RSS

Generasi sakit yang dilupakan

abinehanafi Filed Under: Label:
Bismillahirrahmanirrahim

Kalimat diatas terbaca dari tulisan kaos bagian belakang salah seorang remaja tanggung yang melewati saya. Dengan pede nya mereka berjalan menyeruak di tengah keramaian sambil tertawa dan bernyanyi kecil bersama. Mereka berombongan sekitar lima orang dengan penampilan khas anak-anak “punk”. Mungkin kalimat tersebut mewakili pikiran dan nasib mereka sendiri; generasi sakit yang dilupakan.

Muncul dari kompleksitas peradaban manusia dengan segala perniknya. Aliran punk kemudian membuat sub system sendiri di tengah pergaulan masyarakat. Dengan segala atribut khasnya yang menurut sebagian besar masyarakat aneh membuat mereka nampak berbeda. Justru itu yang – mungkin - mereka banggakan sebagai kelebihan.
Perasaan aneh itulah yang kayaknya membuat orang umumnya menganggap kurang baik pada mereka. Urakan, tidak terdidik, jarang mandi dan berbagai atribut negatif terlanjur dilabelkan masyarakat kepada mereka. Akibatnya kelompok mereka jarang mendapat pembinaan dan sentuhan perhatian dari system masyarakat sendiri.
Perhatikan saja pakaian dan tingkah laku yang mereka tunjukkan. Rambut bergaya Mohawk yang sebagian disemir warna-warni, kaos warna hitam dan jaket kulit penuh peniti ataupun tempelan-tempelan stiker. Ditambah dengan rantai yang selalu bergelayut di saku celana, sepatu boot dengan kaos kaki hitamnya dan juga pergelangan tangan yang biasanya dengan gelang dari besi maupun sejenisnya. Jangan lupakan juga celana jeans mereka yang super ketat dipadu dengan kaos atau baju yang lusuh.
Bagi mereka punk memang bukan sekedar sebuah aliran, tapi lebih dari itu. Ia sudah menjadi jiwa dan kepribadian. Begitu pula anggapan orang lain di luar kelompok mereka. Maka wajar kalau Image yang terbangun tentang mereka di tengah masyarakat adalah norak, menyeramkan, pengganut paham pergaulan bebas dan lain-lain yang konotasinya sama.
Meskipun barangkali tidak semuanya begitu. Konon ada juga kelompok punk yang relatif baik dalam ukuran masyarakat umum. Artinya tidak suka selalu membuat orang-orang yang melihatnya risih dan berpaling. Cuma saya tidak tahu persis apa bedanya mereka dengan “punkers” lainnya.
Satu yang pasti budaya ini berasal dari barat. Temanya tetap sama kebebasan mengekspresikan cara dan bentuk hidup seseorang. Aliran ini kemudian masuk juga ke Indonesia dan diikuti oleh beberapa generasi muda di tanah air. Walaupun jumlahnya mungkin tidak besar, namun kalau mengunjungi kota-kota besar di negeri ini niscaya kelompok ini eksis, paling tidak di sekitar lampu merah.
Seorang teman yang aktif dalam lembaga sosial masyarakat pernah sedikit bercerita tentang mereka. Menurut teman ini ternyata tidak semua mereka adalah orang-orang yang termarjinalkan secara sosial ekonomi dalam kehidupan. Ia pernah menemukan anggota kelompok tersebut yang basic keluarganya adalah mampu dan terdidik. Namun karena konflik keluarga sehingga ia menjadi anak broken, kabur dari rumah dan bergabung dengan komunitas punk. Ia merasa punya teman senasib, bahkan sudah seperti saudara sendiri.
Bagaimanapun perlu ada orang-orang khusus dan lembaga khusus untuk menemani serta mengayomi mereka. Pasti sebagian dari mereka adalah anak-anak muslim yang perlu untuk diberikan pencerahan dan penyadaran. Kita perlu menarik mereka kembali kepada jati diri muslim yang sesungguhnya dengan segala aturan dan atribut dalam kehidupan.
Mungkin perlu dibuatkan pesantren khusus untuk memindahkan kebiasaan mereka hidup di jalan. Paling tidak itu akan mengurangi beban psikologis dan sosiologis jika harus langsung bercampur dengan remaja-remaja kebanyakan yang pola pikir dan cara hidup berbeda dengan mereka. Tentu saja membutuhkan waktu cukup lama mengembalikan kebiasaan-kebiasaan lama yang telah hilang dalam pikiran mereka sekalipun.
Peluang untuk berbuat seperti itu ada dan cukup besar, meskipun tantangganya luar biasa besarnya pula. Biasanya orang-orang yang sudah terikat dengan sebuah komunitas tertentu akan lebih susah keluar dari keanggotaannya. Banyak prasyarat harus di lalui dan ditempuh. Tidak jarang itu menyakitkan secara fisik, juga psikis.
Hanya orang-orang khusus yang mampu melakukan pekerjaan ini; mendekati, membimbing secara intensif dan menyadarkan mereka. Kita yakin manusia bertipe seperti itu sudah ada tapi mungkin jumlahnya belum banyak. Semoga Allah swt memberikan kesabaran yang super kepada sosok-sosok spesial tersebut.

| edit post

1 Response to "Generasi sakit yang dilupakan"

  1. absrut Says:
  2. merubah sesuatu ada yang dengan perbuatan,perkataan, dan hati,dengan perbuatan tentu saja yang paling cepat,logikanya menyelamatkan anak kecil yang akan tertabrak,dengan perbuatan:kita lari menyelamatkannya tentu saja si anak selamat,tapi bukan tidak mungkin jadi kita yang tertabrak,dengan kata:kita teriakin si anak agar menyingkir,ada kemungkinan si kecil mendengarkan ada kemungkinan juga tidak,serta dengan hati:kita diam saja di tempat sambil berdo'a,kalau sudah begini kita tinggal pasrah menunggu keajaiban yang Maha Kuasa :)

Posting Komentar