RSS
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

menyemai generasi Qur’ani

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim


Tidak ada obsesi lebih tinggi bagi seorang muslim kecuali berusaha menjadikan dirinya, lingkungannya dan masyarakatnya seperti kondisi pada masa kehidupan Rasulullah saw beserta para sahabat. Itu adalah idealisme tertinggi yang ingin di raih, mengulang masa terbaik dari umat Islam semenjak kemunculannya sampai hari akhir kelak.

Semangat itu yang senantiasa bersemayam di dalam relung hati pribadi-pribadi muslim yang baik. Mereka tidak kemudian larut dalam kekaguman berlebihan dengan peradaban barat yang saat ini menjulang tinggi menjadi barometer kehidupan manusia modern. Mereka menyadari meskipun kelihatan perkasa namun sesungguhnya bangunan peradaban barat itu rapuh secara spiritual dan moral.

Peradaban barat yang merupakan kelanjutan peradaban Yunani dan Romawi memang bernafaskan materialisme sehingga kering dari aspek-aspek spiritualitas. Semakin maju mereka akan merasa semakin kering dan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Karenanya wajar kalau kemudian kasus kejahatan dan kebobrokan moral berjalan seiring dengan kemajuan peradaban mereka.

Lalu apa rahasia yang membuat kondisi masyarakat pada saat Rasulullah saw dan para sahabat hidup menjadi begitu istimewa dan menjadi matsaul ‘ala bagi kaum muslimin?

Rahasia itu ada pada al-Qur’an. Tidak ada lainnya. Kesungguhan mereka melaksanakan al-Qur’an membuat generasi mereka berbeda dengan generasi manapun sesudahnya. Mereka adalah generasi Qur’ani yaitu sekumpulan manusia yang benar-benar menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman, panduan dan barometer dalam kehidupan.

Sayyid Qutb dalam bukunya petunjuk jalan (ma’alim fit thoriq) menyebut mereka sebagai generasi Qur’ani yang unik. Beliau memberi tiga ciri bagi generasi Rasulullah saw dan para sahabat.

Ciri pertama, Mereka hanya mengambil satu sumber saja sebagai sumber pemikiran, kemasyarakatan dan peradaban. Sumber itu adalah wahyu Allah swt yaitu al-Qur’an. Mereka tidak mengambil sumber yang lain selain itu. Mereka menolak semua paham-paham buatan manusia meskipun kelihatan menarik dan menguntungkan. Bagi mereka tidak ada sumber kebenaran dan kebaikan selain al-Qur’an. Cukup al-Qur’an, tinggalkan yang lain.

Ciri kedua adalah totalitas penerimaan terhadap al-Qur’an. Para sahabat tidak membaca al-Qur’an sebatas untuk mencari ilmu saja, atau mengagumi keindahan tafsir serta sastranya. Mereka menerima al-Qur’an seperti seorang prajurit yang menerima perintah harian dari komandannya. Maka dengan penuh keseriusan mereka melaksanakan perintah hati dengan seluruh hati, pikiran dan perasaan mereka.

Tidak pernah otak mereka merasa lebih pintar dari pada isi al-Qur’an sehingga merasa layak menganggapnya produk budaya masyarakat kuno yang primitif. Tidak pernah mereka memilah-milih mana yang pas dengan kepentingan mereka dan mana yang menganggu kesenangan mereka.

Sebagai satu contoh adalah ketika Allah swt mewahyukan kepada Rasulullah saw surat Al-Maidah ayat 90-91 yang berisi pengharaman khamr (minuman keras). Maka secara spontan selokan kota Madinah penuh dengan khmar. Kaum muslimin berlomba-lomba membuang seluruh simpanan khamr di rumahnya.

Para pedagang yang sebelumnya menjual khamr juga langsung membuang seluruh barang dagangannya. Tidak ada raut muka sedih dan menyesal karena kehilangan pekerjaannya. Dalam pikiran mereka yang ada hanyalah bagaimana bisa sesegera mungkin melaksanakan perintah Allah swt dan RasulNya.

Meskipun kebiasaan meminum khamr sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat Arab ketika itu namun karena Allah swt dan RasulNya yang memerintahkan tanpa ada satu pertanyaanpun perintah tersebut langsung dilaksanakan.

Ciri ketiga adalah totalitas mereka dalam memeluk Islam. Setelah meninggalkan jahiliyah menuju Islam, tidak ada keinginan mereka sedikitpun untuk kembali kepada masa lalu sedikitpun. Ketakutan mereka untuk menengok masa jahiliyah seperti ketakutan orang yang masuk ke dalam jurang dan tidak bisa kembali lagi. Mereka kaffah untuk masuk dan melaksanakan syariat Islam.

Maka wajar kalau kemudian ketika itu seakan tidak ada jarak antara penghuni bumi dengan penghuni langit. Tidak berlebihan jika pertolongan Allah swt selalu datang kapan saja Rasulullah saw dan para sahabat membutuhkannya. Manusia-manusia seperti itu kemudian mencerahkan dunia dengan Islam dan memimpin dunia dalam kebaikan dan kebenaran sesuai perintah Allah swt pemilik alam beserta segala isinya.

Abu Hasan Al-Hasany An-Nadawi, seorang ulama dari India, dalam bukunya kerugian dunia akan kemunduran Islam mengatakan sangat layak ketika itu kalau kemudian umat Islam tampil menjadi mercusuar peradaban manusia. Ada empat alasan menurut An-Nadawi sehingga umat Islam ketika itu layak menjaid penguasa dunia.

Pertama, kaum muslimin membawa kitab suci dari langit. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah swt yang diturunkan kepada manusia melalui Rasulullah saw sebagai aturan dalam kehidupan. Karenanya adalah sebuah kepastian akan kebenaran isi dan kandungannya. Maka siapa saja yang berusaha melaksanakannya dengan penuh kesungguhan, akan mendapatkan bantuan Allah swt untuk mencapai kemenangan yang diidamkan.

Kedua, tidak ada kepemimpinan dan hukuman dalam Islam kecuali mengajarkan pendidikan akhlaq dan kesucian hati. Tidak pernah ada diantara mereka keinginan untuk saling merebut masalah harta, jabatan maupun urusan duniawi lainnya. Sebaliknya mereka saling menjauh dan manghindar dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut. Generasi didikan Rasulullah saw adalah manusia-manusia yang tawadu’, zuhud, amanah dan bijaksana.

Ketiga, mereka berjuang dan berbakti bukan untuk satu bangsa, ras ataupun golongan. Mereka mencurahkan semua tenaga dan pikirannya semata-mata untuk mengajak manusia meng Esakan Allah swt. Kaum muslimin mengajak manusia untuk keluar dari penyembahan kepada sesama manusia kepada penyembahan Dzat yang Maha kuasa, mengajak manusia dari kesempitan hidup kepada keadilan hidup dalam naungan Islam.

Keempat, mereka membawa ajaran yang sempurna. Islam menyeimbangkan antara jasmani dan rohani, fisik dan ruh, kehidupan dunia dan akhirat. Sehingga konsep itu membuat manusia-manusia ketika itu yang sedang terkungkung budaya kejahilan merasa menemukan cahaya untuk membimbing dirinya menemukan kemanusiannya yang sejati.

Apa yang harus kita lakukan sekarang?

Apa sesungguhnya yang membedakan generasi Rasulullah saw dan para sahabat dengan generasi kita? Semua sepakat bahwa sesuatu yang menjadikan mereka unggul dan mulia karena al-Qur’an mereka praktekkah dalam kehidupan sehari-hari. Turunnya al-Qur’an telah merubah bangsa yang semula bukan siapa-siapa dalam percaturan peradaban dunia menjadi bangsa yang mengatur dan menentukan perjalanan manusia selama beberapa abad.

Ketika itu para sahabat mempelajari al-Qur’an untuk menerima perintah Allah swt. Apabila mereka membaca sebuah ayat maka yang terbayang dalam pikirannya ayat tersebut merupakan perintah dari Allah swt untuk dilaksanakannya saat itu juga. Maka urusan pribadinya, keluarganya dan masyarakatnya semuanya dikembalikan kepada apa kata al-Qur’an. Wajar kalau kemudian bantuan, pertolongan dan perlindungan Allah swt senantiasa memayungi kehidupan mereka.

Berbeda dengan generasi kita sekarang. Mayoritas orang mempelajari al-Qur’an hanya terbatas sebagai ilmu saja. Mereka membaca, menghafal dan mempelajari tajwid ataupun tafsir hanya sekedar ingin mengetahui keindahan sastranya. Mereka mengaguminya tapi tidak melaksanakan perintah-perintah yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ada orang yang mengajak untuk melaksanakan isinya ia menolak dan berkilah bahwa perintah itu hanya untuk orang-orang yang hidup 15 abad lalu.

Akibatnya al-Qur’an tidak lagi menjadi pedoman, imam ataupun undang-undang. Ia hanya sebuah buku yang memuat cerita kehidupan orang-orang zaman dulu yang tidak relevan dengan kehidupan sekarang. Dan bisa dipastikan selama mayoritas umat Islam masih berfikir dan bersikap begitu, sulit rasanya membayangkan sistem Islam akan kembali mengatur dunia.

Karenanya sebagai orang-orang yang menginginkan dan memimpikan lahirnya kembali generasi seperti itu perlu kesungguhan untuk mendekatkan diri kepada al-Qur’an. Kedekatan secara pribadi maupun mendekatkan keluarga dan masyarakat kita dengan kitab suci tersebut. Semakin dekat setiap muslim dengan al-Qur’an maka sedekat itulah harapan kejayaan Islam kembali hadir mengembalikan kedamaian ke seluruh penjuru dunia.

Dalam level keluarga yang bisa kita lakukan tentu saja membiasakan anggota keluarga berinteraksi rutin dengan al-Qur’an. Interaksi dilakukan secara pribadi dengan mengaji setiap hari maupun kegiatan-kegiatan keluarga seminggu sekali untuk mengkasi al-Qur’an.

Khusus anak-anak, proses pengenalan bisa dilakukan sejak ia masih janin dalam kandungan. Biasakan untuk memperdengarkan suara bacaan al-Qur’an, baik oleh orang tuanya maupun orang lain termasuk media perekam. Kebiasaan tersebut dijaga setelah ia lahir. Jika anak akrab dengan al-Qur’an sejak dini maka Insya Allah keakraban itu akan semakin kuat ketika ia dewasa nantinya.

Proses pengakraban secara fisik itu kemudian kita tidak lanjuti dengan aktualisasi nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan setiap hari. Kita ajak keluarga untuk sedikit demi sedikit menjalankan apa-apa yang Allah swt perintahkan dan larang melalui al-Qur’an. Jadi ada proses pembelajaran secara langsung; teori dan praktek nyata.

Apabila banyak keluarga muslim melakukan upaya untuk mengakrabi al-Qur’an, tentu akan menjadi fenomena masal di tengah masyarakat. Dalam skala lebih besar ada upaya bersama untuk menjaga kelangsungan hidup lembaga-lembaga pendidikan al-Qur’an pada tingkat anak-anak, remaja maupun dewasa.

Derasnya arus budaya pop mengurangi minat generasi muda Islam untuk menjadi para pembelajar al-Qur’an, termasuk penghafalnya. Peran aktif umat sangat diharapkan untuk menjaga keberlangsungan lembaga-lembaga seperti TPA, TPA, pesantren tahfidz dan lembaga sejenisnya.

Tentu saja yang tidak boleh ditinggalkan adalah upaya kaum muslimin untuk mengaplikasikan nilai-nilai al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Ada upaya bersama untuk mengamalkan ajaran al-Qur’an dalam lingkup pribadi, keluarga, bersosial masyarakat, setiap aspek kehidupan dan juga berbangsa serta bernegara.

Harapannya tentu saja semua upaya manusiawi tersebut mendapat hidayah dan mau’nah dari Allah swt. Jika itu terjadi akan klop antara usaha bumi dan kehendak langit, maka kejayaan Islam semakin mendekati kenyataan. Amiin.

| edit post

Membangkitkan Islam dengan Manhaj Nabawi.

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Bagaimana membangkitkan kembali peradaban Islam yang sedang berada di bawah bayang-bayang peradaban barat yang kafir?

Kita ingat bahwa perjuangan dakwah Rasulullah saw tidak bertumpu kepada kekuasan, ekonomi, ataupun aspek-aspek kehidupan lainnya. Beliau pernah mencoba cara-cara itu untuk memperbaiki masyarakatnya, namun tidak berhasil.

Dalam bidang politik beliau pernah mencoba ketika terjadi peristiwa peletakkan Hajar Aswad. Ketika semua suku dan kabilah sudah menghunus pedang, kuda-kuda perang sudah dilepas dari kandangnya dan setiap prajurit sudah menyiapkan jiwa dan raganya untuk kehormatan kaum, Muhammad saw melakukan sebuah terobosan politik yang luar biasa jeniusnya.

Meskipun mendapatkan mandat secara penuh untuk memutuskan pengembalian Hajar Aswad ke tempatnya, beliau mengajak seluruh ketua kabilah mengangkat batu itu bersama-sama. Makkah terhindar dari banjir darah. Tapi hanya begitu saja, setelah itu semua kembali kepada kebiasaan lama mereka. Hanya saja kemudian mereka memberi gelar kepada beliau Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Begitu pula dalam bidang sosial ekonomi. Rasulullah saw dikenal sebagai seorang penyantun, suka menyambung tali silaturrahim dan membebaskan budak. Bahkan salah seorang budak itu kemudian beliau angkat menjadi anak beliau yakni Zaid bin Haritsah. Namun kebijakan-kebijakan itu juga belum mampu mengubah sruktur keyakinan dan perubahan masyarakat Quraisy secara keseluruhan. Ternyata bukan itu semua solusi permasalahan bagi kaumnya.

Beliau kemudian mengasingkan diri, berlari, mengungsi dan menjauhi masyarakatnya untuk merenung mencari jalan terbaik keluar dari krisis multidimensional tersebut. Beliau merasa otak dan akalnya sudah buntu.

Maka ketika Allah swt melalui malaikat Jibril menyuruh beliau membaca, jawaban beliau adalah aku tidak bisa membaca. “bacalah ya Muhammad” “aku tidak bisa membaca”. Beliau merasa tidak lagi mempunyai alternatif untuk memecahkan persoalan masyarakatnya. Beliau membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia untuk menyelesaikan problem sosial di Makkah.

“Bacalah dengan nama Rabb mu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Rabb mu yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan qolam. Dia mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.”

Mengherankan tentunya kalau membandingkan problem yang harus Rasulullah saw hadapi serta solusi yang ingin beliau dapatkan dengan perintah pertama yang beliau terima. Apa hubungannya? Allah swt adalah pencipta dan pemilik jagad raya ini. Tentu saja Dia mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya.

“Bacalah dengan nama Rabb mu yang menciptakan". Dari sini sebuah paradigma baru telah dibangun, yaitu adanya rekrontruksi (penataan ulang) pola pikir (tashawwur) yang dilakukan dengan menggunakan potensi Rububiyah. Gugah, ketuk dan bangkitkan potensi Rabbaniyah yang sudah lama terpatri dalam nurani setiap manusia, sebelum membicarakan berbagai macam aturan dan hukum, sebelum menentukan halal dan haram.

Iqra’ Bismirabbika - merupakan suatu paradigma dalam menyerap realitas lahiriah (syahadah) dan metafisik (ghaib) melalui kesadaran Rububiyah. Pada dasarnya, kesadaran Rububiyah sudah melekat dengan penciptaan manusia itu sendiri, ia sesungguhnya adalah kesadaran yang bersifat fitri (sesuatu yang melekat pada proses penciptaan fisik manusia). Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur’an:

Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Ia jadikan mereka saksi atas diri mereka: “Bukanlah Aku Tuhan kamu?” mereka berkata: “Betul! Kami menyaksikan” Yang demikian supaya kamu (tidak) berkata pada hari kiamat: “sesungguhnya kami tentang hal ini termasuk orang-orang yang lalai. (Q.S. Al Araf : 172)

Tetapi oleh karena beratnya godaan dan rayuan dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan sponsor utama syaithan laknatullah, maka potensi Rububiyah tidak lagi dominan dalam diri manusia. Ia sesungguhnya tidak hilang dan tidak akan mungkin hilang, melainkan tertimbun dan tertekan oleh dahsyatnya dominasi nafsu syahwat dan godaan syaithan tersebut. Oleh karena itu di dalam mengantarkan seorang manusia menuju kesadaran dasar yang dituju oleh wahyu, maka seseorang itu harus melakukan proses iqra’ bismirabbik,. Yakni, mengembalikan dominasi fitrah dalam membaca dan menyerap realitas kehidupan dunia dan alam semesta yang ada.

Kandungan al-Alaq mengugah kesadaran manusia untuk mengetahui bahwa dirinya adalah ciptaan dan berasal dari sesuatu yang hina (‘alaq) dan bodoh ( ma lam ya’ lam). Sementara Rabb nya adalah Maha Pencipta (Kholiq), Maha Mulia (Akram) dan Maha Mengetahui (‘alamal Insan). Al-Alaq ayat 1-5 akan melahirkan falsafah hidup bertauhid.

Falsafah hidup tauhid, yaitu kesadaran dasar akan eksistensi, kekuasaan dan kemuliaan Allah sebagai sumber cipta dan sumber ilmu akan melahirkan kesadaran Allah sebagai tujuan akhir (ghoyah). Jika digambarkan seorang yang telah beriman berada pada posisi awal, dan tujuan hidup yang baru yaitu Allah Yang Maha Agung daya tarik itu berada pada posisi lain, maka perjalanan menuju Allah adalah mujahadah. Atau, perjuangan yang sesungguhnya adalah perjalanan menuju Allah.

Dengan demikian falsafah tauhid-lah yang menjadi dasar bagi perjuangan seorang Mukmin. Ia menjadi landasan, tempat berpijak, pangkalan dan tempat bertolak perjalanan hidup seorang Mukmin, dalam usahanya menuju kepada Allah. Perjuangan itu tidak saja merupakan jihad yang suci, tetapi sebuah perjalanan perjuangan yang berat, panjang dan melelahkan. Berbagai hambatan dan rintangan siap menghadang. Begitu juga godaan dan rayuan selalu muncul. Karena beratnya perjalanan itu, maka pada dasarnya tidak seorang pun yang sukses melewatinya, dalam arti mampu mencapai Allah, jika semata-mata berbekal pada kemampuan dirinya.

Jika kita menapak tilasi perjalanan sejarah Rasul bersama para sahabat, dan dikaitkan dengan kelahiran kesadaran atau falsafah hidup yang memunculkan orientasi hidup menuju Allah, maka kita memahami betapa falsafah hidup itu mengubah jalan sejarah, tidak saja bagi individu Mukmin, tetapi juga kemanusiaan dan dunia.

Sebelum lahirnya iman, ketergantungan, harapan hidup adalah kepada diri sendiri, atau kepada sanak keluarga atau handai taulan, atau kepada berhala-berhala baik yang berwujud maupun yang abstrak. Kemudian setelah lahirnya iman, maka seluruh harapan hidup digantungkan hanya kepada Allah, tunduk dan patuh ditujukan kepada Allah semata.

Dari sinilah bangunan peradaban itu dibangun kembali dengan mengacu kepada jejak langkah perjalanan Rasulullah saw dan para sahabat memenangkan Islam. Tidak mungkin apa yang Allah swt ajarkan kepada Rasulullah saw dan beliau lakukan salah serta keliru. Itu adalah kenyataan historis yang tidak terbantahkan, ditunjang landasan normatif sebagai panduan kita untuk mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah saw dalam kehidupan.

Itulah manhaj nabawi. Metode ini bertumpu pada lima surat yang pertama kali turun kepada Rasulullah saw yaitu al-Alaq ayat 1-5, Al-Qolam ayat 1-7, Al-Muzammil ayat 1-10, al-Mudatsir ayat 1-7 dan al-Fatihah ayat 1-7. Kelima surat tersebut biasa disebut Sistematika Nuzulnya Wahyu.

Berawal dari orientasi hidup yang kita bangun melalui surat Al Alaq. Setelah itu lahirlah sebuah obsesi hidup berqur’an dengan surat Al Qolam. Dan ketika obsesi telah terbangun, dilanjutkan dengan proses Internalisasi, proses Kristalisasi melalui surat Al Muzammil sebagai bekal mujahid dakwah. Baru kita mengadakan Ekspansi dengan dakwah dan jihad dalam berbagai aspek serta lingkupnya dengan surat Al Mudatstsir. Dengan demikian maka akan lahir Paradigma yang terbuka dan membuka kejumudan, yaitu paradigma Al-Fatihah. Insya Allah segalanya akan berakhir dengan Alhamdulillah, berakhir dengan tegaknya peradaban yang mendapat keridhoan Allah swt.

| edit post

lelaki sejati

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Selain Rasulullah saw, dari sekian banyak sahabat beliau ada beberapa orang yang mempunyai kesan mendalam terhadap diri saya. Tentu saja tidak lepas dari dua hal utama; kekuatan karakternya dan sumbangsihnya terhadap Islam.

Tidak bisa dipungkiri Rasulullah saw adalah guru terbaik manusia. Kemampuan beliau menyelami satu persatu karakter manusia di sekelilingnya menjadi satu point penting. Tidak hanya mengenali, beliau kemudian berhasil memaksimalkan potensi-potensi yang ada tersebut menjadi kekuatan dahsyat untuk menerangi kegelapan dunia ketika itu dengan cahaya-cahaya tauhid. Hasilnya adalah tujuh abad lamanya manusia benar-benar menjadi manusia. Manusia yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya dan mengetahui fungsi keberadaannya di dunia.

Bagi saya mereka adalah para lelaki sejati. Meski tidak mungkin bisa mencapai kualitas seperti manusia agung yang menjadi pemimpinnya, setidaknya kisah hidup mereka adalah coretan emas tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki hidup, berkarnya dan
menghabiskan umurnya.

Kehidupan bagi seorang muslim bukanlah kehidupan kosong
penuh canda, tawa, pesta dan kesenangan jasmani serta kepuasan akal. Islam mengajari mereka arti lebih dari konsep kehidupan. Hidup adalah berbakti kepada yang memberi hidup itu sendiri. Maka prinsip mereka adalah sesungguhnya hidup adalah keyakinan dan bagaimana memperjuangkan keyakinan tersebut.

Kesadaran itulah yang mengantarkan mereka rela memisahkan diri dari keluarganya meski harus hidup penuh kekurangan. Mereka tidak menyesal meninggalkan tanah airnya untuk sebuah tujuan mulia membangun markas perjuangan baru.

Tidak sekedar harta benda yang mereka korbankan. Cucuran keringat, tumpahan darah bahkan juga terbangnya nyawa dari raga siap mereka lakukan. Asalkan gema nama Dzat Yang Esa itu tetap bergema di seantero muka bumi. Asalkan pembawa risalah itu tetap hidup untuk melanjutkan tugasnya. Begitulah prinsip yang senantiasa terngiang-ngiang dalam gendang telinga serta nurani mereka. Bukalah buku-buku peradaban masyarakat yang lain, bisakan kita temukan kualitas pengorbanan seperti mereka dalam takaran mayoritas?

Dimana ada manusia rela mengorbankan seluruh hartanya untuk “bahan bakar” perjuangan keyakinannya meski tidak menyisakan sepeserpun untuk keluarganya? Bagaimana juga dengan sekelompok orang yang sedang luka parah saling mempersilahkan temannya untuk minum jatah airnya ketika ia sendiri sedang berada di ujung kematian? Dan itu tidak dua orang, tapi beberapa orang sehingga semua akhirnya tersenyum di ujung terakhir tarikan nafasnya. “Aku telah bertemu ainul mardiyah” demikian teriak mereka.

Namun mereka tetaplah manusia. Membayangkan mereka tidak mempunyai kesalahan ataupun kekhilafan tentunya suatu kemustahilan. Mereka manusia, bukan malaikat yang berjalan di atas permukaan bumi. Dan selain malaikat serta para utusan, tidak ada manusia yang "terjaga" (ma'sum). Bukankah manusia adalah tempatnya salah dan lupa?

Apalah artinya kerja kita jika dibandingkan mereka. Tidak pantas rasanya membandingkan pengorbanan mereka dengan segala hal yang telah kita berikan pada dien ini hari ini. "Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak walaupun mereka hanya berinfaq satu mud". Begitulah wanti-wanti penghulu utusan tauhid kepada para pengikutnya.

| edit post

Umar bin Khatab memang a great man

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pengantar
Banyak buku, makalah maupun tulisan yang mengupas salah seorang sahabat terbesar Rasulullah saw ini, Umar bin Khatab al-Faruq. Tidak berlebihan kalau kemudian banyak kaum muslimin mengagumi dan mengidolakan beliau. Bahkan Michael H Hart penulis buku seratus tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah dengan jujur memasukkan orang besar ini dalam daftarnya.

Tapi apa sesungguhnya kesan terdalam kaum muslimin sendiri terhadap beliau? Secara umum pasti kesannya tidak jauh dari kalimat hebat, pemberani, adil dan ungkapan yang setara. Tapi secara spesifik apa kesannya? Untuk mengetahui hal itu maka perlu dilakukan sebuah penelitian.

Sebagaimana biasa sebagai syarat untuk mengikuti ulangan harian sejarah Islam di SMA Ar-Rohmah, para siswa mendapat tugas khusus terkait dengan bab atau tema yang sedang menjadi pokok bahasan. Maka sebagai syarat mengikuti ulangan sejarah Islam tentang pemerintahan Islam masa khalifah Umar bin Khatab, beberapa kelompok siswa di beri tugas melakukan penelitian tentang khalifah kedua Islam ini. Sebagai obyek penelitian adalah para siswa dan guru SMP-SMA di lembaga pendidikan Islam Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang.

Dalam penelitian ini metodologi yang dipakai adalah observasi langsung melalui wawancara dengan obyek. Responden diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang mengarahkan peneliti bisa mengambil kesimpulan dari persepsi seseorang tentang sosok Umar bin Khatab al-Faruq. Para peneliti amatir ini mendapat waktu dua minggu untuk melakukan risetnya. Inilah, hasil penelitian mereka.

Pendapat Siswa
Di kalangan siswa SMP-SMA Ar-rohmah Hidayatullah Malang ketika disodorkan beberapa pertanyaan terkait Umar bin Khatab ada dua karakter yang tersimpulkan dari peibadi orang besar ini yaitu tegas dan berani (65%). Ungkapan berikutnya yang banyak muncul dari jawaban para siswa adalah adil (60%).

Kesan itu wajar muncul dari para siswa karena sejarah kekhalifahan beliau memang syarat dengan cerita tentang ketegasan dalam bertindak dan keadilan dalam hukum. Barangkali beliau merupakan satu dari sedikit pemimpin sebuah imperium besar (kalau dikonversi wilayah negara Islam pada masa beliau menjadi 18 negara modern sekarang) yang mempunyai integritas moral dan akhlaq tinggi. Tidak ada pembedaan warga negara di depan hukum, semua sama.

Diantara contoh keadilan beliau adalah hukuman cambuk yang dijatuhkan kepada anak beliau sendiri karena minum khamr atau minuman keras. Ketika gubernur Mesir waktu itu Amr bin Ash menghukum anak khalifah dengan tidak semestinya, beliau menegurnya. Beliau kemudian memanggil puteranya ke ibukota Madinah dan menghukum kembali puteranya dengan tangannya sendiri.

Kisah yang tidak kalah terkenalnya tentang keadilan kepemimpinan beliau adalah hukuman qishah kepada seorang pejabat Yaman, Jalbabah. Dikisahkan ketika ia sedang thawaf tanpa sengaja jubahnya yang mewah terinjak seorang pemuda biasa. Tanpa ampun langsung saja ia melayangkan tinjunya kepada pemuda itu.

Tidak terima atas tindakan penguasa Yaman tersebut, pemuda itu melaporkannya kepada khalifah. Sudah bisa ditebak hukuman yang beliau jatuhkan adalah pemuda yang terkena pukulan itu berhak membalasanya. Betapa terkejutnya Jalbabah atas keputusan khalifah, iapun menolaknya karena merasa seorang pejabat. Khalifah Umar menjawab bahwa dalam hukum semua warga negara adalah sama.

Pendapat Guru
Bagaimana kesan para guru di LPI Ar-Rohmah Hidayatullah Malang tentang orang yang oleh Rasulullah saw disebut memiliki firasat khusus ini?

Di samping tegas, berani dan adil (65%), karakter lain yang melekat dalam ingatan mereka tentang sosok Amirul Mu’minin Umar al-Faruq adalah kesederhanaannya (60%). Ketika digali lebih dalam dengan pertanyaan berikutnya yakni kesederhanaan ketika memerintah meskipun waktu itu negara Islam sedang kaya dan jaya.

Masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar al-Faruq memang diwarnai kegemilangan. Selama kurang lebih sepuluh tahun beliau memimpin, perluasan wilayah Islam mencapai jutaan mil.

Pasukan Islam itu pelan namun pasti merayapi satu persatu wilayah kekaisaran Persia dan Rowami, dua negara adidaya saat itu. Kemenangan demi kemenangan mereka raih. Setelah Syam, Palestina, Mesir mereka rebut dari tangan pasukan Romawi, pasukan Persiapun mereka hancurkan dalam perang Qadisiyah dan Nahawand. Istana Putih Maharaja Persiapun menjadi tempat sholat panglima Sa’ad bin Abi Waqash. Terbuktilah sabda Rasulullah saw ketika menggali parit dalam perang ahzab bahwa Persia dan Romawi akan ditaklukkan kaum muslimin.

Di tengah ghanimah dan fa’i yang mengalir deras ke Baitul Maal di ibu kota negara Madinah, justru pola hidup khalifah bertolak belakang. Seorang kepala negara yang identik dengan istana megah, pakaian mewah dan pengawalan pasukan yang berbaris rapi di belakangnya tidak terlihat pada diri beliau.

Tidak jarang para pembesar negara lain yang ingin menemui beliau harus mencarinya di bawah pohon kurma di tengah kota Madinah. Beliau memang terkenal suka merebahkan dirinya dii bawah pohon kurma ketika siang sedang terik.

Keluarganya pun hidup sangat biasa, bahkan terlalu biasa. Apa yang beliau pilih sebagai makanan sehari-hari keluarganya adalah makanan yang menjadi konsumsi kebanyakan warga negara Islam. Pernah beliau menyuruh utusan dari Azerbaijan untuk membawa pulang makanan hadiah mereka kepada khalifah setelah beliau tahu makanan itu bukan makanan rakyat biasa tetapi khusus orang-orang kaya dan pembesar.

Suatu ketika para sahabat utama seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf dan beberapa orang lainnya membahas masalah perekonomian beliau. Mereka berpendapat khalifah harus meningkatkan kualitas konsumsinya supaya fisiknya terjaga karena masalah negara semakin hari semakin kompleks dan berat. Maka Baitul Maal yang bertanggung jawab akan tugas itu.

Usulan itu kemudian di sampaikan kepada puteri beliau, Ummul Mu’minin Hafsah binti Umar. Mereka segan langsung menyampaikan usulan tersebut, di samping khawatir akan kena marah beliau.

Mendengar apa yang disampaikan puterinya, mata khalifah mendelik. Beliau tahu itu pasti bukan kemauan puterinya sendiri. Ummul Mu’minin Hafsah mengaku bahwa itu adalah usulan dari para sahabat yang mengkhawatirkan kesehatan khalifah.

Khalifah Umar kemudian bertanya kepada puterinya apa yang suaminya Rasulullah saw makan sehari-hari dan tempat tidur apa yang beliau pakai. Ummul Mu’minin Hafsah menjelaskan bahwa makanan Rasulullah saw sangatlah sederhana, bahkan sering berpuasa. Tempat tidur Rasulullah saw hanya terbuat dari pelepah kurma sehingga ketika bangun tidur bekas kayu kurma itu terlihat di bagian tubuh beliau.

Khalifah lalu menjelaskan kepada puterinya bahwa figur itulah yang ia panut dan ikuti. Beliau kemudian memanggil sahabat-sahabat besar dan menyampaikan permasalahan tersebut.

Apakah mengidolakan beliau sebagai seorang pemimpin?
Di tengah krisis kepemimpinan yang menjangkiti umat dan bangsa ini, figur pemimpin seperti Amirul Mu’minin Umar bin Khatab sangatlah di rindukan. Seorang pemimpin yang begitu peduli terhadap rakyatnya. Hampir setiap malam beliau ronda untuk memonitor kondisi dan keadaan rakyatnya.

Seorang pemimpin yang sangat takut dengan pertanyaan Allah swt di akhirat. “Apa jawabanku nanti kalau Allah swt bertanya tentang seekor keledai yang terperosok di sungai Tigris?” begitulah prinsip beliau, tidak hanya manusia hewanpun menjadi perhatian beliau.

Para responden di Ar-Rohmah baik siswa maupun guru semuanya mengharapkan lahirnya pemimpin seperti beliau di tengah umat dan bangsa ini. Mereka yakin sosok seperti beliau akan mampu mengangkat derajat umat menjadi terhormat dan mengeluarkan bangsa ini dari krisis multidimensi yang nampak seperti lorong gelap tak berujung.

Penutup
Sahabat Umar bin Khatab merupakan murid langsung guru terhebat, Rasulullah saw. Sebagai salah satu murid terbaik tentu saja banyak keistimewaan yang beliau miliki. Penelitian di atas hanya sedikit ungkapan kelompok kecil kaum muslimin yang mengagumi beliau. Hasil penelitiannya tentu saja sangat subyektif, karenanya kritik dan koreksi tentu saja menjadi bahan perbaikan dan penyempurnaan.

Terbuka lebar bagi siapa saja untuk menggali lebih dalam tentang manusia langka ini untuk disajikan kepada khalayak luas. Harapannya tentu saja tidak sekedar megetahui ataupun mengagumi beliau, lebih jauh dari itu tentu saja usaha maksimal dari orang-orang yang mengaku muslim untuk meneladani jejak langkah beliau dalam memperjuangkan dan menegakkan dienul Islam. Allahu ‘alam.

| edit post

Tugas kita bekerja dan bekerja

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Masih terpuruknya nasib sebagian umat Islam di dunia saat ini, tidak menyurutkan visi besar kita untuk mengembalikan kejayaan Islam. Kita semua meyakini kebenaran firman Allah swt dan keshahihan sabda Rasulullah saw. Proyek sangat besar itu membutuhkan sumber daya yang juga tidak kalah besarnya. Sumber daya itu berupa manusia, materi, tenaga, kebersamaan dan lain sebagainya. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa manusialah yang menjadi bahan baku terbesar yang kita butuhkan.

Rasulullah saw pernah memberikan semangat kepada kita tentang kepastian kemenangan Islam di kemudian hari. Beliau saw juga menyampaikan janji Allah swt bahwa setiap seratus tahun akan muncul dari umat ini orang-orang yang memperbaiki risalah tauhid ini dari gangguan, perusakan dan ancaman dari pihak-pihak yang ingin menghancurkan dien ini.

Dulu muncul Umar bin Abdul Aziz. Seorang khalifah yang hanya memerintah sekitar 2 tahun, namun cahayanya tetap terpancar sampai hari ini bahkan hampir-hampir menjadi legenda tentang kebesaran seorang pemimpin Islam; ketakwaan, kesederhaan dan besarnya tanggung jawab kepada umat.

Umat ini juga pernah memiliki seorang Sholahuddin al Ayubi. Seorang sultan abad pertengahan yang hingga sekarang ketika namanya disebut, mayoritas orang kafir di barat kan merinding bulu romanya. Mereka mengenang kehebatan dan kejeniusan strategi perangnya dalam menghancurkan serta mengusir kafirin eropa dari bumi al-Quds.

Sejarah juga mencatat kemunculan mereka tidak begitu saja. Ada proses panjang dari umat ini untuk melahirkan orang-orang seprti mereka. Allah swt akan memberikan para pembelanya ketika memang masyarakat sudah siap. Begitulah kisah munculy Sholahudin al-Ayubi dan pahlawan Islam lainnya.

Maka tugas kita saat ini juga berusaha menciptakan meliu di umat ini sehingga kembali lahir dari rahim umat seorang atau bahkan beberapa orang yang kembali menggelorakan gelora kebangkitan Islam. Waktu bukan persoalan, tempat tidak masalah. Selama visi itu masih tertancap di pikiran kita, semangat dan keyakinan itu msih bergaung keras di hati kita dan tentunya kerja keras menjadi makanan sehari-hari kita, insya Allah pertolongan Allah swt akan datang."dan lainnya yang kalian menyukainya pertolongan dari Allah saw dan kemenangan yang dekat. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman". (Ash-Shaff ayat 13).

Mari kita bekerja, meningkatkan kerja kita dan menyempurnakan kerja kita. Semoga Allah swt memberikan keteguhan dan menambah kesabaran di dada kita.

| edit post

Dakwah is along long way.....

abinehanafi Filed Under: Label:
Menghitung pasir di tepi laut jauh lebih mudah daripada mendidik akhlaq manusia
(Sayyid Qutb dalam Ma'alim fii Thoriq)

“Ahlan wa Sahlan....”

Assalamu’laikum wr wb
Ahlan wa sahlan bi khudurikum…. Selamat datang kembali kepada antum semua para siswa dan santri. Semoga perjalanan dari rumah masing-masing berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Masih dalam suasana syawal 1429 Hijriah mari kita saling mengucapkan tawaballahu minna wa minkum kullu amin wa antum bi khoriin. Semoga ibadah shiam Ramadhan kita kemarin diterima Allah swt sehingga mendekatkan kita kepada derajat taqwa yang sebenarnya di hadapan Allah swt dan semoga Allah swt masih memberikan umur kita sampai pada bulan Ramadhan berikutnya. Amiin.

Dan tidak boleh kita lupa bahwa sesungguhnya Ramadhan “hanyalah” bulan latihan atau training month bagi sebelas bulan setelahnya. Semua amal kebaikan yang sudah kita laksanakan pada bulan tersebut seharusnya menjadi titik awal untuk menjadi rutinitas kita pada hari-hari berikutnya. Kalau kita berhasil menjaga semangat Ramadhan dengan tetap melaksanakan semua ibadah-ibadah yang kemarin kita perbuat mulai dari tilawah al-Al-Qur’an, sholat tahajud, beramal sholeh, dan menjaga lisan, maka insya Allah madrasah Ramadhan telah berhasil mendidik diri-diri kita sesuai tujuan Allah swt menurunkan bulan tersebut. Namun kalau sebaliknya yang terjadi semua ibadah tersebut berakhir dengan usainya Ramadhan maka kita harus lebih banyak belajar karena ternyata kita belum lulus dari madrasah Ramadhan tahun ini.

Sekedar menginggatkan, setelah kita semua sampai di sini dengan segala semangat serta kerelaan hati karena motivasi tinggi ataupun keterpaksaan karena orang tua dan keluarga “memaksa” kita kembali ke sini, ada beberapa hal yang perlu kita camkan ke dalam diri kita.

Pertama, apapun yang terjadi sekarang kita berada di sini, sehingga mari luruskan dan mantapkan niat kita untuk meningkatkan seluruh kualitas diri kita; ilmu pengetahuan, akhlaq, dan juga skill ketrampilan. Ruang dan waktu saat ini adalah milik kita. Sejarah diri kita ada di tangan kita bukan orang lain. Bukan tempat yang kemudian membuat seseorang tidak bisa berprestasi dan berhasil, seringkali faktor yang lebih dominan adalah faktor kemalasan diri, enggan bekerja keras, ingin kerja sedikit mendapatkan hasil besar dan terlalu bergantung kepada orang lain seperti orang tua, guru dan teman. Saatnya kita merubah itu semua. Sejarah hanya ditulis oleh orang-orang yang mampu menyingkirkan dorongan dalam dirinya untuk selalu menikmati enak dan santai, sebaliknya para mukmin sejati adalah orang-orang yang mampu memaksimalkan seluruh potensi pemberian Allah swt menjadi amal sholehnya yang terbaik. Setiap insan dikaruniai potensi untuk berprestasi dalam hidupnya.

Kita semua memiliki potensi membuat sejarah besar dalam hidup kita, namun seringkali sifat kekanak-kanakan membuat kita membiarkan orang lain mengambil kesempatan itu dan kita memilih menjadi “orang biasa saja”. Lahir, hidup, bermain, bekerja, menikah, tua dan lalu meninggal tanpa ada prestasi cukup besar untuk kemudian kaum muslimin banyak mendoakan arwah kita karena merasa mendapatkan manfaat positif ketika kita masih hidup. Bukankah diantara pahala yang tidak terputus meskipun kita sudah meninggal adalah shodakoh jariyyah?

Kedua, dimanapun tempat di sudut muka bumi Allah swt maka ada hal-hal yang boleh kita lakukan dan tidak boleh kita lakukan. Secara sosial hal itu kita sebut norma atau peraturan.

Kita semua sudah mengetahui seluruh peraturan yang ada di pesantren ini. Kita mengetahui apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan, barang-barang apa saja yang boleh di bawa dan tidak boleh di bawa. Sebaiknya apa yang sudah menjadi komitmen kita semua tersebut kita patuhi. Setiap hari diri kita membentuk cintra diri kita masing-masing. Orang-orang yang cenderung melanggar peraturan di sebuah tempat, ia akan berbuat yang sama di tempat yang lain. Itu sunnatullah. Kontrol diri yang paling efektif adalah Allah swt dan iman kita. Orang tua, pengasuh, guru dan seabrek benda mati lainnya hanyalah seperangkat penunjang untuk membantu kita. Mereka hanya komplemen (pelengkap) bukan primer (utama). Kalau di sini kita baik, maka insya Allah dimanapun kita akan baik karena tidak ada orang yang bisa bersandiwara sepanjang waktu dalam hidupnya.

Kalau kemudian setiap individu di lingkungan atau di pesantren ini lebih menonjol sifat baiknya daripada sifat buruknya, maka kedamaian, kenyamanan dan kebahagiaan akan selalu berada di sekitar kita. Ada pepatah Inggris yang berbunyi “Home is the place where everyone love each other and all love God”. Rumah adalah tempat di mana setiap orang saling mengasihi dan semua mencintai Tuhan. Setiap orang saling mengasihi artinya terjadi hubungan harmonis, solidaritas yang tinggi, setia kawan antar penghuninya. Semua mencintai Tuhan artinya setiap orang berusaha patuh dan taat kepadaNya.

Ketiga, bagi siswa yang tiga bulan kemarin masih belum bagus prestasinya, sebaiknya lebih aktif belajar supaya tidak menyesal di akhir tahun karena tidak naik kelas atau tidak lulus. Ingat tahun kemarin ada 4 anak dikeluarkan, 3 teman kita tidak naik kelas dan beberapa anak naik percobaan Hal tersebut menjadi tanggung jawab kita dan juga wujud kesungguhan melaksanakan amanah orang tua. Jangan menunggu atau merasa tidak butuh. Meskipun tidak setiap kita orang cerdas atau pintar, kalau ada kesungguhan insya Allah akan berhasil. Seringkali kesungguhan dan ketekunan mengalahkan kepandaian dan kepintaran.

Keempat, Jangan lupa kita punya tanggung jawab individu, keluarga, dan umat. Kita bukan manusia individu yang hidup sendirian di muka bumi. Orang tua mengharapkan dan mendoakan kita berhasil dunia akhirat. Kita juga adalah keluarga besar kaum muslimin. Menjadi tanggung jawab kita juga untuk mengembalikan kejayaan Islam di muka bumi sehingga dunia kembali sejahtera seperti kala syariah Islam memimpin dunia.

Saat ini adalah masa dimana kita mempersiapkan diri kita untuk itu. Setiap kita akan ada saatnya menerima tugas suci ini. Itu semua butuh persiapan dan keseriusan. Jangan bermimpi menjadi mujahid kalau sholat malam saja malas. Tidak ada sejarah Islam yang menulis para pahlawan Islam lepas dari sholat malam dan tilawah al-Qur’an. Jihad adalah amal tertinggi dalam Islam karena harus mengorbankan tenaga, harta bahkan jiwa. Kalau mengalahkan rasa kantuk, rasa lapar saja tidak bisa apa mungkin Allah swt memberikan kesempatan berjihad? Apa mungkin kebanyakan kita yang lebih suka menyumbangkan uang kita ke penjaga rental PS atau warnet daripada menyumbang untuk masjid, orang-orang dhuafa’ atau bahkan kaum muslimin di Palestina akan di berikan kemudahan Allah swt memperoleh gelar syahadah yang merupakan idaman setiap muslim? It’s seem imposible, seperti punguk merindukan bulan.

Akhirnya mari kita berdoa kepada Allah swt semoga diberikan kekuatan iman, kecintaan kepada Islam, diselamatkan dari fitnah dunia yang semakin hebat dan tentunya selamat dunia akhirat. Afwuu minkum.
Wassalamu’alaikum wr. Wb.

12 Syawal 1429 H

| edit post