RSS
Tampilkan postingan dengan label pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendek. Tampilkan semua postingan

mengapa anak merokok?

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pertanyaan itu mungkin aneh untuk saat ini. Fenomena anak merokok adalah hal yang lumrah terlihat di sekeliling kita. Tidak hanya tingkat anak "tanggung" yaitu seusia pelajar sekolah menengah, tapi juga sudah merambah ke anak-anak sekolah tingkat dasar. Semoga saja tidak merembet ke anak-anak usia pra sekolah, musibah besar!!!!

Namun tetap saja membuat hati tidak nyaman melihat dan menyaksikan tangan-tangan yang masih kelihatan belum kokoh tersebut sudah terselip sebatang rokok di sela-sela jarinya. Nggak tega rasanya. tidak jarang terbersit pikiran "apa sih enaknya merokok?", "sudah tidak enak, merusak lagi!". Begitu barangkali lintasan-lintasan ungkapan muncul secara spontan dalam pikiran melihat fenomena banyaknya generasi masa depan umat terperangkap dalam gaya hidup yang keliru. Bahkan fatwa haram dari MUI pun tidak mampu mengerem hasrat mereka mengkonsumsi barang terlarang tersebut.

Banyak alasan seseorang atau seorang anak menjadi perokok. Namanya juga alasan bisa beneran atau juga sekedar kambing hitam karena sudah terlanjur kecanduan "Tuhan 9 centi" tersebut. Tuhan 9 centi merupakan ungkapan Taufik Ismail dalam puisinya untuk menyindir tentang ketaatan para perokok terhadap "berhalanya" tersebut.

Lalu kenapa seorang anak jadi perokok?
Paling tidak ada tiga alasan yang bisa disebutkan disini, tentu saja alasan-alasan berikut ini bisa ditambahi sendiri. Penyebab pertama seorang anak merokok karena orang tuanya adalah perokok. Betapa tidak akan tergoda untuk mencoba jika setiap hari seorang anak menyaksikan orang tuanya asyik melahap rokok di depan matanya. Nampaknya lezat, begitu barangkali awalnya dalam pikiran si anak melihat gumpalan-gumpalan asap keluar dari mulut bapaknya. Akhirnya bisa ditebak, lambat laun sang anak menapaki jejak yang sama dengan bapaknya menjadi "ahli hisab"

Disamping orang tua, teman dan lingkungan pergaulan bisa juga mempengaruhi seseorang menjadi perokok. Berteman dengan perokok merupakan faktor kedua yang mungkin bisa menyebabkan seorang anak merokok. Meski tidak ada anggota keluarganya yang merokok, namun karena setiap hari berkumpul dengan anak-anak yang sebaya bisa menyebabkan seseorang menjadi perokok.

Melihat teman-temannya nampak macho ketika merokok plus puluhan kali rayuan untuk mencoba satu atau dua hisapan biasanya cukup ampuh meruntuhkan daya tahan seorang anak yang sebelumnya tidak merokok. Awalnya mungkin sekedar iseng mencoba, sungkan menolak ajakan atau menghormati teman. Namun karena setiap hari begitu tidak butuh waktu lama untuk membuatnyapun menjadi pecandu.

Penyebab yang ketiga mengapa anak merokok adalah salah mempersepsikan rokok. Bagi anak-anak yang merokok tidak jarang merasa dengan merokok dirinya sudah dewasa. Dengan kata lain merokok merupakan simbok kedewasaan bagi seseorang, khususnya anak laki-laki. Persepsi yang ngawur tersebut dianut sebagian anak-anak dan remaja yang menjadikan rokok sebagai bagian dari gaya hidupnya.

Masih banyak penyebab yang mungkin dijadikan alasan seorang anak sehingga ia merokok. Bisa jadi karena tidak memiliki prestasi yang layak dibanggakan dalam lingkup sekolahnya baik akademik maupun non akademik sehingga merokok supaya bisa sedikit bangga di depan teman-temannya. Bisa pula beralasan sering stress karena masalah ini dan itu sehingga perlu merokok beberapa batang sebagai sarana refreshing sesaat. Dan bla... bla.... bla.....

Akhirnya, berhenti sajalah yang sudah menjadi barisan perokok berapapun usianya, apapun profesinya dan dimanapun berada. Jangan kembali menjadi orang yang buta huruf sehingga peringatan dari pemerintah di setiap bungkus rokok tidak terbaca. Masak memiliki pikiran kalau badanya terbuat dari besi sehingga tidak akan keropos terkena racun dari setiap asap yang dihisap dari batang rokok? Itu sih kelewatan.

| edit post

Memadukan kepentingan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Desain awal musyawarah adalah untuk menyelesaian permasalahan, mensikronkan semua hal yang belum nyambung dan memberikan keputusan final terhadap hal-hal yang masih mengambang. Maka semua argumentasi, dalil, alasan dan sebab akibat akan dikeluarkan sehingga menemukan solusi atau jalan keluar dari permasalahan. Tentu saja akan menimbulkan diskusi menarik apabila semua peserta berfikir keras memeras otak dan menggali penggalaman pribadi ataupun orang lain sebagai acuan peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu

Repotnya memang terkadang dan tidak jarang diskusi berkembang menjadi debat panas penuh nuansa persaingan kepentingan dengan ide serta argumentasi masing-masing. Kualitas pemimpin forum mutlak menentukan lancar tidaknya alur diskusi, atau bahkan tidak lebih dari debat kusir tanpa arah dan keputusan.

Biasanya forum musyawarah akan menjadi hangat apabila masing-masing pihak memegang erat prinsipnya tanpa mau berkompromi dengan pihak lain. Disitulah masalahnya. Padahal musyawarah dibuat untuk memadukan semua kepentingan pribadi atau kelompok menjadi kepentingan bersama. Memangkas semua ambisi setiap kelompok menjadi ambisi bersama seluruh peserta musyawarah.

Tidak masalah kalau memang harus terjadi debat panas dengan suara yang cukup keras, mata melotot atau bahkan sambil berdiri untuk memberikan penekanan pada argumentasinya. Asalkan kepala dan hati tetap dingin, dan senyum masih terkembang lebar di bibir masing-masing. Karena lebih baik semua uneg-uneg terlontar di forum resmi daripada gerundel dibelakang. Hal itu merupakan kebiasaan yang kurang baik.

Kuncinya pada pengendalian emosi dan kepentingan masing-masing. Jika tidak mampu mengerem itu semua akibatnya bisa fatal. Kita tidak sedikit kali mendengar rapat nasional sebuah organisasi baik pemuda maupun orang dewasa terjadi adu jotos, lempar-lemparan kursi, jual beli kata-kata kasar atau umpatan dan sebagian memilih aksi walk out keluar sidang. Langkah selanjutnya biasanya muncul kepengurusan tandingan dari organisasi tersebut. Rasanya tidak sekali dua kali kita mendengar dan melihat fenomena seperti itu di masyarakat.

Bahkan seorang teman pernah bercerita tentang serunya suasana rapat yang ia ikuti dari sebuah lembaga mahasiswa Islam beberapa tahun silam. Acara rapat yang dibarengi dengan angkat dan banting kursi, kata-kata kurang baik hampir menjadi pemandangan wajib. What a shame!!!

Lebih ironis lagi jika salah seorang peserta rapat yang memang orang cukup baik dan memiliki pemahanam Islam cukup baik pula mencoba untuk berdalil dengan ayat-ayat al-Qur’an atau menenangkan peserta rapat supaya suasana lebih kondusif, tidak jarang akan diejek peserta rapat lainnya. Misalnya beberapa dari mereka akan berkata “kalau ceramah di masjid saja mas”, atau bahkan akan berteriak-teriak seperti orang kesurupan “panas, panas. kita kan jin dengar ayat Qur’an pasti kepanasan” sambil melompat-lompat di tempatnya. Nau’dzubillah.

Jika sudah seperti itu musyawarah bukan sesuatu yang menarik dan produktif lagi. Kalau tujuan awalnya adalah untuk mencari solusi, hasilnya justru menimbulkan masalah-masalah baru. Perang batin, perang perasaan, perang dingin antar pihak-pihak tertentu dan perang-perang lainnya.

Sehingga idealnya setiap kita harus siap lebih dahulu untuk berbagi kepentingan dengan orang lain sebelum menghadiri atau masuk ke sebuah ruangan untuk bermusyawarah. Siap untuk memberi dan menerima. Memberikan usul dan solusi serta menerima keputusan terbaik yang disepakati bersama pula.

Penyiapan diri tentu lebih baik sehingga timbul perasaan tidak selalu merasa benar ide dan pikirannya, tidak mesti menang kemauannya dan motivasi untuk selalu menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Padahal itu yang paling penting namun tidak jarang malah terkubur oleh ego dan ambisi sebagian peserta musyawarah.


| edit post

Selalu berbaik sangka

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Tidak enak rasanya dibohongi seseorang. Apapun alasannya, pasti menyakitkan. Rasa sakit itu butuh waktu untuk sembuh. Tapi itu fitrah manusia dan demikianlah adanya, kecuali bagi manusia-manusia khusus seperti Rasulullah saw dan peneladan sifat-sifat beliau. Namun untuk menjadi seperti itu memang berat dan tidak banyak orang bisa melakukannya.

Ternyata ada cara untuk lebih mempercepat proses keseimbangan jiwa dan rasa setelah dibohongi orang. Cara itu adalah membiasakan diri berbaik sangka, kepada siapapun dan kapanpun. Selalu menyiapkan alasan untuk membetulkan sikap orang lain terhadap dirinya.

Kalau selama ini umumnya orang selalu mencari kambing hitam dari si pelaku atau sang pembohong, cara ini sebaliknya. Ia selalu mencari alasan untuk membenarkan tindakan seseorang sehingga berbohong kepada dirinya. Se imposible apapun alasannya akan selalu di cari dan dibenarkan sendiri. Betapa susahnya…!!!

Maka kalimat pemakluman selalu terlontar dari lisannya setiap kali orang meminta maaf atas perbuatannya yang tidak pas atau tidak tepat. Misalkan tidak datang ketika janjian bertemu, ia akan menerima jika si penjanji itu beralasan tidak datang karena pekerjaan, cuaca, kendaraan, keluarga maupun kesehatan. Everything is ok!

Bahkan ketika orang yang berjanji itupun tidak datang dan tidak memberikan alas an, iapun masih mencari alasan untuk membenarkan ketidak datangan orang tersebut. Subhanallah. Bisakah kita senantiasa seperti itu?

Begitupun ketika ia membeli barang namun tidak sama dengan promosinya. Ini contoh lainnya. Tidak serta merta ia mengecam dan menghujat si penjual, sebaliknya ia lebih dulu introspeksi dengan dirinya. Kenapa ia ceroboh, kenapa kurang teliti dan kalimat-kalimat sejenis untuk menunjukkan bahwa sebenarnya dirinyalah yang lebih bersalah dibanding si penjual barang yang berbohong tersebut. Luar biasa.

Konon prinsip ini mampu membuat seseorang selalu bersikap positif kepada orang lain; khususnya orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Dengan pikiran positif tersebut maka semangat hidupnya terjaga bahkan meningkat. Endingnya tentu saja prestasi hidupnya senantiasa meningkat setiap waktu. Jikapun tidak meningkat akan tetap stabil tidak turun ataupun menemui kegagalan.

Sayangnya saya belum bisa berfikir dan bertindak seperti itu. Berat sekali ketika mencobanya. Semoga anda bisa melakukannya dengan lebih baik. Amiiin.


| edit post

rindu kami padamu ya rasul

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Bagaimana cara mengenang hari kelahiran Rasulullah saw? Apakah dengan seminar, diskusi, pengajian atau dengan cara-cara yang masih lazim di pedesaan seperti kenduri di mushola atau masjid sambil membaca diba’ atau barzanji? Atau barangkali dengan kegiatan jalan sehat seperti di lingkungan tempat saya tinggal, atau mungkin ada cara yang lain?

Bagi sebagian umat Islam memang tidak menganjurkan peringatan ini karena masuk dalam kategori bid’ah yaitu mengada-adakan hal-hal baru dalam beribadah. Mereka menghindarinya karena ancamannya jelas; neraka. "Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebagus-bagusnya tuntunan adalah tuntunan Muhammad dan urusan yang paling jelek adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya) di neraka." (HR. Muslim).

Bagi sebagian yang lain juga menghindari kegiatan tersebut supaya tidak masuk kategori tasabuh bil kuffar karena apa bedanya memperingati kelahiran nabi Muhammad saw dengan natal pada umat nasrani? Mereka bersandar kepada hadist Rasulullah saw: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR. At-Tirmidzi). Meskipun argumentasi itu kemudian juga ada yang membantah dan menjadi polemik.

Lalu harus bagaimana?

Mencintai Rasulullah muhammad saw adalah sebuah keharusan bagi setiap muslim. Kecintaan kita kepada beliau menempati ranking kedua ungkapan cinta setelah mencintai Allah swt. Dengan kata lain kecintaan kita kepada Rasulullah saw di atas kecintaan kepada diri sendiri dan keluarga. Imam Muslim pernah meriwayatkan sebuah hadits dari Anas ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: " Tidak sempurna iman kalian sampai ia mencintai saya lebih dari cintanya terhadap kerabatnya, hartanya dan semua manusia ".

Setelah meletakkan kesadaran tersebut ke dalam bagian terdalam diri kita, maka selanjutnya mengimplementasikan cinta itu dalam wujud nyata. Paling tidak ungkapan cinta kepada Rasulullah saw dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk seperti banyak menyebutnya, mengikuti sunnahnya, dan juga menegakkan risalahnya di di atas bumi yang Allah ciptakan ini.

"Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bersholawat atas Nabi, Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu semua atas Nabi dan bersalamlah kamu dengan salam yang sebenar-benarnya" (al-Ahzab ayat 56).

Termasuk kriteria orang pelit dalam kaca mata Islam adalah apabila disebut nama beliau tidak menjawab. Rasulullah saw bersabda “Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, namun ia tidak bersholawat kepadaku” Hadits riwayat Ahmad.

Tidak hanya ungkapan lewat lisan saja. Kecintaan itu perlu juga diperlihatkan secara riil dalam gerak dan aktifitas. Mencintai nabi berarti mengerjakan apa-apa yang beliau contohkan. Allah swt berfirman: Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (al-Hasyr ayat 7).

Kalau hal-hal di atas masih dianggap berat, silahkan memakai ukuran lebih sederhana berikut. Jika terdengar suara adzan berkumandang sementara kita sedang bekerja, apakah yang akan kita lakukan?

Kalau kita enjoy saja tetap bekerja bahkan iqomah selesai pun masih tidak bergerak menuju rumah Allah, berarti cinta sejati belum bersemayam di dalam hati. Namun apabila yang terjadi sebaliknya, maka rasa itu kita syukuri dan harus senantiasa kita jaga dengan baik.

Teringat saya akan sebuah lagu lawas milik Bimbo tentang kerinduan mereka kepada Rasulullah saw. Semoga kita serindu lirik-lirik lagu di bawah ini.

Rindu kami padamu

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini


| edit post