abinehanafi
Filed Under:
Label:
umat
BismillahirrahmanirrahimSelain fatwa tentang status hukum rokok, satu fatwa MUI yang menarik dari hasil sidang Ijtima' Ulama Fatwa III MUI di Kabupaten Padang Panjang, Padang, Sumatera Barat kemarin adalah tentang hak memilih dalam pelaksanaan pemilu. Dalam fatwanya dengan mengambil beberapa landasan syar’i MUI memutuskan hukumnya haram apabila bersikap golput atau dengan kata lain umat wajib memilih. Sebagaimana rokok, fatwa itupun tidak perlu waktu terlalu lama untuk kemudian menimbulkan polemik di masyarakat baik pro maupun kontra.
Kita berkhusnudzun saja bahwa fatwa itu keluar sebagai bentuk komitmen MUI untuk meraih kemenangan Islam. Dengan mayoritas umat Islam sebagai warga negara Indonesia, maka diharapkan pemilih menjatuhkan pilihannya kepada calon legislatif ataupun partai Islam. Harapannya tentu saja mereka itu nanti membawa suara Islam, memperjuangkan Islam dan pada akhirnya memenangkan Islam di bumi Indonesia.
Kapasitas pribadi saya jauh dari cukup untuk mengomentari landasan syar’i yang dipergunakan MUI dalam memutuskan sikap tentang pemilu. Saya hanya mengambil sudut pandang kecil dari sisi yang lain; perjalanan dakwah Rasulullah saw dalam menegakkan Islam.
Pada masa awal dakwah Islam di Makkah, tantangan dan permusuhan orang-orang kafir sangat sengit. Mereka merupaya sekuat tenaga untuk mematahkan semangat Rasulullah saw dan para sahabat menyebarkan agama ini. Namun semua itu tidak berhasil menyurutkan langkan mereka, bahkan kian hari Islam semakin mempesona orang dan berbondong-bondong orang menghadap Rasulullah saw untuk bersyahadat.
Ketika menyadari kenyataan tersebut, para pemimpin musyrik segera beralih strategi. Mereka tidak lagi hanya menggunakan metode kekerasan untuk menaklukkan Rasulullah saw tetapi juga dengan cara yang halus berupa tawaran, bujukan dan kompromi.
“Jika kamu berdakwah karena ingin menjadi orang paling kaya maka kami akan kumpulkan semua harta dan kami berikan kepadamu sehingga akan menjadi orang paling kaya di Makkah.
Jika engkau berdakwah karena ingin menjadi penguasa di Makah, maka kami akan mengangkatmu menjadi pemimpin Makkah dan kami akan mentaati semua perintahmu. Jika kamu berdakwah karena ingin mempunyai banyak istri, kami akan mengumpulkan semua wanita tercantik di Makkah dan silahkan kamu pilih sendiri.” Demikian tawaran menggiurkan mereka kepada Rasulullah saw, namun semua beliau tolak.
Orang-orang kafir tidak putus asa. Mereka mendatangi kembali Rasulullah saw dengan tawaran lainnya. Mereka mengajak beliau saling bergantian menyembah tuhan masing-masing. Sekali waktu kaum muslimin menyembah berhala-berhala orang kafir, sekali waktu orang-orang kafir menyembah Allah swt. Tentu saja tawaran itu beliau tolak. “bagi kalian agama/kepercayaan/sistem hidup/ideologi kalian, bagiku agama/kepercayaan/sistem hidup/ideologi sendiri” (al-Kafirrun).
Dalam kondisi itulah Rasulullah saw mengeluarkan pernyataan yang sangat bernilai “Seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya menghentkan dakwah tidak akan aku lakukan. Hanya ada dua pilihan dakwah ini menang atau aku mati karenanya”.
Beliau menyadari bahwa dakwah yang beliau lakukan adalah dalam rangka mengganti sistem jahiliyyah dengan sistem Islam. Maka tidak ada kompromi. Benturan ideologi pasti terjadi sebagai wujud dari aktualisasi iman dan keyakinan. Tidak mungkin mengabungkan sistim yang haq dengan batil, lurus dengan sesat.

Ideologi wahyu seharusnya melahirkan revolusi di segala aspek kemanusiaan; pemikiran, perilaku, dan sosial masyarakat. Karena itulah Allah swt menurunkan surat al-Alaq sebagai wahyu pertama. Kandungan surat Al-Alaq ayat 1 – 5 mengajarkan manusia untuk memiliki idiologi, orientasi hidup dan cara berfikir yang benar. Karena jika orientasi benar akan melahirkan sikap dan tindakan yang benar.
Demikianlah perjalanan dakwah Rasulullah saw yang kemudian menemui momentumnya melalui hijrah ke Madinah dan Fathu Makkah. Islampun memperoleh kemenangan tanpa sekalipun melakukan konsesi ideologi untuk mendapatkan kekuasaan.
Maka cara benar untuk memenangkan kembali Islam tentu saja mencontoh perjalanan Rasulullah saw dan para sahabat. Itulah jalan sunnah untuk kembali membangun peradaban tauhid yang paling unggul dan tidak ada yang mengunggulinya.
Karenanya, kekuasaan bukanlah tujuan melainkan sarana untuk mendapatkan ridho Allah swt. Kalau kekuasaan sebagai tujuan biasanya ada kompensasi-kompensasi untuk mendapatkannya. Jika tidak hati-hati bisa jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Allah swt dan RasulNya. Begitu nampaknya yang terjadi pada sebagian saudara-saudara kita yang saat ini mengusung jargon “Partai Islam” ataupun “Partai Dakwah”. Tidak semuanya lulus godaan, ada juga yang akhirnya jatuh di jalan dakwah.
“wah... jadi ikutan Golput, mas?” seseorang bertanya. “maaf, saya tidak memikirkan itu. Saya hanya mengurusi Islam dan bagaimana memenangkan Islam sesuai sunnah Rasulullah saw”. Jawab orang yang ditanya.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
motivasi
BismillahirrahmanirrahimSelain Rasulullah saw, dari sekian banyak sahabat beliau ada beberapa orang yang mempunyai kesan mendalam terhadap diri saya. Tentu saja tidak lepas dari dua hal utama; kekuatan karakternya dan sumbangsihnya terhadap Islam.
Tidak bisa dipungkiri Rasulullah saw adalah guru terbaik manusia. Kemampuan beliau menyelami satu persatu karakter manusia di sekelilingnya menjadi satu point penting. Tidak hanya mengenali, beliau kemudian berhasil memaksimalkan potensi-potensi yang ada tersebut menjadi kekuatan dahsyat untuk menerangi kegelapan dunia ketika itu dengan cahaya-cahaya tauhid. Hasilnya adalah tujuh abad lamanya manusia benar-benar menjadi manusia. Manusia yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya dan mengetahui fungsi keberadaannya di dunia.
Bagi saya mereka adalah para lelaki sejati. Meski tidak mungkin bisa mencapai kualitas seperti manusia agung yang menjadi pemimpinnya, setidaknya kisah hidup mereka adalah coretan emas tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki hidup, berkarnya dan
menghabiskan umurnya.
Kehidupan bagi seorang muslim bukanlah kehidupan kosong penuh canda, tawa, pesta dan kesenangan jasmani serta kepuasan akal. Islam mengajari mereka arti lebih dari konsep kehidupan. Hidup adalah berbakti kepada yang memberi hidup itu sendiri. Maka prinsip mereka adalah sesungguhnya hidup adalah keyakinan dan bagaimana memperjuangkan keyakinan tersebut.
Kesadaran itulah yang mengantarkan mereka rela memisahkan diri dari keluarganya meski harus hidup penuh kekurangan. Mereka tidak menyesal meninggalkan tanah airnya untuk sebuah tujuan mulia membangun markas perjuangan baru.
Tidak sekedar harta benda yang mereka korbankan. Cucuran keringat, tumpahan darah bahkan juga terbangnya nyawa dari raga siap mereka lakukan. Asalkan gema nama Dzat Yang Esa itu tetap bergema di seantero muka bumi. Asalkan pembawa risalah itu tetap hidup untuk melanjutkan tugasnya. Begitulah prinsip yang senantiasa terngiang-ngiang dalam gendang telinga serta nurani mereka. Bukalah buku-buku peradaban masyarakat yang lain, bisakan kita temukan kualitas pengorbanan seperti mereka dalam takaran mayoritas?
Dimana ada manusia rela mengorbankan seluruh hartanya untuk “bahan bakar” perjuangan keyakinannya meski tidak menyisakan sepeserpun untuk keluarganya? Bagaimana juga dengan sekelompok orang yang sedang luka parah saling mempersilahkan temannya untuk minum jatah airnya ketika ia sendiri sedang berada di ujung kematian? Dan itu tidak dua orang, tapi beberapa orang sehingga semua akhirnya tersenyum di ujung terakhir tarikan nafasnya. “Aku telah bertemu ainul mardiyah” demikian teriak mereka.

Namun mereka tetaplah manusia. Membayangkan mereka tidak mempunyai kesalahan ataupun kekhilafan tentunya suatu kemustahilan. Mereka manusia, bukan malaikat yang berjalan di atas permukaan bumi. Dan selain malaikat serta para utusan, tidak ada manusia yang "terjaga" (ma'sum). Bukankah manusia adalah tempatnya salah dan lupa?
Apalah artinya kerja kita jika dibandingkan mereka. Tidak pantas rasanya membandingkan pengorbanan mereka dengan segala hal yang telah kita berikan pada dien ini hari ini. "Jangan kalian mencaci maki/menghina para shahabatku, karena seandainya salah seorang diantara kalian berinfaq emas sebanyak gunung Uhud tak akan dapat menyamai derajat salah seorang diantara mereka, bahkan separuhnyapun tidak walaupun mereka hanya berinfaq satu mud". Begitulah wanti-wanti penghulu utusan tauhid kepada para pengikutnya.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
selingan
Bismillahirrahmanirrahim
Diantara masalah orang hidup adalah mengendalikan keinginan. Ingin apa saja. Kalau kebutuhan adalah sesuatu yang cenderung harus dipenuhi sementara keinginan muncul lebih karena dorongan merasa kurang atas sesuatu.
Selama masih dalam kategori kebutuhan maka tidak menjadi masalah kalau orang kemudian berupaya sekuat tenaga mendapatkannya. Sebaliknya kalau sesuatu itu hanyalah karena rasa ingin memiliki maka sebaiknya rasa ingin dikendalikan. Orang kuat tentu saja memiliki kemampuan untuk mengerem keinginannya tersebut.
Hanya saja dalam kehidupan riil hal itu terkadang sulit dilaksanakan. Meskipun akal pikiran mengetahuinya dorongan rasa bisa jadi mengambil peran lebih dalam memutuskan sesuatu. Akibatnya sesuatu yang semula hanya sebuah keinginan bisa berubah menjadi kebutuhan. Tentu saja karena menganggap sebagai kebutuhan segala daya upaya dikerahkan untuk mendapatkannya.

Era konsumtif saat ini membuat orang susah membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Media massa memiliki kekuatan untuk merubah mindset orang dari menganggap sesuatu itu tidak lagi menjadi keinginan tapi sudah menjadi kebutuhan. Para produsen memaksimalkan kemampuan media itu untuk melariskan dagangannya dengan segala macam kreasi termasuk penipuan untuk mempengaruhi khalayak ramai.
Bagi orang yang tidak kuat menahan keinginannya cenderung berlebih-lebihan. Jika ia banyak uang maka akan tidak proporsional menggunakan miliknya tersebut. Apalagi kalau kemudian unsur “prestise” ikut mempengaruhi. Demi gengsi, sanjungan ataupun puja puji seseorang rela mengeluarkan banyak hal untuk mendapatkannya. Waspadalah.
Sebaliknya jika tidak memiliki finansial yang cukup, bisa jadi ia memaksa diri untuk berhutang guna memenuhi keinginannya. Inilah penyakit yang harus juga diwaspadai. Manusia cenderung ringan tangan untuk meminjam tetapi berat tangan mengembalikannya. Bahkan tidak jarang rela berbohong. Termasuk membawa nama Allah swt. Kok bisa?
Jika suatu ketika ia punya hutang, maka ia berjanji akan mengembalikannya pada suatu hari. Pada saat hari itu tiba ia tidak punya akan ada tiga kemungkinan; ia jujur menjelaskan kondisinya, berjanji lagi dengan mengatakan “insya Allah” membayarnya beberapa kemudian atau mengatakan hal lain dari hal sebenarnya untuk menutupi rasa malunya.

Langkah terbaik adalah belajar mengendalikan keinginan. Ibarat minum sesuatu yang manis, sekali dituruti biasanya memunculkan keinginan-keinginan berikutnya. Lihatlah orang dibawahmu dalam hal dunia sehingga akan membuatmu selalu bersyukur kepada Allah swt. Demikian pesan indah Rasulullah saw. Jadi masih hobi hutang…?
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
umat
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulilah. Akhirnya fatwa MUI tentang keharaman rokok keluar. Dalam pernyataannya malam ini, Komisi Fatwa MUI mengeluarkan keputusannya bahwa rokok diharamkan bagi anak-anak, remaja, wanita hamil. Termasuk juga merokok di tempat umum. Meski masih ada toleransi untuk kategori perokok dewasa dan tidak di tempat umum, fatwa itu perlu disyukuri.


Paling tidak di tengah tekanan beberapa pihak untuk menghadang keluarnya fatwa ini, MUI tetap memprioritaskan kepentingan umat secara luas. Menjelang dan ketika berlangsung sidang Ijtima' Ulama Fatwa III MUI di Kabupaten Padang Panjang, Padang, Sumatera Barat banyak suara-suara muncul memberikan opini kepada masyarakat untuk tidak begitu saja mendengar dan mematuhi setiap fatwa MUI.
Lihat saja mulai dari isu suap pada keputusan-keputusan MUI sebelumnya, munculnya musyawarah tandingan untuk menghalalkan rokok, sampai dengan demo dari orang-orang yang terlibat dalam bisnis ini. Kesemuanya itu mendapat ekspos dari media massa sehingga seakan-akan terbangun kesimpulan untuk menolak fatwa dari MUI. Termasuk juga pihak yang mengingatkan MUI untuk tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa haram tentang rokok karena jika fatwa itu tidak ditaati menjadi bumerang sendiri bagi lembaga ulama ini.
Dukungan kita terhadap fatwa ini dengan mensosialisasikannya kepada lingkungan sekitar. Meskipun penentangan akan terjadi, setidaknya ada kekuatan moral tambahan bagi anggota MUI untuk tetap mempertahankan fatwa ini. Jangan sampai kemudian tekanan dari orang-orang yang memiliki kepentingan dengan produk ini menggalang dukungan untuk melawan fatwa tersebut berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
realitas
BismillahirrahmanirrahimMembaca media lokal hari ini, saya bersedih. Betapa uang rakyat hanya habis dihambur-hamburkan untuk sesuatu kemubaziran yang orang banyak sebut
“pesta demokrasi”. Siapa sesungguhnya yang berpesta dan menikmati hasilnya? Apakah rakyat? Padahal berapa milyar, bahkan trilyun uang rakyat mereka dihabiskan.

Berbagai media melaporkan seputar pelaksanaan pilgub Jatim putaran ketiga. Salah satu pihak masih belum menerima hasilnya. Coblosan kemarin disinyalir penuh dengan kecurangan yang sistematis dan massif. Bisa jadi cerita tentang pesta demokrasi rakyat Jatim tersebut masih akan berlangsung pada hari-hari selanjutnya.
Demokrasi sesungguhnya hanyalah satu tingkat di atas tawuran untuk memutuskan satu permasalahan. Daripada berkelahi saling pukul, saling bunuh maka dihitung banyak mana pendukungnya dari dua kelompok yang berbeda pendapat dan kepentingan. Nah kelompok yang pendukungnya lebih banyak itulah pemenangnya. Meskipun ternyata masih saling bacok juga.
Begitulah gambaran sederhana demokrasi. Maka tidak ada perbedaan suara antara ilmuwan dengan pencuri, ustadz dengan pelacur, guru ngaji dengan perampok. One man one vote. Apapun dan siapapun.
Bisa dibayangkan ketika kelompok yang besar itu terdiri dari para perampok, pencuri, ataupun penjudi. Masyarakat atau negara itu pasti tidak beda dengan negara pencuri ataupun negara perampok. Because vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Apakah suara pencuri itu suara Tuhan? Apakah suara pezina sama dengan suara Tuhan?
“Lho nanti kalau kita tidak ambil, semua kursinya dipakai orang tidak baik”. Maka yang berbicara kemudian asas manfaat. Daripada tidak. Toh akhirnya kelihatan juga manfaat bagi siapa yang dominan diperjuangkan. Tentu saja manfaat bagi pribadi dan kelompoknya.
Sistem yang salah pasti akan melahirkan kesalahan-kesalahan berikutnya. Ketika kesalahan-kesalahan itu terus menerus terjadi maka kerusakan demi kerusakan pasti berlangsung. Khawatirnya kesalahan dan kerusakan itu mengantarkan kita jauh dari jalan kebenaran sehingga tidak mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Solusinya sudah sangat jelas. Ikutilah panduan pembuat hidup dan kehidupan, Allah swt. Ketika kita beli barang elektronik saja kita mengikuti panduan orang atau pabrik yang membuatnya dengan penuh keyakinan bahwa itu baik dan benar. Mengapa dalam kehidupan kita pada skala lebih besar tidak mau melakukannya?
Setiap hari kita berdoa “tunjukilah kami jalan yang lurus”. Jalan itu sudah ada mengapa tidak kita ambil? “Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat?” Tapi mengapa kita masih mengikuti mereka yang sudah jelas-jelas mendapat murka dan sesat?
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
realitas
BismillahirrahmanirrahimDiantara pilihan siswa sebagai
relaksasi ketika libur sekolah adalah bermain game, rental maupun di rumah sendiri. Bahkan bisa jadi itu pilihan mayoritas remaja untuk menghabiskan waktu liburnya.
Coba silahkan cek persewaan-persewaan PS atau internet pasti fullbooked anak-anak usia sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Tidak hanya ketika pagi, siang atau sore hari, malam bahkan tengah malampun mereka masih asyik
“silaturahim” ke tempat-tempat seperti itu.
Entah bagaimana rasanya orang tua yang mempunyai anak-anak seperti itu. Bisa juga karena sudah mewabah sehingga perbuatan seperti itupun di anggap trend dan sebuah kewajaran sehingga tindakan sebagian orang tuapun membiarkannya. Toh mereka tidak berbuat kejahatan, mungkin begitu prinsip mereka.
Game merupakan salah satu “anak kandung” tehnologi yang menimbulkan sikap dilematis. Tentu saja pada masa sekarang melarang peredaran game adalah sesuatu yang sangat sulit. Hal yang bisa dilakukan tentu saja membatasi dan memilihkan game yang sehat bagi anak-anak. Walaupun kenyataannya memang sulit untuk dilakukan.
Beberapa game memang membuat sebagian anak terasah kecekatan dan kecerdasannya. Sayangnya yang beberapa itu tidak banyak. Sebagian besar game hanya memunculkan virus kecanduan dan menomor sekiankan kegiatan yang lain. Kegiatan yang masuk dalam kegiatan di kalahkan adalah utamanya berkaitan dengan belajar. Terlebih dalam kultur sebagian masyarakat kita, belajar di luar kelas merupakan sesuatu yang sangat susah.
“lho main game juga kan belajar, ntar kalu sudah pintar bisa buat program, dijual berarti kan bisa mencari uang sendiri”. Kalau ada yang mempunyai fikiran begitu, berapa orang?
“main game membantu melatih otak saya berkonsetransi padahal sebelumnya susah kalau diajak konsentrasi”. Konsentrasi main game? Yups jelas, bisa konsentrasi untuk yang lain, belajar umpamanya?
Dan game merupakan satu dari beberapa efek tehnologi yang harus disikapi dengan cerdas dan bijaksana. Relatif bebasnya akses situs-situs porno juga merupakan problem yang sangat berbahaya. Usaha untuk memeranginya masih memerlukan energi dan kekuatan yang sangat besar. Belum lagi sisi negatif media massa elektronik ketika berada di tangan para pemilik modal dengan mindset “hedonis” dan “kapitalis”.
Pada sisi itu sesungguhnya tehnologi menjadi “godaan” bagi tumbuh suburnya karakter-karakter pembangun masyarakat yang elegan dan mampu mecerdaskan lingungannya. Di tengah manfaat besar tehnologi dalam lingkup kehidupan kita untuk mempermudah, mempercepat dan menghibur kita, maka sesungguhnya ada tanggung jawab besar untuk mengontrol dan “menjinakkanya”. Ternyata adigum lama “the man behind the gun” tetap berlaku dan menjadi patokannya.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
realitas
Bismillahirrahmanirrahimalhamdulillah, pagi-pagi dapat email artikel cukup menarik dari teman. Isinya tentang fenomena "prestasi" orang-orang yahudi. Artikel itu ia dapat di
kasyfisme.wordpress.com. makasih atas artikelnya dan minta izin bagi yang mempunyai untuk di muat di sini. semoga tidak keberatan.
Why are Jews so powerful?
An Islam columnist on Jews, INTERESTING reading
Why are Jews so powerful?
There are only 14 million Jews in the world; seven million in the Americas, five million in Asia, two million in Europe and 100,000 in Africa.. For every single Jew in the world there are 100 Muslims. Yet, Jews are more than a hundred times more powerful than all the Muslims put together. Ever wondered why?
Jesus of Nazareth was Jewish. Albert Einstein, the most influential scientist of all time and TIME magazine’s ‘Person of the Century’, was a Jew. Sigmund Freud — id, ego, superego — the father of psychoanalysis was a Jew. So were Karl Marx, Paul Samuelson and Milton Friedman.
Here are a few other Jews whose intellectual output has enriched the whole humanity:
Benjamin Rubin gave humanity the vaccinating needle.
Jonas Salk developed the first polio vaccine.
AlBert Sabin developed the improved live polio vaccine.
Gertrude Elion gave us a leukemia fighting drug.
Baruch Blumberg developed the vaccination for Hepatitis B.
Paul Ehrlich discovered a treatment for syphilis (a sexually transmitted disease).
Elie Metchnikoff won a Nobel Prize in infectious diseases.
Bernard Katz won a Nobel Prize in neuromuscular transmission.
Andrew Schally won a Nobel in endocrinology (disorders of the endocrine system; diabetes, hyperthyroidism) .
Aaron Beck founded Cognitive Therapy (psychotherapy to treat mental disorders, depression and phobias).
Gregory Pincus developed the first oral contraceptive pill..
George Wald won a Nobel for furthering our understanding of the human eye.
Stanley Cohen won a Nobel in embryology (study of embryos and their development) .
Willem Kolff came up with the kidney dialysis machine…
Over the past 105 years, 14 million Jews have won 15-dozen Nobel. Prizes while only three Nobel Prizes have been won by 1.4 billion Muslims (other than Peace Prizes).
Why are Jews so powerful?
Stanley Mezor invented the first micro-processing chip.
Leo Szilard developed the first nuclear chain reactor;
Peter Schultz, optical fibre cable;
Charles Adler, traffic lights;
Benno Strauss, Stainless steel;
Isador Kisee, sound movies;
Emile Berliner, telephone microphone;
Charles Ginsburg, videotape recorder.
Famous financiers in the business world who belong to Jewish faith include Ralph Lauren (Polo), Levis Strauss (Levi’s Jeans), Howard Schultz (Starbuck’s) , Sergey Brin (Google), Michael Dell (Dell Computers), Larry Ellison (Oracle), Donna Karan (DKNY), Irv Robbins (Baskins & Robbins) and Bill Rosenberg (Dunkin Donuts).
Richard Levin, President of Yale University, is a Jew. So are Henry Kissinger (American secretary of state), Alan Greenspan (Fed chairman under Reagan, Bush, Clinton and Bush), Joseph Lieberman, Madeleine Albright (American secretary of state), Casper Weinberger (American secretary of defense), Maxim Litvinov ( USSR foreign Minister), David Marshal ( Singapore ’s first chief minister), Issac Isaacs (governor-general of Australia ), Benjamin Disraeli (British statesman and author), Yevgeny Primakov (Russian PM), Barry Goldwater, Jorge Sampaio (president of Portugal ), John Deutsch (CIA director), Herb Gray (Canadian deputy PM), Pierre Mendes (French PM), Michael Howard (British home secretary), Bruno Kreisky (chancellor of Austria) and Robert Rubin (American secretary of treasury).
In the media, famous Jews include Wolf Blitzer (CNN), Barbara Walters (ABC News), Eugene Meyer (Washington Post), Henry Grunwald (editor-in-chief Time), Katherine Graham (publisher of The Washington Post), Joseph Lelyyeld (Executive editor, The New York Times), and Max Frankel (New York Times).
Can you name the most beneficent philanthropist in the history of the world? The name is George Soros, a Jew, who has so far donated a colossal $4 billion most of which has gone as aid to scientists and universities around the world. Second to George Soros is Walter Annenberg, another Jew, who has built a hundred libraries by donating an estimated $2 billion.
At the Olympics, Mark Spitz set a record of sorts by wining seven gold medals. Lenny Krayzelburg is a three-time Olympic gold medalist. Spitz, Krayzelburg and Boris Becker are all Jewish.
Did you know that Harrison Ford, George Burns, Tony Curtis, Charles Bronson, Sandra Bullock, Billy Crystal, Woody Allen, Paul Newman, Peter Sellers, Dustin Hoffman, Michael Douglas, Ben Kingsley, Kirk Douglas, Goldie Hawn, Cary Grant, William Shatner, Jerry Lewis and Peter Falk are all Jewish?
As a matter of fact, Hollywood itself was founded by a Jew. Among directors and producers, Steven Spielberg, Mel Brooks, Oliver Stone, Aaron Spelling (Beverly Hills 90210), Neil Simon (The Odd Couple), Andrew Vaina (Rambo 1/2/3), Michael Man (Starsky and Hutch), Milos Forman (One flew over the Cuckoo’s Nest), Douglas Fairbanks (The thief of Baghdad ) and Ivan Reitman (Ghostbusters) are all Jewish.
To be certain, Washington is the capital that matters and in Washington the lobby that matters is The American Israel Public Affairs Committee, or AIPAC. Washington knows that if PM Ehud Olmert were to discover that the earth is flat, AIPAC will make the 109th Congress pass a resolution congratulating Olmert on his discovery.
William James Sidis, with an IQ of 250-300, is the brightest human who ever existed. Guess what faith did he belong to?
So, why are Jews so powerful?
Answer: Education.
Why are Muslims so powerless?
There are an estimated 1,476,233,470 Muslims on the face of the planet: one billion in Asia, 400 million in Africa, 44 million in Europe and six million in the Americas . Every fifth human being is a Muslim; for every single Hindu there are two Muslims, for every Buddhist there are two Muslims and for every Jew there are one hundred Muslims. Ever wondered why
Muslims are so powerless?
Here is why: There are 57 member-countries of the Organisation of Islamic Conference (OIC), and all of them put together have around 500 universities; one university for every three million Muslims. The United States has 5,758 universities and India has 8,407. In 2004, Shanghai Jiao Tong University compiled an ‘Academic Ranking of World Universities’ , and intriguingly, not one university from Muslim-majority states was in the top-500.
As per data collected by the UNDP, literacy in the Christian world stands at nearly 90 per cent and 15 Christian-majority states have a literacy rate of 100 per cent. A Muslim-majority state, as a sharp contrast, has an average literacy rate of around 40 per cent and there is no Muslim-majority state with a literacy rate of 100 per cent. Some 98 per cent of the ‘literates’ in the Christian world had completed primary school, while less than 50 per cent of the ‘literates’ in the Muslim world did the same. Around 40 per cent of the ‘literates’ in the Christian world attended university while no more than two per cent of the ‘literates’ in the Muslim world did the same.
Muslim-majority countries have 230 scientists per one million Muslims. The US has 4,000 scientists per million and Japan has 5,000 per million. In the entire Arab world, the total number of full-time researchers is 35,000 and there are only 50 technicians per one million Arabs (in the Christian world there are up to 1,000 technicians per one million). Furthermore, the Muslim world spends 0.2 per cent of its GDP on research and development, while the Christian world spends around five per cent of its GDP.
Conclusion: The Muslim world lacks the capacity to produce knowledge.
Daily newspapers per 1,000 people and number of book titles per million are two indicators of whether knowledge is being diffused in a society. In Pakistan , there are 23 daily newspapers per 1,000 Pakistanis while the same ratio in Singapore is 360. In the UK , the number of book titles per million stands at 2,000 while the same in Egypt is 20.
Conclusion: The Muslim world is failing to diffuse knowledge.
Exports of high technology products as a percentage of total exports are an important indicator of knowledge application. Pakistan ’s export of high technology products as a percentage of total exports stands at one per cent. The same for Saudi Arabia is 0.3 per cent; Kuwait , Morocco , and Algeria are all at 0.3 per cent while Singapore is at 58 per cent.
Conclusion: The Muslim world is failing to apply knowledge.
Why are Muslims powerless? Because we aren’t producing knowledge.
Why are Muslims powerless? Because we aren’t diffusing knowledge.
Why are Muslims powerless? Because we aren’t applying knowledge.
And, the future belongs to knowledge-based societies.
Interestingly, the combined annual GDP of 57 OIC-countries is under $2 trillion. America, just by herself, produces goods and services worth $12 trillion; China $8 trillion, Japan $3.8 trillion and Germany $2.4 trillion (purchasing power parity basis).
Oil rich Saudi Arabia , UAE, Kuwait and Qatar collectively produce goods and services (mostly oil) worth $500 billion; Spain alone produces goods and services worth over $1 trillion, Catholic Poland $489 billion and Buddhist Thailand $545 billion. (Muslim GDP as a percentage of world GDP is fast declining).
So, why are Muslims so powerless? Answer: Lack of education.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
renungan
BismillahirrahmanirrahimHampir empat belas jam pulang pergi perjalanan kami mengendarai mobil untuk menuju rumah salah seorang teman kami yang sedang berduka; ayahnya barusan menghembuskan nafas terakhirnya. Tentu saja kami terlambat tidak sempat mengikuti prosesi pemakanam maupun mengunjungi makamnya karena ketika kami sampai di rumahnya hari sudah malam sementara areal pemakaman cukup jauh. Maka kami pun mengucapkan bela sungkawa secara mendalam sebagai ungkapan perasaan empati atas apa yang mereka rasakan.
Sekitar satu jam kami berada di rumah duka. Selama itu terlihat jelas ketegaran keluarga itu menghadapi “musibah” yang menimpa mereka. Dengan lancar bahkan sesekali diselingi canda mereka menceritakan banyak hal seputar penyakit kepala keluarga itu, khususnya hari-hari menjelang kematiannya.
Bulan kemarin ayah mereka sempat opname dua minggu di sebuah rumah sakit tipes. Ia sempat kritis beberapa kali, namun ketika itu Allah swt masih mengijinkannya berkumpul dengan keluarganya. Setelah kondisinya membaik dan atas rekomendasi dokter, mereka membawa bapak itu pulang ke rumahnya. Dan pada awal-awal masa perawatan di rumah, kondisinya relatif stabil sehingga anak-anaknya pun (3 orang) kembali ke tempat kerja masing-masing dengan tenang apalagi masih ada ibu dan 2 adik perempuan mereka di rumah tersebut.
Tidak sampai dua minggu kemudian anak-anaknya yang berada jauh dari rumah sangat terkejut ketika siang itu mendapatkan telepon dari kerabat mereka bahwa ayahnya sudah tiada. Shock, kaget, sedih dan serangkaian rasa lainnya bergayut di hati masing-masing mereka. Tanpa pikir panjang mereka semua meminta ijin ke tempat kerja masing-masing untuk pulang.
Seperti halnya kami, merekapun tidak sempat membantu pengurusan jenazah ayahnya. Tempat tinggal mereka yang relatif jauh membutuhkan waktu paling tidak 12 jam untuk sampai ke rumah itu. Melalui kesepakatan melalui telepon mereka semua merelakan jenazah ayahnya di kuburkan tanpa kehadiran mereka semua; anak laki-lakinya.
Si sulung bercerita baru saja ia menyadari bahwa ayahnya sebenarnya telah memberi isyarat tentang kematiannya jauh-jauh hari sebelumnya. Ia ingat ketika itu mereka bergantian menyuapi makan ayahnya. Dan saat itu ayahnya dengan lahap makan makanan yang disuapi anak-anaknya. Namun (dalam ingatannya) pandangan ayahnya kosong, hampa dan tanpa daya. Itulah isyarat yang ia maksudkan dan barusan usai sholat maghrib tadi ia sadari.
Tidak lama kami berada di rumah teman kami tersebut. Hari semakin malam sementara tetangga kiri kanan mereka yang ingin melakukan doa bersama untuk si arwah (tahlilan) mulai berdatangan. Kamipun pamit pulang.
Cukup lama saya tidak menghadiri acara kematian seseorang atau mengunjungi sebuah makam. Terakhir 3 bulan yang lalu ketika menziarahi makam seorang teman yang satu hari sebelumnya meninggal dunia karena kecelakaan. Kemarin Allah swt memberikan kesempatan kembali untuk menginggat kematian, sesuatu yang relatif terlupakan dalam dinamika kehidupan seseorang terlebih ketika kesibukan mendera tiada akhirnya.
Ketika di mobil dalam perjalanan pulang dari rumah duka, saya teringat pesan salah seorang guru saya untuk sering-sering mampir jika melewati sebuah pemakaman. Beliau sering melakukan hal itu jika sedang bepergian dengan motonya untuk sebentar berbelok dari jalannya semula, menepi dan masuk ke pemakanam yang kebetulan beliau lewati. Menurut beliau itu sangat membantu seseorang untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi kesombongannya. Mengapa harus sombong? Toh akhirnya akan mati juga.
Bahkan menurut guru saya itu kebiaaan tersebut sangat perlu dilakukan oleh anak-anak muda. Pada usia-usia ketika darah masih “panas”, tangan selalu mengepal “siap menghantam orang” dan syahwat “bergejolak dengan keras” harus sering dingatkan tentang kematian. Mendatangi pemakaman merupakan salah satu metode untuk menetralisir itu semua. Dan beliaupun telah mempraktekkannya.

Begitulah dengan kematian, sesuatu yang pasti akan menimpa semua makhluk hidup. Meskipun mengetahui sebagai suatu keniscayaan seringkali kita takut dan khawatir menghadapinya. Banyaknya kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan menjadi salah satu faktor penyebabnya ataupun juga kesadaran belum banyaknya amal yang telah kita lakukan selama ini.
Mari berbenah mumpung masih diberikan kesempatan dan waktu untuk memperbaiki diri. Tentu saja tidak boleh lupa untuk meminta di berikan kebaikan hidup di dunia, kesempatan bertaubat sebelum maut menjemput, mendapat kemudahan ketika mengahadapi sakaratul maut dan mendapatkan pengampunan semua kesalahan-kesalahan kita. Itu semua kita perlukan untuk mendapatkan ridha dan surganya Allah swt. Semoga.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
umat
INNALILLAH....
GAZA CITY TELAH JATUH!!!!!!
SEMOGA ALLAH SWT MEMBERI KEKUATAN DAN PERTOLONGAN KEPADA PARA MUJAHID DI PALESTINA,
MEMBERI KESABARAN KEPADA SELURUH KAUM MUSLIMIN DI SANA YANG TERANIAYA, MEMBUKAKAN
HATI PARA PEMIMPIN ISLAM KHUSUSNYA DI ARAB UNTUK MENYADARI BAHWA MEREKA MEMILIKI
KEWAJIBAN MEMBANTU PARA SAUDARANYA YANG TERANIAYA OLEH ZIONIS LAKNATULLAH
DAN
MENGHANCURKAN ZIONIS ISRAEL BESERTA SELURUH KAKI TANGANNYA.
ALLAHUMA IZZUL ISLAM WAL MUSLIMIN. ALLAHUMA UNSYUR
MUJAHIDIN FII GAZA WA FII KULLI MAKAN WA FII KULLI ZAMAN.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
kisah
BismillahirrahmanirrahimKami biasa memanggilnya
“Abel”. Anaknya relatif kecil untuk ukuran anak seusia dan tingkat sekolah seperti dirinya. Kulitnya mewakili kebanyakan masyarakat Indonesia; coklat cenderung hitam. Orang akan bisa menebak dari mana asalnya lewat aksen pengucapannya.
Tidak ada keistimewaan khusus dari anak ini, bahkan relatif tidak stabil. Dia akan mudah terpengaruh oleh temannya yang mempunyai karakter kepribadian lebih kuat. Beruntung ketika teman yang sering digaulinya baik, sayangnya selama ini ia lebih senang mengakrabi anak-anak yang secara standard perlu perbaikan. Maka dalam komunitasnya, ia hanya mendapat point C kalaupun meningkat paling-paling C+ tidak sampai kategori
“manusia B”.
Beberapa kali ia melakukan kesalahan untuk norma kehidupan di lingkungannya, termasuk kesalahan berkategori XXX alias berat. Akibatnya akhir tahun kemarin orang tuanya menerima surat peringatan karena hal tersebut.
Namun pagi tadi semua gambaran jelek tentang dirinya hilang seketika untuk sementara. Betapa saya tidak akan terkejut setengah hidup (kalo setengah mati berarti koma, padahal saya masih sadar he.. he…) mendengar apa yang dia ucapkan kepada saya.
“Saya sudah nelpon orang tua minta ijin berangkat ke Palestina, tapi mereka malah ketawa.” Begitu diantara ucapannya yang mengetarkan, mengagetkan dan mengharukan saya. Tidak terbayang di benak saya ternyata anak itu punya kepedulian dan solidaritas yang tinggi terhadap saudara-saudaranya yang tengah di aniaya si durjana laknatulllah zionis.
Setiap pagi memang ada beberapa anak yang saya “paksa” duduk sebentar bersama saya untuk membicarakan beberapa hal terkait diri mereka. Tidak ada jadwal rutin atau urutan nama, siapa saja yang lewat di sekitar tempat saya duduk bisa mendapat giliran. Tidak lama cukup 5 sampai 10 menit. Temanya lebih banyak berkisar bagaimana hidup mereka bisa lebih baik dan berprestasi.
Begitu pula Abel pagi tadi. Spontan saja saya memanggilnya begitu ia berlalu di depan tempat saya duduk. Awalnya saya bertanya apakah libur semesteran ini pulang. Ketika ia menjawab pulang maka kemudian beberapa saran saya sampaikan terkait berbuat baik kepada orang tua. Terlebih kemarin ia baru saja mengecewakan mereka.
Dari dialog dua arah itulah kemudian terlontar ucapannya tentang keinginannya berangkat ke Palestina. Ia tidak tega melihat israel membunuhi kaum muslimin di Palestina seenaknya. Ia juga kecewa dengan presiden Mesir Husni Mubarak yang tidak mengijinkan para mujahidin masuk Gaza lewat Mesir. Karenanya ia memutuskan untuk mendaftar di posko relawan ke Palestina.
Kemarin ia menghubungi orang tuanya di seberang lautan minta izin tidak usah pulang ketika liburan akhir bulan ini karena ingin berjihad di Palestina. Orang tuanya merespon dengan tertawa mendengar apa yang ia sampaikan. Merekapun menyuruhnya untuk pulang liburan semesteran nanti.
"Kamu sudah siap perang? ntar malah ngerepotin di sana" tanya saya. "insya Allah, siap". jawabnya.
Abel…. Abel…… Senyum dan doa saya mengiringi langkah-langkahnya menuju tempat ujian. Semoga bukan saja karena atsmosfer lingkungan sekitarnya yang sedang bergemuruh mendukung perjuangan kaum muslimin di Palestina. Poster, baliho besar bergambar derita rakyat Gaza di dinding masjid yang menjulang dari lantai satu sampai lantai dua, bahkan posko peduli Palestina ada di gerbang depan “rumah” ia tinggal. Aksi demo juga sudah dua kali ia ikuti.
Itu semua pasti berpengaruh baginya, harapannya tentu bukan karena itu saja. Semoga “greget” itu muncul karena adanya perubahan dirinya menuju lebih baik. Sehingga kebahagiaan saya pagi ini bisa orang tuanya rasakan ketika ia pulang liburan nanti; anak soleh yang militan. Semoga.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
selingan
Bismillahirrahmanirrahim
Jika ada seribu orang yang berjihad di jalan dakwah ini,
Maka salah satunya adalah diriku!!!
Jika ada seratus orang yang berjihad di jalan dakwah ini.
Maka salah satunya adalah diriku!!
Jika ada sepuluh orang yang berjihad di jalan dakwah ini.
Maka salah satunya adalah diriku!!!!!!
Dan… Jika ada hanya satu orang yang berjuang di jalan dakwah ini…
MAKA ITU ADALAH AKU!!!!!
Begitulah penggalan kata-kata penuh semangat para pejuang di jalan Allah swt. Ketika ada orang banyak yang berjuang, ia adalah salah satunya. ketika sedikit orang yang berjuang, ia juga adalah salah satunya. Bahkan sekalipun tinggal satu orang yang berjuang menegakkah kalimat Allah swt, orang itu adalah dirinya.
Semangat menegakkan agama Allah swt harus senantiasa terpatri ke dalam sanubari setiap muslim. Mereka adalah obyek sekaligus juga obyek dari seluruh syariat Allah swt yang didesain untuk kebaikan manusia. Tugasi suci untuk memakmurkan bumi dan menjaga keteraturannya haruslah menjadi motivasi tersendiri bagi jiwa-jiwa yang sudah tercelup perjanjian untuk mengesakan Allah swt dan mengakui kerasulan Muhammad saw sebagai penutup para utusan.
Rintangan dan tantangan akan senantiasa ada di sepanjang tempat dan setiap waktu. Tidak akan pernah bosan iblis dan balatentaranya untuk mengoncang iman seorang muslim. Targetnya jelas mengelincirkan sebanyak-banyaknya kaum muslimin dari jalan Allah swt untuk menemaninya menerima azab di hari pembalasan.
Karenanya menjadi seorang pelaku dakwah adalah berkah besar yang harus disyukuri, sekaligus sasaran tembak empuk bagi musuh-musuh Allah swt. Kekuatan iman yang ditopang dengan keikhlasan beramal, kesabaran menghadapi ujian dan kerelaan berkorban merupakan modal yang tidak bisa ditinggalkan. Namun jangan khawatir pertolongan, perlindungan dan janji kemenangan dari Allah swt senantiasa menyertai setiap saat.
Kehidupan modern saat ini merupakan salah satu tantangan terbesar dalam perjalanan dakwah Islam. Krisis internal umat Islam terhadap keunggulan ajarannya menjadi sumber persoalan. Belum lagi permusuhan abadi dengan orang-orang kafir yang dipelopori kaum yahudi semakin menambah beban bagi umat ini untuk kembali unggul dalam percaturan peradaban manusia.
Musibah besar yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina merupakan salah refleksi nyata kelemahan umat Islam. Bagaimana tidak memalukan satu negara kecil seperi Israel dengan penduduk tidak sampai 10 juta jiwa, mengoyak-ngoyak dan membantai ribuan kaum muslimin dengan komposisi 1 milyar lebih jumlah manusia yang menghuni jagad raya saat ini. kaifa hadza.... kaifa hadza...
Kita hanya mampu berteriak sampai serak. Kita hanya sanggup turun ke jalan sambil menggalang dana, ataupun juga berkampanye memboikot produk-produk mereka. itu semua tidak sia-sia bahkan besar pengaruhnya dalam menjaga semangat kaum muslimin di Palestina sehingga tidak merasa berjuang sendirian menghadapi kaum durjana Yahudi laknatullah. Tapi dimana pasukan kaum muslimin untuk menyelamatkan saudara-saudara mereka yang teraniaya? dimana mereka?
Mengapa para pemimpin Islam hanya mengutuk dan mencela Israel tanpa memerintahkan angkatan bersenjatanya berangkat ke Gaza menggantikan anak-anak Palestina yang berani menghadapi tank-tank Israel hanya dengan batu belaka. Mengapa... mengapa....
Potongan kalimat-kalimat penggugah di atas semoga menjadi bara api membantu menjaga iman kita semua dari kuatnya resapan syahwat dunia. Kita berbuat untuk Islam ketika berdua, bersepuluh ataupun berseribu. Kalaupun tidak ada orang lagi, mari berusaha menjadi satu-satunya manusia yang menjaga cahaya Allah swt tetap menyala di muka bumi ini. Al jihadu sabiluna.
|
abinehanafi
Filed Under:
Label:
umat
Bismillahirrahmanirrahim
Israel...... Hancurkan (koor)
Amerika ...... Binasakan (koor)
Palestina ...... Selamatkan (koor)
Islam .......... Pasti menang (koor)
Allahu Akbar.... (3x)
Pekik takbir tak putus-putus bergema di depan balaikota Malang. Ribuan kaum muslimin tumpah ruah di jalan raya sehingga menutup sebagian ruas jalan protokol tersebut. Terik matahari siang hari tidak menghalangi mereka semua dari anak-anak sampai orang-orang tua untuk tetap berdiri tegak mendengarkan orasi satu persatu tokoh kaum muslimin. Bagi mereka aksi siang ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan penderitaan kaum muslimin di Gaza.
Ba’da Jum’at kemarin memang ada agenda bersama komponen umat Islam se Malang Raya untuk melakukan aksi solidaritas Palestina. Usai sholat Jum’at kaum muslimin melakukan pawai jalan bersama dari alun-alun menuju balaikota. Hampir semua ormas Islam bergabung seperti Muhamadiyyah, Hidayatullah, PKS, PAN, beberapa pesantren dan juga HMI.
Hidayatullah sendiri mengerahkan hampir seribu orang jama’ahnya. Mereka terdiri dari siswa-siswi LPI Ar-Rohmah Putra dan Putri beserta para gurunya, wali siswa yang berdomisili di Malang Raya, BMH Malang beserta simpatisannya dan bergabung juga para siswa Al-Izzah Batu beserta pembimbingnya. Sejak malam hari sampai menjelang Jum’at para siswa membuat bendera, tulisan dan semua atribut yang diperlukan untuk jalannya aksi. Tak luput juga dalam khutbah Jum’at Ust. Ali Imron membakar semangat para jama’ah untuk berpartipasi aktif dalam aksi ini sebagai wujud dukungan kepada perjuangan rakyat Palestina dari teror kaum Yahudi laknatullah.
Dalam aksi kemarin hampir setiap tokoh masing-masing elemen kaum muslimin tampil memberikan orasi. Isinya serupa mengecam kebrutalan dan kebiadaban Israel, diamnya negara-negara Arab, serta tidak berdayanya PBB. Tak ketinggalan juga kecaman diarahkan kepada AS dan para sekutunya yang selalu merasa menumpas teroris namun diam seribu bahasa melihat pembantaian rakyat Palestina.
Sebagai wujud kepedulian juga sebelum ditutup doa bersama, diedarkan kotak sumbangan untuk Paletina. Alhamdulillah dalam waktu sekejap terkumpul dana 26 juta dan satu batang emas senilai 27 juta rupiah. Semoga Allah swt membalas kebaikan para dermawan yang telah mengikhlashkan sebagian rezekinya untuk kaum muslimin di Palstina. Semoga Allah swt juga memberikan kesabaran dan keteguhan hati para pejuang serta rakyat Palestina dalam menghadapi kebiadaban zionis laknatullah beserta para sekutunya. Sesungguhnya pertolongan Allah swt itu dekat. Allahu Akbar!!!
|