam, khususnya gubernur Syam, Muawiyyah bin Abu Sufyan. Sang gubernur yang dikenal cukup falmboyan merasa terusik dan terganggu, tetapi ia menyadari bahwa yang dihadapinya bukan orang biasa tetapi sahabat Rasulullah saw. Maka iapun mengadu kepada sang Khalifah ketiga Utsman bin Affan di Madinah tentang kesusahannya atas keberadaan Abu Dzar di wilayahnya.

Khalifah Utsman yang terkenal lembut dan penyayang itupun kemudian meminta sahabatnya itu kembali ke Madinah tinggal di kota Nabi. Mendapat panggilan dari sahabat sekaligus khalifahnya, Abu Dzar langsung berangkat tidak menawar sama sekali.

Namun ternyata iapun harus kecewa kedua kalinya. Di Madinah ia juga melihat beberapa orang mulai menumpuk-numpuk harta secara berlebih. Ia kembali tampil paling depan mengkritisi kenyataan tersebut. Banyak orang simpati dan mendukung sepak terjangnya. Akibatnya orang-orang kaya yang tersindir ucapan-ucapannya gerah dan mulai tidak menyukai kehadirannya di kota Madinah.

Melihat kenyataan yang ada, khalifah Utsman menyuruh Abu Dzar meninggalkan Madinah menuju Rabadzah. Ketika itu Rabadzah adalah sebuah dusun kecil di jalur jalan kafilah Irak Madinah. Beliau pun berangkat memenuhi perintah khalifah dan meninggal di tempat tersebut.

Istrinya menangis sedih ketika suaminya menjelang meninggal ia tidak mempunyai kain kafan dan juga orang untuk membantunya mengubur jenazahnya. Namun Abu Dzar mengatakan bahwa kekasihnya Muhammad saw telah mengabarkan nasibnya, termasuk akan datangnya sekelompok orang yang akan menguburkannya di tempat ia meninggal dunia.

Tak lama berselang setelah Abu Dzar meninggal, lewatlah rombongan sahabatnya Abdullah bin Mas’ud di tempat tersebut. Beserta para sahabatnya, ia menguburkan jenazah Abu Dzar al-Ghifarri yang hanya ditunggui oleh istrinya saja. Abdullah bin Mas’ud pun berkata menyampaikan sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar, “Benarlah ucapan Rasulullah!. Kamu berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan nantinya (di akhirat) dibangkitkan sebatang kara”.

Begitulah zaman mencatat mereka. Berbeda tapi lebih normal. abnormal tapi justru lebih normal dari orang yang merasa normal. Namun orang-orang seperti itu lebih banyak tidak tercatat dalam sejarah manusia, apalagi mereka juga tidak membutuhkannya. Karena bagaimanapun adalah watak sejarah hanya mencatat peristiwa-peristiwa besar dan orang-orang besar saja. Prinsip sejarah yang sebenarnya telah berubah ketika Islam datang. Karena dalam Islam, seorang Bilal bin Rabah yang seorang budakpun tampil menjadi hero dan teladan bagi umat Islam.

Karenanya, tidak salah kalau memilih menjadi anomali bagi lingkungannya. Selama sikap yang berbeda itu lebih baik dan lebih benar dalam pandangan Allah swt dan Rasul-Nya. Jangan sebaliknya, justru di dalam lingkungan yang baik dan benar tidak enjoy dan merasa terasing. Kalau itu yang terjadi artinya yang salah bukan lingkungan, tapi diri sendiri sehingga langkah tepat dan bijaksana kalau segera bertaubat sungguh dan memperbaiki diri. Mumpung belum terlambat dan supaya tidak terlambat sehingga menjadi penyesalan.

| edit post

kami sedang berduka

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini lingkungan tempat saya tinggal sedang berduka. Salah seorang warga kami kehilangan salah seorang puteranya.karena meninggal dunia. Putera itu sendiri masih bayi dan baru berusia dua hari. Kemarin pagi bayi itu lahir ke dunia dengan selamat, namun ia mengalami sesak nafas dan sulit bernafas. Oleh orang tuanya kemudian si bayi di bawa ke rumah sakit dan di rawat di ruang ICU.

Namun Allah swt mempunyai rencana lain bagi si bayi dan juga orang tuanya. Menjelang siang hari kira-kira jam 10, bayi itu kembali kepada Rabbnya. Innalillahi wa innalillahi roji’un.

Isak tangis segera saja memenuhi keluarga yang ditinggalkan. Perasaan duka itupun tidak perlu waktu lama kemudian menjadi milik seluruh warga di lingkungan kami. Tanpa mendapat komando berbondong-bondong orang datang ke rumah duka untuk memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan supaya tabah dan sabar menghadapi peristiwa ini.

Jenazah si bayi tidak lama berada di rumahnya. Setelah dimandikan dan dikafani, kemudian di bawa ke masjid untuk disholati. Usai sholat ratusan orang kemudian mengantarkan bayi tersebut ke tempat peristirahatannya. Dalam beberapa hadist shahih disebutkan bayi orang Islam yang meninggal masuk surga dan kelak akan memberikan syafa'at kepada orang tuanya pada hari kiamat.

Semoga Allah swt memberikan ketabahan dan kesabaran kepada pak Fahmi Ahmad sekeluarga dalam menghadapi kedukaan ini. Juga kita yang masih hidup bisa mengambil hikmah pelajaran untuk mempersiapkan diri jika waktunya memang telah tiba.

Allahumma firlahu warhamhu wa’fuanhu




| edit post

ya syaikh….. doa kami selalu menyertaimu

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Kami bersyukur dan berbahagia karena dua hari yang lalu tempat kami kedatangan dua orang mujahid dari Palestina, Syaikh Abu Bakar Al-Awwaidah bersama seorang sahabatnya. Beliau adalah salah seorang anggota Majelis Ulama Palestina, sementara ketua nya sendiri masih dalam tahanan pemerintah zionis Israel. Syaikh Abu Bakar datang dalam rangka mengabarkan kondisi kaum muslimin di Palestina sekaligus menggalang dana bagi perjuangan para mujahidin di sana.

Biografi dan sepak terjang tentang ulama ini sebelumnya sedikit telah saya ketahui, namun bertemu langsung dengan beliau gambaran itu terasa lebih mengharukan dan menyemangatkan. Secara fisik beliau sekarang tidak sempurna. Kedua mata beliau tidak bisa melihat karena mengalami kebutaan ketika dalam penyiksaan Israel. Lebih dari 20 kali beliau keluar masuk penjara Israel sejak usia muda. Pada penangkapan yang ke 13 atau 14 itulah beliau mengalami penyiksaan yang sangat luar biasa biadabnya sampai mengalami kebutaan.


Dalam penjara-penjara zionis Israel para mujahidin Palestina terbiasa disiksa selama berjam-jam setiap hari dari mulai sekedar digantung kepala di bawah, dipukuli, ditendangi, disetrum maupun bentuk-bentuk kebiadaban lainnya. Sangat jarang sekali para tahanan mendapat jatah makan, bahkan menurut beliau pernah berhari-hari hanya mendapat satu gelas air setiap enam jam. Naudzubillahimindzalik.

Acara tabligh dan pengumpulan dana itu diawali dengan pemutaran beberapa cuplikan film tentang perang Gaza beberapa waktu yang lalu. Meskipun sebagian besar hadirin sudah pernah menyaksikan film-film yang diputar, namun suasana penuh empati terhadap derita saudara-saudara kita di Palestina tetap tinggi. Termasuk ketika layar menampilkan keberhasilan para mujahidin Palestina, pekik takbir menggema di ruangan tempat kegiatan tersebut.

Syaikh Abu Bakar kemudian menyampaikan tausyiah kepada para hadirin tentang sejarah perjuangan rakyat Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun melawan zionis Israel. Beliau juga menyampaikan beberapa pertolongan Allah swt yang diterima para mujahidin dalam perang 23 hari di Gaza kemarin. Tak lupa juga beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada dukungan kaum muslimin seluruh dunia terhadap perjuangan rakyat Palestina selama ini. Alhamdulillah pada saat penggalangan dana panitia berhasil mengumpulkan lebih dari 20 juta rupiah dan beberapa perhiasan dari ibu-ibu.

Diantara hal yang mengharukan lainnya adalah ketika seorang panitia dari sahabat al-Aqsha menawarkan kepada para hadirin untuk menukar HP mereka yang bermerk Nokia dengan kaos boikot produk Yahudi. Dari sekian banyak hadirin ternyata yang mengawali untuk maju ke depan adalah seorang anak kecil berusia 11 tahun masih duduk di kelas 3 SD.

Di akhir acara semua hadirin laki-laki bersalaman dan berangkulan dengan para mujahid dari Palestina tersebut. Syaikh Abu Bakar dan sahabatnya akan melanjutkan perjalanan ke tempat-tempat lainnya untuk terus menjaga gelora semangat kaum muslimin Indonesia dalam mendukung perjuangan para mujahidin di Palestina. Semoga Allah swt melindungimu ya... syaikh dan memberikan kemenangan kepada kaum muslimin di Palestina. amiin.

| edit post

belajar dari tiga sesepuh

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini saya pergi ke tukang cukur rambut untuk mengurangi rambut di kepala yang mulai tebal dan panjang. Di samping juga supaya tidak “kualat” karena hari-hari terakhir ini saya sering mengingatkan beberapa orang yang rambutnya juga mulai panjang dan tebal untuk menguranginya.

Karena hari sudah siang, saya harus antri beberapa lama untuk mendapat giliran. Sambil menunggu antrian saya asyik menyimak cerita seorang bapak yang sudah sepuh dan menjadi tokoh sentral dalam diskusi kecil di tempat cukur rambut tersebut.

Pengetahuan dan wawasan bapak itu terhadap sejarah Indonesia zaman dulu relatif sangat, khususnya sejak penjajahan Belanda, Jepang sampai era bung Karno. Terlebih beliau tentu saja mengalami sendiri sebagian masa-masa getir tersebut.

Dalam usia yang menjelang 85 tahun (pengakuannya sendiri), geraknya masih energik, suaranya masih jelas dan subahanallah ingatannya masih kuat. Dengan sangat lancar beliau menceritakan kesengsaraan rakyat ketika hidup pada masa Belanda dan Jepang. Juga menyayangkan bangsa Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam melimpah ruah ternyata rakyatnya masih banyak yang susah dan menderita.

Beberapa kali bapak itu menepuk-nepuk punggung saya ketika mengomentari kehidupan anak muda saat sekarang. Termasuk juga makin hilangnya kesopanan remaja sekarang. Bapak itu menyayangkan semakin jarangnya penggunaan bahasa jawa halus dalam masyarakat di jawa. Beliau yang bisa sedikit-sedikit bahasa Belanda, Jepang dan Madura menganggap bahasa Jawa cukup efektif untuk mendidik sopan santun anak-anak kepada orang tuannya.

Sebelum meninggalkan saya dan orang-orang yang sedari tadi asyik menyimak ceritannya, ia mengajak kami untuk bersikap seperti dirinya; memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sebagai bangsa Indonesia. Beliau meninggalkan kami dengan empat nasehat agar hidup tenang di masyarakat; jangan merasa sombong, kalau tidak mau disakiti jangan menyakiti, berbuat baik kepada tetangga karena itu saudara terdekat kita dan jangan membeda-bedakan orang karena suku, agama maupun warna kulitnya karena kita sama-sama orang Indonesia. Hemmm.... nasionalis tulen, begitu pikir saya dalam hati.

Saya kemudian teringat dua orang tokoh yang sebaya bapak tersebut, satunya sekarang masih hidup dan satunya sudah lama sekali meninggal. Orang pertama adalah Hugh Hefner pemilik majalah play boy yang saat ini berusia sekitar 83 tahun, sedangkan satu orang lainnya yaitu Abu Ayyub Al-Anshari salah seorang sahabat Rasulullah saw.

Hugh Hefner kita kenal sebagai salah satu penyebar kemaksiatan terbesar di dunia pada era modern. Kakek satu ini yang sekarang tinggal seatap dengan para model tanpa ikatan apapun mulai menjalankan kerajaan bisnis pornografinya pada tahun 1953. Playboy telah berperan sangat penting dalam membawa pornografi ke luar dari kamar tidur dan memasuki ruang publik secara terbuka. Sejak awal memang majalah ini dirancang untuk menjajakan paham kekebasan dalam berperilaku sebagai bagian dari gaya hidup.

Peredaran majalah ini sudah mendunia, termasuk (ironisnya) di negara kita yang penduduknya mayoritas muslim. Pada tahun 2006 majalah playboy harus mencetak 7 juta eksemplar setiap bulannya. Bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang beredar dalam bisnis haram tersebut, termasuk segala pernik-pernik aksesoris pornografi sebagai penunjanngya. Konon untuk mendapatkan hak atau lisensi terbit di tanah air, pengelola playboy Indonesia harus merogoh kocek 1 miliar. Berarti secara kalkulasi bisnis ada keyakinan peredaran majalah ini akan sangat menguntungkan sehingga berani resiko menghadapi segala macam penentangan dari masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin.

Sagat wajar dan menjadi keharusan kalau kita memerangi pornografi dan segala instrumen pendukungnya. Kita menyadari bahwa pornografi sudah seperti candu yang mengandung bahaya besar dan merusak seluruh sendi kehidupan masyarakat khususnya bagi generasi muda, sehingga pemberantasan pornografi harus senantiasa digelorakan setiap saat. Pornografi bisa mengancam kehidupan moral pribadi seseorang yang menyukainya.

Allah swt berfirman “Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, sesungguhnya itu adalah perbuatan nista dan sejelek-jelek jalan.” (Al-Isra`: 32).

Anak-anak remaja paling rentan terhadap bahaya pornografi karena secara psikologi mereka sedang memasuki masa pubertas dengan libido (nafsu seksual) yang berpotensi meledak-ledak, di samping perasaan ingin tahunya yang sangat besar terhadap dorongan biologis itu. Tidak bisa dihitung lagi berapa kali kita mendengar para remaja, pemuda dan mahasiswa melakukan perzinaan setelah terprovokasi adegan-adegan panas dari majalah, surat kabar dan VCD porno.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya dosa kakek Hugh jika tidak bertobat sebelum meninggal dunia. Apalagi orang yang mengawali kemaksiatan akan menerima tambahan dosa dari orang-orang yang mengikuti jalannya bermaksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.” (HR. Muslim).

Orang tua sepuh ketiga yang juga tokoh kaum muslimin adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Sesuai dengan nama belakangnya, beliau berasal dari kabilah Anshar atau penduduk asli Madinah yang menolong kaum Muhajirin yaitu kaum muslimin Makkah yang berhijrah di Madinah.

Rumah beliau sempat menjadi tempat tinggal Rasulullah saw dan keluarganya pada hari-hari pertama di Madinah sebelum di buatkan rumah untuk beliau dan keluarganya di sebelah masjid Nabawi.

Allah swt menganugerahi laki-laki sholeh ini umur cukup panjang 80 tahun lebih. Beliau mengalami masa empat khalifah yang lurus (khulafaurrasyidin) Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Beliau sangat aktif mengikuti perjalanan jihad bersenjata kaum muslimin khususnya setiap usaha membuka kota konstantinopel. Beliau sangat mengharapkan menjadi anggota pasukan terbaik kaum muslimin sebagai kabar nubuwwah Rasulullah Muhammad saw.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya dan sebaik-baik tentara adalah tentaranya”. [H.R. Ahmad bin Hanbal).

Banyak serangan yang dilancarkan para khalifah Islam dalam rangka penaklukan konstantinopel dalam rentang waktu 800 tahun lamanya karena terinspirasi dan termotivasi sabda Rasulullah saw. Namun semuanya mengalami kegagalan sampai penyerangan terakhir yang dilakukan oleh sultan muhammad II dari kekhalifahan Utsmaniyyah yang bergelar muhammad Al-Fatih.
Usaha pertama untuk mengepung Konstantinopel dilakukan pada tahun 34 H. / 654 M masa pemerintahan Usman bin Affan ra. Dia mengirimkan Muawiyah bin Abu Sofyan r.a. dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkannya. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa disebabkan oleh kokohnya pertahanan kota Konstantinopel.

Pada masa kekhilafahan Islam masa Bani Umayah tercatat 2 serangan penting yang dilancarkan Pertama; yang dilakukan pada masa Muawiyah bin Abu Sofyan r.a. sayangnya upaya itu belum berhasi. Kedua; adalah yang dilakukan pada masa Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H . Pada saat itu khalifah mengirimkan pasukan tentara sejumlah 20.000 orang dan sekitar seratus perahu untuk mengepung dan menaklukkan Konstantinopel, namun belum memperoleh apa yang diharapkan.

Dalam usaha penaklukan yang pertama itulah Abu Ayub Al-Anshari syahid. Ketika itu beliau telah berusia 80 tahun lebih. Dalam pertempuran yang sengit di sekitar benteng konstantinopel beliau mengalami luka sangat parah. Sebelum wafat Abu Ayyub sempat berwasiat jika meninggal dunia dalam pertempuran besok paginya, beliau meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa dicapai oleh kaum muslim dari wilayah konstantinopel. Dan para sahabatnya memenuhi permintaan beliau dan berhasil menyelinap untuk memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn. Makamnya sampai sekarang masih ada di Turki.

Hidup adalah masalah dalam memilih karena Allah swt telah memberikan dua alternatif bagi kita; kebaikan atau kefasikan (Asy-Syams ayat 8), telebih hidup itu sesungguhnya adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik amalnya (Al-Mulk ayat 2). Alangkah indahnya kalau kemudian sepanjang waktu yang diberikan kepada kita sebagai kesempatan hidup di dunia penuh dengan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt. Itulah golongan manusia-manusia terbaik.

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabat, “Maukah kalian aku beritahu tentang orang yang terbaik di antara kalian?” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Kata beliau, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling panjang umurnya dan paling baik amalnya.” (HR. Ahmad)

Semoga Allah swt juga memberikan kesanggupan kepada kita untuk mengisi waktu demi waktu keseharian dengan lebih banyak mengerjakan kebaikan. Jangan sampai pertambahan usia kita justru menambah banyaknya jumlah kesalahan yang kita kerjakan. Bukankah semua kelak akan kita pertanggung jawabkan di mahkamah pembalasan?

| edit post

kita ini masih muda, mas…

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

“Saya minta bantuannya karena anak saya mengaku stress, depresi, sumpek, tertekan dengan teman, guru dan linkungannya. Saya berniat siang ini berangkat ke sana untuk berbicara dengannya. Saya khawatir karena sebentar lagi ujian. Saya sebaiknya bagaimana?”

Begitu sebagian penggalan dialog saya dengan seorang ibu lewat ponsel kemarin pagi. Sembari memberikan beberapa saran yang menurut saya baik untuk menenangkannya, saya berjanji membantu ibu itu untuk ngobrol dengan putranya. Saya meminta beliau untuk menghubungi saya beberapa hari lagi.

Tadi pagi saya duduk berdua berhadap-hadapan dengan putra si ibu itu di sebuah ruangan. Awalnya si anak tidak mengaku kalau dirinya sedang tidak stabil. Bahkan meskipun ia bercerita beberapa hal tentang dirinya, ada yang ia sembunyikan. Sayapun tidak memaksanya.

Setelah ia bercerita, saya sampaikan hal-hal yang menurut saya penting untuk diketahuinya. Paling tidak secara teori ia memiliki landasan dalam menyikapi kondisi dirinya. Alhamdulillah, ia tetap sabar mendengar kalimat demi kalimat yang saya sampaikan.

Kurang lebih 15 menit saya menyampaikan tentang apa itu stress, penyebab dan kira-kira solusi apa yang sebaiknya dilakukan orang yang sedang dalam kondisi tersebut. Ia mengangguk dan menyanggupi beberapa permintaan saya untuk ia lakukan terkait dirinya serta orang tua yang menyayanginya.

Saya semakin percaya kesimpulan banyak orang yang mengatakan kalau remaja dan pemuda sekarang gampang down ketika menghadapi persoalan sedikit rumit. Nampaknya predikat sebagai generasi instant yang pingin serba cepat, pingin enak terus dan ogah sedih semakin menemukan kebenarannya.

Mereka terjebak dalam perangkap kehidupan pop ala televisi dan majalah-majalah remaja tiruan barat. Live is for fun, life is easy going, just for happy, free style dan ungkapan yang sejenis mewakili gambaran kehidupan yang mereka inginkan. Kampanye yang setiap hari mereka ikuti dengan sadar ataupun tidak, berhasil mengubah bangunan karakter yang harusnya dimiliki sebagai pewaris negeri.

Akibatnya ketika persoalan yang sebenarnya tidak seberapa, seakan-akan seperti memikirkan masalah orang satu kampung. Ditambah lagi dengan minimnya upaya untuk mencari solusi-solusi alternatif supaya masalahnya selesai. Ia hanya menunggu orang-orang di sekitarnya membantu untuk menyelesaikan masalahnya. Pasif dan menunggu.

Meskipun tidak semua anak muda berkarakter seperti itu, namun wabah itu terasa semakin menyebar ke mana-mana. Tidak ketinggalan pula menghinggapi generasi muda Islam. Mungkinkah amanah perjuangan umat ini diserahkan kepada mereka yang bertipologi seperti itu? Bukankah pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan?

Perjalanan panjang kehidupan manusia sudah mengajarkan pentingnya peran sosok para pemuda dalam kebangkitan sebuah masyarakat, bangsa ataupun peradaban. Energi besar yang berkumpul dalam diri mereka merupakan modal luar biasa jika mampu memaksimalkannya.

Bukankah para pendahulu kita generasi muslim pertama para pembela Rasulullah saw sebagian besar adalah anak-anak muda. Ada Ali dan Ja’far bin Abi Thalib serta Zubair bin Awwam yang masih berusia 8 tahun, Arqam bin Abi Arqam 16 tahun, Shahih Ar Rumy 19 tahun, Zaid bin Haritsah 20 tahun, Saad bin Abi Waqqash 17 tahun, dan Utsman bin Affan 17 tahun.

Bahkan Rasulullah saw mengangkat Usamah bin Zaid ketika berusia 18 tahun sebagai panglima perang menghadapi negara adi kuasa Romawi. termasuk Umar bin Khatab yang sering mengajak Abdullah bin Abbas mengikuti rapat-rapat kenegaraan karena kecerdasan dan kefaqihan ilmu agamanya.

Bagaimana dengan remaja dan pemuda Islam hari ini? Saatnya unjuk prestasi!!!




| edit post

dua minggu yang “mempesona”

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah. Hari ini masuk dua tahun usia Abdurrahman Ahmad Hanafi, orang biasa memanggilnya Hanafi. Seorang bocah kecil yang diharapkan menjadi anak soleh, permata keluarga, masyakarat tempat ia tinggal dan umat secara keseluruhan (al-Baqarah:128, 132). Doa itu menjadi bagian wirid harian kedua orang tuanya karena menyadari tantangan kehidupan mendatang jauh lebih sulit dan kompleks. Hanya inayah dan maunah Allah swt yang bisa menjaga anak ini berjalan dan tetap istiqomah menapak tilasi perjalanan Rasulullah saw, para sahabat beliau dan orang-orang sholeh yang memperjuangan Islam.

Seperti anak-anak lainnya, diantara masa paling krusial bagi dirinya adalah ketika usianya beranjak memasuki dua tahun. Krusial karena usia dua tahun adalah batas masa ia boleh mengkonsumsi ASI (Air Susu Ibu) (al-Baqarah ayat 233). Meski bukan satu-satunya menu makanan yang dikonsumsi seorang anak, namun aspek psikologis-batin antara ibu dan anak membuat ASI menjadikan ASI semacam ketergantungan bagi sebagian besar anak.

Para ahli tentang bayi dan anak menyarankan agar hati-hati serta waspada memperlakukan anak ketika menjelang dan setelah masa menyapih. Jika tidak hati-hati, gangguan psikologis yang dialaminya akan berpengaruh terhadap diri si anak sampai usia dewasa. Wah… mengerikan sekali kayaknya.

Berdasarkan informasi itu dan cerita dari teman-teman yang sudah pernah mengalaminya, saya berusaha melihat lebih jelas perkembangan psikologi Hanafi. Meski dengan variasi problem psikologi yang berbeda, namun informasi dari mereka memang saya lihat.

Hanafi yang sebelumnya relatif periang dan suka main sendiri, menjelang dan setelah di stop ASI nya nyaris berubah drastis. Gejala yang nampak adalah ia menjadi suka marah, terutama ke uminya. Tidak jarang ketika sedang ketagihan ASI dan tidak di turuti, tangan dan kakinya berusaha dilayangkan ke tubuh uminya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.

Begitu pula ketika bermain. Ia ingin selalu ditemani, khususnya oleh abinya. Padahal abinya harus bekerja sehingga kadang-kadang suasana psikologis kedua pihak sama-sama bermasalahan. Belum lagi permintaan-permintaan yang terkesan mengada-ada semakin menguji kesabaran abi dan uminya. Sepertinya ia meminta perhatian lebih sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan yang dirasakannya karena berhenti mengkonsumsi ASI.

Alhamdulillah setelah hampir dua minggu, suasana pun relatif membaik. Perlahan-lahan Hanafi mulai bisa menerima kenyataan yang memang harus ia terima. Tingkah lakunya mulai tenang kembali meskipun kadang-kadang letupan-letupan kecil masih muncul. Hikmah tersendiri bagi kami barangkali dia mulai suka minum susu tambahan dan makan nasi, dua benda yang sebelumnya sangat ia tolak.

Meski setiap anak memiliki karakter berbeda, mungkin pengalaman yang saya alami sedikit membantu. Berikut kiat-kiat ketika menyapih bayi kita yang merupakan rangkuman informasi dan nasehat orang-orang serta pengalaman pribadi. Semoga bermanfaat.

Kiat-kiat dalam menyapih bayi.

pertama, lakukan secara bertahap, misal mengurangi kebiasaan si anak menyusu dari 5 kali menjadi 3 atau 4 kali sehari.
kedua, komunikasikan dengan si anak. Meskipun masih kecil anak mulai bisa memahami kemauan kita apalagi kalau dilakukan secara terus menerus.
ketiga, ajak anak melakukan kegiatan lebih banyak dari hari-hari biasanya supaya perhatiannya teralihkan seperti bermain, membaca buku cerita atau aktifitas lainnya.
keempat, oleskan sesuatu yang pahit, asin atau obat merah pada jalur keluarnya ASI. Bisa juga menutupnya dengan plester sehingga ketika anak meminta dengan sendirinya merasa tidak enjoy.
kelima, partisipasi ayah juga sangat penting karena pada sebagian anak akan tidak menyukai ibunya untuk beberapa lama khususnya sebelum ia bisa menerima kenyataan tersebut.
keenam, jika sudah berjalan proses penyapihan, jangan kembali memberi anak ASI apapun alasanya karena akan mempersulit proses penyapihan lanjutan. Anak saya pernah drop sampai terjadi dehidrasi sehingga uminya kasihan dan kembali memberi dia ASI. Akibatnya ketika anaknya sudah sehat dan melanjutkan proses penyapihan, reaksi anak jauh lebih hebat.
ketujuh, jangan mengalihkan ASI ke botol bayi atau kempeng karena akan melahirkan ketergantungan baru dan juga banyak efek negatif yang menyusul.
kedelapan, tidak lupa juga tentunya berdoa kepada Allah swt supaya proses ini berjalan dengan baik dan si anak tidak mengalami gangguan psikologi yang lama dan berbahaya. selamat menikmati pengalaman yang mempesona.




For mas syeif yang lagi cari ilmu di negeri orang jangan lupa selalu doanya untuk hanafi dan juga... kadonya. .:D

| edit post