RSS

Kekuatan memaafkan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Pernahkah diri kita berbuat kesalahan kepada orang lain, sengaja maupun tidak? Jawabanya tentu saja pernah. Sebagai manusia kita pasti pernah melakukan hal tersebut sebagaimana juga kita pernah disalahi orang lain dengan sengaja maupun tidak.

Interaksi dalam kehidupan sosial manusia membuat kedua kondisi di atas menjadi lumrah dan sangat wajar terjadi serta menimpa seseorang. Bedanya barangkali terletak dalam penyikapan atas efek yang muncul selanjutanya.

Lumrahnya adalah proses perselisihan yang terjadi antar individu satu dengan individu lainnya tidak membutuhkan waktu relatif lama untuk menyelesaikannya. Setiap masalah pasti ada jalan keluar, setiap kepentingan pasti akan bisa dipertemukan dengan kepentingan lainnya. Terlebih lagi merupakan sebuah kerugian waktu dan tenaga kalau kemudian seseorang memelihara permasalahannya dengan orang lain selama problem yang terjadi masih dalam koridor muamalah.

Dan diantara kata kunci untuk menutup semua permasalahan hati dengan orang lain adalah memaafkan. Seberapa besar seseorang mempunyai keberanian dan kemauan untuk menerima kesalahan orang lain lalu ia maafkan merupakan pintu menyelesaikan kendala interaksi antar sesama manusia.

Berani memaafkan berarti ia memiliki jiwa besar untuk secara utuh menerima orang lain apa adanya. Karena pada hakekatnya tidak ada seorang manusiapun yang selamanya baik dalam pandangan orang lain. Tentu saja ia memiliki karakter, sifat ataupun kebiasaan yang bagi orang lain menganggu sehingga dengan sadar atau tidak terjadi persingungan.

Disamping jiwa besar, seseorang juga perlu memiliki jiwa penuh kesabaran untuk bisa memaafkan orang lain. Kesabaran ini penting sehingga tidak melahirkan dendam berkepanjangan. Jiwa yang sabar akan menyadari konsekuensi hidup bersosial dengan orang banyak sehingga menerima konsekuensinya.

Kalau kita membaca kisah-kisah perjalanan Rasulullah saw dalam mendakwahkan dinnul Islam, tidak sedikit kita menemukan efek positif dari rasa maaf beliau yang sangat tinggi. Banyak musuh-musuh dakwah yang semula menganggu dan mencemooh perjuangan beliau berubah menjadi pengikut setia.

Dalam peristiwa perjalanan hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah kita menemukan tokoh bernama Suraqah bin Malik. Ia adalah seorang pembunuh bayaran yang tertarik hadiahorang-orang quraisy berupa 1000 ekor onta jika berhasil menangkap Rasulullah saw.

Karena kelebihannya dalam mencari jejak, meskipun Rasulullah saw dan Abu Bakar berusaha mengelabui para pengejarnya, Suraqah masih dapat mengikuti rute perjalanan mereka dan mengejarnya. Bahkan jarak antara Suraqah dengan Rasulullah saw ketika sudah tinggal beberapa langkah kaki kuda saja.

Ketika itu kemudian Allah swt menengelamkan kaki kuda Suraqah ke dalam pasir. Awalnya ia masih mencoba mengejar Rasulullah saw kembali, namun lagi-lagi kaki kudanya terperosok ke dalam pasir. Barulah setelah tiga kali upayanya menemui kegagalan, ia menyerah dan berteriak-teriak mengiba meminta maaf serta ampun kepada Rasulullah saw.

Mengetahui pemburunya sudah putus asa, Rasulullah saw kemudian mendatangi Suraqah dan memaafkannya. Melihat ketinggian akhlaq Rasulullah saw Suraqah menjadi malu dan menawarkan bekalnya. Namun Rasulullah saw menolaknya. Beliau hanya berpesan kepada Suraqah untuk tidak mengatakan pertemuan mereka saat itu.

Suraqah menepati janji tersebut. Setiap bertemu orang-orang yang memburu Rasulullah saw, ia selalu menyuruh mereka kembali karena buruannya tidak ada dan sudah pergi terlalu jauh. Orang-orang itu mempercayainya karena mereka mengetahui kehebatan seorang Suraqah dalam berburu. Ia saja gagal apalagi mereka mungkin begitu pikiran mereka ketika itu.

Sejarah kemudian mencatat Suraqah menjadi seorang muslim yang baik. Ia juga mempunyai umur panjang sehinga termasuk mujahid yang membebaskan Madain, pusat kerajaan Persia pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatab.

Namun demikian untuk memiliki kemampuan memaafkan kesalahan orang lain membutuhkan perjuangan sangat berat. Tidak setiap jiwa manusia kemudian memiliki kerelaan yang tinggi untuk menerima pernyataan maaf dari orang lain.

Halangan terbedar untuk memberi maaf kepada orang lain adalah ego yang kita miliki. Perasaan lebih dari orang lain, selalu merasa lebih benar, tinggi hati dan penyakit hati yang sejenis menjadi ganjalan seseorang untuk menjadikan sifat pemaaf sebagai karakter dalam dirinya. Apalagi kalau kemudian dirinya dalam posisi benar dan berkuasa, wah..... tambah berat perjuangan dirinya untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain.

Butuh proses belajar untuk berada pada posisi hati gemar memaafkan kesalahan orang lain. Karenanya selalu selipkan permohanan kepada Allah swt dalam doa kita agar Dia memberikan rasa maaf yang tidak terbatas dalam diri kita. Amiiin.

”Maaf mas, kakinya yang kanan saya injak”. Kata seorang penumpang bis ekonomi yang sangat padat sekali pada suatu siang yang sangat terik sekali.
”oh..... nggak papa kok. Kalau mau nginjak yang satunya juga boleh. Nih.... silahkan.” jawab penumpang yang terinjak kakinya sambil tersenyum dan menjulurkan kakinya sebelah kiri.

| edit post

Nikmatnya hidup berjama’ah

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Jatidiri manusia sebagai makhluq sosial membuat manusia mempunyai naluri dasar untuk hidup berdampingan dengan sesamanya. Gabungan dari individu-individu yang memiliki kecenderungan sama kemudian melahirkan satu kelompok manusia bernama kampung, propinsi, negara, juga ummat. Bersama-sama mereka berusaha mencapai tujuan dan harapan yang ingin dicapainya dalam keidupan di dunia.

Di samping fitrah manusia, hidup bermasyarakat atau berjama’ah merupakan perintah Allah swt kepada para makhluqnya. Dia mendorong menyuruh manusia untuk bersatu dalam sebuah ikatan syariat Allah yang kokoh sehingga tidak berselisih dan terpecah belah. Allah swt berfirman “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...” (QS. Ali Imron:103).

Tentu saja bukan sembarang kumpulan manusia yang kita jadikan sebagai teman sejalan dan seperjuangan. Orang-orang yang kita kumpuli haruslah orang-orang yang baik dan benar. Allah swt berfirman ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (QS. At-Taubah: 119).

Begitu pula Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk bersatu dalam sebuah jama’ah yang baik dan benar. Umat ini akan kuat kalau antar personnya bersatu dan tidak tercerai berai. Beliau saw bersabda “Diwajibkan atas kamu sekalian agar berjama’ah dan diperingatkan kepada kamu sekalian dari perpecahan”(HR.Ahmad dan Turmudzi).

Meskipun demikian karena sebuah kelompok atau jama’ah merupakan kumpulan dari manusia dengan latar belakang berbeda, tentu saja permasalahan-permasalahan akan timbul. Itulah manusia. Keberadaan manusia dengan segala rasa, cita, kepentingan dan harapan tentu saja tidak selalu akan selaras satu dengan lainnya. Terkadang persingungan dan perbedaan mewarnai kepentingan tersebut.

Pada saat itu menimpa sebuah kelompok atau jama’ah manusia, faktor landasan gerak dari jama’ah tersebut menjadi faktor penting penentu dan pemutus problem yang muncul. Jika sebuah kelompok memilih landasan geraknya adalah materi (kekayaan dan kekuasaan) kebanyakan permasalahan tidak akan selesai dengan cepat, bahkan tidak bisa diselesaikan dan melahirkan perpecahan. Kalau kita membaca sejarah kehidupan manusia sejak zaman dulu sampai sekarang, kesimpulan tersebut layak untuk dipercaya.

Karenanya Islam mengharuskan umatnya menjadikan al-Qur’an dan as-sunnah sebagai landasan gerak. Sebagai ajaran yang bersumber dari wahyu Allah swt tentu saja Islam sangat sempurna dalam memberikan panduan hidup untuk manusia. Kesempurnaan itu meliputi pedoman hidup sebagai individu, keluarga, masyarakat dan anggota komunitas ummat secara global

Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap saudarnya se iman. Prinsip ukhuwah berdasarkan aqidah mengalahkan fanatisme karena darah, suku, dan ikatan wilayah. Karenanya dimanamun mereka berada selama telah mengikrarkan syahadat adalah saudara-saudara kita. Kegembiraan mereka adalah kegembiraan kita, sebaliknya duka nestapa yang mereka alami juga kesedihan serta kepiluan kita.

Landasan iman yang kuat dan kokoh membuat gesekan akibat permasalahan materi duniawi bisa diminimalisi, tapi bukan tidak ada. Kesadaran akan kepentingan bersama yang lebih besar dan keinginan mencapai ridho Allah swt di dunia dan akhirat membuat setiap orang untuk menahan diri dari terlalu sering menyakiti saudaranya. Rasulullah saw mempertegas konsep tersebut dalam sabda beliau ”Tidak sempurna iman kalian sehingga kalian mencintai saudaramu seperti mencintai diri kalian sendiri.” itulah tingkatan ukhuwah paling tinggi.

Kalau membaca lembaran-lembaran perjalanan hidup para pandahulu kita para sahabat dan salafush sholeh, rententan kisah keindahan persaudaraan terpampang jelas dan banyak. Kisah seteguk air minum dalam perang Yarmuk hanyalah satu dari sekian banyak cerita ketinggian akhlaq para pendahulu kita untuk mendahulukan saudaranya dibandingkan dirinya meskipun nyata atau kematian menjadi taruhannya.

Hidup dalam jama’ah memang berat. Syetan tidak akan membiarkan manusia bersatu dan rukun dengan sesamanya. Segala tipu daya akan ia kerahkan untuk mempengaruhi seseorang agar berselisih dengan saudaranya. Karena ia mengetahui orang-orang yang menyendiri adalah mangsa empuk untuk ia terkam sebagai santapannya. Rasulullah saw memperingatkan umatnya atas bahaya tersebut “Sesungguhnya syetan itu srigala bagi manusia, seperti srigala bagi kambing yang menerkam kambing-kambing yang keluar dari kawanannya dan menyendiri. Karena itu jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jama’ah dan orang banyak”.(HR. Ahmad)

Oleh karena itu seberat apapun dalam hidup berjama’ah tentu lebih selamat daripada hidup sendirian. Kesulitan dan problematika berkumpul menjadi orang banyak tidak harus membuat seseorang lari menjauh. Justru itulah ujian kedewasaan dalam berfikir dan menimbang setiap urusan terkait keinginan sendiri, orang lain serta kepentingan umum. Tentu saja permohonan kepada Allah swt supaya senantiasa dikuatkan hati untuk hidup berjama’ah harus selalu dilantunkan setiap saat. Tanpa pertolongan dan perlindungan Allah swt mustahil insan bisa bertahan dan istiqomah menempuh jalan Islam yang tidak selalu enak dan lurus ini.

| edit post

Menyambut Ramadhan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah…. Beberapa hari lagi insya Allah Ramadhan akan datang menjumpai kita. Sebuah karunia teramat besar dalam hidup seorang muslim manakala menemui bulan mulia tersebut. Banyak kemuliaan yang Allah swt curahkan pada bulan Ramadhan karenanya sayang rasanya kalau kemudian kita isi dengan biasa-biasa saja.

Mengevaluasi prestasi kita Ramadhan kemarin dan hari-hari sesudahnya merupakan langkah bijak untuk menentukan target Ramadhan tahun ini. Termasuk juga mengevaluasi persiapan kita menyambut ramadhan tahun lalu, karena ada ungkapan orang yang gagal merencanakan berarti telah merencanakan kegagalan. Tentunya kita tidak mau hari-hari kita dalam bulan Ramadhan sama saja dengan hari-hari kita pada bulan-bulan lainnya, bukan?

Ibarat sebuah hajatan besar, maka perlu ada persiapan-persiapan khusus yang kita laksanakan sehingga ketika ia datang tidak ada yang tersia-siakan. Ketika kita akan menyelenggarakan satu event ataupun hajatan saja, jauh-jauh hari segala hal yang mendukung keberhasilan acara kita siapkan dengan baik. Apalagi menyambut Ramadhan.

Lebih khusus barangkali mempersiapkan hal-hal yang menjadi prioritas amalan kita selama Ramadhan. Empat hal yang sering kita gencarkan dalam bulan Ramadhan adalah membaca al-Qur’an, tarawih, menjaga diri dari perbuatan maksiat dan memperbanyak amal sholeh, maka ada baiknya ke empat tersebut sudah mulai kita tingkatkan intensitas dan kualitasnya.

Kalau kemarin-kemarin tilawah kita hanya 1 bulan satu juz, bisa ditingkatkan menjadi 1 minggu 1 juz atau lebih. Qiyamul lail yang sebelumnya kita laksanakan satu kali dalam satu minggu ditingkatkan dua sampai tiga kali sepekan. Begitu juga filter terhadap maksiat kita pertebal, sebaliknya motivasi untuk beramal sholeh kepada orang lain semakin ditingkatkan.

Harapannya adalah mesin kebaikan yang sudah kita panaskan akan mencapai momentum terbaiknya pada hari-hari Ramadhan. Dengan begitu maksimalisasi potensi dari energi Ramadhan dapat kita serap sebanyak-banyaknya sehingga peluang untuk mendapatkan gelar muttaqin tentunya semakin besar.

Semoga Allah swt menguatkan dan menjaga motivasi kita dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Tentu saja jangan lupa selalu menyelipkan permohonan diberi panjang umur sehingga kita masih diberi kesempatan mendapatkan berkah keagungan Ramadhan tahun ini.

| edit post